
•
•
•
Keesokan harinya, aku dan Tian baru saja pulang setelah tiga hari kami berdua menginap di rumah kedua orangtuanya. Awalnya, Mama mertuaku itu tak mengijinkan kami untuk pulang, tetapi karena pekerjaan Tian yang semakin menumpuk, maka mau tidak mau Mama Maya pun tak bisa menghalanginya lagi.
Pagi ini, aku kembali di kejutkan oleh sikap lelaki itu yang lagi dan lagi membuatku bertanya-tanya. Tak seperti hari-hari sebelumnya, Tian yang tak pernah mau sarapan di rumah, maka pada hari ini lelaki itu duduk berhadapan denganku.
"Kenapa?" Tanyanya saat aku tak berhenti menatapnya.
Aneh bagiku melihat perubahan sikap Tian yang begitu cepat.
"Mulai sekarang, setiap pagi aku akan berusaha untuk sarapan di rumah."
Aku masih diam mematung, sementara Mbok Iyam yang sedari tadi sedang menyiapkan sarapan untuk kami berdua, wanita paruh baya itu tersenyum lebar.
"Bisa buatkan aku kopi?"
"Hah?" Aku sedikit terkejut. Menatap ke samping kanan dan kiri secara bergantian. "Aku?" Tanyaku seraya menunjuk diri sendiri. Karena di ruang makan itu sekarang hanya ada aku.
"Memangnya siapa lagi?" Ujarnya kesal.
"Ta - pi ..." Telingaku tidak salah dengar kan?
"Kamu nyuruh aku, Mas?" Tanyaku masih tetap tak percaya, selama ini Tian tak pernah mau meminum apapun yang aku buatkan. Selain karena rasanya yang selalu tak sesuai selera, Tian pun sempat melarang aku untuk tak melakukan apapun untuknya, termasuk dengan membuatkan kopi sekali pun.
"Iya, Nayara Syila. Aku meminta kamu untuk membuat kopi, bisa kan?"
Entah kenapa aku merasa jika telah terjadi sesuatu yang aneh pada Tian. Semenjak kami pulang dari rumah kedua orangtuanya itu, Tian sedikit berubah. Bahkan, di hari dimana ia memelukku waktu itu, aku kira Tian akan marah atau malah semakin dingin terhadapku, nyatanya tidak. Lelaki itu justru bertingkah semakin mencurigakan. Tian bukan lagi Tian yang dingin seperti beberapa waktu yang lalu.
Lalu, apa yang membuat lelaki itu berubah dalam waktu sekejap?
Aku yang melihat Tian bersikap seperti itu, justru membuatku semakin aneh. Tapi ... ya sudahlah, mungkin malaikat baik sedang bersamanya saat ini.
"Ini, kopinya." Aku menyodorkan cangkir yang berisi kopi panas itu ke hadapannya.
"Hm ..." Jawabnya dengan mata pokus pada layar ipad.
Aku memperhatikan bagaimana cara lelaki itu menyesap kopinya. Aku takut jika Tian kembali tak menyukainya. Tapi ... hingga di sisa terakhir, lelaki itu tak mengatakan apapun. Sepertinya kopi yang ku buat kali ini mungkin sama seperti buatan Mbok Iyam.
Setelah meminum kopinya sampai habis, Tian pun bergegas meninggalkan meja makan. Lelaki itu bersiap untuk kembali ke kantor, memulai kembali pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa hari terakhir ini.
Aku yang masih menatap punggungnya itu seketika terhenyak saat Tian kembali menoleh ke belakang seraya berkata.
"Apa kamu tidak ingin mengantarkan aku sampai depan?"
"Ya." Entah kenapa aku kembali menjadi orang bodoh. Mungkin karena efek terkejut yang membuat aku menjadi seperti ini.
__ADS_1
Tak ingin berdebat, maka akupun memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Lagi, aku merasa aneh di buatnya. Apalagi dengan yang aku lakukan sekarang, entah dalam keadaan sadar ataupun tidak, aku telah berhasil membuat tubuh lelaki itu menegang kaku seketika.
"Hati-hati, Mas." Ujarku saat ciuman pada tangannya itu terlepas. Ya, karena bagaimana pun aku ini istrinya. Dan sudah seharusnya pula aku menghormati dia sebagai suamiku - suami yang mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi mantan.
Tian berdehem untuk mencairkan suasana yang sempat membuatnya tegang. Tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, lelaki itu masuk ke dalam mobil, lalu melesat melewati aku yang masih berdiri disana.
Mungkin, dia tidak suka saat aku menyentuhnya.
"Hh ... kenapa aku begitu lancang?"
******
"Pak ..."
Rama, asisten pribadi sekaligus kaki tangannya itu merasa aneh saat melihat Tian yang lebih banyak diam dan melamun hari ini. Tidak bisanya Tian seperti itu, apalagi ini di kantor.
"Pak ..." Barulah setelah panggilan kedua dari Rama, Tian tersentak.
