Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Kehilangan


__ADS_3




Sebenarnya aku malas untuk kembali ke rumah ini. Rumah yang selama ini menjadi saksi bisu bagaimana aku dan Tian hidup di dalamnya. Rumah yang sudah tiga bulan ini aku tempati, dan rumah yang mungkin sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan.


Aku yang telah kehilangan semangat dan tujuan untuk kembali ke rumah ini, tiba-tiba saja tersentak saat suara parau milik Tian terdengar. Aku tak tahu sejak kapan lelaki itu ada di hadapanku, menatapku dengan tatapan yang sangat sulit untuk aku artikan.


"Darimana saja kamu?"


Aku menatapnya, tapi tak lama kemudian, aku memutuskan untuk membuang muka ke samping. Aku tak ingin melihat wajah itu berlama-lama.


"Nayara, jawab aku?"


"Bukan urusan, kamu!" Jawabku ketus. Aku tak peduli meskipun Tian marah. Aku hanya ingin masuk ke dalam kamarku, lalu mengemasi semua pakaianku. Ya, malam ini juga aku memutuskan untuk keluar dari rumah ini.


Aku berjalan melewati Tian dan Mbok Iyam yang masih berdiri di samping lelaki itu sambil menatapku iba. Begitu kakiku berada di undakan tangga terakhir, aku tersentak saat Tian tiba-tiba saja menarik tanganku hingga aku tak sengaja menubruk dada bidang lelaki itu.


"Mas?"


"Kita perlu bicara."


"Gak ada yang harus di bicarain." Aku berusaha melepaskan diri dari cengakraman lelaki itu. Tapi sayangnya, ini terlalu sulit untukku.


"Aku mau bicara." Kekehnya.


"Bicara apa, Mas? Kamu mau bicara kalo kamu sudah menikahi perempuan itu, iya?" Entah kenapa aku tidak bisa menahan emosiku saat ini. Inginnya aku menangis, tapi sebisa mungkin aku tahan. Aku tak ingin menangis di hadapan laki-laki yang sering membuatku menangis itu. Tidak.


"Aku capek, Mas. Aku lelah. Maka sekarang biarkan aku untuk pergi dari rumah ini."


"Nay ..." Seketika lelaki itu melepaskan tanganku dari cengkramannya. Dan sekarang, aku melihat tatapan Tian yang tak seperti biasanya. Lama kami berdua saling beradu tatapan, hingga aku sadar.


Aku yang tak ingin berlama-lama bersama Tian, segera memutuskan untuk meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar. Aku memutuskan untuk mengemas semua pakaianku, lalu setelah itu pergi.


"Naya, apa yang kamu lakukan?" Aku kira Tian tak mengikutiku sampai dalam kamar, ternyata lelaki itu sudah berdiri di belakang punggungku.


Aku tak menjawab. Aku memilih untuk diam dan memasukkan semua pakaianku ke dalam koper yang baru saja aku ambil dari dalam lemari.


"Naya, kita bicarain ini baik-baik." Lelaki itu terus saja mengikutiku dari belakang. "Nayara!!" Sentaknya yang membuat aku sampai berjengit kaget.


Aku menoleh, menghentikkan kegiatanku yang sedang mengemas pakaian lalu menatapnya tak suka. Sementara Tian, lelaki itu pun sama sepertiku. Tian marah, terlihat dari wajahnya yang merah dan rahangnya yang mengeras.

__ADS_1


"Apa yang membuat kamu marah, Mas? seharusnya kamu bahagia karena aku akan pergi dan gak akan ganggu kalian lagi."


"Tapi bukan begini, Nay." Akhirnya suara itupun melemah. Lelaki itu mendekat. Berdiri di hadapanku saat ini sembari menyentuh kedua bahuku. "Aku minta maaf, karena aku sudah menikahi Tari."


Aku berdecih jijik, melepaskan tangan Tian dari bahuku.


"Aku gak peduli, Mas. Kamu mau menikah sama dia atau siapapun. Aku gak peduli." Ujarku bersungut-sungut. Dan Tian pun kembali bungkam.


Menarik napas dalam-dalam seraya mengguyar rambut kebelakang, Aku melihat penampilanku sendiri yang tak sengaja terlihat dari pantulan cermin di dalam kamar, aku tak menyangka, ternyata aku terlihat begitu buruk.


"Aku tahu Mas, kamu gak pernah menginginkan pernikahan ini. Aku tahu kamu membenciku, aku tahu kamu gak pernah suka sama aku. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini kamu nyakitin aku, Mas?" Sumpah demi apapun, hatiku saat ini terasa begitu sakit.


"Naya ..."


"Pernikahan kita baru berjalan tiga bulan, Mas. Kamu tahu?" Ada jeda di sela kalimatku. "Tadinya aku ingin mempertahankan pernikahan ini setidaknya sampe satu tahun ke depan. Kamu tahu kenapa? karena aku gak mau membuat keluarga ku atau keluarga mu kecewa, Mas."


Aku mundur satu langkah kebelakang seraya menyeka sudut mataku yang mulai menggenang. "Kenapa kamu egois Mas? kamu gak pernah sedikit pun menghargai perasaan aku."


Lelaki itu masih saja bungkam, sepertinya Tian memang sengaja membiarkan aku untuk mengeluarkan semua kekesalanku padanya.


"Kamu jahat, kamu berengsek. Kamu laki-laki egois. Aku benci ... Aku benci. Aku benci kamu, Mas!" Jeritku frustrasi.


