
Kepalan tangannya dihantamkan begitu keras ke meja eksekutif yang terbuat dari kayu jati itu, setelah menerima kabar buruk dari orang suruhannya. Meski demikian, dia tetap bersikeras untuk membuat orang-orang yang telah berusaha menghancurkannya merasakan hal yang sama seperti apa yang kini dia rasakan juga.
Murkanya belum berakhir di situ saja, ketika melihat sebuah acara siaran televisi yang menayangkan peristiwa kebakaran di rumah mewah, dan rumah itu adalah rumah calon menantunya, Kiyara. Yang membuatnya terkejut, mengetahui putra semata wayangnya sedang bersama Alima di sana.
Mungkin karena kedatangan Samy, semua rencana yang telah tersusun rapi itu jadi berantakan.
Setelah suasana di rumah Kiyara berangsur membaik, Samy ingin membawa Alima ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Tetapi saat mereka hendak pergi, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya, ternyata itu Byul yang datang bersama Tamara.
Tamara berlari menghampiri sahabatnya itu sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, agar bisa mendekapnya erat.
"Udahan dong bikin aku takut!"ucap Tamara.
"Sorry ya, gue udah bikin kalian khawatir lagi!"cetus Alima sambil melepaskan pelukannya.
"Aku minta maaf ya, Al. Karena bisa datang tepat waktu saat kamu membutuhkan pertolongan,"sahut Byul, "Aku antar kamu pulang, ya!"
"Ke Indramayu gitu?"tanya Alima alisnya menyentak bersama-sama.
Byul mengangguk seraya tersenyum simpul.
Melihat itu, wajah Samy terlihat memerah. Bukan karena gumpalan asap yang dikepulkan si Jago Merah, tetapi ulah laki-laki di hadapannya yang selalu berhasil mencuri start.
Byul dan Alima pun pergi, sementara Tamara menemani Samy.
"So sweet banget ya Oppa Byul! Udah tampan, mapan, pengertian, definisi suami idaman banget deh!"jelas Tamara semakin membuat Samy geram.
Byul mendadak menghentikan mobilnya di tepi jalan, seketika Alima yang saat itu hampir terlelap tidur, terbangun.
"Maaf ya aku udah bangunin kamu, tapi akan lebih baik kalau luka di lengan kamu itu segera diobati. Biar nyenyak nanti tidurnya!"ucap Byul.
Luka di lengan kanannya tampak tidak terlalu parah, namun luka kecil bisa semakin parah karena infeksi.
Byul mengobatinya dengan begitu lembut dan penuh hati-hati. Alima sesekali mencuri-curi pandang pada laki-laki di hadapannya itu.
Di satu sisi Kiyara tengah berkunjung ke rumah orang tuanya di Solo, terkejut setelah melihat berita di sosial media soal tragedi si Jago Merah yang melahap rumahnya. Dia langsung merobohkan tubuhnya ke atas sofa, sambil berkata. "Ini nggak mungkin terjadi, sebelum pergi aku udah pastikan kalau semuanya aman."
__ADS_1
Dan malam itu juga, Kiyara memutuskan pulang ke Jakarta melihat kondisi rumahnya.
***
Selesai mengobati Alima, Byul kembali menjalankan mobilnya. Sebelum melanjutkan tidurnya, Alima sudah lama sekali ingin mengungkapkan hal ini pada Byul. Terlihat terus menerus menggosokkan kedua telapak tangannya yang berkeringat, perlahan membuka mulutnya.
"Kenapa sih lo masih mau nolongin gue? Padahal gue udah buat lo kecewa!"ucap Alima.
"Kecewa soal apa? Kamu adalah mantannya Samy? Atau karena udah nolak soal perasaan aku ke kamu?"cetus Byul membuat Alima melongo.
Alima mencoba mengingat-ingat kembali saat di mana dia menolak cinta Byul. Melihat wajahnya yang seperti kebingungan itu membuat Byul tertawa kecil.
"Kok lo ketawa sih? Tapi beneran nggak pernah kan, gue ngomong gitu ke lo?"tanya Alima.
