
•
•
•
Sebastian Aydan,
Penyesalan itu selalu datangnya belakangan, dan itu yang aku rasakan sekarang.
Meskipun aku telah berubah menjadi lebih baik, tapi sepertinya, luka itu telah membekas di hati. Dan apapun yang aku lakukan, sama sekali tak berpengaruh apa-apa untuk orang yang pernah aku sia-siakan dulu.
Andai waktu bisa aku ulang kembali, andai saat itu aku tak dibutakan cinta pada Mentari, andai saat itu aku menyadari ada cinta lain untukku, mungkin semuanya takkan seperti ini.
Semuanya seakan sudah terlambat.
Terlambat?
Tidak.
Tidak ada kata terlambat untuk aku meminta maaf, sampai aku menerima maaf darinya.
Nayara Syila.
Nama yang dulu sangat sulit untuk aku ucapkan. Tapi kini, sepertinya Tuhan sedang menghukumku dengan caranya sendiri. Sampai-sampai setiap hari nama itu selalu ada dalam pikiranku.
Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah pukul tujuh malam dan aku masih berada di jalanan. Beberapa kali aku mengumpat karena terjebak dalam kemacetan seperti ini. Belum lagi, Asih sudah beberapa kali menghubungiku, memberi tahuku kalau Cheery tak berhenti menangis dan selalu menanyakan keberadaanku.. Mendengar itu tentu membuatku semakin kesal.
Aku ingin segera sampai rumah dan melihat keadaan Cheery. Selain aku, tak ada seorang pun yang bisa membuat Cheery berhenti menangis, termasuk Papa dan Mama sendiri.
Seharusnya aku tidak masuk kantor, seharusnya aku membatalkan semua pertemuanku siang tadi. Seharusnya sekarang aku berada di rumah. Ya, memang seharusnya aku menemani Cheery saat ini.
Begitu tiba di depan rumah, aku langsung keluar dari dalam mobil. Ku langkahkan kakiku lebar-lebar untuk segera masuk menemui kedua orangtuaku dan tentunya Cheery, putri kecilku itu yang katanya tak berhenti menangis sejak tadi.
Saat aku sudah berada di dalam rumah, yang menjadi pusat perhatianku saat ini bukan Mama ataupun Papa. Bukan juga orang-orang yang sudah memenuhi ruangan dalam rumahku, tetapi pandanganku saat ini tertuju pada seorang wanita paruh baya yang duduk bersebelahan dengan Mama. Ya, aku melihat mantan Ibu mertuaku itu ada disini. Entah kenapa kedua bola mataku seketika berpendar untuk mencari keberadaan seseorang. Namun aku tak menemukan keberadaannya di rumah ini.
Apa mungkin Nayara tak ikut bersama Ibunya?
Ck ... apa yang aku pikirkan?
Entah kenapa aku seperti mendapat tantangan tersendiri saat Nayara mengabaikanku, bersikap datar, dan seolah-olah kami tak pernah bertemu sebelumnya. Semakin Nayara membenciku, semakin besar pula keinginanku untuk mendekatinya.
Jangan tanyakan kenapa, karena aku sendiri pun tak tahu jawabannya.
Aku hanya ingin mengatakan ***Selamat datang Karma***.
__ADS_1
Aku sedikit tersentak saat Mama memanggilku. Aku menghampirinya, dan tak lupa meraih tangan mantan Ibu mertuaku itu lalu mencium punggung tangannya.
"Ibu sendiri?" Ah ... bodoh, pertanyaan macam apa itu?
Ibu tersenyum, "Tidak." Jawabnya sambil menggeleng. "Ibu kesini bersama Naya, Nak Tian."
Entah kenapa dadaku tiba-tiba saja berdebar tak beraturan saat mendengar kalau ternyata Nayara juga ada disini. Tidak apa-apa meskipun aku tahu Naya membenciku, tidak apa-apa meskipun aku tahu Naya selalu bersikap dingin padaku. Sungguh, aku tidak apa-apa. Mendengar mereka masih mau berhubungan baik dengan Mama dan Papaku saja membuatku merasa senang. Meskipun tidak dengan Naya, setidaknya aku dan Ibu masih bisa berhubungan dengan baik.
Kalau Nayara ada disini, lalu dimana dia sekarang?
"Pak, Tian." Aku menoleh, pun dengan Ibu dan Mamaku. Kami semua melihat Idah datang menghampiri kami.
Wanita paruh baya itu mengatakan kalau Cheery sudah tak menangis lagi. Idah pun mengatakan kalau sekarang ada Nayara yang sedang menemani Cheery di kamarnya. Aku terkejut, pun dengan Mama yang sepertinya masih tak percaya.
Maka, aku dan Mama memutuskan untuk segera naik ke lantai dua, meninggalkan Papa, Ibu dan para tamu disana untuk melihat keadaan putriku sekarang.
