Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Calon istri


__ADS_3

Seperti apa yang pernah aku katakan sebelumnya, bahwa aku akan mempertemukan Cheery dengan Tari, maka pada hari ini aku dan Tian berencana untuk mendatangi Tari di tempat yang sudah di tentukan.


Sebelumnya, Tian meminta bantuan kepada Rama untuk mencari tahu dimana tempat tinggal Tari saat ini. Dan tidak butuh waktu lama, Rama sudah bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan dari atasannya itu. Pun dengan tujuan yang telah di sampaikan kepada Tari atas perintah dari Tian. Mendengar itu tentu membuat Tari sangat bahagia.


Keinginannya selama ini yang ingin bertemu dengan Cheery akhirnya tersampaikan juga. Tari tentu tidak akan membuang kesempatan yang ada. Pada hari itu juga Tari menyampaikan pada Rama untuk bertemu di salah satu taman yang terletak di pusat kota.


"Papa, kita mau kemana?" Cicit Cheery.


Tian yang sedang menyetirpun hanya memberi senyum.


"Kita akan bertemu dengan Tante Tari." Jawabku yang membuat Cheery menoleh kaget.


"Mama Cheery, Tante?"


Mama?


Oh ... ya ampun, kenapa aku bisa lupa kalau Cheery sudah mengetahui kalau Tari adalah Mamanya?


"Iya, sayang."


"Asikk ..." anak kecil itu berseru heboh. "Aku mau bertemu, Mama." Cicitnya senang.


Melihat Cheery yang ceria dan bahagia seperti itu membuatku sedikit ragu dan takut. Namun, ketakutan itu hilang seketika saat Tian menggenggam tanganku erat. Sepertinya Tian tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Aku menoleh, menatap Tian yang sedang tersenyum seolah sedang memberiku semangat.


Aku mengangguk, dan menggenggam tangan Tian sama eratnya. Mengatakan lewat sorot mata kalau aku baik-baik saja.


Setelah beberapa menit berada di dalam mobil, akhirnya mobil yang Tian bawa telah sampai di tempat dimana Tari sudah menunggu disana. Tian keluar dari dalam mobil lebih dulu, lalu membukakan pintu untukku dan juga Cheery yang duduk sendiri di kursi belakang.


Begitu kami semua memasuki area taman itu, aku melihat Tari sudah menunggu, ia duduk di salah satu bangku yang terletak di bawah pohon besar, menjadikan tempat duduknya saat ini begitu pas dan juga teduh.


Aku melihat Tari yang sedang duduk tampak sedikit gelisah disana, tangannya terus memainkan ponsel, sesekali menatap layar ponselnya itu. Sepertinya Tari belum menyadari kehadiaran kami. Namun, saat Tari menoleh, wanita itu langsung berdiri dan memberikan senyuman yang sangat lebar.


"Cheery ... sini sayang, peluk Mama.!" Seru Tari, saat kami sudah berada di hadapannya.


Aku pikir saat melihat Tari ada di hadapannya saat ini gadis kecil itu akan senang dan langsung menghambur memeluk Tari. Namun, aku melihat Cheery hanya diam saja. Pun dengan tangan mungilnya yang menggenggam tanganku erat.


"Cheery, ini Mama sayang. Mama kangen sama Cheery. Mama pengen peluk Cheery." Wajah Tari begitu memelas, tak lupa dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Mama boleh peluk, Cheery?"


Cheery menatap Tian, lelaki itu mengangguk meskipun berat.


"Sayang ..." Aku berjongkok, menggenggam kedua tangan mungil itu. "Bukannya Cheery mau bertemu dengan Mama Tari?"


Cheery diam, gadis kecil itu hanya menatapku sekarang.


"Sekarang Mama Tari ada disini, dia pengen peluk Cheery."

__ADS_1


Kepala mungil itu mengangguk. "Iya, Tante."


Tari yang mendengar pun tersenyum, saat tubuh mungil itu memeluknya, Tari menangis. Wanita itu menumpahkan semua kerinduannya pada Cheery dengan cara menangis dan memeluk tubuh Cheery erat-erat.


"Mama, minta maaf sayang." Lirihnya. "Maafin Mama yang sudah meninggalkan kamu dulu."


Begitu banyak kata maaf yang keluar dari bibir Tari meskipun Cheery tidak sepenuhnya mengerti. Sikap Cheery yang diam seperti itu membuat Tian dan aku hanya saling berpandangan.


