
Hawa sejuk dan pemandangan hijau, di berbagai sudut dataran tinggi di Bandung suguhan mata yang meneduhkan hati. Angin bertiup membawa mereka ke hotel super mewah itu.
Saat berjalan menuju ke lobby, Petugas hotel sambil tersenyum hangat memberikan welcome drink, segelas jus buah segar, dan buket bunga mawar jumbo untuk Kiyara. Lalu mereka diantar menuju ke kamar untuk beristirahat.
"Tahu nggak sih Al? Aku nggak menyangka loh bisa punya pacar anak orang kaya sejagat raya ini, anehnya dia selalu bersikap sederhana, nggak pernah menunjukkan bahwa dirinya orang yang berada," ucap Kiyara duduk di atas kasur.
Kiyara tersenyum lepas. "Aku beruntung banget bisa mendapatkannya, Al!"
"Laki-laki itu juga beruntung mendapatkan sahabatku! Yang cantik, baik, walau sedikit nyebelin!" goda Alima.
"Kalau kamu nanti ketemu sama dia, aku jamin mata kamu nggak bisa berpaling melihatnya!" kutuk Kiyara pada Alima.
"Oh iya? Setampan itukah dia?"
"Sempurna!" ucap Kiyara merentangkan kedua tangannya.
Acara peresmian hotel segera dimulai. Kiyara sibuk merias diri dan bingung harus dibuat model apa rambutnya. memiliki rambut hanya sebahu, memilih membuat poni kepang dan twisted ponytail. Terlihat simpel, ditambah aksesoris yang mewah menjadikannya menawan.
memakai cocktail dress berlengan, berwarna terang biru electric, terlihat seksi dengan potongan bagian dada rendah.
Berbeda dengan Alima yang memiliki rambut panjang, mencoba tampilan rambutnya seperti para Dewi Yunani yang ikonik, gaya rambut halo braid. memakai cocktail dress bahan brokat berwarna terang biru electric.
Keduanya jalan bersama menuju aula besar, tempat acara peresmian hotel.
Alunan musik sunda mengiringi sebuah pertunjukan tari khas Jawa Barat, tari merak.
Para tamu undangan bertepuk tangan saat spot light menyoroti seorang pria dan wanita berjalan bergandengan tangan menuju panggung kecil.
"Jadi mereka guest star nya?" ucap Alima kagum.
Kiyara tertawa kecil. "Bukan, mereka yang punya acara ini alias calon mertua aku!" Kiyara membuat mulut Alima menganga lebar.
"Keren banget yah !" lanjut Alima ikut bertepuk tangan.
Seorang Waiters menghampiri mereka.
Memberikan segelas minuman untuk membasahi bibir.
Baru satu tegukan, Alima teringat dengan Ibunya yang belum terlihat di acara itu.
"Dari tadi gue belum ngeliat ibu di sini, lo lihat nggak?" ucap Alima mengigit bibir.
"Nggak tuh Al, gimana kalau kita susul Ibu di kamarnya?"
Alima geleng-geleng kepala. "Biar gue aja ya, lo harus tetap di sini kalau nggak mereka akan kecewa karena ternyata calon menantunya nggak bisa menghargainya!" ucap Alima membuat Kiyara terdiam.
__ADS_1
Alima mempercepat langkahnya untuk mencari Ibunya di kamar, tiba-tiba saja seseorang menabraknya. Sampai lengannya beret. Orang itu bertubuh kekar, memakai masker dan menggendong tas besar. Alima belum sempat melihat mengucap maaf, pria itu buru-buru pergi.
"Kenapa kamu ada di sini? Kiyara mana?" tanya Ibunya datang mengejutkan Alima yang masih memandang ke arah orang yang menabraknya.
"Alima ke sini mau susul Ibu," ucap Alima menggosok-gosok lengannya yang perih.
Mata Ibunya melebar. "Loh, ini lengan kamu kenapa?" tanya Ibunya memegang lengan Alima.
"Tadi pas Alima ke sini nggak sengaja nabrak orang Bu dan baret dikit,"
Ibunya menarik tangannya untuk diobati. Namun Alima menolak keras. Karena teringat Kiyara sendirian di pesta.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke acara.
Pria berbadan besar itu berlari mengucurkan keringat dingin, lalu berdiri di depan lift dan bertemu dengan seorang pria Batu Bata, tubuh kotak, bentuk melebar dari atas sampai ke bawah, memakai topi dan pullover hoodie berwana hitam, yang menarik tubuhnya hingga masuk ke dalam lift.
"Ingat ya! Saya nggak mau dengar kata gagal lagi, paham?" ucap Pria Batu Bata pada Pria berbadan besar.
Sambil terbata-bata. "Ada satu hal yang mau saya katakan, wanita itu ada di sini Boss!" ucap Pria berbadan besar membuat mata Pria Batu Bata melebar.
