Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Masa laluku


__ADS_3




Semilir angin malam menerpa permukaan kulit wajah dan tubuhku. Membuat aku sedikit merasa kedinginan, tapi itu tak membuatku ingin segera beranjak dari sini. Sudah hampir dua jam aku duduk di samping kolam renang sembari menatap langit bertaburan bintang di atas sana.


Karena kesibukanku akhir-akhir ini yang mengharuskan aku bekerja, maka aku jarang sekali berada dirumah. Dan hari ini, setelah aku berhasil memaksa Geril untuk mengosongkan jadwal manggung ku, maka tak kusia-siakan kesempatan ini untuk menghabiskan waktuku diam dirumah. Selain tidur seharian, bermalas-malasan, aku juga merasa senang karena bisa menemani dan membantu pekejaan Ibu.


Aku sedikit terkejut saat mendengar suara ponselku berdering. Aku melihat nama Geril lah yang tertera di layar ponselku yang menyala. Dengan sedikit kesal akupun mengangkat panggilan darinya. Setelah beberapa menit kami bicara lewat sambungan telepon, akupun segera memutuskan untuk mengakhiri panggilan tersebut.


Geril, mengingatkan aku kalau besok malam kami semua akan berangkat ke puncak.


Aku kembali diam, sebenarnya aku malas. Tapi karena ini adalah pekerjaanku sekarang, maka mau tak mau akupun harus tetap semangat.


Entah apa yang membuat rasa kantukku hilang, padahal ini sudah jam sepuluh malam. Dan aku masih betah berada disini.


Sekilas bayangan saat aku kembali bertemu dengan orang tak ingin aku temui selama ini, tiba-tiba saja terlintas. Sungguh, sampai detik ini pun aku masih tak percaya jika aku dan Tian akan kembali di pertemukan.


Entah apa yang lelaki itu pikirkan tentang aku. Aku tak peduli. Karena pada saat kami bertemu, sepertinya Tian merasa aneh dengan penampilanku dan juga sikapku. Sebenarnya aku ingin berdamai dengan masa lalu, dan aku sudah memaafkannya meskipun kata maaf itu tak pernah terucap dari bibirnya. Tapi sejak saat aku dan Tian kembali bertemu, entah kenapa perasaan benci itu aku rasakan kembali.


Bayang-bayang saat aku masih menjadi istrinya pun terus berputar di kepalaku. Bagaimana cara Tian bersikap dan memperlakukan aku selama masih menjadi istrinya. Seharusnya aku tak boleh mengingat semua kenanganku itu kembali.


Maka pada saat kami berdua bertemu, sebenarnya aku ingin pergi dari tempat itu saat itu juga. Tapi ... aku tidak bisa melakukan itu. Aku sadar. Aku tidak boleh menyalahkan Tian sepenuhnya. Karena aku tahu kalau Tian begitu mencintai Tari saat itu. Mungkin aku egois, karena keegoisanku itulah yang membuat aku tetap ingin bersamanya meski tak dicintai.


Aku tahu apa yang aku lakukan saat kami berdua bertemu itu adalah salah. Seharusnya aku tak mengacuhkannya, seharusnya aku bisa bersikap biasa saja. Seharusnya akupun tak menganggapnya sebagai orang asing. Ya, seharusnya aku tak seperti itu.


Aku tahu saat itu Tian sering melirik ke arahku, diam-diam ia pun memperhatikanku. Tapi aku tak peduli. Aku lebih memilih untuk berbicara dengan teman-temannya, sampai aku baru menyadari satu hal. Selama terlibat dalam perbincangan, ada sesuatu yang membuat aku sedikit penasaran.


Aku mendengar, mereka mengatakan kalau Tian adalah seorang duda.


Duda?


Aku tidak tahu apakah itu sungguhan atau hanya sebuah lelucon. Tapi apa peduliku?


Ck.


******


"Pagi ... Bu." Aku memeluk Ibu dari belakang. Seperti itulah kegiatan aku setiap hari saat ada di rumah.


"Pagi, sayang. Tumben udah bangun.?"

__ADS_1


"Iya dong Bu, aku kan mau bantu Ibu masak." Ujarku tanpa melepas pelukan.


