Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Cinta lain yang tak kusadari


__ADS_3




Sebastian Aydan,


Seperti waktu yang tak bisa aku ulang kembali, begitu juga dengan kesalahan yang telah aku buat. Betapa pun kita mencoba meminta maaf dan berubah, namun sepertinya luka itu telah membekas di hati orang yang dulu pernah aku sia-siakan. Dan ketika rasa sesal itu datang, maka semuanya telah terlambat. Semua tak akan lagi sama walau aku baru mengetahuinya, kalau ternyata dulu Nayara menyimpan perasaan padaku. Ternyata, gadis itu mencintaiku.


Aku yang telah dibutakan cinta pada Mentari, tak sedikitpun mau melihatnya. Selain karena janjiku yang hanya akan mencintai satu wanita, maka aku jatuhkan pilihan hatiku pada Tari. Aku benar-benar buta saat itu, yang aku lihat hanya cinta Mentari, sementara aku tak melihat kalau ternyata ada cinta lain untukku dari gadis itu yang tak kusadari.


Satu bulan setelah kami berdua resmi berpisah,


Aku meninggalkan rumah yang dulu Nayara tempati, aku memilih keluar dan membiarkan Mbok Iyam yang mengurusnya. Aku lebih memilih untuk tinggal bersama Tari, selain karena kedua orangtua ku yang mengusir aku dan Tari untuk pergi dari rumahnya, pada saat itupun Tari sedang hamil.


Setelah satu minggu, aku memutuskan untuk menemui Mbok Iyam. Aku menyuruh wanita paruh baya itu untuk menyiapkan barang-barang ku yang tertinggal di rumah itu. Setelah selesai, aku yang hendak pergi pun tiba-tiba menoleh, melihat pada suatu benda yang tergeletak di atas meja kerjaku.


Aku mengernyit, menatap bingung benda itu lama-lama. Karena setahuku aku tak mempunyai buku kecil seperti itu. Maka aku yakin, jika buku itu bukanlah milikku.


"Maaf, Pak. Sepertinya itu buku diary milik Bu, Naya." jelas Mbok Iyam yang sepertinya mengerti dengan kebingungan ku.


"Waktu Mbok membersihkan kamar Ibu, Mbok menemukan itu di bawah ranjang. Sepertinya buku itu terjatuh."


Aku mengangguk. Awalnya aku tak berminat pada buku diary itu. Tapi ... entah kenapa aku begitu penasaran, seperti ada dorongan yang megharuskanku membawanya, dan akhirnya akupun putuskan untuk membawa buku diary milik Naya itu bersama dengan berkas-berkas ku yang lainnya.


Setelah berada di dalam mobil, aku kembali menoleh pada buku yang aku letakkan di atas beberapa tumpukan dokumen yang ada di sebelahku itu. Aku begitu penasaran, sampai akhirnya akupun memberanikan diri untuk membuka lalu membacanya.


Kubuka halaman depan, dan aku melihat nama Nayara tertulis disana. Ternyata buku diary itu benar-benar milik Nayara.


Aku membacanya sedikit demi sedikit, ternyata Nayara adalah gadis yang gemar mencurahkan isi hatinya lewat tulisan. Nayara mengeluarkan semua isi hatinya di dalam buku itu. Aku penasaran dengan apa yang gadis itu tulis berikutnya, maka akupun melupakan pekerjaanku, aku memilih untuk tetap berada di dalam mobil dan membaca semua tulisan tangan Naya yang terlihat sangat rapi itu.


Tak terasa bibirku tertarik ke atas, aku tersenyum saat membaca apa yang Naya ceritakan waktu kami berdua dulu di pertemukan untuk yang pertama kali. Lembar demi lembar telah aku baca, dan rasa bersalahku itu semakin besar ketika aku tahu betapa terlukanya Nayara dengan sikap dingin dan acuhku padanya saat itu. Aku memperlakukannya sangat tidak baik. Hingga pada bagian beberapa lembar terakhir, aku sedikit terkejut saat membaca apa yang Nayara tulis di atas kertas berwarna putih bertintakan hitam terlihat jelas disana.


