
•
•
•
Satu minggu setelah kepergian Ayah dan kepulangan Ibu ke rumah setelah tiga hari mendapatkan perawatan di rumah sakit, maka pada hari ini aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Selain karena keadaan Ibu yang mulai membaik, ada sesuatu yang harus segera aku selesaikan. Dan lagi, ada tanggung jawab yang menungguku disana.
Tanggung jawab pekerjaan yang sudah hampir sepuluh hari ini aku tinggalkan. Meskipun dua hari yang lalu, Arga secara langsung datang ke rumah untuk mengucapkan belasungkawa atas kepergian Ayah, sekaligus menjenguk Ibu. Lelaki yang baru pulang dari luar negeri itu meminta maaf karena baru bisa berkunjung ke rumah. Padahal, sebenarnya Arga tak perlu melakukan itu. Arga juga meminta aku untuk mengambil cuti selama yang aku butuhkan, tapi aku menolak.
Aku tidak ingin memanfaatkan dan melibatkan Arga di dalam kehidupanku sekarang. Dulu, Arga memang pernah menjadi bagian dari hatiku, tapi sekarang aku menganggapnya hanya sebagai atasan saja. Tak lebih dari itu.
Aku pun sempat tak percaya saat Arga secara terang-terangan mengutarakan kembali keinginannya untuk kembali bersamaku. Bahkan, lelaki itu rela menunggu sampai aku benar-benar terbebas dari Tian. Tapi sekali lagi, aku kembali menolaknya. Aku tak ingin memberi harapan kosong pada Arga, meskipun nanti perpisahan itu memang terjadi, aku memilih untuk melanjutkan hidupku jauh dari orang-orang yang pernah dekat denganku.
Termasuk Arga Devano.
Tiba di Jakarta pukul enam pagi, aku kembali menginjakan kakiku disini. Aku memutuskan kembali ke rumah Tian untuk sementara waktu sampai aku mendapatkan tempat tinggal yang baru. Karena semalaman aku telah berpikir, kalau aku memutuskan untuk keluar dari rumah yang sudah tiga bulan ini aku tempati. Bahkan, akupun memutuskan untuk mengundurkan diri perusahaan Arga.
Begitu pintu di depanku itu terbuka lebar, hal pertama yang aku lihat adalah wajah Mbok Iyam. Wajah wanita paruh baya itu sedikit terkejut. Meskipun tersenyum, tapi aku melihat wajahnya yang sedikit menegang. Apalagi wanita paruh baya itu kini seperti salah tingkah.
"Bu, Naya?"
"Apa kabar, Mbok?"
"Ba - baik, Bu." Jawabnya bersama kepala yang mengangguk. Lalu wajah itu menoleh kebelakang. Akupun melihat Mbok Iyam sedikit gugup.
"Ada apa, Mbok?" Entahlah kenapa aku begitu penasaran. "Eh ... anu, Bu ..." Wanita itu menggantung kalimatnya sambil menggigit bibir. "Mari masuk, Bu!" Mbok Iyam meraih tanganku dan tas yang aku bawa.
Akupun masuk ke dalam rumah, ku sapu setiap sudut ruangan yang masih tetap sama seperti beberapa terakhir yang lalu. Sementara Mbok Iyam, wanita itu telah lebih dulu naik ke atas untuk menyimpan tas pakaian yang ku bawa.
Aku yang hendak masuk ke dalam kamar mengikuti Mbok Iyam, tiba-tiba saja terhenti saat mendengar samar-samar suara seseorang yang sedang berdebat dari dalam kamar Tian yang pintunya sedikit terbuka. Aku pikir Tian tidak ada di rumah ini, tapi nyatanya lelaki itu ada, bahkan Tian ada di dalam kamarnya bersama dengan seorang wanita.
Dan tidak butuh waktu lama untuk aku tahu siapa wanita yang sedang berada di dalam kamar Tian sekarang.
Tadinya aku tak mau memperdulikan mereka, tapi entah kenapa kakiku kembali berhenti saat mendengar sesuatu yang membuat aku menganga tak percaya dengan apa yang aku dengar sekarang.
