
Kemarin aku tidur beralaskan ubin.
Sekarang ada kemajuan, aku tidur di atas ranjang rumah sakit (Hospital Bed Elektrik).
Seperti kabut tebal menyelimuti sinar rembulan yang menjadikan malam begitu gelap gulita, tak pernah sampai menemui cahaya mentari.
Sama halnya dosa besar yang telah Darren perbuat selama ini.
Berhasil menodai hati dan pikirannya.
Untuk menyucikannya, harus dengan taubat nasuha.
Pak Helmy dan Ibu Karmila tiba di Kasih Bunda Hospital.
Samy tengah berdiri di sisi pintu ruang ICU.
"Samy, bagaimana keadaan Darren sekarang?"tanya Ibu Karmila.
"Dokter masih menanganinya di dalam, Tan,"
Setelah menunggu beberapa saat, Dokter yang memeriksanya pun keluar dari ruang ICU.
"Apa yang terjadi dengan anak saya, Dok?"tanya Pak Helmy.
"Menurut pemeriksaan kami, anak Bapak dan Ibu terus mengalami kejang-kejang karena efek dari penggunaan obat-obatan terlarang,"jelas Dokter.
Seketika kedua mata Ibu Karmila melebar, mendengar pernyataan dari Dokter tersebut.
"Obat-obatan terlarang? Apa maksud Dokter?",tanya Bu Karmila, "Anak saya nggak mungkin menggunakan narkoba!" Pak Helmy menenangkan istrinya.
Sejak Darren dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus narkoba, Pak Helmy tidak pernah menceritakannya pada istrinya.
Sontak membuat hatinya teriris, anak semata wayangnya berjuang keras melawan kondisi kritis.
"Kenapa kamu harus melakukan ini, Sayang?" ucap Bu Karmila sambil bersandar di bahu suaminya.
"Mama yang kuat ya! Kita pasti bisa menghadapi semua ini!"ucap Pak Helmy merangkulnya.
"Alima, tolong jangan pergi! Aku nggak mau sendirian di sini!"ucap lirih Darren dengan mata yang masih tertutup rapat.
Bu Karmila yang duduk di sisinya, langsung beranjak dari tempat duduknya dan memanggil Dokter.
Dokter pun memeriksa keadaannya.
"Darren sedang mengalami guncangan hebat dalam keadaannya yang masih kritis ini. Dalam alam bawah sadarnya, kemungkinan ada seseorang yang ingin dia temui,"ucap Dokter.
"Betul Dok, saya tadi mendengar anak saya memanggil nama seseorang. Kalau nggak salah, namanya Alima!"
Bu Karmila menghubungi Pak Helmy untuk menceritakan keadaan anaknya. Kemudian mereka meminta bantuan pada Samy agar bisa menemukan perempuan yang bernama Alima.
"Alima? Darren menyebut nama Alima?"tanya Samy pada Pak Helmy saat ditemui di Mabes Polri.
"Iya Samy, saya sendiri juga heran kenapa Darren menyebut nama itu. Bukankah dia adalah pengacara yang waktu itu bersama kamu, ya?"
Samy mengangguk.
"Jadi kamu pasti bisa dong membawanya bertemu Darren?"ucap Pak Helmy membuat Samy memberikan setengah senyum.
Samy tidak tahu ke mana Alima pergi.
__ADS_1
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantor Alima bekerja.
***
Wajah Tamara tampak tertekuk, sejak Alima tidak masuk kantor.
"Alima beneran udah resign ya dari kantor ini?"tanya seorang temannya.
"Entahlah, semoga aja dugaanmu salah!"cetus Tamara.
Senior Kipas datang menghampirinya.
"Suasana di kantor hari ini sejuk ya! Mungkin sebelumnya terasa panas gara-gara ada Alima!"ucap Chaterine.
Tamara melotot.
"Berani kamu melototi saya?"tanya Chaterine.
"Bukan melotot Kak, cuma aneh aja ngeliat Kakak nggak bawa kipas lipat itu lagi!"
"Virus mematikan sudah pergi, jadi nggak dibutukan lagi kehadirannya!"
"Permisi, apakah saya sedang mengganggu?"ucap Samy hadir di antara mereka.
Tamara dan Chaterine kompak menganga.
"Hi, Mayor Samy!"sapa Chaterine memberi senyuman manis.
Samy membalas dengan senyum.
"Tamara, bisa kamu tunjukkan pada saya alamat rumah Alima yang sekarang?"ucap Samy.
