Alima Dasar

Alima Dasar
Torehan Luka Di Dada


__ADS_3

Masih pada bagian kau torehkan luka mengesan di dada.




Aku lupa bagaimana cara membuat senyum di wajah, kehilangan tawa yang selalu mencair.


Sekarang hanya ada tangis yang mengguyur deras pipiku.



Hari-hari bersamamu dulu, kini menjadi sebuah kenangan yang lestariĀ  dalam ingatan dan tak bisa ku temui di dalam diri orang lain.


Tetapi jangan risau, aku masih menunggumu pulang.



Di dalam sel tahanan nomor 056


Dia menahan air mata, Alima merayunya untuk bersabar walau kenyataannya menjengkelkan.



"Menangis lah, jika itu membuat kamu merasa tenang!"cetus Alima.



Darren tertawa kecil sambil menatap lekat wajah Alima.



"Sorry ya, udah maksa kamu buat dengerin cerita buruk ini,"



Alima tersenyum simpul. "Perjalanan cinta kita hampir sama, dulu aku juga melakukannya!"



"Melakukan apa?"tanya Samy membuat Alima menutup rapat mulutnya.



"Waktu sudah habis, kamu boleh pergi sekarang!"jelas Samy membuat Alima keluar dari dalam sel tahanan.



"Besok aku akan menemui kamu lagi ya!"ucap Alima pergi dari hadapan Darren.



Samy menghentikan langkahnya yang semakin cepat menjauh.



"Tadi kamu ngomongin soal apa aja di dalam?"tanya Samy penasaran.



"Emang harus aku kasih tau kamu ya? Seorang pengacara harus bisa menjaga kerahasiaan informasi klien. Sampai di sini, paham?"



Samy mengangguk pelan.



"Oh iya, saya nggak bisa antar kamu pulang karena masih ada tugas lain. Tapi jangan khawatir, saya akan minta seseorang untuk mengantar kamu pulang,"



"Nggak perlu, aku bisa pulang naik ojek kok!"



Alima merogoh saku blazernya karena handphonenya berdering.



"Kamu masih ingat dengan perjanjian pagi tadi, kan?"ketik pesan dari seniornya.



Alima menghela napas berat. "Ya ampun, hampir aja gue lupa!" Samy mengerutkan keningnya.



"Ada masalah apa?"tanya Samy.



"Nggak ada. Kalau gitu aku pulang ya!"



\*\*\*



Terpantau seniornya itu tengah duduk manis di ruang tunggu.


Tamara melewatinya begitu saja.



"Hei kamu, temanmu yang sok cantik itu ke mana?"ucap Chaterine menghentikan langkahnya.



Matanya menyipit. "Siapa Kak yang sok cantik? Teman saya tuh semua cantiknya murni dari lahir, termasuk juga saya!"

__ADS_1



Tidak lama kemudian, Alima turun dari motor tukang ojek.


Melihat seniornya sudah menunggunya di sana, dia buru-buru masuk ke kantor.



"Ngapain aja kamu di sana? Jangan-jangan sengaja ya kamu ulur waktu agar bisa berduaan sama Mayor Samy!"ucap Chaterine pada Alima.



"Maaf ya Kak, tapi saya nggak seburuk yang Anda katakan barusan!"



Chaterine melotot. "Apa kamu bisa menjaminnya? Ya sudahlah, habis nanti tenaga saya buat ngomong sama kamu!" Pergi sambil mengibaskan kipas lipatnya.



Tamara mendekat ke Alima.



"Lo ada utang apa ke Kak Keket? Bawaannya emosi mulu ya?"tanya Tamara membuat mulut Alima menganga lebar.



"Nggak tau tuh! Masih pagi udah bikin orang kesel!"ucap Alima, "Masa gue disuruh untuk izin dulu, sebelum pergi maupun pulang!"



Tamara menggelengkan kepalanya. "Mungkin dia mau mencuri sesuatu dari lo!"



"Apaan sih!"



"Biar bisa mencuri start untuk mendapatkan hati Mayor Samy!" Sontak membuatnya tertawa.



"Gue kasih tau ya, Mayor Samy udah punya pacar. Siapapun yang berani mendekatinya, orang itu akan berhadapan sama gue!"jelas Alima.



Alima keluar dari kantor meninggalkan Tamara sendirian.



Di rumah, Kiyara dan Ibunya menyajikan banyak makanan untuk menyambut kedua orang tuanya.



