Alima Dasar

Alima Dasar
Ayahku Yang Payah


__ADS_3

Desiran ombak menjilat bibir pantai.


Sesekali air laut memeluk mesra tubuhku.


Jejak kaki yang tertancap di pasir putih kembali mengiris rasa perih yang belum juga pulih.


Aku benci menikmati senja, karena keindahannya hanya dapat dirasakan sekejap. 


Bagai hidupku, keajaiban datang dalam hitungan tepukan tangan.


Seorang laki-laki memakai kacamata hitam, kemeja lengan pendek motif pohon kelapa dan celana pendek sedang berdiri di tepi pantai menikmati alunan ombak yang sekali menghantam batu karang.


Kemudian menerima panggilan masuk dari handphonenya.


"Halo? Iya besok Adi pulang ke Jakarta!"ucapnya di telepon.


***


"Mumpung ada Byul di sini, aku mau tau alasan kamu yang selalu menyuruhku untuk menjauhinya?"ucap Alima membuat Samy memalingkan wajahnya.


Saat ini Samy dalam situasi terjebak. Mana mungkin dia berkata jujur, jika sebenarnya cemburu melihat Alima bersama Byul.


"Alima, sekarang ini bukan waktunya kita membahas soal itu,"ucap Samy, "Kita harus segera menyelesaikan kasus Darren!"


"Maaf sebelumnya, aku udah nggak bisa melanjutkan penyelidikan kasus ini!"jelas Alima membuat mata Samy melebar.


Samy pun bersimpuh di hadapan Alima.


Semua orang yang berlalu lalang di kantornya melihat kejadian itu.


Alima menyuruhnya untuk berdiri, namun dia menolaknya.


Tamara ternganga menyaksikannya.


"Alima pakai apa sih di tubuhnya? Sampai Mayor Samy berlutut gitu!"


"Saya nggak akan berdiri sebelum kamu mengatakan bersedia untuk membantu menangani kasus Darren!"desak Samy.


"Udahlah, kalau memang dia nggak mau jangan dipaksa dong!"cetus Byul pada Samy.


Alima menghela napas berat. "Oke, aku janji akan bantu kamu menyelesaikan kasus Darren!" Mulutnya melengkung membentuk senyuman lalu berdiri.


Samy meminta Alima untuk datang ke Mabes Polri setelah pulang dari kantor.


Alima setuju, Byul mendengus.


"Siapa Darren? Kamu kok nggak pernah cerita ke aku?"ucap Byul pada Alima.


"Dia adalah klien gue, yang saat ini sedang terjerat kasus narkoba. Gimana mau cerita, lo aja tiba-tiba ngilang!"jelas Alima membuat Byul meringis.


Menapakkan kaki di Ibukota kembali, adalah takdir yang tidak seharusnya terjadi.


Kekalutan di masa lalunya masih menjadi kabut tebal dalam hidupnya kini.


Seorang ayah, diibaratkan sebagai nahkoda dalam sebuah kamar pesiar gagal membawa penumpangnya berlabuh.


Adinata Dirja, anak malang yang tumbuh penuh dendam di hatinya.

__ADS_1


Selain dikucilkan oleh teman-temannya ketika duduk di bangku SMA, dia juga mendapatkan perlakuan tidak adil dari ayahnya, Helmy Faishal.


Awal mereka pindah ke Jakarta semua tampak baik-baik saja sebelum akhirnya datang badai menghantam kehidupannya.


Helmy Faishal pergi meninggalkan dia dan Ibunya dan lebih memilih bersama perempuan yang ayahnya temui di sebuah perusahaan konstruksi.


Ayah dan Ibu tirinya memiliki anak, yang sekarang sedang mendekam di dalam penjara.


"Adi, kapan kamu sampai? Tau gitu tadi kamu bisa dijemput sama Papa di Bandara!"ucap Mama tirinya, Ibu Karmila.


"Nggak usah sok peduli deh sama gue! Sekarang bilang, di mana Papa?"sahut Adi.


"Papa kamu ada di kantor, bentar lagi juga pulang."


Adi pergi ke kamar Darren, untuk beristirahat.


***


Alima sampai di Mabes Polri, di sana dia bertemu dengan Bripka Ahsan.


"Hi Alima! Pasti mau nemuin Samy ya? Kebetulan dia masih menghadap Kolonel Sugiono,"jelas Bripka Ahsan.


Alima pun menunggunya di ruang tamu.


