
Denyut nadi memompa cepat, kala teringat senyumnya yang memikat.
Tatapan mata begitu mengikat.
Kini jangankan menatapmu dengan lekat, memandang sekilas diriku terasa sekarat.
Alima mencoba menahan dirinya agar tidak goyah.
Memaksakan senyum dalam sendu.
Samy tidak berdaya menatapnya. Sia-sia, karena yang dia dapatkan hanyalah dusta.
Tidak lama kemudian Kiyara datang, niatnya mengajak Alima pulang, terhenti. Saat melihat kekasih dan sahabatnya berduaan di ruang tunggu.
"Nggak ada lagi yang perlu dijelaskan, semua sudah terjadi!" ucap Alima.
"Terjadi apa?" tanya Kiyara membuat mata Alima dan Samy melebar.
Samy tersenyum simpul. "Alima mengingatkan aku untuk nggak buat kamu kecewa! Kalau sampai itu terjadi, dia akan habisi aku!" Kiyara tertawa.
"Awas aja kamu! goda Kiyara pada Samy.
"Kalau gitu aku pulang ya, jangan lupa nanti di makan bekalnya!" ucap Kiyara.
Kiyara dan Alima pergi. Sementara Samy mencari Ahsan.
Di lapangan, Bripka Ahsan sedang melatih fisik pasukannya agar siap menangani kasus yang dihadapi.
Samy datang dan berdiri di sampingnya.
"Semuanya berhenti. Kita istirahat dulu 15 menit." ucap Bripka Ahsan.
Samy mengajak Ahsan berbincang di luar lapangan.
"Nggak biasanya Mayor Samy turun ke lapangan, pasti ada udang di balik bakwan!" ucap Briptu Syafi.
"Udahlah, nggak usah kepo! Kalau ketahuan bisa tamat riwayat lo!" cetus Briptu Indra.
Ahsan mengernyitkan wajahnya. "Ada apa?"
Samy menghela napas berat. "Sebentar lagi kita akan bergerak ke markas besar komplotan pecandu narkoba! Sebelum itu, gue mau tanya soal Alima."
Ahsan meringis, membuat Samy melotot.
"Lo masih ada perasaan sama Alima? Gimana dengan Kiyara?" ucap Ahsan.
"Nggak ada. Gue cuma mau lo berhenti kepo soal masa lalu dia!" jelas Samy.
Ahsan menganggukkan kepala seraya tersenyum.
"Bro, gue nggak mau lo masuk ke lubang yang sama. Dengan kehadiran Alima di hidup Kiyara, itu adalah masalah besar buat lo!"
15 menit berlalu, Ahsan pun kembali ke lapangan meninggalkan Samy merenung sendiri.
***
Alima meminta Kiyara mengentikan mobilnya di tepi jalan.
"Gue turun di sini aja," ucap Alima sambil melepas seat belt.
__ADS_1
"Serius di sini? Sepi banget Al!" ucap Kiyara, "Tapi kalau ada yang culik kamu, orang itu bakal mundur 5 langkah sih!" Melirik ke arah Alima.
"Kenapa bisa gitu? tanya Alima mengerutkan keningnya.
"Karena tahu yang diculik lebih garang!" goda Kiyara membuat Alima tertawa.
Kiyara menjalankan mobilnya, lalu Alima menyusuri jalanan sunyi sendiri.
Terlihat seorang laki-laki membawa motor vespa berhenti di depannya.
"Byul?" sapa Alima membuatnya menoleh ke belakang.
"Ngapain di jalanan sepi kaya gini?" tanya Byul.
Matanya berkeliling. "Happy aja di tempat yang sunyi ini,"
Byul menarik tangannya, lalu menyuruh Alima untuk memakai helm.
Pandangannya kosong. Detak jantungnya melambat.
Byul pun menghentikan motornya di sebuah cafe kecil, bernama Teras Cafe.
"Kamu mau makan apa?" tanya Byul.
Alima hanya menggelengkan kepala.
"Oke, sekarang kamu ceritakan apa yang sudah terjadi hari ini!"pinta Byul membuat Alima mengedipkan matanya sambil tersenyum simpul.
"Lo ingat nggak cowok yang waktu itu ketemu sama kita di tepi jalan, sepulang dari toko swalayan?" ucap Alima membuat Byul mengingat kembali.
