Alima Dasar

Alima Dasar
Cerita di Kampus Cipta Bangsa


__ADS_3

Panik setelah tahu Alima berhasil lolos darinya. Ahsan memutuskan untuk menghubungi Samy.


Namun belum juga mendapatkan jawaban.


Karena ternyata Samy telah tiba di Kampus Cipta Bangsa.


Gedung-gedung yang menjulang tinggi, kokoh berdiri di atas bumi sejak tahun 1952.


Wajah bangunannya pun tidak banyak berubah, hanya sedikit sentuhan warna cat dinding saja.


Muncul puing-puing kenangan dalam benaknya, pada waktu dia bertarung dengan kebodohan di Kampus Akademi Polisi Republik Indonesia.


Tentang bagaimana cara melawan rasa sakit, meredam rindu untuk kedua orang tua.


Sudut mulutnya terangkat ketika melihat seorang Mahasiswi duduk melamun di bawah pohon beringin yang memberinya keteduhan pada tubuhnya yang tersengat terik matahari, namun tidak bisa memberikan kesejukan dalam hatinya.


Samy berjalan menghampirinya, sambil memapang senyum manis di wajahnya.


"Halo! Kamu sedang apa di sini?"tanya Samy pada Mahasiswi itu.


Dia tidak menggubris perkataannya. Yang terlihat di sana hanyalah wajah masam.


Perlahan mata indah itu menatapnya, mungkin karena dirinya mulai terusik.


"Bapak yang bernama Samy Fajar Ahsa, bukan?"tanyanya sambil menunjuk.


"Iya, kok kamu bisa tahu nama saya?"jawab Samy, "Padahal kita belum kenalan, apalagi nggak memakai nama dada di pakaian saya,"


Mahasiswi itu meringis. "Di sini mana ada Mahasiswa setua Bapak!Melangkah pergi dari sana.


Samy berjalan mengikutinya, menuju ke ruang kelas.


Mahasiswi itu ditunjuk sebagai ketua panitia pelaksana penyuluhan bahaya narkoba.


Seorang Mahasiswa datang menghampiri Samy, dia adalah salah satu pemuda yang tergabung dalam komunitas di kampusnya bernama COGAN memiliki arti Cowok Golongan Anti Narkoba.


"Selamat pagi, Pak!"sapa Mahasiswa itu sambil memberikan hormat pada Samy.


"Selamat pagi! Apakah kita bisa memulainya sekarang?"


"Tentu Pak, mari ikut saya."


Mahasiswa itu paling populer di kampus Cipta Bangsa. Selain sebagai penggagas komunitas cogan, dia juga aktif melakukan kegiatan sosial di luar kampus.


Sampai perkara dunia asmara pun tidak dihiraukan olehnya, meski banyak wanita cantik yang menawarkan diri menjadi teman kencannya.


Samy menjelaskan beberapa poin penting mengenai narkoba dan akibatnya, menceritakan sebuah kisah Belenggu Narkoba Pada Generasi Muda. Peristiwa yang menimpa Darren.


Samy sama sekali tidak menyebutkan nama pelaku kasus narkoba jenis sabu-sabu itu. Namun Mahasiswi yang dia temui di bawah pohon beringin tiba-tiba menjadi terdiam.


Seolah-olah dia mengenali sosok yang Polisi itu ceritakan.


Hampir 2 jam berjalan, Samy mengakhiri penyuluhan bahaya narkoba dengan mengajak semua generasi muda untuk menjauhinya, mencobanya sedikit memang menenangkan, lama-lama menjadi ketagihan, dan akhirnya bisa mematikan. Lebih baik patah hati karena cinta daripada harus patah mimpi karena narkoba.


Sebelum Samy meninggalkan kampus Cipta Bangsa, Mahasiswi itu menghampirinya.


Napas yang terdengar patah-patah, dia mulai berbicara dengan suara yang berat.


"Maaf Pak, saya mendengar kisah yang bapak tadi ceritakan. Begitu menarik sekali!"ucapnya memaksakan senyum.


"Oh iya? Saya nggak menyangka kisah yang saya bawa bisa membuat kamu sedih,"jawab Samy membuat Mahasiswi itu menelan ludahnya.


Perlahan dia mulai menceritakan hal yang sama persis dengan kisah yang Samy sampaikan di kelas.


Namun dia tidak mengatakan semuanya, dan membuat prasangka Samy salah.


