Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Pantulan cermin


__ADS_3




"Ra ... kenalkan, ini Bella. Dia sepupu aku juga."


Aku mengulurkan tangan. Mengenalkan diriku pada wanita cantik yang datang bersama dengan Tian. Beruntung, Bella menyambutku dengan baik, tidak seperti gadis yang aku ketahui bernama Silvana itu. Gadis yang sedari tadi menatapku dengan tatapan sinis. Entah kenapa sepertinya Silvana tidak menyukai kehadiranku yang ada di antara mereka.


Apa ini ada hubungannya dengan Raffi?


Ya, sepertinya begitu.


Tapi aku tak peduli, aku mengabaikan tatapan sinisnya itu dan bersikap biasa saja, seolah menganggapnya tak ada di antara kami. Dan itu tentu saja membuat wanita itu terlihat semakin kesal padaku.


Kali ini giliran Bella yang mengenalkan Tian kepada kami semua, wanita itu mengatakan jika Tian adalah temannya, teman yang mungkin saja sebentar lagi akan berubah statusnya menjadi pacar. Mungkin saja.


Aku dan Tian bersalaman seperti biasa, tapi ada sesuatu yang membuatku langsung menarik tanganku sendiri saat lelaki itu tak kunjung melepaskan tangannya dariku. Pun dengan Raffi, belum hilang rasa terkejutku karena ulah Tian, kini aku kembali dibuat tercengang saat Raffi mengenalkanku sebagai kekasihnya di hadapan semua orang.


"Maaf ... kamu jangan marah ya?" Bisik Raffi tepat di sebelah telingaku. Mungkin lelaki itu tahu jika aku sangat terkejut. "Nanti aku jelasin sama kamu." Ujarnya lagi dengan wajah penuh sesal.


Melihat wajah Raffi yang seperti itu tentu membuat aku tak bisa marah, buru-buru kepalaku mengangguk sambil melempar senyum tipis.


"Tapi memang benar kan, jika kamu akan menjadi kekasihku?" Aku melihat Raffi tersenyum jahil. Dan aku hanya bisa mendesis seraya memutar kedua bola mataku.


"Dia pacar kamu?"


Bukan Silvana yang bertanya, melainkan seorang laki-laki paruh baya yang baru saja datang menghampiri kami semua.


"Papa ..." Seru Raffi.


"Siapa dia?" Tanya laki-laki paruh baya itu. Menatapku dengan tatapan yang sedikit membuatku merasa tak nyaman.


"Pa, kenalkan ini Nayara. Dia ---" suara Raffi tertahan saat Papanya itu tiba-tiba saja memanggil nama seseorang.


"Silvana.!"


"Iya, Om." Aku melihat wanita itu mendekat seraya tersenyum lebar. Lalu, tanpa melihat pada Raffi dan aku, Papanya itu terlibat perbincangan hangat bersama Silvana, tak lupa laki-laki itu juga menyempatkan diri untuk berbicara bersama Bella dan Tian. Pasangan yang terlihat begitu serasi pada malam ini. Aku melihat senyum lebar menghiasi bibir tebal yang sedikit berkumis itu saat bersama Silvana, Bella dan juga Tian. Tapi tidak padaku dan Raffi.


Berulang kali Raffi meminta maaf padaku, lelaki itu merasa bersalah karena sikap Papanya yang sepertinya tidak menyukai kehadiranku pada malam ini. Aku hanya tersenyum, memberi isyarat pada Raffi kalau aku baik-baik saja. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali pergi saat itu juga. Menghindari orang-orang menyebalkan seperti mereka.


Setelah cukup lama berada pada situasi yang membuatku merasa tak nyaman, akhirnya aku bisa bernapas sedikit lega saat Papa Raffi pergi meninggalkan kami. Tapi setelah itu, aku melihat seseorang datang kembali menghampiri Raffi, meminta Raffi untuk ikut bersamanya. Raffi meminta izin, dan akupun mengangguk. Membiarkan lelaki itu pergi bersama dengan Silvana yang juga ikut bersama mereka.


Kini, tinggal hanya ada aku, Bella dan juga Tian.


Aku memilih mundur, memisahkan diri dari mereka berdua saat Bella sedang berbincang dengan beberapa tamu undangan yang lain.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja?"


Aku menoleh, dan sempat terkejut saat melihat Tian sudah berdiri di sampingku.


"Kenapa kamu disini, Mas?" Tanyaku ketus.


"Kamu mau minum sesuatu?"


"Tidak. Terima kasih." Tolakku.


"Kamu baik-baik aja, kan?" Tidak butuh waktu lama untuk aku mengerti kenapa Tian kembali mengulangi pertanyaan yang sama. Lelaki itu mungkin tahu jika aku merasa tak nyaman berada di tempat ini karena sikap tidak ramahnya Papa Raffi padaku.


"Aku baik, bahkan sangat baik." Ucapku bohong.


Meskipun tak melihatnya, tapi aku tahu kalau Tian sekarang sedang menatapku. "Kenapa kamu disini, Mas? bukankah seharusnya kamu disana?" Aku melihat pada sekumpulan wanita cantik yang sedang tertawa tak jauh dari kami berdua. Dimana disana ada Bella, wanita yang datang bersama dengan Tian itu.


