Alima Dasar

Alima Dasar
Aku Bingung Jadinya, Harus Ku Jawab Apa


__ADS_3

Alima mengajak Kiyara ke ruang tamu.


Setelah itu menyuruhnya membuka pintu rumah.


Tada! Samy menyembul di depan matanya.


"Selamat pagi!" ucap Samy tersenyum manis.


"Mau apa kamu ke sini?"sewot Kiyara.


Alima mendecak kesal di balik pintu rumah, melihat sikap Kiyara yang tidak ramah.


"Udahan dong marahnya. Kita jalan yuk!"desak Samy membuat mulut Kiyara berkedut.


"Hari ini aku sibuk! Nggak bisa diganggu,"cetus Kiyara.


"Weekend gini sibuk ngapain? Tiduran di kasur?"


Kiyara meringis. "Saat terlelap otak akan membersihkan racun-racun tidak berguna yang terbentuk ketika kita berpikir seharian, apalagi memikirkan hal menyakitkan."


Alima mengendalikan diri agar tidak  tertawa.


Samy pun menghela napas berat.


"Aku minta maaf, karena udah buat kamu kecewa!"ucap Samy dengan santai.


"Kali kedua kamu ngomong kaya gini. Ujung-ujungnya selalu nyakitin perasaan aku!" Samy terus berusaha keras, berharap Kiyara mau memaafkannya.


Alima keluar dan memaki Samy di depan Kiyara.


"Cowok kaya dia emang nggak pantas untuk dimaafkan!"sindir Alima membuat Kiyara melotot.


"Tolong kamu jangan ikut campur masalah saya!"tegas Samy.


"Masalah Kiyara, masalah gue juga!"ucap Alima,"Kalau lo beneran sayang sama dia, harusnya bisa ngertiin perasaannya!"


Kiyara meminta Alima untuk diam.


Namun dia tetap menyuarakan hatinya.


Samy memalingkan wajahnya. "Bagaimana dengan kamu, apa bisa ngertiin perasaan saya?"ucap Samy membuat Alima terdiam sesaat.


"Cukup. Aku minta kamu pergi dari sini!"usir Kiyara.


Samy pun pergi dari rumah Kiyara, tanpa memalingkan pandangannya pada Alima.


"Astaga Al, kamu bisa nggak sih bilang dulu ke aku kalau Samy ada di sini. Minimal aku cuci muka gitu!"keluh Kiyara sambil masuk ke dalam rumahnya.


***


Bripka Ahsan menerima sebuah paket berisi lembaran foto-foto pelaku kasus narkoba yang baru terkuak kebenarannya pada minggu ini.


Ahsan pergi ke ruangan Samy. Namun dia tidak ditemukan di sana.


Aku terjebak dalam perasaanya yang pelik.

__ADS_1


Sesumbar melawan rasa, pada akhirnya kembali menggantung asa.


Mampukah Si Korban mencurinya atau justru menemukan nestapa?


Bersama hembusan angin yang menyejukkan, mulai merenung memikirkan cara untuk menyingkirkan bayang-bayang masa lalu di benakku.


Samy duduk sendiri di bangku taman luar lapangan.


Ahsan menghampirinya seraya duduk di sampingnya.


"Lo boleh ceritain semuanya ke gue. Jangan pernah merasa sendirian, karena gue masih ada di sini!"ucap Ahsan sambil merangkul Samy.


"Perasaan itu udah lama hilang. Tapi kenapa Tuhan mempertemukan kita kembali?"jelas Samy dengan sorot mata mengkilap.


"Gue tau ini nggak mudah buat lo. Gue juga nggak tau kenapa orang selalu termakan oleh kata, semakin berusaha lo melupakannya maka akan semakin melekat di ingatan."ucap Ahsan, "Menurut gue, lo harus membiarkannya mengalir gitu aja, sampai jauh dan akhirnya ke laut."


Bripka Ahsan menyodorkan beberapa lembaran foto pada Mayor Samy.


Di dalam foto tersebut terlihat beberapa seorang pemuda sedang mengadakan pesta sabu di kawasan rusun.


Tersangka masih di bawah umur.


Samy memerintahkan anggotanya untuk segera bergerak ke lokasi.


Bripka Ahsan berperan sebagai seorang pemalak yang galak.


Sedangkan Briptu Syafi berperan sebagai penjual lontong sayur, dan Briptu Indra sebagai pembeli yang suka hutang.