Ibu tersenyum. Melihat beliau tersenyum seperti itu membuat aku bahagia. Setelah Ayah pergi, aku hanya memiliki Ibu. Hanya Ibu lah satu-satunya orang yang aku punya sekarang.


"Bu ..." Aku menyimpan piring yang telah aku cuci itu ke dalam rak. "Aku mau pergi jalan-jalan, Ibu ikut ya?"


"Kemana?" Tanya Ibu yang masih membersihkan meja makan bekas kami sarapan.


"Ke Mall. Kita makan di luar, sekalian aku mau beliin Ibu sesuatu."


Ibu nampak sedikit berpikir, tapi setelah itu kepalanya mengangguk.


Maka, disinilah sekarang kami berdua, aku dan Ibu berjalan-jalan mengelilingi Mall yang entah sudah berapa lantai kami lewati. Aku membawa Ibu untuk membeli apa yang Ibu butuhkan, bukan hanya keperluan Ibu saja, akupun meminta Ibu untuk belanja keperluan dapur dan juga yang lainnya.


Setelah merasa lelah, akhirnya aku dan Ibu memutuskan untuk mengisi perut yang sudah berdemo minta diisi sejak tadi. Tapi sebelum kami berdua masuk kedalam restoran cepat saji itu, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang berlari tanpa melihat aku ada di depannya. Lalu ...


"Aww ..." Anak itu meringis dengan mimik wajah gemas.


"Ya ampun ... sayang, kamu gak papa?" Tanyaku cemas, seketika aku berjongkok saat melihat anak itu jatuh di atas lantai. Pun dengan Ibu yang ikut berjongkok di sebelahku.


"Gak papa." Cicitnya bersama kepala mungilnya yang menggeleng. Anak itu melirikku takut-takut. "Tante maafin aku."


Oh Tuhan, kenapa aku begitu gemas?


Aku tersenyum, lalu membantunya untuk berdiri. Tapi senyuman itu tak berlangsung lama saat mataku menangkap seseorang yang sedang sedikit berlari menghampiri kami, di temani oleh seorang wanita lainnya yang aku tahu kalau itu adalah pengasuh dari gadis kecil yang sangat menggemaskan ini.


"Astaga ...." Aku melihat Mama Maya, mantan Mama mertuaku itu begitu terkejut. "Na - Nayara." Ucapnya terbata.


"Mama ..." Lirihku.


Ada sedikit rasa bahagia saat aku bisa bertemu kembali dengan Mama Maya, mantan Mama mertuaku yang dulu begitu baik padaku. Pun dengan Ibuku yang ikut tersenyum lebar di sampingku. Buru-buru aku menghampirinya, lalu meraih tangannya untuk aku cium. Setelah itu aku memeluknya. Memeluk tubuh wanita yang aku sayangi setelah Ibuku.


Dan disinilah sekarang aku berada,


Kami semua memutuskan untuk makan siang bersama. Setelah lima tahun, dan inilah pertemuan pertama kami. Ada banyak hal yang Mama bicarakan padaku. Dan aku sendiri tak percaya, saat Mama meminta maaf kembali dengan rasa penyesalannya padaku dan juga Ibu atas kelakuan putranya dulu.


Aku melihat raut kesedihan dari wajah teduh itu. Tanpa Mama Maya tahu, kalau aku dan Ibu sudah memaafkan dan melupakan apa yang pernah terjadi dulu. Itu hanya bagian dari masa lalu yang sudah aku lupakan sejak lama.


"Dia Cheery, putrinya Tian."


Aku melihat Mama Maya, lalu pandanganku beralih pada anak kecil yang sedang makan disuapi oleh pengasuhnya itu.


Jadi, Anak kecil yang sudah membuatku gemas sejak tadi itu anaknya Tian dan Tari?

__ADS_1


Pantas saja wajahnya begitu mirip. Cheery begitu cantik. Cheery benar-benar perpaduan antara Tian dan Tari. Gadis kecil berusia empat tahunan itu begitu lucu dan juga menggemaskan. Aku sendiri pun sampai tak bisa berhenti menatapnya karena anak itu benar-benar membuatku gemas.


"Nenek ..." Cheery menatap sang nenek. "Tante cantik ini siapa?" Entahlah, kenapa aku ingin sekali memeluknya saat melihat kedua bola mata bulat itu menatapku sekarang.


