Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Luka lama


__ADS_3

Sebatian Aydan,


Jika waktu bisa aku putar kembali, tentu aku takkan pernah melakukan kesalahan apapun pada Naya. Mungkin saat itu aku akan menerima perjodohan dan menerima Naya sebagai istriku. Tapi Sayang, jika seperti itu jalan ceritanya, maka aku takkan pernah sadar. Mungkin selama ini Tuhan jarang sekali mengujiku, hingga akhirnya Tuhan menghadirkan Naya dalam kehidupanku. Naya datang untuk menguji sampai dimana batas kemampuanku bertahan.


Dan disitulah, aku benar-benar sadar seperti apa sifatku. Aku sadar kalau aku adalah laki-laki berengsek yang tak pernah menghargai perasaan orang lain. Dan aku melakukan semua itu pada Nayara.


Entah kenapa rasa sesal itu tak pernah hilang dalam benak. Wanita yang sempat dulu aku sia-siakan itu, justru kini wanita itulah yang telah menggerakkan hatiku.


Aku sadar kalau perasaan cinta itu datang dengan sendirinya, dengan atau tanpa paksaan dari siapapun. Aku pun mengakui kalau ternyata dihati ini telah menyimpan namanya. Dan kini, aku di buat jatuh cinta kembali dengan bagaimana sikapnya memperlakukan Cheery.


Sebagai seorang wanita yang belum memiliki anak, Naya adalah gadis yang sangat baik dan juga lembut, aku melihat sisi kelembutan dan keibuannya itu sendiri saat ia sedang bersama Cheery. Naya, gadis yang dulu selalu menjaga suaranya itu kini berani memarahiku hanya karena Cheery. Aku tak mengira jika Naya akan sekesal itu saat tanpa sengaja aku membentak Cheery. Bukannya marah, aku justru senang melihat Naya yang seperti itu.


Bukan karena 'sok tahu' tapi aku yakin jika Naya benar-benar menyayangi Cheery.


Dan salahkah aku jika sekarang berharap ingin memilikinya kembali?


Meskipun ragu karena sikap Naya yang selalu menghindar, tapi aku tak akan menyerah begitu saja. Aku akan berusaha untuk mendapatkan cintanya kembali. Aku akan merebut hatinya kembali dengan cara apapun itu. Karena sekarang aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri, di setiap helaan napas, di setiap malam, bahkan di setiap doaku, aku selipkan sebuah nama yang selalu membuat hatiku bergetar tak karuan.


Nayara Syila.


Mungkin aku adalah laki-laki egois, setelah menyakiti dan membuatnya menangis, justru sekarang aku ingin memilikinya.


Aku benar-benar jatuh cinta padanya, jatuh hati sedalam-dalamnya pada gadis itu.


Dan aku benar-benar yakin dengan perasaanku sendiri pada Naya, saat tanpa sengaja aku bertemu kembali dengan Mentari.


Ya, Tari.


Wanita yang dulu begitu aku agung-agungkan namanya, wanita yang dulu membuatku tak bisa berpaling sedikitpun pada perempuan lain, dan wanita itu yang dulu satu-satunya berada dalam hatiku. Tapi perasaan itu kini telah lenyap dengan sendirinya.


Awalnya aku sempat tak percaya, aku membeku di tempat saat melihat wajah itu. Jujur, Tari masih sama seperti dulu. Wanita itu tak berubah sedikitpun selain tubuhnya yang terlihat lebih kurus.


Aku menatapnya tanpa kata, pun dengan dia yang melihatku dengan sendu. Saat melihatnya, tak ada sedikitpun getaran-getaran mendebarkan yang aku rasakan selain rasa benci yang mulai merambat dalam pikiran.


Mungkin aku jahat, tapi untuk saat ini aku benar-benar belum siap jika harus berbicara dengannya sekarang. Entah karena dorongan apa yang membuatku akhirnya menarik tangan Naya, membawa tangan halus itu untuk aku genggam dan meninggalkan Tari yang masih menatapku disana dengan genangan air mata di pelupuk.

__ADS_1


Aku seperti memiliki kekuatan saat tangan ini tak lepas memegang tangan miliknya. Milik perempuan yang sekarang menguasai hatiku.


Rasa marah dan benci benar-benar telah mengusai seluruh kesadaranku sekarang, hingga aku lupa jika nada suaraku terlalu tinggi, membuat putri kecilku sampai ketakutan seperti itu.


"Jaga suara kamu, Mas.?"


Begitulah yang Naya ucapkan, wajahnya terlihat kesal dan marah. Suaranya pun sedikit meninggi.


Aku sadar dengan apa yang telah ku lakukan. Rasa sesal itu kembali hinggap dalam benak ketika tanpa sengaja aku telah membentak Cheery.


