Alima Dasar

Alima Dasar
Retak untuk rekat


__ADS_3

Alima bersimpuh membangunkan Kiyara dengan menepuk-nepuk wajahnya.


Sampai akhirnya kedua matanya perlahan terbuka.


Kiyara tersentak ketika melihat Alima di dekatnya.


"Kamu tadi ngapain aku?" tanya Kiyara, "Wajahku berasa kenceng banget!" Alima menghela napas berat.


"Terus ngapain tidur di lantai? Gue kira lo pingsan," ucap Alima.


Kiyara beralih ke atas kasur.


"AC di kamar tiba-tiba mati. Makanya aku tiduran di lantai," jelas Kiyara membuat Alima melongo.


Alima mengira kalau Kiyara akan melakukan hal aneh, karena tahu kondisi hatinya yang begitu buruk.


Ternyata sahabatnya itu masih memiliki akal sehat.


Esok paginya, Kiyara berangkat bersama Alima. Sebelum masuk ke dalam mobilnya, handphone di dalam tasnya berdering.


Sebuah panggilan masuk dari Samy.


Alima mengamati Kiyara yang berdiam diri sambil melihat layar handphonenya.


Dia masuk ke mobil, dan mengabaikan Samy.


*****


Dalam asmara tidak hanya menikmati pahitnya cinta.


Kau harus bisa mencicipi manisnya luka.


Matanya berapi-api tampak telah siap dengan pistol G2 Combat di tangan dan tiga buah magazin penuh berisi peluru tertancap di holsters (semacam ikat pinggang). Lengkap dengan kaca mata hitam untuk menghalau silau dan penutup telinga agar tidak pekak karena suara letusan tembakan. Muncul di hadapannya, bayangan seorang wanita di masa lalunya.


Dor ...


Peluru tersebut melesat tepat di jantung Alima.


Lalu dia tersadar bahwa itu adalah ilusinya yang ternyata mengenai target tembak.


Bripka Ahsan memberikan aplaus pada Mayor Samy.


Dia menatap kagum. "Tembakan lo emang nggak pernah gagal ya! Pantes aja selalu bisa dapetin cewek cantik." Samy meringis sambil memberikan pistol itu pada Ahsan.


"Lo belajar lagi menembak dengan cara yang benar. Biar besok bisa dapat cewek!"sindir Samy pergi meninggalkannya.


Secangkir kopi tersaji di meja ruang tamu. Alima yang baru saja datang ingin segera menyeruputnya.


"Eits, jangan diminum!" teriak Tamara menghentikan niat Alima.


"Lagi pula nggak ada yang punya, buat gue aja ya!"desak Alima.


"Hi Alima!" sapa Byul.


Alima ternganga. "Lo kok bisa ada di sini, ngapain?" Melirik ke arah Tamara.


"Kopi ini untuk Oppa Byul!"cetus Tamara membuat Alima tersenyum simpul.


Tamara mempersilakan Byul untuk duduk.


Matanya menyipit menatap laki-laki di hadapannya.


"Tam biarin gue ngobrol dulu ya sama dia! Boleh, kan?"pinta Alima membuat Tamara memanyunkan bibirnya.


"Najung e bwa Oppa Byul!" (Sampai bertemu kembali Byul!"ucap Tamara melambaikan tangan.

__ADS_1


Byul membalas dengan sebuah senyuman yang manis.


Alima menatapnya aneh.


"Gimana tangan lo udah mendingan?" tanya Alima.


"Lumayan," ucap Byul, "Oh iya, sore ini ada bazar buku di daerah dekat sini, kita ke sana yuk!"


Alima menganggukkan kepala tanda setuju.


Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Alima bergegas ke parkiran menemui Byul.


Namun Tamara sudah menunggunya di depan pintu kantor.


Dia merengek ingin ikut Alima ke bazar buku.


Sayang seribu sayang, Alima tidak mengizinkan siapapun menganggu kencannya.


Tamara dibuat keluar ludahnya melihat Alima dibonceng pria idamannya.


Sampai di lokasi, Alima berlari menuju ke tempat yang menarik hatinya.


Salah satu booth pameran buku bisa melakukan photo booth juga.


Alima menarik tangan Byul mencoba photo booth di sana.


Begitu banyak ekspresi yang mereka tampilkan, mulai dari poker face sampai yang paling menggemaskan.


