
Keringat tak henti mengucur ketika memasuki ruang sidang utama di lantai dua gedung PN Jakarta Pusat. Ratusan orang berjubel dan memadati ruang sidang yang hanya cukup menampung kurang dari ratusan orang.
Mukanya pucat, matanya sayu, mulut menggigil kaku kala semua orang di dalam menatapnya dengan ragu.
Duduk di atas kursi kayu jati yang tak tahu apakah mampu menopang tubuhku agar tak tumbang menghadapi putusan Yang Mulia.
Sesekali menghela napas panjang dan mengembuskannya.
Tak perlu takut, karena memang jalan ini yang telah ku tempuh. Meski di dalam terasa remuk pedal ini terus kukayuh sampai membawaku ke tempat yang membuatku merasa lebih baik.
Selama proses putusan pengadilan berlangsung, tiba-tiba Mayor Samy mengacungkan tangan kanannya, sehingga Hakim Ketua memutuskan untuk menghentikan jalannya sidang sementara. Samy meminta rekan-rekannya membawa masuk salah seorang yang sengaja dia bawa ruang sidang.
Ketika orang itu memasuki ruangan, Darren terkejut langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Saudara Darren, dimohon untuk tetap duduk di tempat!"ucap Hakim Ketua.
Darren pun duduk kembali, terlihat kedua telapak tangannya mengepal kuat.
"Mayor Samy, siapa yang Anda bawa ini? Apakah ada kaitannya dengan terdakwa?"tanya Hakim Ketua.
"Ada Yang Mulia, orang ini adalah otak dari kasus narkoba yang menjerat saudara Darren."
Samy membawa seorang gembong narkoba jenis sabu-sabu yang ternyata dia adalah Pria Batu Bata.
Setelah kejadian penculikan Alima tempo hari, Pria Batu Bata yang berusaha melarikan diri ke luar negeri, berhasil diringkus polisi saat check in di Bandara.
Tak hanya itu, Pria Batu Bata juga menjadi seorang gembong narkoba jenis sabu-sabu internasional.
Tragedi di New York, ketika Samy dan rekan-rekannya berhasil meringkus seorang pedagang makanan kaki lima yang salah satu bahannya menggunakan narkotika di dalamnya. Dan tak menyangka, kalau pedagang tersebut adalah adik kandung dari Pria Batu Bata.
Ketokan palu Yang Mulia menjadi tanda bahwa Darren dinyatakan telah bebas dari hukuman, karena dia terbukti bukan seorang pengedar narkoba apalagi pemakai aktif, dia masih tergolong pada tahap penggunaan beresiko, namun seiring berjalannya waktu dia bisa melewati masa kritis itu.
Sementara Pria Batu Bata, yang aslinya bernama Baron. Dijatuhi vonis penjara selama 15 tahun.
Kedua orang tuanya menghampirinya sambil memeluk erat. Darren menjabat tangan Samy, dan memeluknya.
Samy keluar dari ruang sidang, lalu tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang pernah dia temui di Kampus Cipta Bangsa.
__ADS_1
"Hai! Ketemu lagi kita!"sapa Samy membuatnya sedikit mengerutkan keningnya sesaat sebelum pupil matanya melebar.
"Mayor Samy, ya? Iya nih Pak, nggak nyangka bisa ketemu di sini."
Wanita itu bernama Amel, seorang Mahasiswi yang mengambil mata kuliah Hukum, itu sebabnya dia ada di gedung PN Jakarta Pusat.
"Mayor Samy, sedang apa di sini?"
"Baru saja selesai menjalani sidang,"jawab Samy, "Oh iya, saya belum tau nama kamu. Supaya gampang nanti misal ketemu lagi di jalan!"
"Nama saya, Amel. Mahasiswi Hukum Cipta Bangsa,"jelasnya membuat Samy melotot.
Amel ini, apakah Amel yang sama saat Darren ceritakan waktu itu ya?
Tidak lama kemudian, Samy berpamitan pada Amel, karena harus kembali ke Mabes Polri.
***
Memandang wajah ibu yang sedang bersusah hati, jauh lebih menyakitkan dibanding memikirkan melulu soal perasaannya yang sukar dikendalikan.
Dasar Aku! Tak seharusnya melibatkan perasaan yang salah ini dalam pekerjaan atau ikatan persahabatan. Kini keduanya pergi dari hidupku, tetapi perasaan ini masih nyaman bersemayam di dalam hati.
"Alima nggak bisa menerima kekecewaan dari Ibu! Jangan hukum Alima seperti ini, Bu,"ucap Alima di depan pintu kamar Ibunya, yang sudah dua hari sejak kepulangannya tak mau keluar dari kamarnya.
