
•
•
•
Jika ada yang mengatakan aku wanita paling bodoh atau apapun itu, aku tak peduli.
Karena pada kenyataannya, aku mulai menyukainya.
Ya, aku mulai menyukai Tian.
Entah sejak kapan aku mulai menyukainya? aku sendiri pun tak tahu dengan pasti. Apa mungkin karena selama tiga bulan ini aku hidup bersamanya?
Jujur, awalnya aku memang ingin mempertahankan pernikahanku dengannya, aku akan mencoba menerima kenyataan sebagai istri yang telah di duakan. Aku ingin berdamai dengan keadaan, dan aku akan menerima Tari sebagai maduku.
Bodoh kan?
Tapi itulah aku. Aku sangat berharap jika suatu saat nanti Tian akan mencintaiku sama seperti Tian mencintai Tari.
Sebelum lelaki itu kembali menghancurkan hatiku.
Kata-kata Tian pada hari itu semakin membulatkan tekadku untuk berpisah dengannya. Aku sadar dan aku tahu diri, kalau sampai kapanpun aku takkan pernah berarti apa-apa untuknya. Setelah urusan pengunduran diriku di kantor selesai, Hari ini juga aku memutuskan untuk keluar dari rumah Tian dengan membawa satu buah koper besar di tangan. Meskipun sebenarnya, Papa dan Mama mertuaku itu meminta aku untuk bertahan. Mereka yakin kalau Tian akan kembali padaku, lelaki itu akan memilih untuk hidup bersamaku setelah anak yang di kandung Tari lahir nanti.
Papa dan Mama mertuaku hanya menginginkan aku yang menjadi menantu satu-satunya di rumah ini. Mereka tak menginginkan Tari meskipun wanita itu sedang mengandung darah daging putranya sendiri. Cucu mereka sendiri.
Bukannya aku tak punya hati. Jujur, akupun sama terlukanya seperti mereka. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Aku sudah menganggap Papa dan Mama Maya seperti orang tuaku sendiri. Meskipun sakit saat melihat mereka berdua bersedih, tapi aku lebih memilih untuk mengabaikannya.
Rasa sakit yang aku rasakan saat ini membawaku untuk segera berpisah dari Tian. Apalagi aku ingat dengan semua yang di katakannya, dimana Tian mengatakan kalau cintanya itu hanya untuk dia, wanita yang saat ini sedang hamil, mengandung anaknya, darah dagingnya sendiri. Lelaki itu sama sekali tak memikirkan bagaimana perasaanku saat itu. Aku pikir setelah mengatakan itu, Tian akan meminta maaf. Tapi nyatanya aku salah. Sampai di sisa-sisa terakhirku berada di rumah itu, Tian masih tetap bungkam.
Lelaki itu hanya menatap kepergianku dalam diam.
Air mataku kembali menetes saat mengingat semua kenanganku di dalam rumah ini. Meskipun tak bahagia dan selalu di abaikan, setidaknya aku pernah tinggal disana. Aku pernah menjadi bagian dari rumah itu. Dan sekarang, rumah itu hanya akan menjadi kenangan saja. Aku keluar dari rumah itupun dengan tanpa membawa apa-apa, bahkan aku tak akan menuntut apapun pada Tian.
Hari ini aku memutuskan untuk kembali ke rumah Ibu, aku akan mengatakan semuanya pada Ibu. Dan aku juga harus bersiap-siap dengan sikap kecewanya Ibu padaku. Ibu pasti sedih, beliau tak akan mengira jika putri satu-satunya itu kini menjadi seorang janda di usai pernikahannya yang baru seumur jagung.
******
Sebastian Aydan,
Aku tak pernah mengira jika perpisahanku bersama Nayara akan terjadi secepat ini. Karena kebodohan dan keegoisanku akhirnya Naya pergi. Bukan hanya Naya saja, bahkan Papa dan Mama pun sepertinya sangat kecewa padaku. Mereka meminta aku untuk tak menemuinya sementara waktu. Bahkan Papa meminta agar aku segera membawa pergi Mentari sejauh mungkin.
