
Ku pikir, tragedi guncangan hebat yang memporak-porandakan hatiku, kala itu sudah berakhir, nyatanya kau masih mahir hadirkan getaran asmara dalam dadaku. Sungguh ini sihir yang kasat mata, hilangnya tiba-tiba kemunculannya tanpa aba-aba.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Pipinya mulai memerah, sesekali memalingkan muka agar yang di sisi tidak mengetahui.
High beam mobil Kiyara menyoroti Alima dan Samy yang tengah duduk berduaan di bangku luar Mabes Polri.
Sinarnya yang terang menyilaukan matanya. Dia memang sengaja melakukannya, karena amarah sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi.
Samy dan Alima pun beranjak dari tempat duduknya, sambil berjalan menepi. Kiyara turun dari mobilnya, sambil memapang senyum manis di wajahnya.
"Ternyata aku baru sadar kalau selama ini yang kamu bilang mau pergi bertugas, itu salah besar!"ucap Kiyara pada Samy, "Kamu menikmati angin malam yang sepoi-sepoi bersama sahabatku lagi,"
"UPS! Ralat! Maksudku bersama seorang pengkhianat!"sambung Kiyara melirik ke arah Alima.
Samy berjalan mendekati Kiyara. "Maksud kamu ini apa sih? Alima sudah lama duduk di sana, lalu aku yang menghampirinya!"
Kiyara mendorong tubuh Samy, agar menjauh darinya.
"Jauh-jauh deh kamu dari aku, karena aku alergi dekat dengan orang pembohong kayak kamu!"cetus Kiyara menatap tajam Samy.
Alima menghela napas berat. "Kiya, tolong jangan salah paham ya! Gue dan Samy nggak ada apa-apa kok."
Kiyara meringis, tampak menahan air matanya.
"Yakin dalam diri kalian berdua itu nggak ada perasaan aneh saat berduaan, atau saat berpegangan tangan mungkin?"sahut Kiyara membuat Alima terdiam sesaat.
"Aku udah tau semuanya kok, tentang hubungan masa lalu kalian berdua,"jelas Kiyara,"Nggak usah kaget gitu dong mukanya." Nanar memandang kepahitan hidup di hadapannya.
"Maaf Kiya, jujur gue nggak bermaksud buat menyembunyikan semua ini ke lo. Gue cuma belum siap aja,"lirih Alima.
Sudut mulutnya terangkat. "Belum siap karena ternyata kamu masih punya perasaan sama Samy! Iya, kan?"
Alima menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu diam? Apa dugaanku benar, soal perasaan yang masih ada buat Alima?"tanya Kiyara pada Samy yang masih terdiam.
Tidak lama kemudian, Byul dan Tamara keluar dari Mabes Polri dan terkejut melihat Alima, Samy dan Kiyara tengah bersitegang di luar sana.
Byul pun menghampiri Kiyara, berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Kiyara, ini ada apa? Semua baik-baik aja, kan?"tanya Byul.
"Kebetulan sekali kamu ada di sini. Supaya kamu tau, kalau wanita yang kamu puja-puja bagai Dewi itu ternyata Iblis!"jawab Kiyara sambil menunjuk ke arah Alima.
Setelah mengetahui masa lalu Alima dari Kiyara,perlahan Byul berjalan menghampiri Alima, dan meraih tangannya. Seketika Kiyara melongo.
"Seburuk apapun masa lalunya, dia tetaplah wanita yang paling baik dalam hidupku!"tegas Byul matanya susah berpaling menatap wajah Alima.
Alima melepaskan genggaman tangan Byul, melempar telapak tangannya dengan keras.
"Kiya benar, gue adalah seorang pengkhianat. Jadi stop, lo kasihani gue!"ucap Alima, "Sekali lagi gue minta maaf ya Kiya, lo akan tetap jadi sahabat gue sampai kapanpun itu."
Alima melangkah pergi, sementara Samy hanya berdiam diri saja di sana.
Beberapa menit kemudian, Kiyara juga memilih pergi. Samy mencoba menghentikan langkahnya, namun Kiyara tidak menggubrisnya.
Tamara mendadak bingung, hendak mencari Alima atau pulang ke rumah.
