Alima Dasar

Alima Dasar
Untuk Darren


__ADS_3

Di balik jeruji besi


Beralaskan ubin, dinginnya meremukkan tulang-tulang.


Berselimut angin, menyerang sekujur tubuhku yang perlahan mulai layu.


Kau mampu membuat dadaku menggelora


Namun juga bisa menjadi api yang membakar iman di hati.


Kau mampu membuat mataku terjaga semalaman bersama ilusi


Namun tak bisa mendekatkan diriku pada Sang Ilahi.


Kau tercipta sebagai perusak mimpi, Kau Malaikat Maut yang tampak jelas di mataku.


Bersamamu, bahagiaku fana.


Samy mengamatinya dari luar sel tahanan.


Wajahnya gersang tiada satupun sebutir air matanya di sana.


Seorang laki-laki paruh baya datang menemui pemuda malang itu.


"Papa nggak menyangka, kamu bisa melakukan hal bodoh ini!"ucap Pak Helmy Faishal, papa dari Darren. Salah satu pemuda yang terjerat kasus narkoba jenis sabu.


Jangankan menatap matanya yang berapi-api. Mengangkat wajahnya saja tidak sanggup, seperti memikul benda berat di pundaknya.


Samy menghampiri Pak Helmy, lalu menenangkannya.


"Terima kasih Samy, karena kamu sudah berhasil menemukan anak saya!"ucap Pak Helmy, "Saya nggak habis pikir, dia bisa melakukan hal itu!" 


"Om yang sabar ya, saya tau ini nggak mudah buat om dan keluarga. Tapi saya yakin om bisa melewatinya."


Tidak lama kemudian, Samy mendapat telepon dari Papanya mengenai sebuah berita soal anak sahabatnya yang terciduk polisi karena kasus narkoba.


"Iya Pa, berita itu benar. Sekarang Om Helmy ada di Polres Metro Jakarta Selatan."jelas Samy mengakhiri teleponnya.


"Kasihan Helmy, saat ini yang dia butuhkan adalah support dari orang-orang terdekatnya. Papa akan ke Polres Ma, untuk melihat keadaannya," ucap Pak Dhananjaya pada istrinya.


****


Kiyara tengah asyik menonton film genre Psychological Horror di televisinya yang ada di ruang tengah.


Saat itu terlihat adegan seorang laki-laki mantan Pekerja Migran Indonesia asal bersembunyi di sebuah rumah kecil paling pojok di kampungnya.


Dia lari dari kejaran Debt Collector yang ingin menagih utang, karena sudah tidak membayarnya selama 2 bulan.


Mendengar suara rintihan hati seseorang di dalam rumahnya, pemilik rumah menghampiri dan menghabisi nyawa orang laki-laki tersebut.


Tap ...


Alima datang mengganti channel televisinya.


"Alima, jangan diganti dong. Belum selesai juga aku nontonnya!"keluh Kiyara.


"Lo harus lihat ini!"tunjuk Alima.

__ADS_1


Alima menunjukkan berita soal anggota polisi yang berhasil menangkap pelaku kasus narkoba jenis sabu, minggu ini.


Di sana terpampang jelas wajah Samy.


Namun Kiyara tidak menggubrisnya.


Alima menyipitkan matanya, sambil mendekatkan wajahnya ke Kiyara.


"Kamu ngeliatin aku gitu banget! Ada yang salah?"cetus Kiyara.


"Gue perhatiin lo sama sekali nggak terpengaruh setelah ngeliat berita ini. Apa lo yakin udah nggak ada rasa sama dia?" Melirik ke arah televisi yang menampakkan wajah Samy ketika diwawancarai.


Kiyara beranjak dari tempat duduk dan pergi ke kamarnya.


Awan berbentuk bunga kol menemani langit pagi kali ini.


Kiyara pergi ke kamar Alima untuk memberitahu bahwa dia tidak bisa pergi ke kantor bersamanya, karena ada meeting di daerah Bogor.


Alima pun terpaksa harus berangkat menggunakan gojek, agar tidak memakan waktu yang lama.


Sampai di lampu merah. Seseorang  mengklakson keras untuk membuatnya menengok ke belakang. Karena mengganggu pendengarannya, Alima menengok ke belakang. Setelah tahu kalau Samy yang melakukannya, dia tetap berdiam diri di atas motor.


"Mbak kenal sama orang yang klakson mobil di belakang kita?"tanya pengendara gojek.