Sampai di rusun pukul 5 sore. Mereka langsung mengambil posisi yang sudah ditentukan.


Mang Dedeng mangkal di depan gang rusun, tidak jauh dari tempat berkumpulnya pemuda-pemuda pesta sabu-sabu.


Dari arah selatan tampak seorang pemuda berjalan menghampirinya.


"Mang, seperti biasa ya bungkus 1 lontong sayurnya!"ucap Diky alias Briptu Ihsan.


"Nggak mau ah! Kalau seperti biasa, saya nggak dapat uang dong,"keluh Mang Dedeng.


"Mamang nggak kasihan apa, saya belum makan nih dari pagi!"jelas Diky muram.


"Bagaimana dengan saya, yang belum ada pembeli sama sekali. Sekalinya dapat, bayarnya pakai nangis!"


Gubrak ...


Seorang laki-laki berambut gondrong menendang gerobak Mang Dedeng.


"Mana uang lo, serahin semua ke gue!"ucapnya sambil melotot.


"Aduh Gusti! Cabut saja nyawaku sekarang!"ucap Mang Dedeng penuh penekanan.


"Jangan! Saya nanti nggak bisa makan lontong sayur Mang Dedeng lagi!"sahut Diky.


Mendengar keributan di sana. Salah seorang pemuda berapi-api matanya. Kemudian melangkah menuju mereka.


"Woi, Bisa diem nggak!"ucapnya dengan cepat.

__ADS_1


"Lo ada masalah apa sama Mang Dedeng?"cetus Diky, "Minta uang atau mau ngutang?"


Pemuda itu nyaris saja menghajar Diky, namun berhasil menangkisnya.


"Eits, nggak kena!"goda Diky membuat Pemuda itu memanggil teman-temannya.


"Anak muda zaman sekarang bisanya main keroyokan. Maju lo semua!"ucap Diky sambil memasang kuda-kuda.


Salah satu pemuda matanya terbelalak,  melihat sekilas pistol di saku celana Diky.


Menyadari hal itu, dia menyuruh  teman-temannya berlari menuju rusun.


Bang Gondrong mengejar mereka disusul Mang Dedeng dan Diky.


Dor... tembakan dilayangkan ke udara.


Aksi kejar-kejaran itu berlangsung selama 10 menit.


Sebagian pelaku bermain petak umpet.


Ada yang turun berpegangan dengan tiang dari ketinggian lantai 3, membuat mereka juga ikut melakukannya.


Bruk! Bripka Ahsan berhasil meringkuk salah satu pelaku lalu membawanya masuk ke mobil polisi.


Pelaku yang bersembunyi di lorong yang gelap gulita juga berhasil ditangkap.


***


Di dalam ruang interogasi yang sempit dan minim cahaya, para pelaku selalu dituntun untuk mengatakan sejujurnya.


Samy datang sambil memapang senyum di wajahnya, kemudian meminta mereka melepaskan bajunya.


Karena tubuh mereka tergenang keringat.


Sebuah permainan akan berakhir, jika kamu tidak bisa bermain dengan cantik.


"Kalian butuh sesuatu yang bisa membuat bersemangat?"ucap Samy, "Saya punya uang, terserah mau dibelikan apa!" Melirik satu demi satu pemuda yang duduk berjajar di lantai.


"Serius nih nggak ada yang mau ambil uangnya? Aneh ya, karena seharusnya pemuda seumuran kalian itu lagi banyak butuh uang, tapi kalian sama sekali nggak peduli!"jelas Samy.


"Kamu! Apa untungnya mengkonsumsi obat-obat terlarang?" tunjuk Samy ke salah satu pemuda.


Pemuda tersebut tetap membungkam. Jangankan menjawabnya, menatap wajah petugas yang ada di hadapannya saja tidak mampu.


Bripka Ahsan datang memberikan beberapa data para pelaku pada Mayor Samy.


Matanya melebar seketika saat mengetahui salah satu dari pelaku kasus narkoba jenis sabu itu ada anak, sahabat Papanya.


"Kamu yang belum menjawab pertanyaan saya, siapa nama ayahmu!"ucap Samy pada pemuda yang tadi dia tunjuk.


"Namanya Helmy Faishal,"sahutnya sambil membuang muka.


Samy tidak salah menduga, bahwa dia benar-benar anak, sahabat papanya.


......

__ADS_1


__ADS_2