Alima Dasar

Alima Dasar
Separuh Jalan


__ADS_3

Perjalanan ini sudah separuh jalan.


Ku kira kita akan menyusuri jalan tol.


Nyatanya kau lebih suka jalan alternatif, yang diperuntukkan sebagai


jalan pilihan bila menghadapi jalan buntu. Meski lama, asal sampai ke tujuan.


•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•


Citra Alima sebagai seorang pengacara menjadi buruk karena sebuah insiden yang terjadi di apartemennya tempo hari.


Semua itu adalah siasat Samy untuk membuat Sang Mantan sadar akan tanggung jawabnya.


Supaya bisa mengembalikan nama baiknya di mata masyarakat. Samy harus mengadakan konferensi pers guna menjelaskan bahwa kejadian pada waktu itu merupakan sandiwara semata.


Kabar tersebut terdengar sampai ke telinga Ibu Alima di kampung. Rekan kantornya pun juga mengetahui hal itu.


"Dia pikir, dia orang yang paling penting apa? Sebatas pengacara aja sombong banget!"cetus Chaterine saat menonton konferensi pers di televisi kantor.


Tamara yang menyaksikannya hanya  geleng-geleng kepala.


Sedangkan Byul dan Kiyara yang baru mengetahui hal itu di postingan akun media sosial Kabar Polri, begitu tercengang dengan perilaku Alima.


Bukannya menyelesaikan masalah, justru semakin membuat runyam. Beberapa orang menyebut Alima terlalu berlebihan, sampai ada cuitan di Twitter yang menyebutkan dirinya  sebagai orang yang ingin mencari sensasi belaka.


Byul pun bergegas menjemput sahabatnya itu ke Mabes Polri, sebelum  diterkam warga.


Akhirnya Alima bisa tersenyum lebar karena berhasil membuat Samy menyesali perbuatannya.


"Terima kasih karena kamu udah mau tepati janji,"ucap Alima pada Samy.


"Saya harap ini yang pertama dan terakhir kali kamu melakukannya!" tegas Samy lalu melangkah pergi.


Alima pergi menuju ke Kantornya.


Namun saat menanti kedatangan Abang ojek online, Byul tiba dan mengajaknya menaiki si Bule.


Secepat kilat, Alima menolak ajakan sahabatnya itu.


Sampai datang seorang ibu-ibu yang meneriaki namanya dari jauh, menatap dengan pandangan yang berapi-api.


Mereka tampak seperti ingin menghabisi Alima.


Byul tidak mempunyai pilihan lain, selain menarik paksa tangan Alima.


"Berhenti ... Gue bilang! Byul, stop!"teriak Alima.


Byul menepikan motornya.


"Bisa nggak sih, kali ini aja kamu nurut sama aku!"pinta Byul.


Mereka berhenti di salah satu pedagang kaki lima.


Mungkin dengan meneguk segelas air kelapa muda bisa membuat dada Alima sejuk. Belum juga diberi sedotan, sudah tidak tersisa dalam gelasnya.

__ADS_1


Rupanya tenggorokan Alima begitu kering .


"Kenapa kamu jadi berubah kayak gini?"cetus Byul membuat Alima melongo.


"Soal apa? Minum es kelapa ini?"jawab Alima dengan polosnya.


Byul menghela napas berat. " Kamu sadar nggak sih, yang kamu lakuin tadi itu benar-benar kelewat batas! Aku cuma nggak mau kamu kecewa."


Alima terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak, namun Byul menatapnya serius.


****


Tamara menghubungi Alima, yang mengatakan bahwa ada banyak wartawan di kantor yang ingin menerobos masuk menemuinya.


Hal itu membuat seniornya murka. Karena kedatangan mereka mengganggu ketenangan para karyawan-karyawati.


Tamara meminta Alima untuk segera ke kantor, agar para wartawan bisa segera pergi dari sana.


"Kali ini gue dalam masalah besar, Byul!"ucap Alima menjadi murung.


Byul meminta pada Alima, agar bertanggung jawab atas segala kesalahannya sendiri. Namun dia terus menyebut dirinya itu tidak bersalah.


Di satu sisi, Bripka Ahsan menemui Samy terkait dengan peristiwa yang terjadi hari ini.


Kebetulan sahabatnya itu sedang duduk melamun di depan ruang interogasi.


"Gue kecewa sama lo! Demi dia, lo merendahkan diri sendiri,"ucap Ahsan.


"Tapi gue emang salah, dan sudah sepatutnya kita bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat."


