Alima Dasar

Alima Dasar
Lelaki Tua Perkasa


__ADS_3

Alima berdiri di depan pintu kantor Artha & Rekan, Tamara berlari menghampirinya dan membukakan pintu untuknya.


Ketika akan memasuki ruangan staf hukum perusahaan, Alima begitu ceria sebelum akhirnya berubah menjadi masam, setelah melihat Byul tengah duduk di kursi staf. Tamara pun pergi dari sana, meninggalkan Alima seorang diri bersama Byul.


"Hai, Pacar!"sapa Byul.


"Kamu ngapain di sini?"tanya Alima.


Byul berjalan menghampirinya lalu menyuruhnya untuk duduk di kursi, sedangkan dia duduk di sudut meja.


"Jujur dari dulu aku ingin sekali memberitahu kamu soal ini, tapi waktu itu aku udah pernah bilang kan, kalau nggak pernah ada waktu buat ceritakan semua ke kamu,"jawab Byul, "Perusahaan ini adalah milik mendiang ayahku,"


Seketika Alima beranjak dari tempat duduknya sambil melongo.


"Aku tahu, kamu pasti nggak percaya, kan? Kamu duduk lagi, biar aku ceritain semuanya ya!"pinta Byul menyuruhnya duduk kembali.


"Kamu masih ingat dengan laki-laki setengah paruh baya di jalan waktu itu nggak? Saat aku bonceng kamu pakai si Bule, terus kita berhenti di tengah jalan karena ada mobil sedan yang tiba-tiba berhenti di depan kita,"jelas Byul membuat Alima terdiam sesaat.


"Iya, aku ingat. Emang orang itu siapa?"


"Dia adalah pemilik asli perusahaan ini, tapi dia memberikan semuanya pada mendiang ayahku. Karena itulah, aku sekarang ada di sini,"


Alima masih tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar, masih ada kekhawatiran dalam hatinya. Bagaimana bisa dia bekerja satu ruangan bersama kekasihnya.


Byul juga telah mengetahui masalah Alima, dan langsung memutuskan untuk menerimanya kembali berkerja di kantornya.


Alima keluar dari ruangan Byul, lalu bergegas ke meja Tamara dengan wajah yang bersungut-sungut.


"Tam, lo kenapa sih nggak ngasih tau gue sebelumnya?"cetus Alima.


Tamara meringis. "Kalau gue kasih tau lo sebelumnya, nggak akan jadi kejutan dong!"


"Sumpah, gue malu banget! Apa gue cari tempat kerja baru aja kali ya,"kesal Alima.


"Jangan Al, lo tuh bukannya bersyukur bisa kerja tanpa basa-basi lagi. Masih mau cari yang susah!"ucap Tamara.


"Maksud lo apa ngomong kayak gitu? Walaupun atasan gue itu Byul, gue tetap memilih mandiri kok!"tegas Alima membuat Tamara manggut-manggut.


Byul keluar dari ruangannya hendak pergi ke meja Alima. Namun sampai sana, tidak ada. Dia pun pergi mencarinya ke balkon.


Ternyata benar, Alima berada di balkon. Dia tengah duduk di tepi balkon sambil menatap langit siang itu. Byul ikut duduk di sampingnya.


"Apa kamu bahagia?"tanya Byul menatap Alima lekat di matanya membuat Alima mengejapkan mata susah karena ketulusan yang terpancar di mata itu.

__ADS_1


Alima hanya memberikan setengah senyum pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Aku hanya meminta kamu bisa ngertiin perasaan aku suatu hari nanti, saat aku nggak bisa kasih waktu yang lama buat kita,"ucap Alima.


"Aku nggak masalah kok, kamu tinggal pergi berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Asal ketika kamu pulang, jangan lupa untuk temui aku,"jelas Byul menggenggam erat tangan Alima, "Karena aku akan selalu menyambut kedatangan kamu pulang."


"UPS! Ternyata kalian berdua ada di sini toh, kirain lagi ngedate di luar,"cetus Tamara membuat Alima dan Byul saling melepaskan genggaman tangan.


Byul pamit pergi dari sana, Tamara menghampiri Alima yang masih terdiam.


"Nasib konco kentel ku ini mujur banget ya! Ojo lali karo aku!"goda Tamara membuat Alima tersenyum lebar. (Nasib teman lengket ku ini beruntung banget ya! Jangan lupa sama aku!)