Sesampainya di rumah pun aku masih di buat terkejut oleh sikap Naya. Ternyata gadis itu masih benar-benar marah padaku. Bahkan saat rasa kesal itu belum hilang, Naya tanpa ragu tak mengizinkan aku untuk menggendong Cheery.


Bukannya marah, aku justru melihat sisi lain darinya. Ternyata Naya masih peduli, dan Naya benar-benar menyayangi Cheery seperti putrinya sendiri.


"Aku harap kamu minta maaf sama Cheery kalo nanti dia bangun, Mas."


"Aku gak suka kamu bentak Cheery kayak gitu."


Aku menatapnya dalam diam, entah kenapa aku begitu menyukai Naya yang seperti itu. Rasa ingin memilikinya pun semakin besar. Tapi aku ragu, dan aku merasa tak pantas untuk mendapatkan cintanya kembali. Mengingat bagaimana dulu aku memperlakukannya.


Dan hari ini, aku tak bisa membendung perasaanku lagi. Aku menarik Naya dalam dekapan, memeluknya begitu erat. Aku tahu Naya sempat terkejut, tapi setelah itu ia diam dan menerima pelukan dariku.


Entah karena apa aku menangis. Aku seperti bukan diriku sendiri, bukan seorang Tian dengan keegoisannya yang setinggi langit. Aku tak peduli dengan harga diriku yang jatuh di hadapan Naya, aku juga tak peduli jika Naya menganggapku sebagai laki-laki yang lemah.


Yang aku inginkan hanyalah bisa memeluk Naya saat ini, dan yang aku rasakan sekarang hanyalah sebuah rasa penyesalan.


Penyesalan karena dulu tak pernah menganggap Nayara sebagai istri.


Tuhan ... bolehkah aku meminta, tolong izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku dulu padanya. Aku mencintainya sekarang. Aku sangat mencintainya, dan aku ingin memilikinya kembali.


Ku telungkupkan wajahku di lehernya, aku memeluknya erat. Menyembunyikan air bening yang terus keluar tanpa malu itu pada bahunya.


Dan aku merasa senang saat Naya menyambut pelukanku. Memberi pelukan yang membuatku merasa tenang dan juga nyaman.


******

__ADS_1


Beberapa hari Setelahnya,


Aku yang tengah bertarung dengan pikiranku sendiri, akhirnya memutuskan untuk menemui Tari. Setelah pertemuan yang tidak di sengaja tempo hari itu, ternyata Tari pernah beberapa kali datang ke rumahku. Wanita itu tak berani masuk, ia hanya menitipkan sebuah surat pada penjaga pintu gerbang utama.


Sesuai dengan permintaan dari wanita itu, maka aku putuskan untuk menemuinya dan berbicara empat mata secara langsung dengannya.


"Maafkan aku, Mas." Kata keramat itulah yang pertama kali keluar dari bibirnya.


"Ck." Aku berdecak. "Untuk apa minta maaf?"


Tari menatapku, dalam tatapannya itu aku melihat penyesalan yang teramat dalam. Tapi itu tak berhasil merubah apapun, termasuk dengan perasaanku.


Entah harus merasa senang atau bersalah, aku yang sempat terkejut dengan cerita Tari kenapa dia meninggalkanku waktu itu sedikit menarik perhatianku.


"Aku terpaksa meninggalkan kamu dan anak kita itu untuk kebahagiaan mu, Mas. Aku gak mau hubungan mu dengan kedua orang tuamu jadi renggang gara-gara aku."


"Bodoh! alasan macam apa itu?"


"Aku melakukan itu karena menuruti keinginan dari Papa kamu, Mas."


Sempat sedikit terkejut dan tak percaya, tapi sepertinya Tari tidak sedang berbohong. Jadi selama ini Papa ikut andil dalam kepergian Tari?


Masih banyak lagi yang Tari jelaskan padaku. Termasuk dengan kepergiannya bersama mantan pacarnya itu. Aku hanya diam, memberikan waktu pada Tari untuk mengeluarkan semuanya, hingga aku memutuskan pergi dari sana. Tak banyak kata yang aku ucapkan selain jawaban yang sangat singkat. Entahlah, sepertinya aku sudah lelah dan tak mau lagi menoleh ke belakang.


Aku ingin menikmati kehidupanku sekarang tanpa mengingat lagi masa lalu. Apalagi membuka luka lama yang sudah mengering.


"Kamu dimana?"


" ...."


"Ya udah aku kesana sekarang, tungguin aku."


Tak ingin membuang waktu, maka aku putuskan untuk menemuinya.


"Untuk apa, Mas?"

__ADS_1


"Aku ingin bertemu denganmu ... Nayara."


...****************...


__ADS_2