Tak menunggu lama lagi, aku kembali memasukkan semua pakaianku ke dalam koper hingga tak ada satu baju pun yang aku tinggal disana. Aku sudah memutuskan untuk pergi dan mengakhiri pernikahan palsu ini. Aku akan membiarkan mereka berdua bahagia. Setelah hampir selesai, aku tak sengaja melihat layar ponselku yang menyala. Aku menatapnya sekilas dan tertera nama Ibu disana. Pun dengan Tian, lelaki itu menatapku dan menatap ponselku secara bergantian.


Apa mungkin Ibu tahu kalau aku disini sedang tidak baik-baik saja?


Aku mengabaikan panggilan dari Ibuku sendiri, dengan maksud ingin segera pergi dari rumah ini, lalu menghubunginya kembali nanti. Tapi setelah aku menurunkan koper itu dari atas kasur, kembali ponselku berdering. Dan Ibu kembali menghubungi aku. Mendadak perasaanku menjadi tak tenang. Ada apa?


Lagi, aku tak mengangkat panggilan darinya. Aku memilih untuk menyeret koperku dan meninggalkan rumah ini. Tapi baru beberapa saja langkah kakiku melangkah, aku mendengar suara Tian yang sedikit terkejut saat menerima panggilan yang aku yakini itu adalah dari Ibuku. Aku berhenti, dan entah kenapa perasaanku menjadi tak tenang setelah lelaki itu menyebut nama Ayahku.


Ku putar badanku seketika, lalu menatap Tian yang masih menunjukkan raut terkejut dan juga sedih.


"Naya ... Ayah ..."


Tubuhku mendadak bergetar, dan mataku mulai berkaca-kaca saat Tian menyebutkan nama Ayah.


"Ada apa?" Tanyaku. Aku semakin tak tenang saat melihat Tian menutup matanya, lalu menundukkan kepalanya lesu.


"Mas ..." Aku semakin tak tenang, ku rampas ponsel yang masih Tian pegang dalam genggamannya. Dan aku melihat panggilan itu belum terputus.


"Halo, Bu?. Bu ini aku Naya, Bu. Ada apa?" Aku takut sekali. Dan ketakutanku itu semakin bertambah ketika mendengar suara Ibuku yang menangis di seberang sana.


"Ibu ..." Suaraku bergetar. Dan Tian menghampiriku seraya menyentuh kedua bahuku dari belakang.

__ADS_1


"Nak ..." Ibu semakin terisak disana. "Nak, Ayah mu sayang."


"Kenapa dengan Ayah? apa yang terjadi, Bu?"


"Ayah mu sudah pergi." Aku dengar Ibuku semakin menangis.


"A - apa maksud, Ibu?"


"Ayah, sudah meninggal, Nak."


Deg,


Aku tersentak. Napasku tiba-tiba saja tercekat. Aku merasakan dentaman hebat memukul dadaku kuat. "A- apa, Bu? A- ayah meninggal?"


"Iya, Nak. Ayah mu terkena serangan jantung. Dan sekarang Ibu masih di rumah sakit."


Entah bagaimana aku harus menggambarkan perasaanku saat ini. Dunia ku seakan runtuh, kakiku terasa lemas dan rasanya tak sanggup lagi untuk berpijak. Aku butuh pegangan, dan jantung yang sebelumnya terpompa cepat kini seakan kebas.


Ayah meninggal? dia sudah pergi meninggalkan aku?


"Naya, kamu harus sabar. Kamu harus kuat. Tuhan lebih sayang, makanya dia memanggil Ayah sekarang." Tian memberiku semangat dan kekuatan meski ia juga sedih. Bagaimana pun Tian sudah menganggap Ayah Naya sebagai ayahnya juga.


"Mas ... ayah, Mas.!" Jeritku. "Ayah, Mas." Aku meraung, dadaku terasa sesak dan sakit. Bahkan rasa sakit saat mengetahui tentang Tian yang sudah menikahi wanita lain pun tak sebanding dengan rasa sakit ketika aku harus kehilangan Ayah.


"Naya, kamu harus sabar." Ujar Tian ragu lalu memberi sebuah pelukan. "Kamu harus kuat."


Kedua tanganku membalas pelukannya. "Ini gak mungkin." Aku berteriak histeris. "Ayah gak mungkin ninggalin aku."


"Nay ..." Tian mengelus lembut kepala dan bahuku. Aku terisak kencang, air mataku kini sudah membasahi baju Tian yang memelukku erat.


Aku telah kehilangan Ayah.


Kenapa Ayah pergi di saat aku membutuhkan pelukanmu sekarang. Kenapa Ayah pergi disaat aku membutuhkan pegangan.


"Kamu harus kuat, Nay ..."


Kuat? Tidak, aku tidak mungkin kuat sekarang. Aku tak tahu apakah aku bisa kuat di saat aku sedang sedih sendirian disini. Aku lemah. Dan aku membutuhkan sosok Ayah disini.


Hanya Ayah lah yang aku butuhkan sekarang untuk menguatkan diriku.


Lalu setelah Ayah pergi, siapa orang yang akan menjaga aku dan Ibu?


Sementara aku tak punya siapa-siapa lagi. Apalagi satu-satunya lelaki yang Ayah percaya untuk menjagaku, cepat atau lambat dia akan pergi dari kehidupanku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2