
•
•
•
"Jangan pernah berani kamu sentuh dia.!"
Seketika aku menoleh, menatap pada pria yang sekarang sedang mencengkram erat tangan Silvana.
"Lepaskan.!" Silvana meronta, berusaha melepaskan tangannya itu. "Siapa kamu? bukankah kamu laki-laki yang datang bersama Bella?"
"Mas Tian?" Gumamku pelan. Aku menggeleng, meminta agar lelaki itu melepaskan tangan Silvana.
"Kalo kamu berani menyentuhnya, sedikitpun aku tidak akan tinggal diam." Ujarnya lagi yang membuatku sedikit terkejut.
"Oh ..." Silvana tertawa sarkas. "Apa Bella tau, kalo lelaki yang datang bersamanya itu membela wanita murahan seperti dia?"
"Jaga bicara kamu."
"Kenapa? memang benar kan?"
"Mas cukup, lepasin tangan dia." Meskipun kesal, tapi aku tak ingin membuat keributan disini.
Tian melepaskan tangan Silvana saat itu juga. Sebelum pergi, lelaki itu menatap Silvana dengan tajam lalu meraih tanganku dan membawaku pergi saat itu juga. Meninggalkan Silvana, Bella dan juga Raffi yang entah sejak kapan mereka berdua sudah ada disana.
Kenapa aku diam saja saat Tian membawaku pergi? Kenapa aku diam dan tak menolak saat Tian menuntunku untuk masuk ke dalam mobilnya?
Entah apa yang terjadi padaku, aku menurut saja saat Tian membawaku, meninggalkan pesta dan menjadi pusat perhatian disana.
Bukan aku, tapi Tian yang mengabaikan tatapan semua orang termasuk Bella yang terus memanggil namanya. Wanita itu setengah berteriak, terus mengejar langkah kami tapi tak sedikitpun membuat Tian mau berhenti.
Pun saat Raffi berusaha mengejarku, aku memilih untuk pergi bersama Tian. Aku tak ingin membuat Raffi jadi sasaran kemarahan Papanya karena kekacauan yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Beruntungnya Raffi mengerti. Lelaki itupun merasa bersalah karena sikap keterlaluan dari Silvana.
Berada di dalam mobil, tak ada seorang pun yang membuka suara. Menjadikan suasana di dalam mobil itu terasa begitu hening. Aku diam, pun dengan Tian. Lelaki itu hanya fokus menatap jalanan, meskipun aku tahu sesekali Tian menyempatkan diri untuk melirik ke arahku.
Setengah perjalanan kami berdua lewati, seketika aku melihat wajah Tian yang berubah menjadi tegang saat menerima panggilan telepon dari Mama Maya. Entah apa yang membuat Tian berubah menjadi panik seperti itu, belum sempat aku bertanya tiba-tiba saja Tian memutar kembali mobilnya, berlawanan arah dengan tujuan utama kami. Yaitu Rumahku.
__ADS_1
"Maaf, aku harus segera pergi." Meskipun tak bertanya, Tian sepertinya sudah bisa membaca isi pikiranku. "Aku harus segera ke rumah sakit sekarang." Ujarnya lagi yang membuatku sedikit terkejut.
Rumah sakit?
"Ada apa? siapa yang sakit?"
"Cheery."
"Cheery? kenapa dengan Cheery, Mas?"
"Demam tinggi, dan kata Mama Cheery harus di rawat."
Setelah itu tak ada lagi yang kami berdua bicarakan, mungkin ini bukan saatnya aku bertanya lebih banyak lagi pada lelaki itu. Aku memilih diam kembali, sesekali memperhatikan Tian yang beberapa kali menghela napas berat seraya mengusap wajahnya gusar. Aku belum pernah melihat Tian secemas itu sebelumnya.
Dua puluh menit kemudian, aku dan Tian baru saja tiba di salah satu rumah sakit tempat dimana saat ini Cheery sedang mendapatkan perawatan. Tian melangkahkan kakinya lebar-lebar, lelaki itu sepertinya sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Cheery, putri kecilnya yang sekarang sedang terbaring lemah. Tian terus berjalan cepat, sehingga ia lupa jika aku sedikit kesulitan untuk mengejarnya karena sepatu dan gaun yang kukenakan pada saat ini.
Tapi ... aku sedikit terkejut saat Tian tiba-tiba saja berhenti tepat beberapa langkah dengan tempatku berdiri saat ini. Meskipun lelah dan cemas, lelaki itu menyempatkan diri untuk menatapku dan tersenyum.
"Maafkan aku."
Lagi, aku mendengar kata maaf itu kembali terucap dari bibirnya. Setelah lima tahun berlalu, entah kenapa aku lebih sering mendengar Tian lebih mudah mengucapkan kalimat yang dulu sangat sulit untuk ia ucapkan. Bahkan, dulu aku tak pernah sekalipun mendengar kata maaf itu dari bibirnya.
