
Alima berkelintaran di kamarnya. Sesekali mencuri-curi pandang pada Ibunya yang tengah membersihkan ruang tamu.
"Alima, mending bantuin Ibu bersihkan rumah ini!"ucap Ibunya.
Alima pun turun, menghampiri Ibunya.
Sambil mengatur kata-kata di awang-awang, dia menarik napas panjang dan mengembuskannya.
"Bu, Alima mau ngobrol soal keputusan Ibu tempo hari,"cetus Alima.
"Kenapa? Kamu keberatan dengan yang Ibu katakan?"jawab Ibunya membuat Alima mengangguk seraya tersenyum simpul.
"Kamu tau kan, kita nggak selamanya bisa tinggal di sini. Ini bukan rumah kita!"jelas Ibunya.
Alima meraih tangan Ibunya.
"Alima tau Bu, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk pergi Bu. Karena Alima masih belum siap kehilangan pekerjaan, teman-teman yang baik di sini!"pinta Alima matanya menggenang.
Kiyara hadir di antara mereka, dan memegang punggung tangan Ibu Alima.
"Kiyara juga nggak mau kehilangan sahabat terbaik seperti Alima, Bu!"
Ibu Alima melepaskan genggaman tangan Kiyara dan Alima.
Lebih memilih untuk menyendiri.
Kiyara memohon pada Alima agar tidak pergi dari rumahnya.
Karena hanya dia, orang yang selalu mengerti perasaannya.
Alima dilema. Antara mengikuti keinginan Ibunya atau pilihan hatinya.
***
Samy berusaha menghubungi Alima, tapi tidak mendapatkan respon juga. Akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah Kiyara.
Sampai di rumah kekasihnya, dia melihat Alima tengah duduk di bawah pohon Cemara, dekat taman.
"Berapa kali saya harus ngingetin kamu, untuk lebih dulu mengutamakan kepentingan masyarakat sebelum masalah pribadi!"gertak Samy membuat Alima melotot.
"Kamu kenapa ngeliatin saya seperti itu! Mau mengelak?"sambung Samy balik melototi.
"Kali ini keputusan aku emang nggak salah untuk berhenti menangani kasus ini! Dari dulu tuh kamu nggak pernah berubah ya, selalu egois!"jelas Alima melangkah pergi.
"Alima, Samy, ngapain kalian ada di sini?"tanya Kiyara yang tiba-tiba muncul.
Alima memalingkan wajahnya. Samy berjalan menghampiri Kiyara.
"Aku ke sini mau ketemu sama kamu, terus kebetulan aku lihat ada Alima di sini. Aku pikir ada kamu juga, ternyata salah,"ucap Samy.
"Oh gitu ya. Selain ketemu sama aku, mau ngapain lagi?"
"Sebenarnya mau ajak kamu jalan, kalau kamu bersedia menemani aku hari ini,"
Kiyara menghela napas berat. "Maaf banget nih sayang, aku nggak bisa nerima ajakan kamu. Karena hari ini Alima dan Ibunya akan pergi dari rumahku!"jelas Kiyara membuat matanya melebar.
Astaga, Samy! Kenapa lo nggak tanyain dulu alasan dia nggak jawab telepon tadi. Asal nuduh aja!
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf ya!"ucap Kiyara, "Janji deh, lain waktu aku akan temenin kamu jalan-jalan." Samy mengangguk pelan.
"Ya udah Kiya, gue mau packing baju dulu ya!"ucap Alima pergi menuju ke kamarnya.
Samy kecewa pada dirinya sendiri karena telah mengintimidasi Alima.
Alima menata ruang kamarnya yang esok bukan menjadi miliknya lagi.
Ketika hendak mengganti salah satu sarung bantalnya, ada sebuah benda di bawahnya.
Dia meraihnya, dan mengamatinya lebih dekat.
Kompas kuno belum juga dia kembalikan pada Sang Pemiliknya, Samy Fajar Ahsa.
Alima memasukkannya ke dalam tas, setelah semuanya rapi, lalu keluar membawa koper besarnya.
Langkah kakinya terdengar berat meninggalkan rumah sahabatnya itu.
Kiyara menghalangi jalannya, air mata berkilauan di matanya.
"Please, jangan pergi!"ucap Kiyara.