Nayara mencintaiku?


Gadis itu mencintaiku?


Aku yang masih tak percaya, memutuskan untuk membuka lembar yang lainnya. Dan aku benar-benar yakin sekarang setelah aku melihatnya sendiri bagaimana Nayara kembali menuliskan tentang perasaannya padaku.


Jadi selama ini Naya sudah mencintaiku?


Entah aku harus bersikap seperti apa waktu itu? apakah aku harus behagia karena Naya telah lebih dulu mempunyai perasaan padaku? atau sebaliknya?

__ADS_1


Meskipun aku sedikit terkejut, tapi itu tak membuatku merasa senang sedikitpun. Karena pada saat itu aku hanya mencintai satu wanita. Mentari.


Maka di saat Nayara meminta cerai dengan alasan sudah tak tahan lagi dengan semua sikapku, pada saat itu juga aku menyetujuinya. Percuma aku mempertahankan pernikahan kalau tidak ada cinta sama sekali di dalamnya. Terlebih, semuanya sudah tahu kalau aku sudah menikahi Tari.


Aku mencintai Tari dan anak yang sedang di kandung dalam perutnya. Saat itu aku merasa jadi laki-laki paling bahagia karena akan memiliki anak dan menjadi seorang Ayah. Tak ada kebahagiaan lain yang aku rasakan saat itu selain menanti kelahiran anakku.


Hari-hariku berjalan normal seperti biasa, meskipun saat itu aku telah kehilangan kepercayaan dari kedua orangtua-ku. Mereka berdua benar-benar menutup diri untukku, tak pernah menanyakan bagaimana keadaan aku dan Tari sama sekali. Bahkan sepertinya mereka tak menginginkan kehadiran anakku.


Tapi aku tak pernah menyerah, aku selalu berusaha untuk mengambil kembali hati Papa dan Mama. Meskipun kerap kali mereka mengacuhkanku. Hingga suatu hari mereka memaafkanku dan mau menerimaku kembali, mengakui aku dan anakku karena Tari telah pergi meninggalkanku.


Tiga bulan setelah Tari melahirkan Cheery, wanita itu pergi meninggalkan aku dan bayi yang masih berusia tiga bulan itu. Tari pergi bersama dengan lelaki yang selama ini aku ketahui sebagai mantan kekasihnya dulu.


Karena rasa cintaku yang terlampau besar untuknya, hingga aku buta dan tak menyadari jika Tari telah mengkhianati-ku. Wanita itu selingkuh dengan temanku sendiri.


Menyesal?


Ya. Aku sedikit menyesal. Tapi tak ada gunanya aku menyesali dengan apa yang telah terjadi.


Aku yang saat itu hampir gila karena Tari, maka aku melampiaskan semuanya pada minuman. Setiap hari aku selalu pergi ke klub hingga berakhir dengan mabuk-mabukkan. Kalau tidak ada Papa dan Mama yang membantuku bangkit, entah apa yang akan terjadi padaku. Entah seperti apa nasib perusahaanku dan juga anakku.


Hingga di tahun ketiga, akhirnya aku bisa melupakan Tari. Menghilangkan rasa sakit hatiku karena pengkhianatan wanita itu. Aku lebih memilih untuk mengurus putri kecilku itu sendiri. Sekarang yang aku punya hanyalah Cheery, Papa dan Mama.


Aku selalu menolak setiap kali Mama meminta aku untuk menikah kembali. Bahkan di saat Papa akan mengenalkanku pada putri teman bisnisnya pun aku tolak. Untuk sekarang aku hanya ingin sendiri, aku belum ingin menikah karena aku hanya ingin fokus mengurus Cheery.


"Nanti malam kamu bisa makan malam di rumah kan?"


"Memangnya kenapa, Ma?"


"Keluarga Paman Anthony akan makan malam disini. Mama harap kamu juga ikut hadir."


