Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Tentang perasaan


__ADS_3

"Maaf, Fi. Aku telat."


Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sepuluh menit terlewati dari waktu yang aku janjikan untuk bertemu dengan Raffi. Ya, setelah kejadian semalam, pagi-pagi sekali Raffi menghubungiku. Pria di depanku itu meminta aku untuk bertemu di salah satu kafe dekat rumah sakit tempatnya bekerja.


Awalnya Raffi ingin menjemput, tapi aku menolak dengan alasan jika aku juga akan pergi keluar. Padahal aku tak mau merepotkannya. Dan disinilah sekarang aku berada, karena rasa bersalahku yang selalu mengabaikannya, maka sekarang aku memenuhi keinginan dari Raffi. Entah apa yang ingin Raffi sampaikan padaku sampai membuat janji sepagi ini.


"Maaf ..." Entah kenapa aku semakin merasa bersalah. Bukan untuk hari ini saja, tapi juga untuk hari-hari sebelumnya. Sejak kejadian waktu itu aku sengaja menghindarinya. Bukan tanpa sebab, aku menghindari Raffi karena merasa tak nyaman dengan sikap keluarganya yang tak menyukaiku. Selain itu, ada alasan lain yang membuatku ingin menghindarinya. Aku tak ingin membuat Raffi tertekan dan dijauhi oleh keluarganya hanya gara-gara aku. Dan juga tentang perasaan.


"Kenapa terus minta maaf?"


Pria di depanku itu mengulas senyum lebar.


"Apa kamu merasa bersalah padaku?"


"Hem ..." Kepalaku mengangguk.


"Kamu merasa bersalah karena selalu menghindariku kan?" Tebak nya, dan itu memang benar.


Aku menatap Raffi penuh sesal, berbanding terbalik dengan Raffi yang menatapku teduh seperti biasanya. Aku tak bisa menatap mata yang sedikit sipit itu lama-lama. Maka aku putuskan untuk menurunkan pandanganku.


"Kenapa kamu menjauh dariku, Ra? Apa salah aku ke kamu sampai kamu terus menghindariku?" Cecarnya yang membuatku seketika kembali menatapnya.


"Kamu gak salah apa-apa, Fi."


"Lalu? Kenapa kamu gak mau ketemu aku lagi?"


"Aku ... aku hanya---"


"Apa karena keluargaku?" Tanya Raffi, dan akupun mengangguk sebagai jawaban.


"Ra ... Tolong, jangan pikirkan keluargaku. Aku gak mau kita jauh. Apalagi akhir-akhir ini kamu terus menghindariku. Aku ga bisa, aku tersiksa. Ra!" Akunya yang membuatku merasa tak enak.


"Aku serius sama kamu. Aku sayang kamu. Ra!".


"Fi ... " Lirihku. "Maafin aku, aku gak bermaksud buat kamu terluka seperti ini. Aku cuma ngerasa gak pantas buat kamu. Aku gak bisa, Fi." Ujarku bersama kepala yang menggeleng. "Aku gak mau liat hubungan kamu dan keluargamu retak hanya gara-gara aku."


"Aku gak peduli apa kata mereka, Ra. Aku hanya mau kamu terus berada di sampingku, kita akan berjuang sama-sama untuk mendapatkan restu dari kedua orangtua-ku. Dan itupun --- kalau kamu mencintaiku juga." Lirihnya di akhir kalimat.


Sebegitu besarnya Raffi ingin memperjuangkanku. Padahal, bukan hanya itu alasan kenapa aku tak bisa menerima cintanya. Ada alasan lain yang mungkin akan membuat laki-laki itu kembali terluka setelah mengetahuinya.


Tapi aku harus jujur sekarang, aku tak mau membuat Raffi memiliki harapan sementara aku tak pernah bisa membuka hati untuknya.


Salahku yang memberi harapan pada Raffi?


Tidak. Dari dulu aku hanya menganggap Raffi seperti adik dan temanku sendiri. Dan Raffi tahu itu. Aku tak pernah memberi harapan apapun padanya. Meskipun aku tahu, berulang kali Raffi mengakui dan mengatakan kalau ia mencintaiku.


"Apa kamu benar-benar gak bisa membuka hati buat aku, Ra?"


Aku diam. Menatapnya penuh sesal.


"Jadi sekarang tak ada lagi harapan untukku?"

__ADS_1


"Maaf." Hanya itu yang bisa aku katakan.


"Apa kamu masih mencintai mantan suami'mu itu?"


Aku kembali bungkam. Dan Raffi tersenyum masam saat melihat aku hanya diam saja.


"Baiklah ... Mungkin aku terlalu egois hanya memikirkan perasaanku sendiri." Raffi menarik napas dalam-dalam untuk meredakan gemuruh di dada. "Aku hanya berharap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu, Ra. Aku ingin melihat kamu bahagia, meskipun itu bukan dengan aku." Raffi berdiri dari tempat duduknya. "Aku harus pergi sekarang. Karena pagi ini aku akan melakukan operasi."


"Semoga berhasil, Fi. Dan maafkan aku."


