
Lembayung senja menghiasi langit Jakarta.
Menyisakan tumpukan rindu yang tersirat di dalam hati sanubarinya.
Samy terlihat masih duduk manis di ruang tunggu Mabes Polri.
Sebelum menjalani pendidikan di akademi Federal Bureau of Investigation (FBI), Amerika Serikat. Samy yang diketahui sebagai Kepala Unit Kejahatan Terorganisir Subdit Kejahatan Antar Wilayah Bareskrim Mabes Polri, merupakan satu-satunya polisi yang berasal dari Indonesia dan digembleng selama 3 bulan.
Kemudian kembali ditugaskan di Indonesia untuk membantu menangani kasus kejahatan narkoba.
Terlihat seorang petugas memasuki ruangan.
"Lapor Pak! Tugas telah selesai dilaksanakan!" ucap Bripka Ahsan Ramadan sambil memberi hormat dengan suara lantang.
Samy beranjak dari tempat duduknya, lalu memeluk erat petugas itu.
"Tolong lepaskan! Gue nggak bisa napas!" keluh Bripka Ahsan melepaskan pelukan Samy.
Samy kembali duduk, dan termenung sejenak.
"Gue akan tetap di sini sampai besok!" ucap Samy membuat mata Bripka Ahsan melebar.
"Ngapain? Terus gimana sama cewek lo?" Ikut duduk di sebelahnya Samy.
Samy menghela napas berat. "Emang ada yang salah sama pilihan gue?"
"Nggak sih, cuma aneh aja tiba-tiba lo menolak malam mingguan bersama Sang Pujaan Hati!" goda Bripka Ahsan.
__ADS_1
Samy merogoh saku celananya yang bergetar. Dia mendapat chat dari Mamanya untuk mengajak Kiyara makan malam di rumahnya.
"Udah punya pacar masih aja ngeluh mulu. Gimana dengan gue yang awet jomblo!"
Samy pun beranjak dari tempat duduknya tanpa menghiraukan ucapan Bripka Ahsan.
Kiyara berdiam diri saja menatap jendela kamarnya yang tidak bisa menembus melihat wajah kekasihnya saat ini.
Dia mengambil handphonenya, menghubungi Alima yang belum juga pulang dari toko swalayan.
"Udah kelar belum belanjanya? tanya Kiyara.
"Iya sabar, ini gue masih ngantri di kasir" ucap Alima menutup teleponnya.
***
Rasanya jauh lebih perih ketika tidak sengaja melihat Alima bersama seorang laki-laki di tepi jalan.
"Alima bersama dengan siapa ya?" ucap Samy melihatnya dari kaca mobil.
"Buat apa saya peduli?" lanjut Samy, "Tapi bagaimana kalau orang itu berniat jahat sama dia?" Samy menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menghampiri Alima.
"Alima!" ucap Samy membuat Alima menoleh cepat.
Alima melotot. "Sam, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Alima.
"Saya kebetulan lewat sini, terus ngeliat kamu bersama orang ini," ucap Samy melirik pria di sampingnya.
__ADS_1
"Apa kamu mengenalnya?" tanya Samy pada Alima.
Alima langsung menarik tangan laki-laki di hadapannya.
"Tentu, dia adalah pacar aku!" jelas Alima membuat Samy menganga.
Mendengar ucapan Alima, juga membuat mata Byul bercahaya bagai intan. Bagai manusia kerdil menginginkan bintang di langit.
Byul yang dari dulu selalu ingin mengungkapkan isi hatinya pada Alima tidak pernah sampai, karena sadar diri bahwa wanita sepertinya tidak akan mau menerima laki-laki culun, dan kutu buku membuatnya berhenti berharap. Lihatlah sekarang, bagaimana cinta datang sendiri tanpa harus dikejar.
"Aku pergi dulu ya Sam, bye!" ucap Alima menggandeng tangan Byul.
Samy hanya mengangguk seraya memapang senyum di wajahnya.
Ikhlas itu ilusi, yang terlihat adalah terpaksa.
Dia juga pergi untuk melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Kiyara.
Byul terus menebar senyum sepanjang jalan bersama Alima. Merasakan sentuhan surga dari genggaman tangan yang teramat hangat.
"Lo kenapa? Gue perhatiin dari tadi senyum mulu!" ucap Alima mengerutkan keningnya.
Byul menghentikan jalannya kemudian mengarahkan pandangannya ke bawah. "I can't stop smiling."
Melihat itu Alima melepaskan genggamannya pada Byul. Mulutnya melengkung membentuk senyuman.
......
__ADS_1