Alima meraih tangannya untuk digenggam. "Cengeng banget sih! Kayak nggak bakal ketemu lagi, kita!" Mengusap air matanya yang mengalir deras.
"Tapi nggak bisa ketemu setiap saat, kan? Ketemunya juga nunggu lebaran tiba!"cetus Kiyara membuat Alima tertawa kecil.
"Sekarang zaman udah canggih Kiya, kita bisa video callan!"
"Ayo Alima, mobilnya sudah menunggu kita!"sahut Ibunya.
Apa yang sedang Dia rencanakan untuk hidupku?
Sudah lama ku hempaskan jauh memori bersamamu
Entah angin jenis apakah yang menghembuskannya ke wajahku
Saat mencoba susun kembali
Angin membawanya pergi lagi.
Selucu inikah takdir Tuhan?
Kiyara berderai air mata lalu berlari ke arah Alima. Namun Samy menarik tangannya dan digenggam erat-erat agar tidak menghalangi langkah mereka.
Alima dan Ibunya sudah cukup lama berada di rumah Kiyara. Mereka diboyong oleh kedua orangtuanya setelah kejadian pada malam itu.
****
Pagi harinya di Kantor Artha & Rekan, Tamara melihat layar handphonenya yang baru mendapat chat dari Alima.
Isinya adalah ucapan perpisahan dan permintaan maaf darinya karena tidak bisa berbuat banyak selama menjadi seorang pengacara di sana.
Hatinya bagai tersayat pedang samurai, setelah membaca isi chat tersebut.
"Pasti ini cuma prank, kan?"cetus Tamara yang tidak sengaja didengar seniornya, Chaterine.
"Siapa yang nge-prank?"tanya Chaterine membuat Tamara melotot.
__ADS_1
"Ini loh Kak, tiba-tiba Alima kirim chat kayak gini!"jawab Tamara memperlihatkan isi chat Alima pada Chaterine.
Chaterine mengerutkan keningnya. "Sejak kapan kamu kenal dia? Pasti cuma alasannya aja supaya bebas dari tanggung jawabnya!"
Di sisi lain, Byul juga mendapatkan chat dari Alima.
Dia justru meminta Alima mengirim alamat rumahnya itu.
Sedangkan Samy, sudah terlihat masam wajahnya dari kemarin.
Sampai Ahsan datang memberikan semangat untuk dirinya.
"Mari kita bekerja!, Agar dia tak menggoda!"ucap Briptu Ahsan dua kali.
Samy ternganga mendengar yel-yel dari sahabatnya itu.
"Liriknya kok berubah?"tanya Samy.
"Emang yang nggak pernah bisa berubah itu cuma perasaan lo ke dia! Iya, kan?"goda Briptu Ahsan.
"Apaan sih! Jangan ngaco deh!"jawab Samy sambil memanyunkan bibirnya.
Pikirannya saat ini sedang tertuju pada Alima. Belum sempat meminta maaf, semakin membuatnya tersiksa.
Bukan rumus matematika dan fisika saja yang rumit, memahami hatimu juga sulit.
Alima dan Ibunya bekerjasama untuk membersihkan rumahnya yang mulai usang itu.
Dari sudut ke sudut ingatannya tidak pernah menciut.
Apalagi ketika memandangi dua daun pintu rumahnya, selalu terlihat jelas di pelupuk matanya.
Tampak sebuah foto keluarga bahagia terpajang rapi di atas meja kayu.
Debu melekat tebal, hampir menutupi seluruh gambar.
"Fotonya biar tetap di sini aja ya Bu,"pinta Alima.
"Tentu boleh,"
Meski masih tersisa rasa perih di dada.
Ibunya tidak pernah menghapus senyum yang terlukis di wajahnya sejak tiba di rumah itu.
Alima berharap dengan kembalinya ke rumah lama, tidak ada lagi duka.
Samy bergegas menuju ke Polres, setelah mendapatkan kabar, kalau Darren mengalami kejang-kejang di dalam sel tahanan.
Petugas pun membawanya ke ruang pemeriksaan kesehatan.
Melihat kondisinya yang semakin memburuk, Samy datang dan membawanya ke rumah sakit.
Darren ditangani di ruang ICU.
Sambil mengatur napasnya yang memburu, Samy mengambil handphonenya di saku celana, untuk menghubungi Pak Helmy agar segera ke rumah sakit menengok putranya.
......
__ADS_1