Tak butuh waktu lama untuk aku mengerti apa maksud dari ucapannya Mama. Aku tahu, selain makan malam ada sesuatu yang sedang Mama rencanakan. Apa lagi kalau bukan untuk mengenalkan ku pada putri Anthony.


"Aku gak bisa, Ma."


"Tian ..." Mama memelas. "Untuk kali ini, kamu mau kan kenalan sama Bella."


"Ma ..." Kepalaku menggeleng. "Aku gak mau."


"Bella anaknya cantik, dia juga baik. Mama rasa kamu sama Bella cocok."


"Ma ... udah berapa kali aku bilang sama Mama, kalo aku belum memikirkan untuk menikah lagi." Akuku padanya.


"Tapi kamu udah lama sendiri, kamu butuh seseorang yang mendampingi kamu, dan Cheery juga butuh seorang Ibu, Nak. Dia butuh kasih sayang."

__ADS_1


"Cheery tidak pernah kekurangan kasih sayang, karena aku menyayanginya, Ma. Mama dan Papa juga kan?"


"Iya, tapi itu beda lagi." Mamaku berujar kesal. "Mama hanya ingin melihat kamu sama Cheery bahagia."


"Aku udah bahagia." Sungutku sedikit kesal.


"Terserah kamu." Aku melirik ke arah Mama yang sedang merengut sebal. "Memang pilihan Mama sama Papa itu tak pernah ada satupun yang cocok buat kamu."


"Ma ..."


"Iya kan? dulu aja Mama jodohin kamu sama Nayara, buktinya kamu gak suka. Padahal Nayara itu satu-satunya gadis yang Mama suka."


Aku menatap Mama sekarang, bukan karena kesal. Tapi ada sesuatu yang membuat aku seperti merasakan sesuatu yang aku sendiri pun tak mengerti ketika nama Nayara di sebut.


"Mama jadi merasa bersalah sama Nayara." Aku melihat wajah Mama kembali sendu. "Mama belum sempat minta maaf, tapi Naya udah pergi." Mama menoleh menatapku. "Kamu benar-benar gak tau, Naya dan Ibunya pindah kemana?"


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat aku sedikit risih.


"Entah kenapa Mama merasa belum tenang sampai sekarang. Mama dan Papa belum sempat minta maaf sama Nayara dan Ibunya atas kelakuan kamu dulu."


Aku menunduk, menyadari atas segala kesalahan yang telah aku lakukan. Dulu, aku sempat mencari Nayara hanya untuk menyampaikan permintaan maafku padanya. Tapi setelah sampai di kota tempat Naya dan Ibunya tinggal, aku baru tahu kalau ternyata mereka sudah pindah rumah. Aku sempat bertanya pada beberapa orang yang tinggal tak jauh dari rumah Nayara, tapi tak ada satupun orang yang mengetahuinya.


"Meskipun malu, tapi Mama pengen banget ketemu sama Nayara."


Bukan hanya Mama yang malu, tapi aku juga malu. Aku seperti laki-laki pengecut saat bertemu dengan Nayara beberapa hari yang lalu. Sebenarnya aku ingin menyapa dan meminta maaf, tapi sepertinya Nayara menghindariku dan menganggap aku sebagai orang asing. Aku tahu mungkin sekarang gadis itu membenciku.


Seandainya Mama tahu kalau sebenarnya aku sudah bertemu dengan Nayara. Apa Mama tak akan sedih lagi?


Karena aku tahu bagaimana sedihnya Mama saat Nayara pergi.


"Tian, seandainya Naya masih jadi istri kamu ..." Mama diam sesaat sebelum kemudian kembali menatapku.


Aku mengernyit, menunggu apa yang akan Mama ucapkan selanjutnya.


"Apa Naya sudah menikah lagi?"


Aku diam, mendengarkan Mama yang terus mengoceh tanpa henti. Tanpa Mama tahu, kalau sebenarnya akupun memiliki pertanyaan yang sama dengannya.


Ck, apa yang aku pikirkan?


...****************...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2