Lelaki itu berdehem. "Ada apa?"
"Apa Pak Tian, baik-baik saja?"
Tian, lelaki itu mengernyit dengan dahi mengkerut. "Memangnya saya kelihatan tidak baik?"
Rama tersenyum kaku sambil menggaruk lehernya yang tiba-tiba saja terasa gatal saat Tian menatapnya tajam.
"O iya, Pak." Ada jeda di sela kalimatnya. "Kemarin ... Nona Tari datang kesini."
"Tari, kesini?" Raut wajah yang semula menyeramkan kini berubah menjadi menenangkan.
"Iya, Pak." Jawab Rama bersama kepalanya yang mengangguk. "Katanya ... Pak Tian susah sekali di hubungi, hape Pak Tian pun tidak aktif."
Tian meraup udara banyak-banyak sembari mengusap wajahnya gusar. Sejak ia dan Naya menginap di rumah kedua orangtuanya itu, Tian memang sengaja mematikan ponselnya agar Mentari tak menghubunginya. Bukan karena Nayara, lelaki itu justru takut jika sampai Mama dan Papanya mengetahui kalau ternyata ia dan wanita yang bernama Mentari itu masih menjalin hubungan. Apalagi, Papanya itu sekarang sudah mengetahui hubungannya bersama Tari, Tian takut jika Adi membuktikan kata-katanya yang akan menjauhkan Tari darinya.
"Sial.!" Tian kembali mengusap wajahnya kasar. Dan hal itu tak luput dari perhatian Rama.
"Kenapa, Pak.?"
"Apa Tari tidak mengatakan apa-apa lagi?" Karena terakhir kali mereka berdua bertemu di acara makan malam itu. Dan dua hari setelah itu, Tian tak pernah lagi menghubunginya.
"Nona Tari, meminta Bapak untuk segera menghubunginya. Itu saja, Pak."
Tian pun mendesah, lelaki itu menyandarkan kepalanya pada punggung kursi sambil menengadah. Menatap langit-langit ruangan itu dengan perasaan hampa. Bayang-bayang wajah Tari yang sedang tersenyum tiba-tiba saja terlintas di kepala. Jujur, Tian sangat merindukan wanitanya itu. Tapi, ia kembali ingat dengan ancaman sang Papa.
Tian tak ingin kehilangan Tari, karena ia begitu mencintainya. Tapi ia juga tak ingin melihat Papanya itu sakit, apalagi membuat Mamanya kecewa.
Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tian takut, jika suatu hari nanti rahasianya itu akan terbongkar.
__ADS_1
Ya, sebuah rahasia besar yang Tian sembunyikan dari siapapun, tak terkecuali Rama.
Rahasia itu pula yang nanti akan membuatnya berada dalam situasi yang sangat sulit.
"Sebaiknya, Pak Tian harus berhati-hati mulai dari sekarang. Karena Pak Adi, sepertinya sedang mengawasi anda, dan Nona Tari."
"Hem ... kamu benar." Ujarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Rama. "Sepertinya, Papa saya tidak diam."
"Sepertinya begitu, Pak."
"Saya bingung, kenapa Papa tidak pernah menyukai Tari?"
Rama yang mendapat pertanyaan seperti itu pun hanya bisa tersenyum. "Mungkin Pak Adi masih belum terima, kalau Nona Tari adalah anak dari orang yang pernah menyakitinya dulu."
"Tari tidak bersalah, dan ayahnya pun sudah meninggal."
"Kalau untuk itu, maaf Pak, saya tidak tahu."
Entahlah, apalagi yang harus Tian lakukan untuk membuat Papanya itu mau memaafkan dan menerima Tari. Sudah berbagai cara ia lakukan, tapi tak ada satupun yang berhasil.
Membuatnya lelah saja.
"O iya, Pak." Suara Rama tiba-tiba saja kembali terdengar. "Pak Tian masih ingat dengan tuan Arga Devano, kan?"
Mata yang semula terpejam itu seketika terbuka bersamaan dengan wajahnya yang langsung menoleh menatap Rama.
"Apa Pak Tian tahu, kalau ternyata tuan Arga Devano itu adalah mantan kekasih dari istri anda."
"Maksud kamu?" Tanya lelaki itu sambil mengernyit.
"Maksud saya, Nona Nayara, Pak." Rama tersenyum kaku.
"Nayara?"
"Iya." Kepala laki-laki itu mengangguk.
"Arga Devano, adalah mantan kekasih Nona Nayara."
Jelas Rama yang membuat Tian akhirnya mengetahui tentang sebuah rahasia. Selain dirinya, ternyata gadis itu juga memiliki rahasia.
*Ck, pantas saja sikap keduanya waktu itu berbeda.
Ternyata, Arga Devano itu adalah mantannya? lalu kenapa Naya mengenalkan Arga sebagai teman kuliahnya?
Dia pikir aku bakalan cemburu?
dasar wanita*!
...****************...
__ADS_1