Akhirnya Tamara memutuskan untuk menghampiri Samy yang masih berdiri di sana.
"Mayor Samy, kenapa nggak dikejar? Seorang cowok itu harus bisa memegang ucapannya, bukan hanya pandai berucap janji aja, tapi juga harus dibuktikan dengan tindakan!"ucap Tamara, "Jadi, Mayor Samy harus memilih salah satu dari wanita tadi. Entah itu Alima atau calon tunangan Mayor sendiri."
Byul terlihat mengepal kuat kedua tangannya, bersiap meninju Samy.
"Kalau lo nggak ada di tempat ini, udah pasti gue habisi!"tegas Byul lalu melangkah pergi.
Alima tidak tahu ke mana tujuannya akan berlabuh. Apakah harus karam ditengah hantaman badai angin ini?
Kabar tersebut sudah terdengar sampai ke telinga Masyarakat.
Ibunya menjadi bahan cemoohan di kampung halaman.
Persahabatan, karirnya hancur bersamaan.
Pagi buta, Alima tengah mengemas barang-barangnya di kantor. Kali ini dia benar-benar akan resign.
Tamara menghampirinya.
"Lo beneran mau resign?"tanya Tamara.
"Ya mau gimana lagi Tam. Gue nggak mau gara-gara kesalahpahaman kemarin, nama kantor ini jadi buruk!"jawab Alima tersenyum simpul.
__ADS_1
Seniornya yang bernama Chaterine itu datang sambil memapang senyum manis.
"Emang harusnya dari dulu kamu tuh sadar diri! Akhirnya sekarang kamu bisa merasakan akibatnya juga ya, makanya jangan ngelunjak jadi orang!"sindir Chaterine, lalu pergi dari sana.
"Dia itu bisa nggak sih kasih empati dikit jadi manusia? Orang lagi kesusahan malah dikatain yang bukan-bukan lagi!"keluh Tamara.
"Orang dia emang bukan manusia,"sahut Alima, "Tapi Netizen Julid Yang Maha Benar!"
Di satu sisi, Pak Dhananjaya murka pada Samy. Karena sudah mencoreng wajahnya di depan banyak orang. Bu Mona hanya bisa mengelus dada.
Dia bersumpah akan memberi pelajaran pada orang yang telah merenggut harga dirinya.
Setelah check out dari apartemen, Alima pulang ke kampung halamannya di Indramayu, namun sebelum itu dia pergi ke Polsek menemui Darren.
Sampainya di sana, dia melihat Samy ada di sana juga. Saat akan melangkah pergi, seseorang meneriaki namanya.
Samy pun menengok ke arah Alima.
"Kamu mau ke mana? Bawa koper besar kayak gini, nggak mungkin kan, mau pindah ke tempat ini?"tanya Darren menghampirinya, "Ayo kita pergi sekarang, aku sudah siap menghadapi hari ini!"
Alima memalingkan muka sambil menghela napas panjang.
"Maaf, aku nggak bisa dampingi kamu di pengadilan!"
"Kenapa? Apa ada hal yang penting selain aku?"goda Darren membuat Alima meringis.
"Ayo Darren, kita harus pergi sekarang juga!"ucap Samy tiba-tiba muncul di antara mereka.
"Tunggu, maksudnya kita pergi tanpa Alima gitu?"tanya Darren, "Ini ada apa sih, kenapa nggak ada yang coba jelasin sama aku?"
Samy menceritakan pada Darren, kejadian di malam itu. Alima hanya diam, ketika mata Darren memancarkan kebencian pada dirinya.
Tetapi Darren, justru tertawa terbahak-bahak.
"Itukan masa lalu kalian, apa hubungannya dengan aku?"ucap Darren, "Tapi rasa itu udah nggak ada lagi kan, Kak?" Melirik ke arah laki-laki di sampingnya.
"Jelas salah, karena saya masih mencintainya!"jawab Samy membuat Alima dan Darren ternganga.
"Ayolah ini cuma bercanda, kan?"sahut Darren.
"Darren, sekali lagi aku minta maaf ya. Tapi aku yakin, kamu bisa bebas dari jeratan hukum ini. Asal kamu percaya sama keajaiban Tuhan!"jelas Alima, lalu melangkah pergi dari sana.
__ADS_1
......