"Lucu banget ya!"ucap Alima, "Buat lo,"


Memberikan foto mini polaroid strip photo booth pada Byul.


"Buat kamu aja, di rumahku sudah banyak!"cetus Byul.


Wajahmu sudah terpatri dalam hati.


Byul terdiam sesaat. Lalu Alima mengajaknya pulang.


Dalam perjalanan menuju rumah Kiyara, tiba-tiba ada mobil sedan silver menghalang mereka.


Seorang laki-laki bertubuh kekar keluar dari mobil sedan, berpenampilan rambut klimis, memakai kaca mata dan tuxedo berwarna hitam. Berjalan menghampiri Byul.


"Boss menunggu di dalam mobil,"lirih Pria kekar.


"Kamu tunggu di sini ya. Aku ada urusan sebentar,"ucap Byul meninggalkan Alima di motor.


Byul dan Pria kekar itu masuk ke dalam mobil sedan. Alima penasaran siapa lawan bicara sahabatnya.


Dia pun turun dari motor vespa, sambil membungkukkan badannya juga langkah pelan menghampiri Byul.


"Bukannya sudah aku bilang, kamu tetap di motor!" ucap Byul membuat Alima merengek kesakitan.


Byul langsung menuntunnya ke tepi jalan.


"Are you okay?" tanya Byul, "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Nggak tau nih, gue ngerasa pegel aja di bagian punggung!" jelas Alima sambil memalingkan wajahnya.


Byul tidak bisa berbuat banyak selain menyuruh Alima untuk membawa motornya, sedangkan dia di belakangnya.


Jika Alima merasakan sakit lagi, Byul siap menopang tubuhnya.


****


Sang Ibu berkelintaran mencari informasi putri semata wayangnya yang belum kembali ke rumah.

__ADS_1


Sama halnya Kiyara, terus mencoba menghubungi Alima.


"Sampai di sini aja ya!"pinta Alima turun dari motor Byul.


"Serius? Aku antar kamu sampai depan pintu rumah, oke?"


Tok ...Tok ...Tok ...


Kiyara berlari membuka pintu rumahnya.


"Lo ke mana aja, baru pulang jam segini?" tanya Kiyara pada Alima.


"Jangan tanya dulu deh, gue mau mandi!"


"Alima!" teriak Ibunya.


"Dari mana aja kamu? Jangan bilang ada jam tambahan di kantor!"ucap Ibunya membuat Alima menghela napas berat.


"Alima dari bazar buku Bu, maaf karena nggak bilang sama Ibu." Alima pergi menuju ke kamarnya.


Ibunya hendak menyusulnya ke kamar, namun Kiyara meminta agar dirinya saja yang menemui Alima.


Pintu kamarnya terbuka, Alima duduk di bingkai jendela kamar.


"Boleh aku masuk?" ucap Kiyara.


"Ada apa?"tanya Alima.


"Aku yang harusnya tanya gitu ke kamu. Ada masalah apa?"


"Coba gue pikir-pikir dulu ya! Ternyata ada, masalahnya adalah sahabat terbaik gue kembali bersusah hati!" jelas Alima membuat Kiyara muram.


Kiyara menceritakan bahwa dirinya tidak akan lagi memaksa untuk kembali menjalin hubungan dengan Samy.


Sekeras apapun mencoba merakit sesuatu yang sudah hancur, sulit sekali bisa utuh.


Alima memohon pada Kiyara agar berpikir lagi sebelum berbuah sesal.


Tidak ada yang harus dipertahankan dalam sebuah hubungan tanpa adanya kepercayaan.


Kiyara keluar dari kamar Alima bersama air mata mengalir di pipinya.


Perih mengakhiri hubungan ini


Walau hati kecilnya mengatakan masih mencintai Samy.


****


Di dalam ruangan redup, hanya ada satu cahaya di ujung sana.


Menyoroti seorang laki-laki yang berdiri sambil menggenggam setangkai bunga mawar merah.


Kata orang tanda cinta, dia menatapku seraya tersenyum.


Kemudian merentangkan kedua tangan untuk menyambut ku.


Entah mengapa langkah kakiku tidak juga sampai padanya.


Lalu terdengar teriakan seorang wanita, menembus alam bawah sadar.


"Alima! Bisa nggak sih banguninnya nanti aja!"keluh Kiyara.


"Gue nggak mau lo hanya menikmati dalam mimpi! Temui dia agar jadi nyata."


... ...

__ADS_1


__ADS_2