
Jumat malam sabtu, waktu Samy dan Alima bersatu kembali dalam sebuah misi.
Ditemani oleh beberapa petugas berseragam biru seperti Bripka Ahsan, Briptu Syafi, dan Briptu Indra tidak lupa juga Pak Lelaki Tua berkharisma.
Mereka pergi menuju ke tempat di mana peristiwa pembunuhan itu terjadi, di sebuah perusahaan konstruksi di Jawab Barat.
Gedung yang megah masih kokoh berdiri, walau warna dindingnya mulai memudar.
Samy menugaskan kepada anak buahnya untuk mencari barang bukti di sana, meski kejadian itu sudah lama mungkin masih ada puing bangunan lama. Dia sendiri pergi ke arah utara, tempat gudang perusahaan konstruksi. Sementara Alima pergi bersama Pak Lelaki Tua. ke arah selatan.
Mulutnya mengkerut, matanya membulat dan lebar, jantungnya berdenyut terlalu kuat, akhirnya tubuhnya pun terjatuh ke tanah.
Bruk ...
Salah seorang petugas yang berjaga di mobil polisi tersentak, mendengar suara benda jatuh itu cukup keras. Dia bergegas menuju ke asal suara tersebut.
Tidak ada cahaya, hanya ada pancaran sinar rembulan yang remang-remang. Saat kakinya melangkah ke arah Utara, terhenti tiba-tiba karena terbentur dengan sesuatu di sana.
Kedua bola matanya diarahkan ke bawah, seketika pupil matanya melebar melihat tubuh Samy sudah tergeletak di tanah. Dia pun memutuskan untuk menghubungi rekan-rekannya melalui HT.
Keadaan Samy semakin memburuk, dan harus dibawa ke rumah sakit. Mengetahui hal itu, Alima juga ikut ke sana.
Bu Mona yang hendak pergi tidur, langsung terperanjat mendengar kejadian yang menimpa putra semata wayangnya itu. Sebelum pergi ke rumah sakit, dia menghubungi suaminya yang kebetulan sedang keluar kota.
Pak Dhananjaya pun segera pergi dari sana setelah mendapat telepon dari istrinya.
Di rumah sakit Meilia, Samy dirawat. Dokter telah melakukan pemeriksaan padanya, dan mengatakan bahwa Samy mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan kondisi psikologis seseorang yang mengalami serangan panik. Rasa panik ini disebabkan oleh kejadian lampau yang menyakitkan hati dan membuatnya merasa takut.
Alima sama sekali tidak mengetahui hal ini, ternyata dia tidak sepenuhnya mengenal Samy.
Bu Mona dan Pak Dhananjaya pun tiba di rumah sakit. Ketika melewati Alima yang berdiri di sisi pintu ruang perawatan, Pak Dhananjaya semat berhenti sejenak menatap sinis wajah Alima.
Matanya masih tertutup rapat, tetapi detak jantungnya kembali normal. Beberapa menit kemudian, perlahan dia membuka kedua matanya. Bu Mona dan Pak Dhananjaya tersenyum lega setelah tahu putranya siuman.
Lebih baik aku tetap tutup mulut, nanti kalau sudah tiba waktunya pasti akan terbongkar.
Sudut mulutnya terangkat lalu memberikan setengah senyum.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan di sana? Lihatlah sekarang, gara-gara itu kamu jadi sakit!"ucap Mamanya.
"Samy hanya ingin mengetahui apa yang tersembunyi di sana, Ma,"jelas Samy membuat Papanya memalingkan muka.
__ADS_1
"Papa dari mana? Kok rapi banget?"tanya Samy.
"Dari luar kota, ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan di sana,"jawab Papanya.
"Di luar kota? Pasti pekerjaan itu tidak terlalu menguntungkan untuk Papa ya, makanya Papa bisa jenguk Samy ke sini,"cetus Samy matanya menelisik, mencari-cari apa ada jejak kebohongan di mata Papanya.
Pak Dhananjaya jadi berdeham, padahal tenggorokannya sedang tidak gatal. Bu Mona berinisiatif memberikan air minum, tetapi suaminya menolak, lalu pamit ke luar sebentar.
"Kamu mau makan apa?"tanya Mamanya.
Alima tengah duduk di kursi depan ruang perawatan. Melihat Pak Dhananjaya ada di sampingnya, dia buru-buru beranjak dari tempatnya duduk.
"Selamat Malam, Om,"sapa Alima.
Pak Dhananjaya tidak menjawabnya, dan pergi begitu saja. Saat hendak duduk kembali, dia mendengar seseorang telah memanggil namanya, dan ternyata itu Byul.
"Are you okay?"tanya Byul pada Alima.
"I'm okay,"jawab Alima, "Kamu ngapain ke sini? Terus tau dari mana kalau aku ada di sini?"
"Sebenarnya aku ngikutin kamu, cuma aku nggak mau kasih tau karena pasti kamu bakal nggak ngizinin,"
Byul pun mengajak Alima pulang, sampai di apartemen Byul terlihat sedang merogoh saku kemejanya. Dia memperlihatkan sebuah kotak kecil berwarna biru dan di dalamnya ada cincin bermata berlian indah untuk wanita di hadapannya saat itu.
"Tentu untuk wanita yang sangat aku cintai, Alima Puspandari,"jawab Byul sambil tersenyum manis.