***


Lembayung sutra di ufuk barat mulai bercahaya, bel pulang pun segera berbunyi.


Byul telah menunggu kekasihnya di parkiran mobil. Tamara terus menerus menyuruh Alima pergi menemuinya.


"Izinkan aku untuk antar kamu sampai apartemen ya!"pinta Byul.


"Iya,"jawab Alima singkat.


Sampainya di apartemen Alima, Byul memintanya untuk singgah sebentar di mobilnya, karena tidak ingin membiarkan rindunya mendekam terlalu lama di hati.


"Ada!"sahut Byul dengan cepat, "Cuma aku takut kamu menolaknya,"


"Apa itu?"tanya Alima penasaran.


"Tidak hari ini, mungkin lain waktu,"jawab Byul sambil membuang muka.


Alima pun keluar dari mobilnya, dan bergegas masuk ke apartemen. Byul pun melajukan mobilnya.


Sementara Samy hendak pergi ke apartemen Kiyara untuk ajak makan malam bersamanya, dia juga akan memperbaiki hubungannya dengan Kiyara malam ini.


Saat itu Kiyara tengah berada di luar apartemen bersama Adi. Mereka asyik bercengkerama sambil tertawa. Sampai tidak sadar kehadiran Samy di sana.


"Samy, sejak kapan lo di situ?"tanya Adi membuat Kiyara menengok ke arah Samy.


"Lumayan lama, kalian berdua udah berapa jam ngobrol di sini?" Melirik ke arah wanita di samping Adi.


"Lo jangan salah paham dulu, gue sama Kiyara cuma ngobrol masalah pekerjaan aja kok,"jelas Adi.


Kiyara melangkah pergi dari sana, secepat kilat Samy meraih tangannya.

__ADS_1


Tetapi dengan kerasa Kiyara melepaskan genggaman tangan Samy.


"Mending kamu pergi dari sini! Aku udah nggak mau lagi liat muka kamu!"tegas Kiyara.


"Kenapa? Apa kamu masih marah sama aku atau karena hal lain?"tanya Samy.


"Percuma juga aku jelasin sama kamu, yang nggak akan pernah bisa ngerti!"jelas Kiyara lalu masuk ke apartemen.


Samy tidak mengejar Kiyara lagi. Dia lebih memilih pergi dari sana. Dan Adi menyusul Kiyara.


Terdengar nyaring suara isak tangis di dalam kamar apartemen Kiyara, Adi pun tidak jadi menemuinya.


Aku berusaha mempersilakan mu masuk ke dalam ruang hatiku, tapi yang kau memilih melangkah pergi sebelum mengetuk pintu masuk.


Aku berusaha memberi banyak pilihan hidangan di atas meja.


Tetapi yang kau pilih, yang tak tersedia di sana.


Samy pergi menuju ke Mabes Polri. Di sana malah bertemu dengan lelaki tua yang dulu pernah ditemuinya.


Dia tengah duduk bersandar di leher kursi panjang depan kantor.


Dia terperanjat melihat Samy ada di hadapannya. Samy menyuruhnya duduk kembali.


"Kamu pasti sudah bertemu dengannya, kan?"cetus Lelaki Tua itu membuat pupil matanya melebar.


Lelaki tua itu mengatakan kalau Samy telah bertemu dengan pelaku kasus pembunuhan terhadap perusahaan konstruksi.


"Bagaimana bapak bisa tahu?"tanya Samy.


"Aku tahu kapan aku harus berontak, dan aku tahu kapan aku harus bertolak menuju kebebasan!"jelasnya sambil menyeringai.


Siapa orang ini? Kenapa gue merasa kalau dia bukan orang biasa.


"Saya siap jika kamu butuhkan!"ucap Lelaki Tua dengan lantang.


Esok harinya, Alima tiba di Polda Metro Jaya menemui ayahnya. Selesai dari sana, Samy ingin mengajaknya ketemuan di cafe. Alima tidak tahu sebelumnya, kalau Samy pergi bersama seseorang.


"Saya harap kamu menyetujui perjanjian ini! Karena beliau adalah kunci dari segala kegelisahan kamu,"ucap Samy pada Alima.


"Kamu tidak perlu cemas, walau rambut saya sudah beruban tapi ingatan masih tajam!"cetus Lelaki Tua membuat Alima tersenyum manis.


......

__ADS_1


__ADS_2