"Maksudnya kamu nggak tau?"
Tamara mengangguk pelan.
"Kenapa nggak tanyakan langsung ke orangnya aja? Mayor punya nomornya, kan?"cetus Tamara.
"Percuma juga, karena dia nggak akan pernah jawab telepon dari saya!"
"Coba Mayor pergi ke rumah yang Alima tempati selama ini, pasti nanti akan mendapatkan informasi tentangnya!"
Samy mengerti arah pembicaraan Tamara. Mana mungkin dia pergi ke rumah Kiyara, karena dia belum pernah mengatakan perjanjian ini padanya.
***
Dalam perjalanan pulang, Kiyara menelepon Samy.
"Halo, kamu bisa nggak ke rumah malam ini? Kamu tahu kan, aku udah nggak ada temen buat ngobrol lagi,"ucap Kiyara.
"Tentu, aku bisa!"
Kiyara tersenyum. "Oke, aku tunggu kamu di rumah ya!"
Dengan cara ini, Samy bisa mengetahui di mana keberadaan Alima.
Kiyara membuka sendiri gerbang rumahnya, menyambut kedatangan Samy, dan menggandeng tangan kekasihnya itu masuk ke dalam rumah.
"Tunggu ya, aku buatin minuman buat dulu!"ucap Kiyara lalu pergi ke dapur.
__ADS_1
Samy beranjak dari tempat duduknya, melihat-lihat foto yang berjejer di atas meja ruang tamu itu.
Ada foto Kiyara bersama keluarganya, juga Alima dan ibunya di sana.
Kiyara meletakkan minuman yang dibuatnya untuk Samy di meja tamu.
Dia berjalan mendekatinya.
"Apa yang kamu cari?"tanya Kiyara membuat Samy terkejut.
"Lucu aja liat kamu di foto ini,"jawab Samy sambil menunjuk Kiyara di dalam foto keluarganya.
"Kamu tau nggak, baru ditinggal beberapa hari aja aku udah kangen banget sama Alima dan ibunya,"
"Kenapa kamu nggak menengoknya?"sahut Samy membuat Kiyara tersenyum.
"Kok aku nggak kepikiran ya soal itu, kebetulan aku ambil cuti beberapa hari. Tapi masalahnya, aku nggak ada teman buat ke sana,"ucap Kiyara muram.
"Aku siap, menemani kamu!"
Kiyara melongo. "Serius? Terus gimana sama pekerjaan kamu di kantor?"
"Kamu nggak perlu khawatir, aku bisa atur itu!"
Dalam keheningan malam, duduk bersama di teras rumah. Suara yang keluar dari mulutnya telah memecah sunyi, Alima meminta izin pada Ibunya untuk mulai mencari pekerjaan kembali.
"Kamu yakin mau cari kerja di sini? Terus bagaimana dengan pekerjaan sebelumnya?"tanya Ibunya.
"Ya mau gimana lagi Bu, kalau pun harus tetap kerja di sana. Alima nggak mungkin ninggalin Ibu di sini,"
Ibunya meraih tangannya, menggenggamnya erat.
"Maafkan Ibu ya, gara-gara memaksa kamu untuk ikut tinggal di sini,"ucap Ibunya.
Alima tersenyum simpul sambil mengelus lembut punggung tangan Ibunya.
"Kenapa Ibu harus meminta maaf? Alima sama sekali nggak keberatan dengan semua ini. Kalau Ibu senang, Alima tentu juga senang!"
Alima tiba-tiba saja mendengar suara motor yang berhenti di depan pagar rumahnya.
Ibunya menyuruhnya masuk ke dalam rumah, tetapi dia memilih pergi untuk mencari tahu siapa orang yang bertamu itu.
Alima membungkukkan badannya, mengamatinya dari sela-sela lubang pagar. Tampak seorang laki-laki duduk di atas motornya.
"Siapa ya kira-kira? Apa mungkin kurir paket?"ucap Alima mengambil posisi tegak.
"Hai!"sapa Byul dari sela lubang pagar rumahnya.
"Lo ngapain di sini?"tanya Alima.
"Buka dulu deh!"
Alima membuka pagar rumahnya.
"Malah diem, bukannya suruh masuk dulu kek!"ucap Byul.
Setelah Byul memarkirkan motornya, Alima sudah bersiap menghabisinya.
"Tunggu! Sebelum kamu menghajar ku, aku butuh tempat untuk mendinginkan bokongku!"
__ADS_1
......