Alima menghela napas berat. "Maaf Byul, tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan soal ini. Kamu tau kan, saat ini aku sedang berusaha untuk memperbaiki nama baik ayahku,"
Byul mengangguk pelan seraya tersenyum simpul. "Aku tau itu, tapi apa salahnya aku meminta kesungguhan dari kamu?"
"Tunggu, jadi kamu ragu menjalani hubungan ini sama aku? Byul, aku cuma ingin kamu bersabar sebentar!"
"Sampai kapan aku menunggu? Sampai akhirnya aku melihat kamu kembali ke Samy, gitu?
Alima tidak ingin mempermasalahkan hal ini, dia lebih memilih masuk ke apartemennya tanpa sepatah katapun pada Byul.
***
Satu minggu berlalu, Samy tidak gentar menghadapi semua rintangan yang ada di depan matanya saat ini. Tepat pukul 11 malam, Dia kembali mencari barang bukti ke perusahaan konstruksi.
Alima berdecak kagum. "Kamu yakin melanjutkan penyelidikan ini?"
__ADS_1
"Kenapa tidak?"cetus Samy.
Alima, Samy, dan Pak Lelaki Tua masuk ke dalam gudang perusahaan konstruksi itu, sementara Bripka Ahsan, Briptu Syafi dan Briptu Indra berjaga di luar gerbang masuk gudang.
Pak Lelaki Tua meminta Samy mencari bukti di tempat paling ujung gudang, di sana dia tidak menemukan barang bukti. Tetapi Alima terlihat tengah memungut sebuah helm proyek yang usang bertuliskan nama ayahnya.
Samy dan Lelaki Tua pun berjalan menghampiri Alima, lalu bergegas pergi dari sana.
"Seorang penjahat nggak akan meninggalkan jejak kakinya,"cetus Alima.
Di ruang persidangan, mata semua orang tertuju pada ayahnya. Alima hadir sebagai kuasa hukum ayahnya. Ibunya duduk di samping Pak Lelaki Tua, sebagai saksi mata.
Yang Mulia datang dan memberi hormat pada ayahnya.
"Saudara Yusuf Iskandar, terdakwa kasus pembunuhan terhadap pemilik perusahaan konstruksi pada tahun 1997 yang pada hari ini melaksanakan sidang putusan pengadilan yang didampingi oleh kuasa hukumnya, Alima Puspandari dari kantor Artha & Rekan, dipersilakan untuk menyampaikan pendapat,"ucap Hakim Ketua.
"Terima kasih Yang Mulia, Saya Alima, mengatakan bahwa saudara Yusuf Iskandar tidak bersalah atas tuduhan kasus pembunuhan terhadap seorang pemilik perusahaan konstruksi yang terjadi pada tahun 1997 silam, dengan menyertakan barang bukti dan saksi mata,"ucap Alima sambil mengeluarkan barang bukti, sebuah helm proyek.
Pak Lelaki Tua pun berdiri menghadap ke arah Yang Mulia.
"Saya bersumpah atas nama Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Pak Yusuf Iskandar tidak bersalah. Dia hanya dijadikan sebagai kambing hitam oleh seseorang yang membenci dirinya,"jelas Pak Lelaki Tua.
"Kenapa Anda tidak bersaksi ketika Saudara Yusuf Iskandar divonis?"tanya Hakim Ketua.
"Saya minta maaf, karena di waktu yang sama istri saya saat itu sedang sakit keras. Tidak ada yang merawatnya selain saya sendiri, Yang Mulia."
Yang Mulia telah mengetuk palunya, sidang putusan pun berakhir. Ayah Alima, terbukti tidak bersalah, dan dibebaskan.
Dibebaskan setelah bukti balistik yang digunakan dalam persidangan pada Desember 2018 untuk pembunuhan terhadap seorang pemilik perusahaan konstruksi tidak sesuai.
Ahli balistik mengatakan peluru yang ditemukan dalam kasus pembunuhan itu bukan berasal dari saudara Yusuf Iskandar.
"Matahari bersinar,"ucap Pak Yusuf dengan emosional setelah ke luar penjara, "Mereka memiliki niat mengeksekusi saya untuk sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya seharusnya tidak dipenjara untuk hukum mati selama 15 tahun,"
Kebebasannya disambut haru dan bahagia oleh kerabat dan keluarganya.
Ketika keluar dari ruang sidang, Alima melihat Samy membawa Papanya dengan kedua tangannya yang diborgol. Dia berjalan menghampirinya.
"Samy, apa sedang yang terjadi?"tanya Alima.
"Atas nama Papa Saya, Saya minta maaf ya Alima. Dan saya ikut bahagia melihat ayah kamu dibebaskan,"jawab Samy sambil tersenyum simpul lalu pergi ke Mabes Polri.
__ADS_1
Dunia memang hanya selebar daun kelor. Tidak ada yang tahu, ke mana takdir akan membawa kita berpijak. Bertemu dengan orang-orang di masa lalu, tidak selalu berakhir mimpi buruk. Ada yang memberikan pembelajaran, ada yang memberikan pengalaman dalam hidup. Keduanya saling berkaitan, saat kamu memilih menjalani hidup ini. Hidup semampunya, berjuang sepenuhnya.
...••...