
Selimut sudah terlipat rapi di dekatnya.
Namun wajah laki-laki itu terlihat kusut sekali.
Dia mengambil pandangan ke arah pintu ruang ICU.
"Terima kasih buat selimutnya,"ucap Alima pelan.
Samy hanya membalasnya dengan tersenyum simpul.
Alima beranjak dari tempat duduknya sambil berkelintaran di depan ruang ICU. Tidak lama kemudian, Pak Helmy dan Bu Karmila tiba di rumah sakit.
"Selamat pagi Alima, Samy. Kalian pasti belum sarapan, kan?"ucap Bu Karmila.
"Pagi, Tante, Om!"jawab Alima.
"Pagi juga Om, Tante. Kebetulan kami baru saja terbangun dari mimpi yang indah,"cetus Samy membuat Alima melotot.
Pak Helmy dan Bu Karmila tertawa.
"Maaf ya, kedatangan kami jadi menganggu kalian berdua,"goda Pak Helmy.
Manusia satu ini memang sengaja membuat wajahku terbakar.
***
"Kamu ada di mana sekarang?"tanya Pak Helmy saat menerima telepon.
Bu Karmila meminta Alima dan Samy untuk menyantap makanan yang dibelinya.
"Setelah selesai makan, saya akan pergi ke Polres,"ucap Samy, "Kamu mau tetap di sini atau ke rumah Kiyara?"
Alima terdiam sesaat. "Aku mau pergi ke kantor aja, sekalian mau bilang kalau aku nggak jadi resign dari sana."
Samy pun mengantar Alima ke kantornya menggunakan mobil Pak Helmy.
Seorang laki-laki yang baru turun dari mobilnya, mengamatinya di parkiran mobil.
"Mereka tampak nggak asing di mataku. Aku coba ingat-ingat lagi,"ucap lirih Adi.
Lihatlah Tamara tengah asyik menyeruput secangkir kopi hitam murni tanpa gula, konon katanya salah satu butiran gula telah menancap ke wajahnya, sehingga manis terasa.
"Huh ..., Mata gue pasti lagi kabur nih! Itu Alima bukan, sih?"ucap Tamara sambil mengamati mobil yang baru saja berhenti di depan kantornya.
"Terima kasih,"ucap Alima sambil melepas seat belt.
Alima melirik ke arah Samy yang ikut melepas seat belt.
"Kamu mau ngapain?"tanya Alima.
"Saya mau ikut kamu masuk ke kantor,"jawab Samy membuat Alima melongo.
"Nggak perlu, mendingan kamu cepat pergi dari sini. Karena harus ke Polsek, kan?"
Samy mengangguk pelan.
"Baiklah, tapi setelah saya pastikan kamu baik-baik saja di dalam sana,"jelas Samy tersenyum.
Dia pikir, aku masih anak PAUD apa?
__ADS_1
Semua orang yang berada di dalam kantor berdiri berjajar menyambut kedatangan Alima.
Begitu pintu terbuka, mereka kompak menundukkan kepala sebagai tanda rasa hormat padanya.
Bagai melayang di udara, Alima merasa tersanjung. Masih banyak yang mendukungnya.
"Welcome back to the dream world, Alima!" teriak Tamara. (Selamat datang kembali ke dunia mimpi, Alima!)
Alima melambaikan tangannya pada Tamara.
"I know this is awkward, but welcome back!"sewot Seniornya, Chaterine. (Ini terdengar aneh, tapi selamat datang kembali!) Lalu mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Tamara menghampirinya sambil memanyunkan bibirnya.
"Ngeselin banget sih! Gue nggak diajak liburan!"cetus Tamara membuat Alima meringis.
"Siapa bilang gue liburan? Waktu itu gue pergi ke rumah nyokap yang lama,"
"Terus chat yang lo kirim ke gue waktu itu gimana?"tanya Tamara.
Alima menghela napas berat. "Sebenarnya gue emang nggak bisa kerja di sini lagi setelah nyokap memutuskan untuk pulang ke Indramayu. Tapi ternyata, gue masih diberi kesempatan menggapai impian ke Jakarta!"
Tamara merangkul erat Alima.
"Permisi, paketnya Kak!"ucap seorang kurir paket.
"Maaf Mas, di sini nggak ada yang pesan makanan atau minuman,"sahut Tamara.
Sang Kurir paket menyodorkan handphonenya pada Tamara dan Alima.
Di layar handphonenya ternyata terdapat alamat kantor mereka.