"Mas ... cobalah kamu terima Naya, Mas?"
"... Aku tidak bisa."
"... Aku tidak mencintainya."
"... Sayang, aku sudah menurutimu untuk bersikap baik padanya, tapi aku tak bisa jika harus mencintainya juga."
"... Aku hanya mencintai kamu, hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hati aku. Bukan Naya."
"... Aku akan berusaha untuk berbuat adil, tapi aku tak janji jika aku harus mencintainya juga."
Ku tutup bibirku dengan telapak tangan, tubuhku limbung dan hampir terjatuh kalau saja Mbok Iyam tak menahanku dari belakang. Jadi selama ini Tian baik padaku karena Tari yang meminta? aku pikir lelaki itu berubah selama ini dan mau menerima aku sebagai istrinya, nyatanya Tari masih saja berperan di dalamnya.
Jahat! dasar laki-laki berengsek!
"Bu ... Bu Naya, tidak apa-apa?" Tanyanya cemas.
Aku menggeleng dengan buliran air mata yang menumpuk di pelupuk. Ternyata, keputusanku untuk keluar dari rumah ini sudah sangat tepat.
__ADS_1
"Naya ...?"
Aku menoleh saat suara parau milik Tian terdengar, dan Tian menatapku penuh terkejut.
"Nayara?"
Dia menyebut namaku. Tian menyebut namaku kembali.
"Nay ..."
"Mas ... kamu?" Aku menggeleng seraya mengusap cairan bening yang keluar dari mataku itu, "Aku udah denger semuanya, Mas."
"Naya, aku ---" Tian seketika tercekat, membuat aku semakin merasa sakit.
"Aku udah denger semuanya. Dan aku akan keluar dari rumah ini sekarang juga, Mas."
"Naya, aku ---" Lelaki itu menoleh sekilas ke belakang, lalu menatap Mbok Iyam yang masih ada di belakang tubuhku. Tian meminta wanita paruh baya itu untuk pergi, dan Mbok Iyam pun mengangguk.
"Aku bisa jelasin ---"
"Mas, siapa?"
Aku mendengar suara lembut itu menggema dari punggung Tian. Lalu mata kami berdua bertemu, Mentari sontak menutup bibirnya dengan telapak tangan.
"Naya?"
Aku tak terkejut, tapi wanita itu menunjukkan reaksi berbeda.
"Naya ... kamu?." Ku lihat dia gugup, "Kamu kapan kembali?" Tari melangkah mendekat ke arahku.
"Maaf, aku bisa jelasin semuanya."
Aku tak menjawab, yang menjadi pusat perhatianku saat ini hanyalah melihat ke arah rambut mereka berdua yang sama-sama terlihat basah di pagi buta seperti ini. Akupun tahu, dengan apa yang telah mereka lakukan semalaman di rumah ini.
Menjijikan!
Selama tiga bulan menjadi istrinya, Tian tak pernah mau menyentuh atau meminta haknya sekalipun sebagai seorang suami padaku. Aku mengerti kenapa dia tidak meminta hak itu karena memang Tian tak pernah menginginkan aku. Tapi di saat aku melihat mereka berdua dalam keadaan seperti ini, membuat hatiku sedikit tercubit.
"Mas ... aku tunggu kamu di rumah, Papa dan Mama."
******
"Kurang ajar kamu, Tian.!"
Satu tamparan berhasil mendarat dengan mulus di sebelah pipi Tian. Membuat aku, Mama mertuaku, dan juga dia - terkejut.
"Keterlaluan, kamu." Bentaknya lagi dengan wajah yang mengeras. Papa Adi mengepalkan kedua tangannya di samping, beliau berusaha untuk tetap tenang meskipun rasanya ingin sekali melakukan sesuatu yang lebih dari sebuah tamparan.