Mata Pria Batu Bata melebar. "Oh iya? Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekarang di mana wanita itu?" tanya Pria Batu Bata tidak sabar.
"Kami nggak sengaja bertemu, tapi saya yakin dia juga hadir di acara peresmian hotel ini Boss!"
Pria Batu Bata begitu puas mendengarnya. Karena dalam satu malam dia bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
Kiyara memilih menyepi dari keramaian pesta, terus menggosok telapak tangannya yang mulai berkeringat.
"Lama sekali dia, apa terjadi sesuatu sama Ibu?" ucap Kiyara beranjak dari tempat duduknya, hendak mencari Alima dan Ibunya.
Seorang Pria dan Wanita menghampirinya. "Mari kita tebak, Kiyara Hartawan bukan?" ucap seorang wanita cantik, bermata sayu, Ibu dari kekasih Kiyara, Ibu Mona.
"Iya Tante, saya Kiyara," ucap Kiyara mencium punggung tangan Bu Mona dan Pak Dhananjaya, Ayah dari kekasihnya.
"Selamat ya Om, Tante atas peresmian hotelnya!" lanjut Kiyara tersenyum manis.
"Terima kasih Kiyara, kamu di sini sendirian?" tanya Bu Mona.
Kiyara menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Saya kemari bersama keluarga, hanya saja mereka belum datang ke mari Tan,"
"Kami nggak sabar ingin bertemu dengan keluarga kamu, tapi maaf ya nggak bisa ngobrol lama sama kamu, karena kami harus menyiapkan kejutan besar untuk tamu spesial di acara ini!" ucap Bu Mona melirik ke arah laki-laki di sampingnya.
"Iya Tante, nggak apa-apa kok!"
Bu Mona dan Pak Dhananjaya pergi meninggalkannya. Alima dan Ibunya sudah datang. Dari kejauhan Kiyara melambaikan tangannya pada Alima.
__ADS_1
Dap! Aula pesta menjadi gelap gulita.
Alima dan Ibunya tidak bisa melihat jelas wajah Kiyara, begitu sebaliknya.
"Apa sudah waktunya ya? Padahal kita belum kasih aba-aba?" tanya Bu Mona pada suaminya.
"Papa cek dulu ya, Mama tunggu di sini!"
Alima menggenggam erat tangan Ibunya, berjalan dalam kegelapan.
"Ini handphone juga kenapa pakai mati sih?" keluh Alima berusaha menyalakan handphonenya.
"Ah..." teriak Kiyara sambil memegang tengkuknya.
"Akhirnya nyala juga! Kita bisa pakai senter handphone Bu," ucap Alima menyoroti posisi di mana Kiyara berdiri.
Namun ternyata sahabatnya itu tidak ada di sana.
"Kiya pergi ke mana?" tanya Alima sambil menengok kanan kirinya.
"Kenapa Alima, apa semua baik-baik saja?" tanya Ibunya.
"Kiyara nggak ada Bu, tapi nggak mungkin dia pergi dalam keadaan seperti ini karena Alima tahu Kiyara takut dengan kegelapan!" ucap Bia membuat wajah Ibunya memucat.
Di sisi lain, Pak Dhananjaya meminta teknisi listrik untuk menanganinya sebelum memasuki acara puncak peresmian hotelnya.
"Mama tenang ya, sebentar lagi juga lampunya nyala!" ucap Pak Dhananjaya.
Tidak menunggu waktu lama, akhirnya lampu menyala, semua tamu undangan kembali berkumpul di tengah aula.
Sedangkan seorang pria berbadan besar berhasil membopong tubuh Kiyara dan membawanya ke sebuah kamar hotel, lalu meletakkannya di atas kasur dengan tidak sadarkan diri.
"Siapa wanita ini?" tanya Pria Batu Bata mendekati Kiyara.
"Wanita yang Boss cari!" ucap Pria berbadan besar dengan bangga.
Pria Batu Bata mengepal tangannya kuat. "Dasar bodoh! Wanita ini bukan yang saya mau!" ucap Pria Batu Bata menarik kra baju Pria berbadan besar.
"Maaf Boss, jujur saat itu saya nggak bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang dimaksud!" jelas Pria berbadan besar menundukkan wajahnya.
"Harusnya saya nggak memperkejakan orang yang buta warna sepertimu!" ucap Pria Batu Bata memilih pergi.
Setelah menunggu beberapa menit, Kiyara perlahan membuka kedua matanya, lalu berteriak setelah mengetahui dua pria sedang berdiri di hadapannya saat terlentang di atas kasur.
"Siapa kalian? Jangan macam-macam ya!" ucap Kiyara bergerak mundur.
__ADS_1
......