__ADS_1
Aku tahu dan aku sadar diri dengan apa yang telah aku lakukan, menikahi Tari tanpa sepengetahuan mereka semua.
Aku bisa melihat bagaimana kecewanya Papa, terutama Mamaku sendiri pada saat itu. Mereka seperti tak percaya jika aku akan melakukan hal yang menurutnya sangat memalukan. Meskipun berpoligami itu tak di larang, tapi tetap saja Papa dan Mama tak menyukainya. Seharusnya aku bisa mencontoh mereka berdua, seharusnya aku bisa seperti Papa yang setia pada pasangannya hingga sampai detik ini.
Ya, seharusnya.
Karena kata Mama, cinta itu akan datang karena terbiasa bersama. Mama juga mengatakan kalau aku akan menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik Nayara. Pun dengan Papa yang sepertinya menyumpahiku, kalau aku tidak akan bahagia hidup bersama Tari. Padahal, Tari sedang mengandung anakku, Tari sedang mengandung cucunya. Tapi tetap saja tak sedikit pun membuat hati Papa tersentuh.
"Aku ... aku tidak mencintainya, Pa." Tiba-tiba saja kata sialan itu keluar dari mulutku. Aku melihat Naya yang terluka disana. Inginnya aku mendekat dan mengucapkan mata maaf, tapi aku tahan karena ada Tari yang harus aku lindungi sekarang.
"Tari sedang mengandung anakku, Tari sedang mengandung cucu, Papa."
Aku tahu aku begitu jahat dan berengsek, seharusnya aku bisa menjaga perasaan gadis itu. Aku melihat bagaimana Naya yang menangis saat itu karena ulahku. Aku tahu Naya pasti kecewa padaku. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan Naya saat itu, selama tiga bulan kami menjalani pernikahan, sama sekali aku tak pernah menyentuhnya. Bukan karena jijik, aku adalah lelaki normal yang bisa merasakan gairah saat sedang bersama seorang wanita.
Pun pada saat sedang bersama Nayara, aku pernah hampir hilang kendali saat kami berdua berciuman pada malam dimana saat itu aku sedang sakit. Beruntung saat itu aku segera mengakhirinya, selain karena wajah Tari terlintas, akupun tak ingin menyakiti Nayara. Aku tak ingin merusak gadis itu, karena aku tahu perpisahan itu akan terjadi. Meskipun sebenarnya aku memiliki hak sepenuhnya atas Nayara.
Nayara adalah gadis yang baik dan juga cantik. Ya, dia cantik, dan aku akui itu. Sempat aku berpikir untuk memilikinya, menjadikan Naya tetap sebagai istri pertamaku. Tapi aku tak mau berkhianat pada janjiku sendiri. Aku yang sudah terlanjur berjanji hanya akan mencintai satu wanita, maka aku memutuskan untuk tak menyentuhnya.
Aku akan biarkan Nayara hidup bahagia setelah dia terbebas dariku. Naya pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada aku yang berengsek ini. Dan aku juga tahu kalau sepertinya lelaki yang berstatus sebagai mantannya itu masih menginginkan Nayara.
"Maaf, Pa ... Ma." Akupun melihat Naya yang tak berhenti menangis disana. Meskipun gadis itu menunduk, tapi aku tahu kalau Naya sedang menangis. "Aku akan tetap bersama Tari." Seketika Naya mengangkat wajahnya untuk mempertemukan pandangan kami. Luka?
Lagi-lagi aku telah menorehkan luka pada gadis baik seperti Naya.
Cerai?
"Lebih baik kalian berpisah, dari pada melihat Naya menderita."
Ya, benar apa kata Papa. Mungkin perpisahan adalah jalan terbaik untuk kami berdua. Khususnya bagi Nayara.
"Naya ... Papa dan Mama tak akan melarangmu lagi. Kami berdua akan mendukung apapun keputusan kamu sekarang. Kamu adalah gadis yang baik dan juga cantik, kamu tidak pantas mendapatkan suami macam dia."
Kata-kata Papa seakan menghantam jantungku. Selama hidupku, aku tak pernah melihat Papa semarah itu. Tapi kali ini aku melihatnya.