"Saya harap suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali ya! Senang bertemu dengan kamu dan teman-teman semua yang ada di sini!"ucap Samy.


"Terima kasih Pak, saya juga mau meminta maaf atas sikap dan perilaku yang buruk terhadap Bapak." Senyumnya benar-benar tulus.


__ADS_1



Alima menunggu Samy di luar gerbang kampus Cipta Bangsa.


Tidak lama kemudian, mobil Samy keluar, Alima berlari dan menghadang jalannya.


Sontak membuat Samy mengerem secara mendadak.



"Kenapa dia bisa ada di sini?"tanya Samy seorang diri.



Lalu keluar dari mobilnya.



"Puas kamu udah buat aku malu di depan banyak orang?"cetus Alima melototi Samy.



"Itu bukan salah saya! Kamu sendiri yang nggak bisa menepati janji!"jawab Samy memalingkan wajahnya, "Kalau kamu nggak bisa, bilang aja! Nggak perlu buat drama kayak gini!"



Alima melongo. "Kok jadi kamu yang marah? Harusnya aku yang bilang gitu ke kamu!"



Alima membalikkan badannya, dan mengepalkan kedua tangannya.


*Dalam hati, dia membenci dirinya sendiri karena tak bisa menahan diri untuk menolak pria yang pernah singgah di hatinya itu. Meski kerap mendapat penolakan darinya. Walau kenyatannya rasa cinta sudah lama mati, namun semakin sulit rasanya membuang jauh-jauh dari benaknya selama kedua mata masih melihatnya*.



Samy tidak menghentikan langkahnya, yang berjalan ke arah mobil di depan sana, bersama seorang laki-laki di dalamnya bernama Byul.




"Gue ngikut lo aja deh!"



Di dalam ruang tahanan, dia menanti dua hal yaitu cinta yang membawanya pada kebebasan atau kebebasan yang membawanya pada cinta.


Matanya selalu menatap lorong redup yang menjurus ke arahnya, berharap ada setitik cahaya di baliknya dan muncul Malaikat Cantik.



2 hari berlalu bagaikan sewindu memenjarakan rindu padanya.


Tapi justru sosok Malaikat tak bersayap yang menghampirinya.


Bu Karmila datang membawa rantang makanan di tangannya untuk putra semata wayangnya.



"Bagaimana kabar kamu hari ini, Sayang?"tanya Mamanya.



"Baik Ma, Mama sendiri gimana?"



"Tentu baik dong, buktinya sekarang bisa menjenguk kamu."


__ADS_1


Samy juga datang menjenguknya.


Darren yang semula duduk manis langsung beranjak melihat kedatangannya.



"Ada apa Darren?"tanya Samy.



Dia mengamati sekelilingnya.



"Sampai mata kamu mengeluarkan darah pun dia nggak akan pernah datang kemari!"ucap Samy membuat Darren muram.



"Darren, lihatlah mama masakin makanan kesukaan kamu nih!"sahut Mamanya menyodorkan rantang makanan pada Darren.



Darren meminta pada Mamanya untuk berbicara empat mata dengan Samy.


Tentu Bu Karmila tidak merasa khawatir lagi karena anaknya sudah sembuh.



"Sebenarnya ke mana Malaikat Cantik pergi?"tanya Darren pada Samy.



Samy menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaannya.



"Sudahlah, jangan memikirkan soal itu melulu. Lebih baik kamu fokus jaga kesehatan!"jawab Samy membuat wajahnya cemberut.



Alima merasa bahwa dirinya harus segera bertemu dengan Darren. Egonya tidak bisa mengalahkan tujuan besarnya begitu saja.


Berkat siraman kuah sayur laksa, membuat pikirannya kembali jernih.


Alima bersyukur memiliki sahabat seperti Byul, selalu bisa memahaminya.



Memasuki malam, Samy masih berada di Polsek.


Setelah keluar sebentar mencari udara segar, dia terkejut sudah ada tamu lagi di depan ruang tahanan Darren.


Tampaknya seorang laki-laki berperawakan ideal, terbilang masih muda.


Samy tidak sungkan untuk menegurnya, ketika orang tersebut menengok ke belakang, begitu terkejut melihatnya.



"Samy?"cetus Adi.



"Adi, teman satu kelas saya di SMA dulu, kan?"tanya Samy.



Adi mengangguk seraya tersenyum. Keduanya berjabat tangan, saling berpelukan.



......

__ADS_1


__ADS_2