Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Insiden


__ADS_3




"Aaahhh ... kenapa aku bisa bodoh seperti ini sih?" Keluhku pada diri sendiri. Aku menoleh, menatap pada buku diary yang tergeletak di atas ranjang itu dengan kesal.


"Gara-gara kecerobohanku sendiri, akhirnya Tian tahu tentang perasaanku." Gerutuku kesal sambil terus menatap pada buku diary itu.


Aku melangkah ke arah tempat tidur, lalu duduk di atas kasur mengambil buku diary itu. Perlahan, ku buka buku diary itu lalu membaca kembali apa yang pernah aku tulis disana.


Dan sumpah demi apapun aku merutuki diri sendiri, merasa malu karena perbuatanku sendiri yang telah mencurahkan semua isi hatiku disana. Apalagi aku menulis begitu banyak tentang bagaimana perasaanku pada Tian.


Ya, aku mencurahkan semua keluh kesahku dalam sebuah tulisan lewat buku diary itu.


Meskipun aku tahu tak ada cinta untukku dari Tian, tapi entah kenapa perasaanku itu tiba-tiba saja ada. Aku telah mencintainya lebih dulu. Aku sendiri bingung dan tak tahu kenapa rasa itu tiba-tiba saja hadir, aku berusaha untuk mengelak, tetapi tetap saja aku tak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku benar-benar jatuh cinta pada lelaki berengsek seperti Tian.


Tapi sekarang, disaat lelaki itu sudah mengetahui tentang perasaanku dulu padanya aku begitu merasa malu, bahkan lebih dari itu. Entah apa maksud Tian mengatakan kalimat itu di hadapan Ibu. Kalau saja saat itu tidak ada Ibu dan juga Cheery, sudah kupastikan akan ku tutup mulut sialannya itu saat itu juga.


"Apa maksud Nak Tian?" Tanya Ibuku penuh selidik. Beliau menatapnya, lalu beralih menatapku. Meskipun tidak jelas, tapi sepertinya Ibu mulai menaruh rasa curiga.


Lelaki itu tersenyum, pandangannya pun kini beralih ke arahku. Lama Tian menatapku hingga aku memutuskan untuk menunduk.


"Naya ..." Seketika aku kembali menatapnya, lelaki itu sepertinya meminta izin lewat tatapan matanya untuk mengatakan sesuatu yang aku sendiri pun tak tahu dengan apa yang akan Tian katakan selanjutnya. Aku menatapnya tajam sekarang, tapi sepertinya Tian tak takut sama sekali dengan tatapanku itu.


Tian mengabaikanku.


"Bu ... sebenarnya, maksud saya tadi." Ada jeda di sela kalimatnya. "Karena saya terlalu di butakan cinta pada Tari waktu itu, saya sampai gak tahu kalo ternyata Nayara ---"


"Mas ...!" Sentakku dengan suara yang cukup tinggi, membuat Ibu dan juga Cheery sampai terkejut di buatnya.


"Naya ..." Ibu mencoba mengingatkan aku untuk menjaga sikapku yang menurutnya sangat tidak pantas itu.


"Maaf Bu, aku ..." Aku melirik Tian sebentar, dan sialnya lelaki itu pun sedang menatapku sambil tersenyum penuh kemenangan. "Aku minta izin untuk bicara berdua dengan Mas Tian sebentar, Bu."


Ibu menghela napas pelan, beliau mengangguk dan ...


"Baiklah, Ibu izinkan buat kalian bicara. Biar Cheery sama Ibu disini."


Aku tersenyum, lalu menatap Tian. "Mas ... aku mau bicara."


Lelaki itu mengangguk, lalu mengikutiku dari belakang.


Dan disinilah sekarang kami berdua berada,


Aku membawa Tian untuk berbicara di taman belakang rumah. Aku sengaja membawa Tian ke tempat yang sedikit jauh dari Ibu dan juga Cheery. Karena aku tak mau kalau sampai Ibu mendengarkan pembicaraan kami berdua.


"Aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan sama aku."

__ADS_1


Aku menggeser saat Tian ikut duduk di sebelahku. Beruntungnya kursi itu cukup panjang sehingga aku bisa menjaga jarak dengan Tian saat ini.


"Apa maksud kamu Mas, apa yang mau kamu katakan tadi pada Ibu.?" Tanyaku masih pada posisi yang sama. Memandang lurus ke depan dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Aku mengatakan apa yang sebenarnya."


"Maksud kamu?" Dan sekarang aku pun memberanikan diri untuk menatapnya. "Kamu ingin mengatakan pada Ibu, kalo ternyata aku mencintai kamu? gitu kan, Mas?"


"Maafkan, aku. Aku memang benar-benar gak tahu kalo dulu kamu mempunyai perasaan sama aku, Naya."


"Mas?"


"Aku gak tahu kamu mencintaiku."


"Mas ...!!"


"Aku baru tahu, kalo kamu mencintai pria brengsek seperti ku?"


"Mas ... cukup.!"


Untuk beberapa detik kami berdua saling beradu tatapan. Aku menatapnya penuh kesal, tapi tidak dengan Tian. Lelaki itu menatapku dengan tatapan yang sangat sulit untuk aku artikan. Kedua bola mata kelam itu menatapku lekat dan dalam. Tian benar-benar mengunci pandanganku saat ini. Dan entah kenapa aku sendiri seperti terjebak dengan tatapannya itu.