"Isinya satu buah kipas lipat polkadot Kak,"jawab Kurir Paket membuat Tamara dan Alima bersitatap.
Gaman Kipas Lipat milik seniornya juga ikut kembali.
****
Karena tidak kunjung mendapatkan petunjuk. Adi pun pergi menemui Papanya.
Di sisi lain, kondisi Darren berangsur membaik, setelah 5 hari mengalami masa kritis.
Dia langsung dipindahkan ke ruang perawatan untuk pemulihan.
"Alhamdulillah, Mama senang sekali melihat kamu tersenyum seperti ini,"ucap Bu Karmila sambil mengusap kepala Darren.
Darren terus memapang senyum manis di wajahnya.
"Ma, Pa, Bang Adi di mana? Apa dia nggak mau menemui Darren?"tanya Darren muram.
"Gue di sini. Mana mungkin gue sejahat itu ke lo!"sahut Adi yang tiba-tiba menyembul dari balik pintu.
"Cepat sembuh ya, biar nanti kita bisa touring bareng lagi!"cetus Adi membuat Darren meringis.
Pak Helmy dan Bu Karmila keluar, membiarkan mereka berdua berbincang.
"Gue kira lo pinter, ternyata salah!"sindir Adi.
"Ajari gue dong, biar bisa jago kayak lo, Bang!"jawab Darren tersenyum.
__ADS_1
"Ogah ah, gue nggak mau menerima pendaftaran anak bau kencur!"goda Adi.
Keheningan pun pecah menjadi penuh canda tawa.
Darren tahu bahwa Abangnya itu sangat membenci Mamanya.
Namun tidak pernah berhenti menyayanginya.
Darren menceritakan semuanya pada Adi. Tidak lupa pada bagian dirinya bertemu Malaikat Cantik yang menariknya keluar dari lorong gelap gulita.
Adi tentu tidak menggubris ocehannya.
Ketika sampai menyebut nama Alima.
Seketika dia melotot.
"Tunggu, lo bilang namanya tadi Alima?"tanya Adi.
Darren mengangguk pelan.
Adi mengepal erat tangannya. Dalam hati, dia meyebut payah dirinya sendiri karena tak bisa mengingat jelas orang yang sudah lama dikenal. Berarti cowok dan cewek yang gue temui di parkiran mobil, adalah Samy dan Alima? Kalaupun benar itu mereka. Tak ada bedanya juga, jika bertemu bukannya menegur sapa, malah menghindar. Tak ada yang perlu dibanggakan, pada diri yang merasa hebat dari Tuhan.
Darren ternganga melihat laki-laki di sisinya itu segera berubah menjadi Mike Tyson.
"Bang, are you okay?"tanya Darren membuat Adi mengembuskan napas lega.
"Sedikit ada kejut listrik di tubuh gue, setelah mendengar kisah buruk lo itu!"jawab Adi membuat Darren mengalihkan pandangannya.
Adi keluar dari ruang Darren di rawat.
Dia menghampiri papanya untuk mendapatkan informasi tentang Alima.
Sayangnya tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut papanya.
"Ayolah Pa! Adi janji nggak akan merebut dia dari Darren!"desak Adi membuat Pak Helmy melotot.
Setelah berhasil menemukan alamat kantor Alima. Adi pun masuk, lalu sengaja menunggunya di ruang santai.
Kebetulan Alima ingin mengunjungi balkon kantornya, sebelum itu dia harus melewati ruang santai.
Langkah kakinya terhenti ketika seseorang menyebut namanya.
"Hai, Alima. Bagaimana kabarmu?""ucap Adi membuat Alima menoleh cepat ke arahnya.
Alima terdiam sesaat, mengingat rupa laki-laki di hadapannya.
"Adinata Dirja?"cetus Alima.
"Betul sekali! Nggak nyangka ya kita bisa ketemu di sini!"
"Ini bukan sebuah kebetulan, tapi aneh nggak sih, kamu bisa datang kemari. Iya, kan?"geram Alima.
Adi berjalan mengitarinya. "Alima, salah satu cewek di kelas yang nggak ada perubahan sama sekali."ucap Adi, "Angkuh, sombong, aku benar, kan?"
Alima menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan pelan.
"Maaf ya sebelumnya, kalau niat kamu ke sini cuma mau menghina aku, bukan di sini tempatnya. Kenapa? Karena semua orang yang ada di sini sudah tau luar dalam hati aku!"jelas Alima membuat Adi terdiam.
......
__ADS_1