Di balik senyumnya yang mengembang, aku tahu Raffi sedang menyembunyikan rasa kecewanya. Ia beranjak, Tapi sebelum pergi, Raffi kembali berhenti tepat di sampingku.


"Jika kamu tidak bahagia. Jangan salahkan jika aku akan merebutmu kembali."


******


Nyatanya,


Setelah kepergian Raffi beberapa menit yang lalu, aku masih betah berada disini sambil menikmati secangkir Coffelatte di atas meja. Entah kenapa untuk saat ini aku hanya ingin sendiri, aku tak ingin melakukan pekerjaan apapun. Dan beruntungnya, hari ini tidak ada jadwal aku bekerja.


Lama aku berada di dalam kafe, hingga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Tapi saat aku membuka pintu kafe itu, tiba-tiba langkahku berhenti. Aku menatap lurus ke depan, menatap pada sebuah mobil sedan hitam yang berada di parkiran. Memastikan kalau penglihatanku tidak salah.


"Hai ..." Sapanya lembut seraya melambaikan tangan ke atas.


Aku berjalan mendekatinya. "Sedang apa kamu disini, Mas?"


"Kebetulan aja lewat, dan ternyata ada kamu disini."


Aku memicing, menatapnya tak percaya. "Kamu ngikutin aku, Mas?"


"Sulit." Ketusku sambil membuang muka.


Tian terkekeh, lantas mendekat ke arahku.


"Berhubung kamu ada disini, gimana kalo kita ngopi dulu?"


"Bukannya kamu kerja?"


"Masih ada waktu, kok." Jawabnya sambil menatap jam yang melingkari tangannya itu.


"Aku mau pulang. Mas."


"Temenin aku ngopi, Nay."


"Nggak.!" Tolakku. "Kamu aja sendiri."


"Ya udah, aku anterin kamu pulang!"


"Eh ... kok?" Tak ingin menyerah, Tian menarik tanganku terlebih dulu sebelum aku menolak keinginannya.


Dan mau tidak mau akupun memutuskan untuk masuk kedalam mobilnya. Selama Dalam perjalanan, Tian kembali meminta aku untuk berhenti bekerja menjadi DJ. Ia bilang, aku bisa bekerja dimanapun asal jangan di tempat hiburan malam seperti itu. Katanya menjadi Dj itu terlalu beresiko untuk wanita sepertiku. Entah kenapa untuk saat ini aku tak bisa marah. Apalagi, saat ini Tian menawarkan aku pekerjaan. Ia meminta aku untuk bekerja di perusahaan milik keluarganya itu.

__ADS_1


"Mas ... kenapa kamu lewat sini?" Tanyaku saat mobil Tian melaju melewati arah menuju rumahku.


"Kamu ikut aku dulu, Nay."


"Kemana? Aku mau pulang. Turunin aku, Mas."


"Aku mau ajak kamu ke kantor."


"Nagapain?"


Tian menoleh sekilas, sebelum kemudian ia kembali lagi menatap jalanan. "Temenin aku kerja." Ujarnya sambil tersenyum manja.


"Dih ... Ngapain juga nemenin kamu kerja? gak ada kerjaan banget."


"Siapa tahu kamu tertarik untuk bekerja di perusahaanku."


Ku putar kedua bola mataku malas. "Terserah kamu, Mas.!"


Lagi, aku melihat Tian tertawa. Lelaki itu memang memiliki kesempurnaan yang tak bisa di pungkiri. Apalagi saat melihat kedua lesung di pipinya itu muncul membuat Tian semakin tampan.


Tiba di pelataran gedung bertingkat tinggi itu, Tian membawaku masuk kedalam menuju lobi. Tian hanya mengangguk saat semua orang memberinya hormat. Sementara aku hanya bisa menunduk saat para karyawannya itu menatapku sekarang.


"Kenapa nunduk kayak gitu?"


"Aku malu, Mas." Jawabku setengah berbisik.


"Biar gak malu, sini pegangan sama aku?"


"Ish ..." Aku mendesis. "Maunya kamu."


Tian terkekeh. Kami berdua berjalan bersamaan tanpa memperdulikan tatapan orang-orang disana. Namun, saat hendak menuju lift, langkah Tian berhenti mendadak. Pria itu bergeming sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan tajam.


"Tari?"


Ya, aku melihat Tari sedang berbicara dengan sekretaris sekaligus asisten pribadinya Tian disana.


Saat menyadari keberadaan Tian dan aku, Rama buru-buru menghampiri kami. Sementara Tari masih berdiri mematung disana. Sepertinya Tari ingin mendekat, tapi melihat Tian yang begitu dingin membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


"Selamat pagi, Pak!" Sapanya, laki-laki itu melirikku kemudian menganggukkan kepalanya. "Selamat pagi, Nona."


Aku tersenyum lebar, namun senyumanku itu tak berlangsung lama saat Tian menatapku tajam.


Rama berdehem pelan.


"Nagapain wanita itu ada disini.?"


"Maaf, Pak. Katanya Nona Tari mau bertemu dengan anda."


"Aku tidak punya waktu. Suruh dia pergi sekarang."


"Tapi, Pak---" Rama menciut saat Tian menatapnya.

__ADS_1


"Baik, Pak."


...****************...


__ADS_2