
•
•
•
"Kamu kenapa bisa luka seperti ini sih, Tian?" Aku sedikit meringis saat Mama mengoleskan salep pemberian Naya itu pada bagian punggungku yang memar.
"Gak sengaja ketimpa bambu, Ma."
"Loh kok bisa? dimana?" Tanya Mama cemas. Memang setelah pulang tadi aku belum sempat berbicara dan memberitahu Mama tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Tadi Papa habis nolongin Tante cantik, Nek." Cicit Cheery yang membuat Tian dan Mama Maya seketika menoleh cepat.
"Tante cantik? maksudnya ... Tante Naya?"
"Iya." Jawabnya bersama kepala mungilnya yang mengangguk. "Tante cantiknya jatuh, untung ada Papa yang nolongin."
Mama menatapku sekarang dengan pandangan menelisik. "Bener kamu nolongin Naya?"
Karena Mama sudah selesai mengobati lukaku, aku kembali mengenakan kaos terlebih dulu sebelum kemudian mengangguk. Aku menceritakan semuanya pada Mama tanpa ada yang aku tutupi. Beliau pun langsung menghubungi Ibu, menanyakan secara langsung bagaimana keadaan mantan ibu mertuaku itu sekarang.
"Apa kamu menyukai Naya?"
Satu pertanyaan dari Mama berhasil membuat gerakan tanganku berhenti saat sedang menyisir rambut Cheery.
"Kenapa Mama bertanya seperti itu?"
"Jadi benar, kamu menyukai Naya?"
Aku diam, dan tak tahu harus menjawab apa. Aku menatap Cheery sekarang, lalu mencium keningnya terlebih dulu sebelum Asih membawa Cheery ke kamarnya untuk tidur. Gadis kecil itu memeluk aku dan Mama bergantian.
"Selamat tidur sayang?"
"Iya, Papa. Aku sayang, Papa." Cicitnya lagi yang membuatku gemas dan tak ingin jauh-jauh darinya.
Setelah Cheery pergi, aku masih betah berdiri membelakanngi Mamaku dengan kedua tangan masuk ke dalam kantong celana.
"Sejak kapan kamu mulai menyukainya, Tian?"
"Entahlah Ma. Aku juga gak tahu." Jawabku sambil berjalan menuju sofa.
Mama duduk di sampingku sambil menepuk-nepuk bahuku pelan. "Bukannya Mama gak suka kalo kamu suka sama Naya. Dari dulu yang Mama harapkan sebagai menantu dan istri kamu itu cuma Naya. Tapi sekarang keadaannya berbeda."
__ADS_1
"Aku tau, Ma."
"Kamu dulu pernah menyakitinya, dan sekarang kamu seorang duda beranak satu. Mama juga gak yakin jika Naya mau kembali sama kamu, setelah apa yang kamu lakukan dulu padanya."
Aku mengangguk, membenarkan apa yang Mama katakan. Melihat bagaimana cara Naya menghindariku selama ini membuatku yakin jika memang tidak ada lagi harapan dan kesempatan untukku. Apalagi ketika melihat matanya, dari sorot mata bulat dan bening itu menunjukkan bahwa Naya benar-benar membenciku. Ku tutup mata rapat-rapat saat kilasan tentang sikap abaiku dulu pada Naya mulai berputar kembali di kepala.
Menyesal?
Ya, jujur aku sangat menyesal.
Tapi semua itu tak ada gunanya sekarang. Tuhan telah memberiku hukuman dengan caranya sendiri. Begitu banyak kesalahan yang telah aku buat, hingga Tuhan pun membalasnya dengan tak kalah banyak pula. Masalah demi Masalah pun mulai datang menghampiriku. Mulai dari pengkhianatan Tari, dan kehilangan beberapa saham sehingga membuat perusahaanku saat itu hampir saja hancur. Di tambah dengan sebuah kenyataan yang membuat aku ingin menenggelamkan diri saat itu juga.
Dan sekarang, sepertinya Tuhan telah kembali menghukumku. Tuhan sedang menggerakkan hatiku untuk jatuh cinta pada sosok Nayara, gadis yang dulu sempat aku sia-siakan kehadirannya.
Ya, aku jatuh cinta pada gadis itu.
Entah sejak kapan aku mulai mencintainya, karena aku sendiri pun bingung. Yang jelas sejak pertemuan pertama kami waktu itu, entah kenapa setiap hari bahkan setiap detik aku selalu memikirkannya. Sebisa mungkin aku menepis, menyadarkan diriku sendiri kalau aku tidak mencintainya, tapi ternyata perasaan itu semakin hari semakin datang menyiksa. Apalagi disaat aku membaca buku diary miliknya itu. Aku benar-benar tak menyangka, dan entah kenapa aku sangat bahagia saat tahu kalau ternyata Nayara juga pernah mencintaiku.