"Tante cantik?" Mama Maya menatapku sambil tersenyum.


Lagi, kepala mungil itu mengangguk. "Iya, soalnya Tantenya cantik banget." Cicitnya lagi yang membuat kami semua tersenyum saat mendengarnya.


Disaat aku hendak mengenalkan siapa diriku padanya, disaat itu juga rahangku yang sebelumnya terbuka kini mengatup kembali saat mendengar suara seseorang dari balik punggungku.


"Ma ... maaf aku telat." Tubuhku menegang seketika saat mendengar suara parau itu. Suara yang aku kenal meskipun dengan napas yang sedikit ngos-ngosan.


"Nak Tian?" Aku melihat Ibu menoleh ke belakang, seketika Ibu berdiri dari tempat duduknya.


Baik Ibu ataupun Tian, mungkin mereka berdua sama-sama terkejut saat keduanya kembali bertemu. Tapi tidak denganku. Aku masih tetap pada posisiku, tak ingin menoleh ke belakang walau hanya untuk melihatnya saja.


"Ibu?" Tian langsung meraih tangan Ibu, lalu mencium punggung tangannya. "Ibu, apa kabar?"


"Baik, Nak." Ibu tersenyum. "Kamu sendiri?"


"Baik, Bu."


Setelah saling bertegur sapa, akhirnya aku kembali di hadapkan dengan situasi seperti ini. Berada di tengah-tengah mereka tentu membuatku merasa tak nyaman. Pun dengan lelaki itu, aku tahu kalau Tian pun sama sepertiku. Aku hanya diam, tak sedikitpun mau ikut bergabung dengan obrolan mereka. Aku hanya menjawab saat Ibu atau Mama Maya bertanya, setelah itu aku kembali bungkam. Aku lebih memilih untuk memainkan ponsel dan sesekali ikut tersenyum saat melihat gadis kecil itu terus berceloteh tak jelas.


Aku sendiri sempat meminta pada Ibu untuk pulang lebih dulu, tapi Mama Maya melarang. Wanita paruh baya itu memelas dan menahan agar aku dan Ibu tidak pergi. Mau tidak mau, akupun menurut saat Ibu menyetujuinya.


Meskipun pandanganku tertuju pada layar ponsel, tapi tidak dengan pendengaranku. Sedikit, aku banyak mendengar saat Mama Maya menceritakan tentang Cheery waktu kecil. Tapi bukan itu yang sekarang membuat aku mengalihkan pandangan dari layar ponsel, aku diam sesaat saat Mama Maya tak sengaja mengatakan tentang Tari.


Jadi Tari meninggalkan Cheery?


Pantas saja aku tak melihat Tari sejak tadi? Aku pikir Tari tidak ikut dengan mereka karena wanita itu sedang sibuk. Tapi ...


Aku menggeleng, apapun yang Mama Maya katakan itu tak membuatku ingin tahu. Karena bagiku, itu bukan urusanku. Lagi pula aku sudah tak berminat untuk mendengar apapun lagi tentang mereka. Biarlah itu menjadi bagian dari masa laluku.


Tetapi ... entah kenapa aku melihat Tian, dan sialnya lelaki itupun sedang melihatku. Aku melihatnya sekilas, lalu memutuskan untuk melihat Cheery, tak kusangka kehidupan mereka tak seperti yang aku pikirkan selama ini.


Bukan pada Tian, aku hanya tak tega dengan Cheery. Bagaimana bisa Tari begitu tega meninggalkan putri yang begitu cantik dan menggemaskan seperti Cheery?


Tanpa aku sadari, kalau ternyata secara diam-diam ada seseorang yang sedang memperhatikan kebingunganku.


"Papa ... Tante Naya cantik, kan?"


__ADS_1


Cicitnya yang membuatku terkejut. Seketika itu juga aku menoleh, dan benar saja kalau ternyata lelaki itu sedang menatapku. Buru-buru aku membuang pandangan dengan wajah ketus. Pun dengan Tian, lelaki itu merasa tak nyaman saat ia menyadari kalau ternyata perbuatannya itu mengundang banyak perhatian dari Mama dan juga Ibuku.


...****************...


__ADS_2