Ini cinta atau pengabdian?


Beberapa menit kemudian, Bu Mona menghubunginya.


Jemari tangannya terasa berat untuk menekan tombol terima panggilan tersebut.


"Gue minta tolong sama lo ya, untuk jaga keamanan di sini agar tetap kondusif!"pinta Samy sambil melangkah pergi.


Byul dan Alima sudah tiba di kantor, begitu banyak lautan wartawan yang mengerubuti pintu masuk.


"Si Biang Kerok akhirnya dateng juga tuh!"seru salah satu rekan kantornya.


Semua mata tertuju pada dua anak manusia, yang berjalan beriringan bersama.


Byul menjadi sebuah perisai untuk Alima, yang begitu sigap menjaganya.


Wartawan berbondong-bondong menuju ke tempat parkiran.


"Bagaimana bisa seorang Mayor Samy tunduk pada Anda?"tanya seorang Wartawan pada Alima.


"Sebenarnya saya nggak bermaksud melakukan hal itu, semua yang terjadi semata karena iseng!"jelas Alima membuat semuanya melongo.


Termasuk Samy, yang begitu tercengang mendengar pernyataannya.


Apa alasan dia menyembunyikan kebenarannya?

__ADS_1


Padahal sudah jelas, bahwa dirinya memang bersalah.


"Lalu apa tanggapan Anda mengenai komentar beberapa masyarakat yang sudah terlanjur membenci Anda?"tanya yang lainnya.


Alima menatap Byul seraya tersenyum manis. "Lebih baik dibenci ribuan masyarakat, dibanding harus dibenci oleh sahabat terbaik saya!"


Byul memilih pergi dari sana, setelah wartawan selesai menemui Alima. Namun Alima menghentikan langkahnya.


Byul tidak ingin menatap wajahnya.


"Lo kenapa lagi sih? Gue udah turuti kemauan lo, setidaknya bisa kasih senyum dikit gitu."keluh Alima.


"Apa aku harus bahagia setelah tau semua ini hanya sebuah lelucon?"ucap Byul, "Wanita yang ada di hadapanku ini bukan Alima yang aku kenal, karena Alima yang aku tau tuh nggak pernah menyembunyikan dukanya."


Alima membuang muka dan membiarkannya pergi.


"Puas kamu udah buat malu wajah kantor ini?"ucap Chaterine sinis.


Tamara membawa Alima masuk ke dalam.


"Perhatian untuk semua orang yang ada di sini, kecuali gadis rusuh itu!"


Kalau ada yang berani membantunya dalam melakukan pekerjaan apapun itu, kalian akan kena sanksi!"tegas Chaterine.


"Sorry ya Al, sementara ini kita bukan lagi teman!"ucap Tamara menjauhkan diri dari Alima.


Sepanjang jalan Byul teringat akan perlakuannya terhadap Alima. Dia merasa telah gagal menjadi sahabat Alima.


Berjalan tertatih-tatih di keheningan malam terdengar pekik tangisnya dalam kalbu yang selalu mengingkari janji.


Ke mana harus ku cari cahaya itu? Jika bulan dan bintang turut bersembunyi dibalik langit gelap gulita.


Tatapan matanya kosong, sapa senyum salam ikut terlewat. Langkah kaki menjadi semrawut saat terdengar tembakan beberapa kali.


Semua orang yang ada di luar apartemen berhamburan keluar menyelamatkan diri.


Alima terjatuh, ketika akan berdiri kembali. Tiba-tiba dia sudah berada di tempat asing.


Sebuah kursi yang mulai rapuh mengikat seluruh tubuhnya. Ruang gerak yang sempit, cahaya yang setitik.


Seseorang laki-laki berjalan mendekatinya sambil tersenyum picik.


"Hai, Sayang! Kita bertemu lagi,"ucap Pria Batu Bata.


"Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini ke saya?"teriak Alima.


Pria Batu Bata memegang erat bahu Alima, lalu memperlihatkan sebuah foto yang membuatnya terkejut.


"Kamu harus bisa menjawab dengan cepat pertanyaan dari Abang ya,"ucap Pria Batu Bata, "Bagaimana jika orang yang ada di foto ini nyawanya melayang?"


"Tolong jangan lakukan itu!"pinta Alima.


"Tapi apakah kamu berpikir dua kali saat melakukan hal itu pada orang yang aku sayangi? Lalu untuk apa, aku mengasihi mu!"jelas Pria Batu Bata.


......

__ADS_1


__ADS_2