Setelah puas memeluk Cheery, kini Tari membawa Cheery untuk bermain ayunan dan perosotan. Awalnya Cheery menolak, tapi melihat Tari yang memelas dan pintar membujuk akhirnya Cheery mengangguk. Mereka berdua bermain ayunan disana. Sementara aku dan Tian hanya duduk sambil memperhatikan Cheery yang sepertinya mulai terbiasa dengan kehadiran Tari.


Kini aku melihat Cheery bisa tertawa. Pun dengan Tari. Kedekatan mereka itu sangatlah kuat karena ada Ikatan batin di antara mereka berdua. Aku memperhatikan bagaimana cara Tari memperlakukan Cheery begitu lembut. Namun, sering juga aku melihat Cheery seperti menghindar. Entah apa yang ada dalam pikiran anak sekecil itu, akupun tak bisa menebaknya.


Saat aku menoleh ke samping, rupanya Tian sedang memperhatikan mereka juga.


"Mas ... Lihat, Cheery begitu cantik ya?"


"Hem ... Cheery sangat cantik." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya itu. Entah siapa yang menjadi pusat perhatiannya saat ini.


Cheery atau Tari?


Ck, ... apa yang aku pikirkan?


"Tari juga cantik." Cetusku, membuat Tian seketika menoleh cepat menatapku. Namun, buru-buru aku kembali menatap lurus ke depan.


"Iya, dia cantik." Aku yang mendengar pun sontak menoleh kaget.


"Mas ..." Pekikku, aku menepis tangan Tian yang masih bermain-main di atas pipiku. "Jangan gini, Mas."


"Kamu cemburu?" Godanya, setengah berbisik.


"Nggak, ya!" Aku melengos, mengalihkan pandangan lagi ke depan.


"Kamu gak suka aku muji wanita lain?"


Sepertinya Tian memang sengaja membuatku kesal.


"Terserah kamu, Mas."


Tian terkekeh, lalu sedikit menggeserkan tubuhnya agar lebih dekat lagi denganku.


"Kita pindah ke mobil yuk?"


"Mau ngapain? enakan disini, Mas."


"Disini gak enak" Bisik Tian. "Aku jadi gak leluasa mau ngapa-ngapain kamu, soalnya ada yang diam-diam memperhatikan kita."


"Siapa?" aku menatap kesekeliling taman, tidak terlalu sepi. Tapi posisi kami saat ini pun tidak terlalu dekat juga dengan beberapa pengunjung yang lain.

__ADS_1


"Tari."


Saat aku menoleh, benar saja Tari langsung mengalihkan pandangannya itu. Tari kembali bermain bersama Cheery. Namun, diam-diam mata bulatnya itu mencuri pandang ke arahku dan juga Tian.


Aku melihat Tari seperti membisikkan sesuatu pada Cheery.


"Papa ..." Cheery berlari kecil menghampiri kami berdua. Sementara Tari masih berdiri disana. Menunggu Cheery kembali.


"Ada apa sayang?" Tanya Tian saat Cheery sudah berdiri di hadapannya.


"Ayo kita main, Pa. Aku mau main perosotan itu, Pa." Cheery menarik tangan Tian sambil merengek.


"Kamu main sama Mama Tari aja, ya?"


"No, Papa. Cheery mau main sama Papa." Cicitnya sambil terus menarik tangan Papanya itu.


"Mas ... temenin Cheery main." Tian menatapku.


"Tapi ---"


"Ayo, Pa?"


"Mas ...!"


"Baiklah." Pasrahnya saat aku mengangguk sebagai jawaban atas kebingungannya itu.


Tian menemani Cheery bermain, pun dengan Tari yang juga ikut menemani Cheery disana. Awalnya aku biasa saja saat melihat interaksi ketiganya. Namun, aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku tak menampik jika perasaan risih itu kini mulai hadir dalam benak. Apalagi saat melihat mereka bertiga bersama seperti itu . Seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.


"Mas ...?" Aku yang sedang menunduk pun terkejut saat Tian menarik tanganku.


"Ayo kita pergi dari sini."


"Kemana? Cheery kan masih main?"


"Rama yang akan menemaninya sekarang."


Dan ternyata benar, jika Rama sudah ada disana bersama dengan Cheery. Sejak kapan laki-laki itu datang?


"Aku menyuruh Rama datang, karena aku gak mau kamu berpikiran yang nggak-nggak."


Ck,


Kenapa Tian bisa membaca isi pikiranku?


"Aku gak mau membuat calon istriku terluka."


Bisiknya lagi yang membuat aku tersenyum bahagia. Dan sumpah demi apapun, aku sangat menyukai sikap Tian yang lebih mementingkan perasaanku sekarang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2