Pandanganku kini beralih pada sosok gadis yang sedang Mama peluk. Aku melihat Naya mengangguk, dan mengatakan ingin berpisah denganku.
Akupun menutup mata rapat-rapat, tak menyangka jika pernikahan aku dan Naya hanya bertahan sampai disini. Dan itu semua karena aku. Semua karena janji yang telah aku buat sendiri pada Tari. Janji yang aku ucapkan jauh sebelum aku menikahi Nayara.
Aku melihat Naya pergi dengan membawa sebuah koper besar di tangannya. Seandainya Naya tahu, sebenarnya aku ingin menahannya agar ia tak pergi hari ini. Masih ada banyak hal ingin aku sampaikan, dan salah satunya adalah permintaan maafku padanya. Tapi aku tahan karena aku masih kesal dengan sikap Naya yang mengembalikan semua pemberianku.
Naya mengembalikan cincin beserta set perhiasan lainnya yang dulu aku berikan sebagai mas kawin pernikahan kami. Naya merasa tak pantas, dan Naya menolak meskipun aku memaksanya. Ia juga menolak saat aku memberikan rumah ini untuknya.
__ADS_1
"Maaf Mas, Aku gak bisa. Rumah ini milik Mas Tian, bukan milik aku."
"Aku tidak akan meminta apapun. Kamu sudah memberi aku tumpangan untuk tinggal di rumah ini aja sudah cukup bagi aku, Mas."
Entah kenapa aku begitu kesal. Aku baru tahu kalau ternyata Nayara adalah gadis yang sangat keras kepala.
"Naya, sebaiknya kamu pergi besok aja?"
Gadis itu menoleh, menatapku seraya menggeleng. "Nggak, Mas. Aku akan pergi sekarang." Jawabnya sambil memasukkan pakaian terakhirnya ke dalam koper.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak usah." Lagi, dia menolakku. "Aku tidak ingin merepotkan, lagi pula ... aku sudah bukan siapa-siapa lagi bagi kamu, Mas. Aku bukan lagi tanggung jawab kamu setelah kamu menjatuhkan talak sama aku."
Naya menatapku. Pun dengan aku. Aku kembali melihat sorot terluka dari matanya yang terlihat sangat indah itu sekarang "Dan aku tidak mau kalo sampai nanti Ibu melihat Mas Tian. Biar aku sendiri yang bicara padanya."
Sebegitu bencinya sekarang Naya padaku? sampai-sampai ia melarang aku untuk bertemu dengan Ibu.
"Apa kita tidak akan bertemu lagi?" Bodoh! kenapa aku bertanya seperti itu?
"Kita akan bertemu nanti di pengadilan, Mas." Dan itulah jawaban yang membuat hatiku sedikit mencelos.
"Naya, boleh aku bertanya sesuatu?" Aku memberanikan diri, mungkin inilah kesempatan terakhir kami berdua bisa berbicara seperti ini.
"Apa?" Mata bulat dan bening itu kembali menatapku.
"Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, apa kamu akan menyapaku?"
"Sepertinya tidak, Mas." Kepala mungilnya menggeleng. "Selangkah saja aku keluar dari rumah ini, maka aku akan melupakan semuanya. Aku akan menghapus semua tentang kita. Aku pun akan melupakan kamu."
Naya tersenyum tipis. "Jika suatu hari nanti kita bertemu, aku akan menganggap Mas Tian sebagai orang lain."
Orang lain?
Perasaan apa ini? kenapa aku merasa tidak suka saat Nayara mengatakan itu?
Kenapa aku merasa kesal? padahal ini yang aku inginkan. Bukankah setelah Naya pergi, aku akan hidup tenang bersama Tari. Tapi kenapa dengan hatiku yang mengatakan sebaliknya.
Aku diam, tubuhku pun mematung disana. Aku sendiri sampai lupa kalau Nayara sudah pergi meninggalkan rumah ini. Kata maaf yang ingin aku ucapkan pun tiba-tiba saja tertahan di kerongkongan karena ulah gadis itu.
Aku berharap Nayara tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya.
__ADS_1
Karena tidak ada yang tahu, jika suatu saat nanti takdir akan mempertemukan kami berdua lagi.
...****************...