"Cowok Kiyara, kan? Kenapa?" tanya
"Kalau boleh jujur sebenarnya dia adalah mantan pacar gue waktu di SMA," jelas Alima membuat alisnya menyentak bersama-sama.
Alima menjelaskan dari bagian awal, sampai muncul masalah yang rumit. Dia memohon pada Byul untuk bersedia membantunya.
Dengan lapang dada, Byul mengatakan setuju.
Alima pun memesan makanan dan minuman.
Pukul 6 sore Alima tiba di rumah. Byul langsung berpamitan.
Suara melengking tinggi Kiyara terdengar sampai luar rumah.
Membuatnya buru-buru masuk ke dalam.
Seperti mendapat undian berhadiah jutaan dolar. Kiyara melompat-lompat di atas kasurnya hanya menggunakan handuk.
"Kiya! Bisa diam nggak!"teriak Alima membuat Kiyara berhenti melompat.
"Ada apa sih, baru datang bikin kesel aja!" keluh Kiyara.
"Lo nggak dengar apa azan maghrib berkumandang? Dosa tau!" Kiyara duduk di atas kasur.
Kiyara membagi kebahagiaannya pada Alima. Dia tidak menyangka kedua orang tuanya akan mengajaknya bertemu dengan keluarga Sang Pujaan Hati.
Alima memberikan setengah senyum, dan beranjak dari tempat tidur Kiyara.
Tengah malam gelap gulita pasukan berseragam biru bersenjata sedang bergerak ke suatu tempat yang diyakini sebagai pusat perdagangan narkoba jenis sabu.
__ADS_1
Samy mengarahkan jari telunjuknya ke atas menandakan bahwa target tengah lengah.
Matanya gesit melihat bayangan seseorang berkelintaran.
Dengan langkah kaki pelan, dia mengikuti bayangan itu sampai ke lorong.
Sementara yang lainnya mengepung tempat tersebut.
Bayangan seseorang tiba-tiba menghilang, mendapat informasi misinya berhasil, Samy kembali ke rekan-rekannya.
Namun dia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara langkah kaki yang cukup dekat.
"Hei, ngapain lo di sini?" tanya Bripka Ahsan mengejutkan Samy.
Samy mengatur napasnya yang memburu.
"Gue tadi liat ada orang di sekitar sini, tapi setelah ditelusuri dia menghilang!" ucap Samy.
"Mungkin orang yang biasa tinggal di daerah sini kali!" sahut Bripka Ahsan.
Samy dan Ahsan pergi dari sana, dan membawa beberapa komplotan pecandu narkoba ke Mabes Polri.
Embun pagi menebarkan aroma kesejukan.
Berbeda dengan Alima, lebih memilih menekuk wajahnya.
Semua karena Byul yang kembali bersikap dingin.
Telepon tidak diterima, chat juga tidak dilihatnya.
Kiyara tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya yang setiap detik memandangi layar handphonenya.
"Ada yang sedang gelisah rupanya!" ucap Kiyara.
"Aku nggak nyangka ternyata Byul bisa membuat kamu kacau seperti ini," goda Kiyara semakin membuat Alima memanyunkan bibirnya.
"Gimana nggak kesel coba, dari semalam gue telepon nggak ada jawaban. Di chat juga cek list satu!" omel Alima.
"Apa mungkin dia sakit? Apalagi musim hujan gini, kan?"
Alima pergi ke rumah Byul untuk memastikan keadaannya.
"Alima pergi ke mana sepagi ini?" tanya Ibu Alima pada Kiyara.
"Gara-gara asmara Bu!" ucap Kiyara tersenyum.
Di perjalanan ke rumah Byul, Alima menemukannya di toko apotek.
Dia menepikan mobilnya dan menghampiri laki-laki yang telah membuatnya terjaga semalaman.
"Lo kemana aja sih, dari semalam nggak ada jawaban?" ucap Alima membuat Byul tertawa.
"Nggak lucu ya! Lagi panik gini lo ketawa!" Alima membuang muka.
"Lucu tau ngeliat kamu khawatir sama aku, thanks ya!"ucap Byul tersenyum simpul.
Byul mengajak Alima masuk ke dalam mobil.
"Sorry ya, semalam aku nggak jawab telepon kamu, balas chat juga!"ucap Byul,"Lihat nih tangan aku kegores," Sambil menunjukkan luka di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kok bisa? Lo habis dari mana semalam?" tanya Alima membuat Byul terdiam.
......