Begitu tiba di depan pintu kamar yang memang tak tertutup itu, aku melihat Nayara ada disana. Aku diam, pun dengan Mama. Pandangan kami berdua saat ini tertuju pada dua sosok perempuan yang sedang saling melempar tawa disana.
Aku tertegun, menatap keindahan keduanya ketika sedang tertawa lepas seperti itu.
Kenapa Naya? kenapa Nayara yang bisa membuat Cheery tersenyum kembali?
Dan sepertinya Nayara pun mengetahui keberadaan aku dan Mama yang berdiri di depan pintu. Aku melihat gadis itu kembali membuang muka saat matanya tak sengaja menatapku, Naya pun segera turun dari ranjang dan membereskan bukunya, lalu berpamitan untuk segera menemui Ibunya di bawah.
Dan aku kembali tersenyum miris, saat gadis itu kembali mengabaikanku. Nayara sama sekali tak mau melihatku saat aku mengucapkan terimakasih padanya.
Jadi, seperti ini rasanya di abaikan?
Aku merasa menjadi manusia paling jahat dan berengsek saat ingatanku kembali lagi pada sikap abaiku dulu pada Nayara. Rasa bersalahku itu semakin besar saat aku sendiri merasakan apa yang mungkin Nayara rasakan dulu. Lalu, bagaimana perasaan gadis itu saat ia tahu kalau aku telah menikahi wanita lain di saat aku masih resmi menjadi suaminya?
Brengsek.!
__ADS_1
Tapi ada sesuatu yang membuat hatiku senang saat melihat mobil yang di tumpanginya itu mendadak mogok. Aku melihatnya dari kejauhan, dan membiarkannya sampai Nayara turun dan meminta bantuan. Tapi sepertinya gadis itu memang sedikit keras kepala, dan aku tak akan membiarkan orang lain lebih dulu membantunya.
Aku menghampirinya, aku tahu kalau Naya akan menolak, maka aku putuskan untuk bicara pada Ibu. Dan benar saja, Nayara langsung menurut saat Ibu meminta aku untuk melihat keadaan mobilnya.
Bukan hanya itu, aku pun merasa beruntung saat kedua orangtua-ku datang dan meminta aku sendiri yang mengantarkan mereka berdua untuk pulang. Sungguh, meskipun lelah, tapi rasa lelah itu hilang seketika berganti dengan rasa bahagia yang aku sendiri pun tak mengerti.
Sepanjang dalam perjalanan, seperti biasa Nayara hanya diam tanpa mengeluarkan suaranya sedikit pun. Dan diam-diam aku selalu mencuri pandang, memperhatikan gadis itu dari balik kaca spion.
Beruntung di dalam mobil itu ada Ibu, jadi tak ada keheningan yang tercipta disana. Suasana mendadak jadi hangat ketika Ibu selalu mengajakku bicara. Bahkan, tak segan wanita paruh baya itu memberiku nasihat.
Aku sendiri sempat tak percaya saat Ibu memberitahukan alamat rumahnya. Jadi selama ini mereka berdua tinggal disini? bahkan jaraknya pun tak terlalu jauh dari rumahku atau rumah kedua orangtua-ku.
Begitu kami semua tiba di depan rumah yang lumayan cukup besar itu, aku segera membuka pintu. Dan ternyata hujan pun masih tetap mengguyur sangat lebat. Aku memutuskan untuk membuka payung dan mengantarkan Ibu sampai ke depan pintu, disaat aku hendak berbalik ingin memberikan payung itu pada Naya, aku melihat gadis itu sudah keluar dan sedikit berlari menghampiri kami.
Jujur, aku sempat terpaku beberapa detik saat melihat wajahnya yang sedikit terkena tetesan air hujan.
Entah kenapa aku melihat Naya sangat cantik.
Segera tersadar saat mendengar suara Ibu, akupun memberanikan diri meminta izin padanya untuk berbicara sebentar dengan putrinya itu.
Inginnya aku memeluk Ibu dan mengucapkan terimakasih karena Naya yang sebelumnya keberatan, akhirnya menurut saat Ibu menatap dan menganggukkan kepalanya.
Maka tak kusia-siakan kesempatan ini.
Aku yang sedari tadi ingin bicara dan memberikan sesuatu yang sudah ku simpan sejak tadi, maka pada malam ini aku mempunyai kesempatan untuk memberikannya secara langsung. Aku hanya ingin tahu seperti apa reaksi gadis itu saat aku memberikan buku diary miliknya.
"Maaf, kalo aku sudah lancang membuka dan membaca isinya."
Aku melihat Naya sangat terkejut, gadis itu menatap buku diary-nya dan aku secara bergantian. Akupun melihat rona merah pada wajah cantiknya itu seketika tecetak jelas. Entah karena marah atau malu.
Dan sumpah demi apapun, aku sangat menyukainya. Aku menyukai Naya yang gugup dan menatapku malu-malu seperti itu.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...