Satu jam yang lalu, aku memutuskan untuk datang ke rumah kedua mertuaku itu. Meskipun sempat ragu ,tapi keputusanku kali ini sudah tak bisa lagi di cegah. Aku datang dan memberanikan diri mengatakan kepada mereka tentang keinginanku yang ingin berpisah.
Awalnya, Papa Adi dan Mama Maya tak setuju. Mereka meminta aku untuk tetap terus di samping putranya itu, menemani Tian sesuai dengan keinginan mereka dan amanat dari Ayahku.
Aku kekeuh, dan aku tetap memaksa untuk mengakhiri pernikahan ini. Meskipun aku diam saat mereka menanyakan tentang alasan kenapa aku ingin berpisah dari Tian.
Hanya satu yang kukatan, bahwa aku dan Tian, kami berdua sudah sama-sama memutuskan ini dengan cara baik-baik.
__ADS_1
Tapi, Papa Adi tetap tak percaya. Beliau tahu kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Dan benar saja, sebelum aku sendiri yang berkata jujur, Tian tiba-tiba saja datang menghampiri kita semua. Lelaki itu datang dengan di temani Mentari yang mengikutinya dari balik punggung.
Aku hanya menunduk, sedangkan Papa Adi dan Mama Maya mereka sangat terkejut karena Tian datang dengan membawa seorang wanita lain bersamanya.
"Jelasakan, ada apa ini?"
Kali ini Mama Maya berdiri, beliau menghampiri putra tercintanya itu. "Kenapa kamu bawa dia, Tian?"
"Ma ... aku bisa jelasin."
Tian pun menatap aku dengan tatapan yang sangat sulit untuk aku artikan sekarang. Entah apa yang membuatnya menatap aku seperti itu. Merasa bersalahkah?
Sepertinya bukan itu.
Sementara Tari, wanita itu sedari tadi hanya menunduk.
"Katakan yang sebenarnya, Tian?" desak Mama Maya kembali.
Tian menatap kami semua secara bergantian, sebelum kemudian lelaki itu mengatakan semuanya tanpa ada yang di tutupinya. Pengakuan Tian yang sangat mengejutkan itu tentu membuat kedua orang tuanya seketika naik pitam.
Aku hanya menangis saat melihat Mama Maya jatuh bersimpuh ke lantai. Beliau menangis dan tentu itu membuat aku semakin sakit. Aku menghambur memeluknya.
"Bagaimana kamu bisa melakukan hal memalukan seperti ini, Tian?"
"Maafkan aku, Pa."
"Tinggalkan wanita ini sekarang juga, atau Papa sendiri yang akan membuatnya pergi sejauh mungkin."
"Enggak, Pa." Kepala lelaki itu menggeleng. "Aku mohon, Papa jangan lakukan itu."
"Tinggalkan dia.!" Bentak Papanya itu.
"Tidak bisa, Pa."
"Tian ....!" Papa Adi menggebrak mejanya dengan kasar. Aku bisa melihat kemarahannya. "Tinggalkan dia."
"Aku mencintainya, Pa." Akunya kemudian.
"Lalu Naya?"
Tian sempat melihat ke arahku, lelaki itu sempat diam beberapa detik dengan kedua mata kami yang saling menatap. Aku melihat dari sorot mata lelaki itu sepertinya Tian ingin mengatakan sesuatu, dia sedang meminta maaf padaku.
"Aku ... aku tidak mencintainya, Pa." Detik itu juga aku memutuskan untuk membuang pandangan, dan hatiku? jangan tanyakan dengan keadaan hatiku sekarang yang terlalu sakit.
Awalnya aku tak ingin menangis, maka pada saat ini aku sudah tak sanggup lagi untuk menahannya. Tangisku semakin tak terbendung saat aku mengetahui tentang sebuah kebenaran, lagi.
Kebenaran kalau ternyata, lelaki itu lebih memilih Mentari di banding aku. Dan kebenaran lainnya yang juga tak kalah mengejutkan adalah,
"Tari sedang hamil."
"Tari sedang mengandung anakku, Tari sedang mengandung cucu, Papa."
...****************...
__ADS_1