Tok ... Tok ... Tok




"Papa! Mama!"teriak Kiyara menghampiri mereka sambil memeluknya.



"Bagaimana suasana di sana Ma? Kapan-kapan ajak Kiyara ke sana dong!"ucap Kiyara.



"Hawanya sejuk dan orang-orangnya ramah, Mama sebenarnya nggak ingin pulang ya Pa!"goda Mamanya.



Mereka pun makan bersama, namun merasa kurang. Karena Alima tidak hadir di sana.



Papa Kiyara menyuruhnya menghubungi Alima. Panjang umur, ternyata dia sudah sampai rumah.



"Halo Alima!"sapa Papa Kiyara.



"Hi, Om, Tante!"jawab Alima sambil mencium punggung tangan mereka.



"Om kira kamu masih di jalan, syukurlah malam ini kita bisa makan bersama!"ucap Pak Sigit.



"Maaf sebelumnya, karena sudah berkumpul semuanya di sini. Saya mau pamit pulang ke rumah lama bersama Alima,"jelas Ibunya Alima seketika membuat suasana menjadi hening.



Kiyara ternganga. "Kiya mohon Bu, jangan pergi dari sini yah!"



"Sebenarnya Ibu berat mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi, Ibu dan Alima sudah sepakat untuk kembali ke rumah,"



"Saya mohon Ibu dan Alima tetap tinggal di sini, karena kalian sudah kami anggap seperti keluarga sendiri,"pinta Pak Sigit.



Alima masuk ke kamar Ibunya.

__ADS_1



"Apa Ibu yakin mau kembali ke rumah itu?"tanya Alima.



"Kenapa harus ragu, di sana kamu dilahirkan dan dibesarkan. Jadi apa salahnya kita memulainya kembali?"



\*\*\*\*



Alima duduk termangu menatap langit kelabu.


Byul datang sambil menyodorkan ice cream contong rasa vanilla padanya.



"Yang mendung itu langit, bukan hati gue!"cetus Alima.



Sesaat Byul menatap langit lalu mengarah ke Alima.



"Siapa bilang aku kasih kamu ice cream ini karena ngeliat wajah kamu sedih?"ucap Byul, "Aku kasih ini karena dapat diskon, beli 2 gratis 1!"



"Satunya lagi mana?"tanya Alima.



"Aku kasih ke anak kecil yang tadi lewat di depan sana,"jelas Byul membuat Alima mendengus.



"Ada masalah apa sih, sampai asem gitu mukanya!"ledek Byul.



"Ibu mau ajak gue balik ke rumah lama!"



Byul melotot sambil masih menikmati ice cream nya yang mulai mencair.



"Terus gimana sama pekerjaan kamu di sini? Dan bagaimana dengan aku?"tanya Byul membuat Alima mengernyitkan wajahnya.



"Maksudnya, aku jadi nggak ada temen ngobrol lagi!"sambung Byul.



"Gue juga nggak tau harus berbuat apalagi untuk tetap berada di sini!"keluh Alima.



Byul membisikan sesuatu ke telinga Alima, yang membuatnya beranjak dari tempat duduknya.



"Lo gila ya! Gue nggak mau ngelakuin hal kayak itu!"ucap Alima.



"Itu satu-satunya cara agar kamu bisa tetap di sini!"



Alima dan Byul pergi ke rumah Kiyara.


Dia bertemu dengan Ibunya sambil merengek.


Ibunya terkejut melihat Alima yang menangis, dan menggandeng seorang laki-laki.



"Alima mohon Bu, jangan pergi dari sini! Karena Alima nggak ingin jauh darinya!"desak Alima.



"Apa maksud kamu bicara seperti itu? Jangan bilang kalau dia sudah melakukan itu sama kamu!"ucap Ibunya sambil menunjuk ke arah Byul.



Alima melotot. "Nggak Bu! Alima nggak mungkin berani melakukannya, begitu juga dengan dia! Iya, kan?"



Byul mengangguk seraya tersenyum simpul.



Alima tersadar dari lamunannya. "Jangan lakukan itu! Gue nggak mau menambah masalah, oke?"



"Lalu apa rencana kamu?"tanya Byul.



"Tinggal bilang aja kalau gue saat ini sedang berjuang keras untuk meraih mimpi!"


__ADS_1


...<**BERSAMBUNG**\>...


__ADS_2