"Kalau kamu, nggak mau buat ibu kecewa. Tolong jauhi laki-laki itu!"pinta Ibunya muncul dari balik punggungnya.
Alima terkejut melihat Ibunya berdiri di belakangnya.
"Ibu kok bisa ada di sini? Bukannya udah 2 hari ini ada di dalam kamar terus?"tanya Alima.
"Kamu pikir Ibu ini nggak butuh waktu mandi, sama makan juga? Ini tuh strategi Ibu aja, biar kamu sadar!"jawab Ibunya sambil berjalan menuju ke sofa.
"Ibu harus tau, Alima sudah berusaha untuk melupakannya. Jujur, perasaan Alima udah lama nggak ada buat dia saat memutuskan hubungan itu. Tapi tiba-tiba kita dipertemukan lagi, rasa itu mendadak muncul, sampai akhirnya Alima memilih meredamnya setelah tau dia adalah kekasih Kiyara,"jelas Alima, "Semua terasa berjalan begitu cepat, Bu. Sampai Alima nggak bisa menghentikannya."
Menjelang Maghrib, Alima mendapat chat dari nomor tidak dikenal. Isinya informasi tentang Kiyara, yang sekarang ini tengah sakit. Dia tahu, Kiyara hanya tinggal seorang diri di rumahnya.
Alima tetap bersikeras untuk pergi ke Jakarta menemui Kiyara meski telah dilarang oleh Ibunya.
__ADS_1
Sampai di sana, dari luar rumah Kiyara tampak sunyi. Karena setahu dia walau tengah malam, masih ada seorang penjaga rumah . Gerbang rumahnya digembok, tetapi Alima mencoba membukanya menggunakan penjepit kertas, dan akhirnya bisa terbuka.
Lalu membuka pintu rumahnya dengan kartu kredit.
Jika menelepon Kiyara percuma saja, karena pasti akan menolak panggilan telepon darinya. Saat berhasil terbuka, Alima perlahan membuka pintu rumahnya, sampai di ruang tamu indera penciumannya mencium bau terbakar. Si jago merah menjalar ke seluruh bagian ruang tamu, karena panik dia berlari menuju ke tangga.
Asapnya mengepul membuat dadanya sesak, dia berjalan ke arah kamar Kiyara, saat dibuka ternyata tidak ada di dalam sana. Alima menelepon Byul, tapi nomornya tidak dapat dihubungi.
Api semakin besar, mengepung dirinya.
Warga yang mengetahui kejadian itu, menghubungi pemadam kebakaran, dan pihak kepolisian.
Beberapa menit kemudian, Pasukan Merah itu tiba. Disusul Petugas berseragam biru. Alima berteriak minta tolong, namun sepertinya suaranya tak sampai ke telinga mereka.
"Apakah ada orang di dalam?"tanya Samy.
"Warga bilang, pemilik rumah sedang pergi ke luar kota,"jawab Petugas.
Ketika dia tahu, pintu rumah Kiyara sedikit terbuka. Dia pun memutuskan masuk.
"Apa ada orang di sini?"teriak Samy.
Alima yang duduk selonjoran di balik pintu kamar Kiyara, lalu beranjak saat mengejar teriakan seseorang di bawah.
"Tolong Saya!"teriak Alima membuat Samy berlari menghampirinya.
Melewati kobaran api yang menyala di depan matanya, membuatnya teringat pada tragedi masa kecil.
Samy mencoba memadamkan rasa takutnya sambil berjalan pelan-pelan menaiki anak tangga, sampai akhirnya menemukan Alima.
"Alima, Kita harus segera keluar dari sini!"jelas Samy.
"Caranya gimana? Api itu sebentar lagi akan melahap kita di sini!"
Samy menatap ke langit-langit, melihat ada sebuah ventilasi udara yang cukup besar, menjadi alat untuk mengeluarkan dirinya dan Alima dari sana. Samy naik terlebih dahulu, setelah itu dia menarik tubuh Alima agar bisa keluar. Genggaman kedua tangan yang kuat, walau raga terasa rapuh. Sorot mata mengkilap karena rasa cemas turut menyambarnya saat itu. Tak disangka, mereka berdua berhasil melewati maut.
Alima memeluk erat tubuh Samy begitu sebaliknya. Degup jantung yang keras terdengar sampai luar, sontak membuat dia melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
Butuh waktu 1 jam memadamkan api, Petugas Pemadam Kebakaran mengevakuasi mereka yang berada di balkon rumah Kiyara.
......