Jika ada orang yang mengatakan aku manusia tak tahu diri, aku gak peduli. Apapun yang akan orang lain katakan tentangku, aku akan menerimanya sekalipun itu akan sangat menyakitkanku. Karena sekarang, aku benar-benar mencintai Nayara.
Tapi aku sadar dengan siapa diriku. Kadang aku berpikir apakah Naya akan memaafkanku dan mau kembali padaku? Apakah aku pantas untuknya setelah apa yang telah aku lakukan dulu padanya?
Sepertinya tidak.
Karena selama ini Nayara benar-benar memasang tembok pembatas di antara kami. Apalagi setelah gadis itu mengatakan jika kini perasaannya sudah tidak ada lagi, maka semakin kecil pula kesempatan aku untuk kembali mendapatkannya.
"Sepertinya akan sangat sulit, Ma. Karena Naya membenciku sekarang."
"Kamu harus yakin sama diri kamu sendiri Tian. Kalo kamu sudah berjuang dan Naya tetap tidak mau kembali sama kamu, itu artinya kalian tidak berjodoh, dan kamu boleh menyerah."
Aku menatap Mama sekarang, wajah teduh itulah yang selama ini selalu membantuku bangun dari keterpurukan.
"Makasih, Ma."
******
Sementara di tempat yang berbeda,
"Baiklah, aku akan ikut nemenin kamu, Fi."
"Makasih, Ra. Aku jemput kamu jam tujuh malam nanti ya?."
Aku meletakkan kembali ponselku di atas meja nakas setelah sambungan telepon itu terputus. Beberapa menit yang lalu Raffi menghubungiku, lelaki itu meminta aku untuk menemaninya datang ke sebuah pesta pernikahan saudara sepupunya. Meskipun enggan, tapi aku sendiri sulit untuk menolak.
__ADS_1
Raffi terlalu baik padaku. Aku sering menolak setiap kali lelaki itu mengajakku untuk bertemu dengan teman-temannya atau pun keluarganya. Dan mungkin, inilah saatnya aku membalas semua kebaikan Raffi padaku.
"Baiklah, kali ini aku sudah siap."
Gumamku pelan seraya menatap penampilanku sendiri dalam pantulan cermin.
"Sayang, Raffi sudah nungguin kamu di bawah."
Aku menoleh, menatap Ibuku sambil tersenyum.
"Kamu cantik sekali, sayang." Puji Ibu menatap takjub padaku.
"Ibu bisa aja." Aku menghampiri Ibu, lalu kami berdua pergi meninggalkan kamar untuk menemui Raffi yang sudah menunggu di ruang tamu. Aku takut membuat Raffi terlalu lama menunggu.
Begitu aku dan Ibu menuruni anak tangga terakhir, aku bisa melihat Raffi tak berhenti menatapku. Entah apa yang lelaki itu lihat sehingga Raffi tak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dariku.
Pun saat kami berdua sudah berada di dalam mobil. Raffi tak berhenti memujiku, sehingga aku merasa risih sendiri di buatnya.
Tiba di depan gedung hotel bintang lima, aku dan Raffi segera masuk ke dalam ruangan tempat berlangsungnya resepsi pernikahan Airin, saudara sepupu Raffi Abrar Dharmendra.
"Fi ..." Aku dan Raffi menoleh pada pemilik sumber suara.
"Sayang, kapan kamu datang?"
Aku melihat seorang wanita setengah baya dan seorang gadis cantik datang menghampiri kami. Raffi mencium punggung tangan wanita setengah baya itu dan kedua pipinya secara bergantian.
"Ma ... kenalkan, Ini Nayara."
Jadi wanita setengah baya yang masih terlihat sangat cantik ini adalah Mamanya? Aku tersenyum, lalu meraih tangannya untuk aku cium. Ini adalah pertemuan pertama kami, tapi aku melihat Mamanya Raffi begitu baik dan menyambutku dengan hangat. Tidak seperti perempuan yang berdiri di sampingnya itu, gadis itu memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah, serta menatapku tak suka.
Raffi yang melihat aku sedikit risih karena terus di perhatikan oleh gadis itu segera membawaku ke tempat lain. Lelaki itu mengenalkanku kembali pada kerabat sekaligus teman-temannya.
"Bella ..."
Aku mendengar salah seorang dari kerabatnya Raffi memanggil nama seseorang. Aku tak begitu memperhatikan orang-orang yang ada di sekelilingku, pun saat kedua wanita itu saling menyapa satu sama lain. Tapi ... sepertinya ada yang tidak beres dengan pendengaranku kali ini.
Aku mendengar suara wanita itu menyebut nama seseorang.
"Ini, Tian. Sebastian Aydan."
Deg
Dalam hitungan detik aku bisa menebak siapa pemilik suara yang terdengar begitu parau itu.
__ADS_1
Kenapa selalu kebetulan seperti ini sih?
...****************...