
Seracik retisalya bersemayam abadi
Sisakan duka tanpa beri jeda setitik
Ketika sudah masak ciptakan sesak.
Biar Tuhan yang mengolahnya, tugasku menunggu hidangan.
Alima tengah duduk merenung di teras rumahnya, terlihat sedang ingin mencari tahu isi dalam pikirannya. Byul yang melintasinya ikut terdiam sesaat. Sampai akhirnya, Alima tersadar. Byul pun duduk di sebelahnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kesehatan Ibu, kah?"tanya Byul.
"Ibu sudah sehat, kini giliran gue yang sakit memikirkan keinginan ibu. Batinnya. Kita jalan yuk!"ajak Alima membuat Byul ternganga.
Lama menunggu laki-laki di hadapannya itu sadar, dia langsung menarik tangannya dan pergi jalan-jalan.
Alima mengajak Byul ke sebuah tempat yang biasa dikunjungi oleh orang-orang disekitarnya untuk merilekskan hati dan pikiran. Melihat bibir pantai yang diselimuti oleh batuan penahan ombak. Selain itu juga pasirnya yang berwarna kemerahan, menikmati binar cantik jingga kemerah-merahannya langit sore.
Alima mengajak Byul mendekat ke tepi pantai.
"Menurut pandangan lo, gue ini seperti apa?"tanya Alima.
"Manusia paling aneh yang pernah aku kenal!"jawab Byul sambil meringis, "Tapi aku juga beruntung bisa menjadi sahabatnya,"
"Sahabat?"cetus Alima, "Gue kira, kita bisa lebih dari itu!" Melangkah ke depan.
"Maksud kamu?"tanya Byul.
Alima membalikkan badannya bersama dengan mulutnya melengkung membentuk senyuman.
"Kalau ada pertanyaan lagi dalam hati lo, gue akan tunggu sekarang juga!"ucap Alima membuat Byul berlari ke arahnya.
Byul meraih kedua tangannya dan berkata. "Aku ingin lebih dari menjadi seorang sahabat kamu, boleh?"
"Tapi jangan minta jadi bapak ku ya!"
Byul tidak menyangka, status ikatan persahabatan yang dijalin selama bertahun-tahun ini telah berubah. Kini saatnya Alima kembali membuka hatinya, untuk orang baru yang begitu lama mengenalnya.
Jangan melihat orang hanya dari pesisirnya saja, tanpa kau tahu kedalamannya.
Setelah sudah cukup lama di sana, Alima dan Byul pun pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan, beberapa pasukan berseragam biru menghadang jalannya.
Alima terkejut melihat Samy ada di sana, dia pun keluar dari mobil. Namun Byul tidak mengizinkannya pergi.
__ADS_1
Akhirnya Alima memutuskan untuk tetap berdiam diri di dalam mobil, sementara Byul yang menghampiri Samy.
"Hai, Bung! Lo udah halangi jalan gue. Bisakah suruh mereka pergi dari sini!"ucap Byul pada Samy.
"Tangkap dia, dan bawa juga wanita yang ada di dalam mobil itu!"tegas Samy.
Byul dibawa ke ruang interogasi Polsek Indramayu, lalu Alima juga ikut masuk.
Samy menyodorkan sebuah kamera digital ke hadapan Byul.
Byul yang sebelumnya hanya menundukkan kepala, seketika alisnya menyentak bersama-sama melihat kamera miliknya ada di hadapannya.
"Kenapa kameraku bisa ada di tangan lo?"tanya Byul pada Samy.
Samy menyeringai. "Ini ekspresi kaget? Atau takut ketahuan?"
"Kenapa kamu nggak berterus terang waktu itu, kalau ternyata ulah kamu di balik semua ini!"sambung Samy membuat Alima mengerutkan keningnya.
Byul menghela napas berat. "Gue nggak mau Alima jadi benci sama gue!"
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?"sahut Alima.
"Pacar baru kamu ini, adalah seorang mata-mata!"cetus Samy membuat Alima melotot.
Alima terkejut setelah mengetahui kebohongan Byul. Dia pun pergi dari sana, lalu Samy bergegas menyusulnya.