Tian sempat melihat ke arah Bella sebelum kemudian lelaki itu kembali menatapku. "Lebih baik aku disini."


"Maksud kamu?" Seketika aku menoleh, menatap Tian saat ini.


"Tidak apa-apa kan, jika aku menemani kamu disini.?"


Aku mendelik tajam, "Terserah kamu, Mas. Tapi maaf, aku harus ke kamar mandi sekarang." Begitu aku memutar badan, entah dalam keadaan sengaja atau tidak, tiba-tiba saja Silvana sudah ada di hadapanku, kami berdua sempat bertubrukan sebelum akhirnya gelas yang ada dalam tangannya itu jatuh, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring sehingga sedikit menarik perhatian semua orang, tak lupa cairan itupun menyiram gaun yang kukenakan pada saat ini. Membuat bagian depan gaunku itu sebagian menjadi basah.


"Ya ampun ..." Wanita itu memekik kaget. "Sory, gue gak sengaja." Katanya dengan wajah yang dibuat-buat menyesal.


"Kamu gak apa-apa?" Tiba-tiba saja Tian ada di sebelahku. Aku sempat melihatnya sekilas, lalu melihat ke arah Bella yang sedang menatapku dan Tian curiga.


Kepalaku menggeleng, sebelum aku pergi ke kamar mandi, aku menyempatkan diri menatap wanita sialan itu. Tak ada raut penyesalan lagi di wajah angkuhnya itu, justru aku melihat wanita itu tersenyum menatapku.


Sialan.!


Begitu masuk ke dalam kamar mandi, aku segera membersihkan noda yang ada pada bajuku menggunakan sedikit air.


"Gara-gara gue, baju lo jadi basah kan?"


Aku mendongak, menatap Silvana dalam pantulan cermin. Wanita itu sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya pada dinding.


"Kamu memang sengaja kan?" Tanyanku sinis.


"Emang kelihatan banget ya?" Ingin sekali aku meyiram wajah menyebalkannya itu.


"Jauhi Raffi." Wanita itu mendekat, kami berdua saling melempar tatapan tak suka dalam pantulan cermin.


Aku berbalik, menatap wanita yang sekarang berdiri tak jauh dariku itu.


"Kenapa aku harus jauhi Raffi?"

__ADS_1


"Gue tahu siapa lo." Aku melihat sebelah ujung bibirnya itu tertarik keatas. "Lo bekerja di club malam kan?"


"Ya, aku seorang DJ. Apa ada yang salah?"


"Umur lo dan Raffi juga berbeda."


"Lalu?" Tanyaku tak kalah sengit.


"Dan lo seorang janda kan?"


Aku diam, menatap wanita itu tak percaya. Bagaimana bisa Silvana mengetahui asal-usulku dengan cepat? apa selama ini kedekatan ku bersama Raffi sudah diketahui banyak orang?


"Kenapa diam? lo janda kan?"


Ku tarik napas dalam-dalam untuk mengatur agar aku tak terlihat emosi dihadapan wanita itu. Lantas aku tersenyum seraya mengangguk. Aku mengatakan apa yang sebenarnya, aku mengakui kalau aku adalah seorang janda. Dan hal itu membuat Silvana seketika tertawa mengejek.


Tak ingin meladeni wanita gila sepertinya, aku memilih untuk keluar dari dalam kamar mandi. Lebih baik sekarang aku pergi daripada terus-terusan mendengarkan sesuatu yang membuat telingaku terasa sakit.


"Dasar murahan!"


"Janda seperti lo gak pantas buat Raffi."


"Apa kata keluarganya nanti, jika laki-laki seperti Raffi mendapatkan wanita bekas orang lain?"


Cukup sudah wanita itu membuat aku tak bisa lagi mengendalikan diri. Aku memutar badan, menatap Silvana dengan tajam.


"Sekarang aku ragu jika kamu adalah wanita yang berpendidikan?" Aku mendekat, mengatakan kalimat itu sambil tersenyum tipis. "Apa kedua orangtua mu tidak pernah mengajarkan bagaimana adab berbicara yang baik dengan orang lain?"


"Jaga mulut, lo.!"


Aku melihat kedua tangan Silvana mengepal erat disamping, pun dengan sorot matanya yang mengkilat penuh amarah.


Tanpa menunggu lama, aku memutuskan untuk pergi. Meninggalkan Silvana untuk mencari Raffi. Tapi sebelum aku benar-benar pergi dari sana, aku begitu terkejut saat Silvana tiba-tiba saja menarik tanganku dengan kasar. Wanita itu hampir saja melayangkan sebuah tamparan padaku kalau saja seseorang tak menghalanginya.


"Jangan pernah berani kamu sentuh dia.!"


...****************...


*Hai .... masih ada yang nungguin ceritanya Tian dan Naya gak sih?


Maafkan ceritanya mereka baru aku lanjut sekarang ...


Semoga kedepannya bisa lebih sering Up lagi* ...


Makasih buat semua yang sudah berkenan mampir baca ceritanya aku, semoga suka.


Maafkan kalo masih banyak kesalahan dan kekurangan 🙏

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga simpan sebagai cerita Favorit yes ...


__ADS_2