"Emang nggak pernah, kalau sekarang aku tanya apakah kamu mau jadi pacar aku? Apa jawaban kamu?"
Seketika Alima tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya.
"Byul, gue baru aja loh selamat dari maut!"cetus Alima membuat Byul terdiam.
Samy yang hendak pergi ke Mabes Polri, langkahnya terhenti saat melihat Kiyara berada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.
"Samy, lihatlah siapa yang datang! Kiyara udah dari pagi buta loh nungguin kamu bangun dari tidur,"jelas Mamanya tidak membuatnya tercengang sedikitpun.
"Hari ini kamu tetap berada di rumah, untuk menemani Kiyara di sini!"tegas Papanya.
"Tapi Pa, hari ini Samy ada kegiatan penting di kantor,"sahut Samy sambil turun dari tangga.
"Begini sikap kamu pada calon istrimu? Apa kamu lupa, telah membuat hatinya teriris tempo hari?"cetus Papanya lirih.
Samy tidak bisa membantah keinginan Papanya, seolah-olah sudah terikat semenjak dia terpaksa memutuskan hubungannya dengan Alima dulu.
Kemudian berangkatlah Papanya ke kantor, sementara Samy mengajak Kiyara ngobrol di tepi kolam renang rumahnya.
Jarak duduk di antara keduanya terlihat cukup jauh, Kiyara sadar bahwa dirinya tidak akan pernah bisa merubah keputusan Samy.
__ADS_1
"Sam, maaf sebelumnya karena kemarin aku udah bersikap egois,"ucap Kiyara, "Sekarang yang aku butuhkan hanya support dari orang-orang yang tulus menyayangiku,"
"Pacarku direbut oleh sahabatku sendiri, rumah habis terbakar, punya orang tua yang nggak pernah ada waktu buat aku!"sambung Kiyara membuat Samy menoleh cepat ke arahnya.
"Hidup kamu udah sempurna kok, cuma kamu aja yang selalu berpikiran buruk sama aku dan Alima!"sahut Samy.
"Jadi maksud kamu semua ini memang salah aku, gitu?"cetus Kiyara, "Aku datang ke sini bukan mau cari perhatian sama kamu, tapi karena aku masih menganggap kamu sebagai orang yang begitu peduli sama orang disekitar kamu!"
Kiyara pergi dari rumah Samy, namun Bu Mona menghentikan langkahnya.
"Kiyara, tolong jangan pergi ya. Maafkan atas sikap Samy, mungkin karena dia sedang stress menghadapi semua masalah ini,"
Kiyara tetap ingin pergi, dan Bu Mona tidak bisa menghalanginya lagi. Mengetahui hal itu, Pak Dhananjaya semakin haus akan keinginannya untuk memisahkan Samy dan Alima.
Di ruang tamu rumah Alima, mulutnya melengkung membentuk senyuman melihat pemandangan Ibu dan sahabatnya itu tengah tertawa bersama di teras rumah. Hal apakah yang membuat ratu tak bermahkota bisa tertawa lepas, setelah begitu lama tawa itu dirampas.
Ketika Alima berbalik badan, gelak tawa tak terdengar lagi. Dia mendapati tubuh Ibunya sudah terjatuh di lantai.
Byul pun membopong Ibu Alima ke kamar, Alima bergegas menghubungi Dokter.
Dokter telah memeriksa keadaan Ibunya, hasilnya tidak ada gejala yang serius. Ibu Alima hanya kelelahan saja.
Tetapi tetap membuatnya sangat khawatir.
"Ibu, kalau capek ngomong ya Alima. Jangan dipendam sendiri!"tegas Alima.
"Sekarang kan, kamu udah ada di sini. Jadi Ibu nggak akan kecapean lagi,"
Tangannya diraih sambil memapang senyum di wajah.
"Byul itu laki-laki yang baik ya, Alima!"cetus Ibunya.
"Iya Bu, emang kenapa? Ibu suka ya?"tanya Alima dengan nada menggoda.
"Ibu suka, dan setuju bila kamu bersedia menikah dengannya!"jawab Ibunya membuat pupil matanya melebar.
__ADS_1
......