Lama kami saling menatap, hingga aku kembali sadar saat Tian kembali mengatakan sesuatu padaku.


"Seandainya aku tahu sejak awal, mungkin saja aku --"


"Aku tahu siapa kamu. Aku tahu seperti apa kamu. Mas." Ku tarik napas dalam-dalam untuk meredakan gemuruh di dada yang siap meledak kapan saja.


"Apa kamu ingat Mas, dulu kamu memperlakukan aku seperti apa? Seandainya kamu tahu perasaanku sejak awal, apa kamu yakin akan membalas cintaku juga?"


Aku menatap lelaki itu, pun dengan Tian. Ia hanya diam dan membiarkan aku untuk tetap bicara, memberikan aku kesempatan untuk meluapkan semuanya.


"Sedangkan saat itu kamu hanya mencintai Tari. Kamu tidak pernah sedikit pun melihat aku, Mas. Di mata kamu saat itu hanya ada Tari. Tari dan Tari."


"Aku salah karena telah memiliki perasaan sama kamu, yang jelas-jelas sampai kapan pun kamu gak akan pernah jatuh cinta sama aku."


Aku tersenyum miris, "Tapi itu dulu Mas. Sejak aku bukan lagi istri kamu, perasaan itupun sudah tidak ada. Jadi aku mohon, jangan pernah lagi mengungkit sesuatu yang sangat mustahil sekarang."


"Ya." Kepala laki-laki itu mengangguk, "Tapi bagaimana jika aku yang memiliki perasaan itu sekarang?"


"Maksud kamu?" Tanyaku sedikit terkejut.


"Bagaimana kalo sekarang aku yang mencintai kamu?" Ucapnya tanpa basa-basi.


Apa katanya?


Cinta?


"Apa?" Seketika aku berdiri, lalu sedikit mundur dan tak sengaja menggeser tiang yang di gunakan oleh beberapa pekerja yang sedang merenovasi rumah sebagai penyangga di atas sana.

__ADS_1


Aku terjatuh.


Dan ...


"Naya, awas ..." Tian yang melihat bambu itu hampir jatuh menimpaku, buru-buru berjongkok dan memelukku, membiarkan dua bambu yang jatuh itu menimpa punggungnya.


"Kamu gak papa?" Tanya Tian saat lelaki itu melepaskan pelukannya dari tubuhku. Tangannya masih setia memegang kedua tanganku.


Aku masih terpaku, tubuhku seakan tak bertenaga saat mengingat apa yang terjadi barusan. Lagi dan lagi, Tian kembali menolongku.


"Naya ..."


"Papa ..."


Suara Ibu dan juga Cheery membuatku tersadar, buru-buru aku melepaskan tangan Tian dari tanganku.


Ibu menuntun Cheery, buru-buru mereka menghampiri kami berdua.


"Ya ampun ... apa yang terjadi?" Tanya Ibuku penuh khawatir. Beliau menatap dua bambu yang tergeletak di atas lantai itu. "Kenapa bisa begini? Kalian gak papa?"


Aku menggeleng, pun dengan Tian. Ibu membantuku untuk berdiri. Mataku pun melirik saat melihat Tian juga ikut berdiri, lelaki itu sedikit meringis sambil memegang punggungnya.


"Sepertinya Mas Tian terluka, Bu."


Ibu melihat Tian, "Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang."


"Gak usah, Bu. Aku gak papa." Tolak Tian dengan memberi senyuman.


"Ya udah kita masuk, biar Ibu periksa luka kamu dulu."


Kami semua memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah. Ibu, Tian dan juga Cheery sudah berada di ruang tengah, sementara aku bergegas mengambil kotak obat terlebih dulu.


Tak lama setelah itu, Ibu memeriksanya. Dan ternyata terdapat beberapa luka memar di punggung lelaki itu. Aku ikut meringis saat Ibu mengoleskan salep itu di atas punggung Tian yang terluka. Melihat itu tentu membuat aku sedikit merasa bersalah, gara-gara aku Tian jadi terluka seperti ini.


Setelah selesai, Tian akhirnya memutuskan untuk pulang karena hari sudah hampir petang. Lelaki itu meminta maaf dan mengucapkan banyak terima kasih pada Ibu. Pun dengan Ibu sendiri, beliau meminta maaf atas insiden yang telah terjadi. Sementara aku, entah kenapa aku hanya diam saja. Mulut ku seakan terkunci rapat, dan rasanya sangat sulit untuk aku sekedar mengucapkan terimakasih.


"Mas?"


Tian yang baru saja hendak membuka pintu mobil itu tiba-tiba berhenti, lelaki itu menoleh ke belakang. Lalu meminta Cheery untuk masuk ke dalam mobilnya lebih dulu.


"Ada apa?" Tanyanya setelah kami berdua saling berhadapan.


"Terimakasih." Ucapku kemudian. "Dan maaf, gara-gara aku kamu jadi terluka."


Tian mengangguk, lalu menatapku sekarang. Aku sedikit mundur kebelakang saat Tian mendekat. Dan aku begitu terkejut saat Tian mengatakan sesuatu yang membuat aku sampai menganga tak percaya.


"Aku rela terluka lebih parah dari ini demi kamu."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2