"Nggak, Mas. Mungkin orang di belakang lagi stress kali karena macet!"jelas Alima menyuruh jalan karena lampu sudah kembali hijau.


Samy mengejar Alima yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Beep, beep ....


Dia memepetkan mobilnya ke sepeda motor itu dan memaksanya berhenti.


"Maksud kamu apa sih, halangi jalan aku?"ucap Alima cemberut.


"Aku mau ajak kamu berangkat bareng ke kantor,"


Alima menatapnya aneh. "Maaf, aku nggak bisa." Alima lebih memilih naik gojek.


Tepat pukul 8 lewat 5 menit Alima tiba di kantor, dan Samy sudah duduk manis di ruang tamu.


"5 menit waktu yang terbuang. Saya lebih cepat dari kamu,"ucap Samy sambil tersenyum simpul.


"OMG! Mayor Samy, kan?"cetus Tamara tiba-tiba muncul di antara mereka.


"Halo! Kamu pasti, Tamara. Pengacara paling cantik di sini!"jelas Samy membuat wajahnya memerah.


"Thank you! Tapi maaf, saya nggak bisa ngobrol lama sama Mayor Samy. Mungkin jam istirahat nanti, boleh!"


Alima menarik tangannya, menjauh dari Samy.


"Tam, berhenti bersikap manis di hadapannya!"ucap Alima membuat Tamara melotot.


"Alima, cowok itu suka sama cewek yang sikapnya lembut, sopan. Betul, kan?"


Tamara kembali menemui Samy.


"Kedatangan saya kemari ingin bertemu dengan pengacara yang mampu menangani kasus penyalahgunaan narkoba."

__ADS_1


"Kalau begitu Mayor nggak salah datang kemari, karena teman saya bisa melakukannya! Iya kan, Al?" Melirik ke arah Alima.


Samy menceritakan pada Alima mengenai kejadian yang menimpa Darren, anak dari sahabat papanya.


Alima ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang kehidupan si tersangka.


Samy setuju untuk mengajaknya ke Polres, menemui Darren.


Di dalam mobil, keduanya saling membungkam mulut. Tidak lama Samy memulai pembicaraan.


"Bagaimana kabar Kiyara?"tanya Samy.


"Kabar dia baik."


Samy menelan ludahnya. "Wajar dia marah, karena saya terlalu over protektif!"


"Menurut aku, kamu harus ajak dia balikan. Walau keliatannya benci, masih ada rasa peduli di dalam hatinya. "


Samy mengangguk seraya tersenyum.


***


Di halaman belakang, Darren termenung di bawah pohon rindang.


Menatap langit, yang kini dirasa sempit.


Dari matanya terbesit kerinduan.


Mengingat kembali saat asmara tertanam di dalam hatinya.


Samy dan Alima berjalan mendekatinya.


"Selamat pagi Darren, bagaimana pagimu?"ucap Samy yang tidak dihiraukannya.


Samy duduk di sampingnya. "Sesekali boleh menengok ke belakang, agar langkah kedepannya bisa lebih baik lagi."


Darren perlahan memutar kepalanya ke belakang. Melihat Alima, jiwanya terguncang hebat seperti dikejutkan badai listrik.


Mulutnya melengkung membentuk senyuman.


Dia langsung mengambil posisi di mana Samy duduk.


"Apa kabar kamu? Kenapa baru sekarang menengok aku?"ucap Darren pada Alima dengan lembut.


Dahinya mengerut. Samy beranjak dari tempat duduknya, dan mengedipkan matanya pada Alima sebagai sebuah isyarat untuk bisa mendapatkan informasi dari Darren.


"Kabarku baik. Maaf ya baru sempat jenguk kamu."


Darren melangkahkan kakinya lebih dekat ke Alima.


Perlahan jemari tangannya mengaitkan ke jemari tangan wanita di dekatnya itu. Mata Samy dibuat melebar.


"Jangan tinggalkan aku lagi ya!"cetus Darren membuat Alima melongo.


"Iya, aku janji nggak akan ninggalin kamu. Tapi kamu harus janji, untuk tetap semangat!"


Samy memalingkan wajahnya, lalu pergi meninggalkan Alima di sana.

__ADS_1


Alima mencoba bersikap tenang supaya berhasil mengikat Darren. Walau hati ingin sekali memberontak.


......


__ADS_2