Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Mendapatkan restu


__ADS_3

"Kenapa kamu minta maaf terus sih, Mas?" Sungutku sedikit kesal, karena sejak kedatangannya kerumah setengah jam yang lalu, Tian tak pernah berhenti meminta maaf. Lelaki itu merasa sangat bersalah karena sikap Cheery yang tidak bisa di tebak.


"Aku gak papa, Mas. Beneran deh!" Ujarku sambil mengedip manja.


Tian yang sedang serius menatapku pun seketika terkekeh kecil seraya mencubit hidung ku gemas.


"Aku gak tau kalo kamu punya sisi jelek seperti ini." Ledeknya.


Ya, karena yang Tian tahu kalau selama ini Nayara adalah gadis yang pendiam dan tak banyak bertingkah. Tapi setelah beberapa hari mengenal Naya, Tian baru menyadari kalau ternyata gadis itu sangat berbeda. Mungkin dari dulu Naya adalah gadis yang ceria dan juga unik, tapi sejak menikah dengan Tian, Naya berubah. Di tambah dengan sikap Tian yang abai padanya. Tak mau mengenal Naya lebih jauh lagi.


Belum lagi dengan penolakan dari Cheery beberapa hari yang lalu. Tian kira Naya akan berubah setelah Cheery berhasil membuat Naya merasa tak pantas untuk menjadi Ibu sambungnya. Tapi di luar dugaan, justru Naya lah yang meminta Tian untuk tetap bersikap tenang dan sabar. Cheery masih kecil, ia anak kecil yang sepenuhnya belum mengerti tentang hal apapun. Maka dari itu, Naya meminta izin pada Tian untuk mendekati Cheery dengan caranya sendiri.


"Jadi ... kapan kamu akan mempertemukan Cheery dengan Tari, Mas.?"


"Entahlah." Desahya frustrasi. "Mungkin dalam waktu dekat ini."


"Kasian Cheery, Mas."


"Iya, sayang ..." Tian menarik tubuhku, ia ingin memeluk namun segera aku tahan karena takut ketahuan Ibu.


"Kenapa?" Tanyanya penasaran saat aku menghindar.


"Ada, Ibu." Bisikku.


"Gak ada. Ibu kan lagi keluar." Karena memang Ibu sedang ke warung yang letaknya tak jauh dari rumah.

__ADS_1


"Ibu bentar lagi juga kembali, Mas. Udah ah, jangan aneh-aneh deh ..." Aku berdiri, hendak pergi ke dapur.


Peringatan dariku tak membuat laki-laki itu menyerah begitu saja. Tian malah mengikutiku ke dapur, lelaki itu dengan santainya memeluk tubuhku dari belakang saat aku ingin membuka lemari pendingin.


"Mas ..."


"Sebentar saja." Tian semakin erat memelukku.


"Ada Ibu loh Mas disini.!"


"Gak papa Ibu lihat juga, biar kita langsung di nikahkan." Ucapnya sambil terkekeh.


Aku mendengkus, "Memangnya kamu siap menikahiku sekarang?"


"Siap ... sangat siap malahan." Ujar Tian yakin.


"Jadi ... kapan kita akan menikah?" Tanya Tian serius.


Kepalaku menggeleng, "Aku gak tahu, Mas."


"Aku sudah mendapatkan restu dari Ibu, tinggal menunggu keputusan dari kamu, Nay. Aku ingin segera menikahimu, menjadikan kamu istriku sampai kita menua bersama."


"Iya, Mas."


"Lalu apa lagi? Papa dan Mama sudah setuju. Bahkan, Ibu pun sudah merestui kita. Naya."

__ADS_1


Ya, karena kemarin Tian secara resmi meminta restunya pada Ibu. Awalnya Ibu sempat terkejut, beliau masih tak percaya jika aku dan Tian bisa kembali dekat. Namun, melihat Tian yang selama ini berjuang mendapatkan cinta Naya kembali membuatnya yakin. Ibu yakin jika sekarang Tian benar-benar mencintai putrinya itu.


Tian pun mengutarakan niat baiknya yang ingin kembali menikahiku. Tian meminta izin pada Ibu untuk menjadikan aku sebagai istri dan Mama untuk Cheery. Ibu langsung setuju dan memberi restu. Tapi semua keputusan itu, Ibu kembalikan lagi padaku. Ibu menyerahkan semuanya padaku. Ibu hanya bisa memberikan doa terbaik untukku dan juga Tian. Ibu hanya menginginkan aku bahagia. Dan Ibu sangat yakin jika Tian adalah laki-laki yang akan membahagiakan'ku.


Karena Ibu tahu, kalau akupun masih mencintai Tian.


Tian pun berjanji di hadapan Ibu dan juga aku, jika ia akan mencintaiku, melindungiku dengan segenap jiwa dan raganya.


"Aku belum mau menikah sama kamu, sebelum Cheery mau menerima ku, Mas."


Tian memejamkan matanya sebentar. "Jangan pikirkan Cheery, biar itu menjadi urusanku nanti."


"Gak, Mas." Kepalaku menggeleng. "Beri aku waktu. Aku ingin mendekati Cheery dengan caraku sendiri. Jadi aku mohon, izinkan aku untuk membawa Cheery pada Tari."


"Jika itu bisa membuatmu mau segera menikah denganku, baiklah, aku izinkan Cheery untuk bertemu Tari."


"Serius?"


"Hem ..." Kepala Tian mengangguk. "Mungkin sudah saatnya untuk aku berdamai dengan masa lalu. Aku ingin hidup bersamamu dengan tenang.."


Entah kenapa perasaanku mendadak menjadi senang seperti ini. Aku tersenyum, bahkan senyumanku itu cukup lebar hingga mungkin membuat kedua mataku sedikit menyipit.


Tian sudah memberiku izin, dan aku akan menggunakan kesempatan itu untuk memperbaiki hubungan yang sebelumnya sempat tidak baik itu. Sebelum aku menerima lamaran dari Tian, aku ingin melihat Tian dan Tari berdamai dengan masa lalu mereka.


Aku tidak ingin menjalani rumah tangga bersama Tian jika di antara kami masih ada bayang-bayang kebencian di dalamnya.

__ADS_1


Karena aku ingin bahagia bersama dengan keluarga kecilku nanti, bersama Tian dan juga Cheery.


...****************...


__ADS_2