Alima Dasar

Alima Dasar
Abdi Cinta


__ADS_3

"Dia pasti adalah orang yang sangat kamu cintai ya?"tanya Alima pada Darren.


Darren hanya memberi senyum miring.


"Oke, aku nggak akan memaksa kamu buat cerita semuanya. Tapi setidaknya, kamu bisa berbagi kesedihan itu agar sedikit berkurang."


"Dia adalah salah satu bagian terindah dalam hidup ku," ucap Darren menatap Alima lekat di matanya, membuat Alima memalingkan pandangan susah karena ketulusan hati yang terpancar di mata itu.


"Maaf sebelumnya, karena udah lancang tadi sentuh tangan kamu,"sambung Darren membuat Alima mengangguk pelan.


"Di mana dia sekarang? Apa dia tau kamu ada di sini?"tanya Alima.


Darren kembali membungkam mulut.


Kemudian berlari masuk ke dalam.


Alima mengejarnya, namun Samy menghentikan langkahnya.


Samy meminta Alima untuk tidak tergesa-gesa dalam keadaan ini.


Biarlah berjalan seiring berjalannya waktu.


Rasa sayang sepanjang napas


Bila jauh rindu bertumpuk


Ikatan ini jangan kau lepas


Sebab bisa membuat jantungku remuk.


***


Samy mengajak Alima berbicara empat mata di luar Polres.


Tiba-tiba saja Papanya datang bersama Pak Helmy yang berniat menjenguk Darren.


"Samy, ngapain kamu di sini?"tanya Papanya sambil melirik ke arah wanita di sampingnya.


Samy sedikit menjauh dari Alima. Dalam hati, dia menyumpahi dirinya sendiri karena tak sanggup bila papanya sampai tahu, dia masih bertemu dengan wanita di masa lalunya.


Siapa yang mampu menandingi kekuatan Papanya? Papanya punya segalanya. Papanya pasti punya seribu macam cara untuk menyingkirkan wanita-wanita yang dekat dengan putra semata wayangnya jika bukan dorongan hatinya sendiri. Semakin tak kuasa melihat sorot matanya yang berapi-api.


Inilah saat di mana dia membenci dirinya sendiri. Dalam pandangan Papanya, dirinya hanya seumpama butiran debu yang kehilangan arah.


"Samy baru selesai menjenguk Darren, Pa,"ucap Samy, "Papa dan Om Helmy pasti mau jenguk Darren, kan?"


"Iya, lalu siapa wanita ini?"tanya Papanya lagi sambil melotot.


Samy terdiam sesaat, Alima pun membuka mulutnya.


"Saya pengacara yang ditugaskan oleh Mayor Samy untuk menangani kasus Darren Faishal, Pak."


Mata Samy melebar seketika karena Alima tidak menyebutkan namanya secara terang-terangan.


"Oh iya? Sebenarnya saya kemari selain menjenguk Darren juga mau membicarakan soal ini. Tapi ternyata, Samy sudah melakukannya,"sahut Pak Helmy menatapnya dengan kagum.

__ADS_1


"Kalau gitu Papa temani Om Helmy dulu ya. Kita bicara lagi nanti!"ucap Papanya pergi bersama Pak Helmy.


Alima mengamati perilaku Samy yang berubah di hadapan Papanya.


Samy balik menatapnya.


"Saya antar kamu pulang ya!"ucap Samy.


"Nggak perlu, nanti papa kamu makin overthinking!"cetus Alima melangkah pergi.


"Saya tinggal bilang kalau kamu adalah pengacara kondang, yang harus dimuliakan!"goda Samy membuat Alima tersenyum simpul.


Akhirnya Alima setuju pulang bersama Samy, yang bertujuan untuk bertemu dengan Kiyara.


Di satu sisi, Kiyara terjebak macet. Sampai di rumah pukul 9 malam.


Dia tidur terlentang di sofa bersama sepatu dan tas yang masih melekat di tubuhnya.


Alima menghampirinya, suara langkah kakinya terdengar hingga Kiyara membuka matanya.


"Lo baru pulang?"tanya Alima.


Kiyara mengambil posisi duduk, diikuti Alima.


"Iya, kena macet di jalan!"


"Tadi Samy ke sini, dia nungguin lo. Karena udah malam, ibu menyuruhnya pulang,"ucap Alima membuat Kiyara melongo.