Bripka Ahsan memberikan secangkir teh panas untuknya.


"Terima kasih,"


"Sama-sama. Oh iya, kamu ke sini bersama Kiyara?"


Tidak lama kemudian, Samy keluar dari ruang Kolonel. Dia pun pergi menghampiri Alima.


"Permisi Gan,"pamit Bripka Ahsan pada Samy.


Briptu Syafi dan Briptu Indra kebetulan melintas di depan ruang tamu.


Mereka begitu penasaran dengan sosok wanita yang sedang berbicara dengan atasannya itu.


"Enak ya jadi Mayor Samy, disamperin cewek-cewek cantik mulu!"cetus Bripka Syafi.


"Lo aja masih ngaret, gimana bisa jadi seperti Mayor Samy!"sindir Briptu Indra menarik tangannya untuk pergi dari sana.


****


Byul terlihat seperti mayit berjalan di atas motor vespanya. Warna terkuras dari wajahnya yang sendu menunggu Alima pulang.


Bripka Ahsan yang sedang keluar mencari udara segar, menghampirinya.


"Selamat malam, kalau boleh saya tau ada keperluan apa Mas kemari?"tanya Bripka Ahsan.


"Malam Pak, saya sedang menunggu teman saya di dalam,"


Bripka Ahsan mengernyitkan dahinya. "Seorang wanita atau laki-laki?"


"Teman saya perempuan, Pak. Namanya Alima,"


"Sepertinya teman kamu itu masih lama di dalam, alangkah baiknya Mas pulang ke rumah. Karena malam hari rawan sekali kejahatan di jalanan!"cetus Bripka Ahsan membuat mata Byul memutar.

__ADS_1


"Kebetulan saya biasa pulang larut malam Pak!"


Bripka Ahsan berusaha keras membuat Byul pergi dari sana. Sayangnya tidak membuahkan hasil.


Alima pun keluar dari Mabes Polri bersama Samy.


Dia terkejut melihat Byul ada di sana.


"Byul, ngapain di sini? Nungguin gue pulang?"tanya Alima membuat Byul mengangguk seraya tersenyum simpul.


"Kalau gitu aku pulang ya! Saya pamit pulang Bripka Ahsan!"ucap Alima sambil menaiki motor vespa Byul.


Samy tidak berucap sepatah katapun pada Alima. Bripka Ahsan menghentikan langkahnya ketika ingin pergi.


"Teman tapi kok mesra ya?"cetus Bripka Ahsan.


"Laki-laki itu pacarnya Alima, dia memang selalu muncul di waktu yang nggak tepat!"jelas Samy pergi begitu saja.


***


Sampai di rumah, Alima menatap iba Byul.


"Lo sakit ya?"tanya Alima.


"Nggak, mungkin kecapean doang kok. Kamu masuk gih, biar nggak masuk angin!"


"Thanks ya, lo selalu ada buat gue! Bahkan tanpa disuruh,"


Kiyara melihat dari balik jendela rumahnya, merasa bahagia karena sahabatnya mendapatkan seseorang yang begitu mencintainya.


"Cie ... Cie ..., Ada yang habis ngedate nih!"ucap Kiyara.


"Udah gue mau mandi dulu, gerah banget!"


Braak .....


Ayahnya masuk ke dalam kamar Darren dengan wajah bersungut-sungut.


"Begini sikap kamu sama Mama Karmila!"ucap Pak Helmy pada Adi.


Adi menyeringai. "Apasih Yah, baru datang udah naik pitam aja! Nggak kangen nih sama Adi, peluk dong!"


"Cukup Adi! Ayah nggak mau kamu jadi anak durhaka! Apa ini yang Ibumu ajarkan padamu?"


"Jangan Ayah hina Ibu! Adi kaya gini karena kelakuan Ayah yang semena-mena terhadap Ibu!"jelas Adi dengan mata yang berapi-api.


"Sudah Pa, jangan sampai Papa menyakiti Adi!"sahut Ibu Karmila.


"Anak seperti dia harus diberi pelajaran Ma!"


Adi pun pergi dari rumah Ayahnya.


Sedangkan Ibu Karmila ingin menghentikan langkahnya, namun dicegah oleh Pak Helmy.


"Berani sekali dia membuat ayah membentak diriku!"ucap Adi, "Liat aja nanti, dia akan menuai hasil apa sudah ditanam."


......

__ADS_1


__ADS_2