"Alima tunggu!"teriak Samy menghentikan langkahnya, "Saya harap kamu tetap berada di sini, biar saya yang antar kamu pulang ke rumah,"
"Kenapa sih, orang yang aku pikir nggak akan pernah nyakitin perasaan aku, tiba-tiba begitu mudahnya meleburkan hatiku dalam sekejap!"jelas Alima berlinang air mata.
"Saya tahu bagaimana perasaan kamu saat ini, tapi tolong kamu jangan jadi lemah di hadapannya! Dia akan berpikir, kalau kamu nggak bisa melewatinya!"ucap Samy membuat Alima berhenti menangis.
"Tapi gue baru aja dapat pacar, terus kanapa harus kayak gini sih cobaannya!"cetus Alima.
Seorang petugas berlari menghampiri Samy yang sedang bersama Alima.
"Lapor Pak! Tahanan yang bernama Byul Ollie Widjaja telah jatuh pingsan,"ucap Petugas membuat Samy berlari menuju ke ruang sel tahanan.
Alima kembali masuk ke Polsek, karena juga ingin melihat keadaan Byul.
Setelah ditelusuri lebih lanjut mengenai kondisi Byul, ternyata hanya mengalami kelelahan.
"Kamu yakin nggak melakukan hal apapun pada dia?"tanya Samy pada Alima.
"Tadi cuma kasih ciuman hidung sih!"jawab Alima lirih.
__ADS_1
Samy memalingkan muka sambil menyembunyikan senyumnya yang hampir lepas. Begitu lega mendengar jawaban Alima, betapa beruntungnya dia dulu pernah mendapatkan ciuman dibibir.
Alima masih menunggu Byul yang tak kunjung bangun dari pingsannya, sampai tertidur di sisinya.
Samy terenyuh melihat pemandangan itu, tetapi mulutnya terus saja membisu tak mampu mengutarakan maksud hati.
Samy pergi dari sana, beberapa menit kemudian Byul membuka matanya dan tersenyum melihat Alima ada di sisinya.
"Maaf Alima, karena aku sudah menyakiti hatimu. Sebenarnya waktu itu aku ingin sekali menceritakan semuanya ke kamu, hanya saja aku nggak memiliki banyak waktu,"ucap Byul, "Aku melakukan ini supaya kamu dijauhkan dari orang-orang yang ingin berniat jahat."
Alima mendongakkan kepalanya ke arah Byul. Sontak membuat Byul terperanjat.
"Kamu dengar semua yang aku katakan?"tanya Byul sambil mengelus dada.
"Iya, gue udah denger semuanya,"jawab Alima,"Kenapa sih, lo harus senekat itu?"
"Karena aku terlalu sayang sama kamu,"
Samy mengembuskan napas lega setelah mendengar pernyataan dari Byul. Dia bersyukur karena Alima dicintai oleh laki-laki yang memiliki cinta yang besar, hati yang sabar.
Setelah melihat kondisi Byul berangsur membaik, Samy memutuskan untuk tidak menjatuhi hukuman padanya. Alima tampak begitu bahagia, mulai detik ini Byul berjanji untuk selalu jujur.
Samy merogoh saku celananya karena getaran yang terus menerus dirasakan.
Sebuah panggilan masuk dari Mamanya. Isinya, ajakan makan malam bersama di rumah.
Sesampainya di rumah, Samy mengira kalau Kiyara ada di sana. Ternyata hanya acara makan malam bersama keluarga saja.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Kiyara?"tanya Papanya.
"Samy sedang berusaha memperbaikinya Pa, doakan ya Ma, Pa,"jawab Samy lanjut menyantap makanannya.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Si Pengacara Kondang,"sambung Papanya membuat Samy terdiam.
"Sudahlah Pa, sekarang kita kan sedang makan malam bersama, alangkah baiknya jika kita membicarakan hal yang baik-baik saja!"sahut Mamanya.
Ibunya terlihat berkelintaran di depan rumah, menunggu putri semata wayangnya pulang.
"Ibu,"ucap Alima memeluk erat Ibunya.
"Kamu dari mana saja, kenapa baru pulang sekarang?"tanya Ibunya.
"Alima habis menanti ungkapan hati dadi laki-laki di hadapan Ibu ini!"jawab Alima sambil tersenyum manis.
......
__ADS_1