"Mau apa dia ke sini? Belum puas apa nyakitin hati aku!"


Alima meyakinkan Kiyara, agar menerima Samy kembali.


****


Gerimis di pagi hari. Membasahi sebagian jiwanya yang kemarin sempat gersang.


Mulai menanam benih-benih cinta dengan harapan tumbuh untuk tidak tumbang. Memupuk rasa percaya lalu menyiraminya dengan cinta. 


Kiyara menemui Samy sekali jalan ke kantornya.


Sedangkan Samy hendak menuju ke rumahnya, menjemput Alima.


Mereka berpapasan di jalan.


Kiyara keluar dari mobilnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. 


Kakinya menyeru untuk melangkah maju.


Deg ....


Detak jantung berhenti berdetak sesaat.


Saat kembali terjatuh dalam tatapan matanya yang selalu mengikat.


"Aku minta maaf,"ucap mereka bersaman.

__ADS_1


"Aku yang salah, apa kamu mau memaafkan aku?"cetus Samy membuat Kiyara mengangguk seraya tersenyum manis.


Kiyara berjalan menghampiri Samy dan meraih tangannya.


"Jadi, sekarang kita pacaran lagi?"tanya Kiyara, "Aku kangen banget sama kamu!"


Setelah itu keduanya pergi ke kantor masing-masing.


Di kantor, Alima disuguhkan beberapa lampiran biodata pria tampan, keren, dan tajir, yang membuat matanya bersinar.


"Sadar Alima! Mereka semua memang cakep, tapi lo belum tentu jadi seleranya!"ucap Alima seorang diri sambil menutup lampiran biodata itu.


Tamara meringis mendengar keluh kesah Alima.


"Demen banget sih lo bikin iman gue oleng!"ucap Alima memanyunkan bibirnya.


"Bagus dong! Itu artinya lo masih normal,"sahut Tamara, "By the way, gimana soal kasus yang lo tangani?"


"Gue nggak bisa lanjutin kasus ini. Karena gue nggak mau ikut terlibat di dalamnya!"jelas Alima membuat dahinya mengerut.


Alima menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. "Jadi klien gue ini masih di bawah umur, dia terjerat kasus narkoba, ditambah lagi kisah masa lalunya yang rumit. Lo tau nggak, waktu kita ketemu pertama kali, dia excited banget dan main pegang tangan gue aja!"


"Mungkin dia punya gebetan yang wajahnya tuh hampir mirip sama lo!"cetus Tamara, "Bukannya itu semakin bagus yah, karena dengan begitu lo bisa tau akar permasalahannya!" Wajahnya menjadi muram.


"Gue juga maksudnya ke sana Tam,"ucap Alima, "Udahlah nggak perlu bahas ini, gue mau beli makan dulu di luar!"


Saat hendak keluar mencari makanan, Alima dikejutkan dengan kehadiran Byul di depan kantornya.


"Hi! Belum makan pasti ya,?"ucap Byul sambil menyodorkan sebungkus nasi pada Alima.


Mereka pun duduk di bangku taman kantor.


Alima ternganga setelah melihat isi dalam bungkus makanan yang Byul bawa untuknya.


"Nasi uduk sayur lodeh, ditambah semur jengkol. Makanan favorit gue banget!"ucap Alima kegirangan.


Dia menatapnya dengan intens, Alima makan begitu lahapnya.


"Kenapa? Apa lo nggak pernah ya liat cewek makan?"tanya Alima membuat Byul meringis.


"Pernah waktu itu, cuma dia masih malu-malu."


Samy datang ke kantor Alima, untuk membicarakan soal kasus yang tengah dihadapi Darren.


Namun kehadirannya, justru memicu timbulnya pertikaian.


Dia berjalan ke arah Alima.


"Sungguh menjijikan! Saya suruh kamu untuk menyelesaikan kasus itu tapi malah asyik berduaan sama dia di sini!"bentak Samy membuat Alima dan Byul beranjak dari tempat duduknya.


Byul menggeram sambil telapak tangannya mengepal kuat bersiap mendaratkan ke wajah Samy.


"Stop! Kalian berdua jangan buat keributan di sini!"ucap Alima.


"Bisa nggak kamu datang secara baik-baik? Apa seperti ini sikap sebagai seorang polisi?"cetus Alima membuat Samy terdiam.

__ADS_1


......


__ADS_2