"Kenapa minta maaf?" Tanyaku saat sudah berdiri di hadapannya.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku ngerti."
"Seharusnya aku mengantarkanmu pulang, bukan membawamu kesini dan meninggalkanmu seperti ini."
"Sudahlah, Mas." Aku melempar seulas senyum tipis. Entah kenapa aku juga ingin melihat keadaan anak itu sekarang. "Sekarang kita temui Cheery dulu."
Tian mengangguk, lalu kami berdua berjalan bersama hingga sampai di depan salah satu pintu kamar ruangan tempat Cheery saat ini di rawat.
Tian membuka pintu itu secara perlahan lalu masuk, pun denganku yang mengikutinya dari belakang. Selain Papa, Mama dan Asih yang sedang berjaga seraya sedikit terkejut karena kehadiranku yang datang bersama Tian, hal pertama yang aku lihat adalah tubuh mungil itu sedang terbaring lemah di atas kasur dengan selang infus yang menancap di tangannya.
Wajah cantik dengan pipi gembilnya itu tampak sangat pucat meski dalam keadaan tidur seperti itu.
Melihat putrinya dalam keadaan sakit seperti itu membuat Tian langsung menghampirinya, lelaki itu mencium seluruh wajahnya dan mengecup tangan mungil itu berkali-kali. Sementara aku, aku menghampiri Papa dan Mama - mantan mertuaku itu terlebih dulu. Seperti biasa, Papa Adi dan Mama Maya memperlakukan aku dengan sangat baik, tak lupa mereka berdua pun mengucapkan banyak terima kasih karena aku mau menjenguk Cheery.
"Cheery baik-baik saja, demamnya juga sudah tidak seperti tadi." Mama Maya mendekat, lalu menepuk bahu Tian yang sedang duduk di samping Cheery saat ini.
__ADS_1
"Tapi Cheery tidak apa-apa kan, Ma? tidak ada penyakit serius kan?" Tanya Tian cemas.
Mama Maya menggeleng, beliau menjelaskan pada Tian kalau Cheery hanya terkena infeksi lambung dan itupun sudah mendapatkan penanganan dari dokter. Tidak ada penyakit serius yang seperti Tian cemaskan saat ini. Tian pun sangat bersyukur karena keadaan Cheery sudah mulai membaik.
Aku melihat Tian tak berhenti mengecup tangan mungil itu, membuat Cheery merasa terganggu dan seketika langsung membuka matanya.
"Papa ...!" Cicitnya.
"Iya, sayang. Papa ada disini." Tian kembali mencium seluruh wajah mungil itu.
"Tadi Cheery pusing, Pa." Adunya. "Badan Cheery juga panas."
Begitulah Cheery, anak kecil itu terus berceloteh membuat semua yang ada disana ikut gemas saat mendengarnya, pun dengan aku. Aku baru tahu kalau ternyata Cheery adalah anak yang banyak bicara, tidak seperti Papanya yang sangat irit bicara.
Aku tidak bisa menolak saat Cheery meminta aku untuk duduk di disamping kanan, berhadapan dengan Tian yang duduk di sebelah kirinya.
Tidak terasa waktuku menemani Cheery disini pun sudah cukup lama, aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku menunjukkan sudah hampir jam sebelas malam. Lantas aku memutuskan untuk pulang karena ini sudah terlalu malam, dan aku tak mau membuat Ibu khawatir.
Aku memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi. Tapi Papa dan Mama Maya melarang. Mereka berdua tak membiarkan aku untuk pulang sendiri, dan mereka berdua meminta Tian untuk mengantarkanku, meskipun aku menolak.
"Hati-hati ya sayang. Titip salam buat Ibumu ya?"
Akupun pamit, meninggalkan ruangan itu dan beruntungnya Cheery sudah tertidur kembali setelah aku membacakan cerita untuknya.
Seperti biasa, perjalanan dari rumah sakit menuju rumahku pun terasa begitu lama karena aku dan Tian sama-sama diam. Tidak ada yang kami berdua bicarakan hingga mobil yang di kendarai Tian pun akhirnya sampai di depan pagar rumahku.
"Makasih sudah mengantarkanku pulang, Mas." Ucapku seraya membuka seatbelt. Aku ingin segera keluar dan masuk ke dalam rumahku. Karena berada satu mobil berdua bersama Tian membuatku tak bisa bernapas dengan baik. "Aku masuk, Mas. Titip salam buat Cheery."
"Naya ...!"
Aku yang hendak membuka pintu mobil pun tiba-tiba berhenti.
"Maaf jika aku harus mengatakannya lagi."
Aku hanya diam, menunggu apa yang akan Tian katakan selanjutnya. "Aku serius dengan ucapanku tempo hari."
"Maksud kamu, Mas?" Akupun menoleh, menatap pada pemilik mata kelam itu sekarang.
"Tentang perasaanku."
__ADS_1
"Aku mencintai kamu. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu." Akunya yang membuatku seketika mendadak diam terpaku.
...****************...