Alima Dasar

Alima Dasar
Si Gadis Anti Mainstream


__ADS_3

Aku pulang, Bu.


Aku rindu meletakkan kepalaku di pangkuanmu


Saat kaki tak mampu lagi menyangga tubuhku yang hampir tunduk


Pulanglah dalam tenang Bu,


Doakan anakmu bisa menebas apa saja yang menghalang.


Di rumah kehidupan ini


Kau ajari aku cara menjadi pria sejati


Tak kenal letih apalagi patah hati


Dirimu adalah ciptaan Tuhan yang tak bisa dibandingkan bahkan dengan wanita paling cantik di dunia


Pesan suaramu tersimpan manis di benakku


Tak ku izinkan hembusan angin membawanya pergi


***


Tetesan embun pagi membekas di jendela kamarnya.


Dibangunkan oleh terik sinar matahari sambil mengecup hangat wajahnya yang basah karena menangis  sepanjang malam.


Dia pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Menghadap ke cermin, memastikan bahwa dunia harus berbuat baik pada dirinya.


Setelah itu berpakaian rapi.


"Permisi Mas Adi, di luar ada Tuan Helmy,"ucap Pak Rahmat, penjaga rumah mendiang Ibunya.


Sambil merapikan rambutnya. "Kamu katakan padanya, Saya akan menemuinya 5 menit lagi,"


5 menit berlalu.


Pak Helmy hampir saja pergi dari sana karena sudah menunggu lama. Namun akhirnya, Adi datang menemuinya.


"Nggak sabaran dikit jadi orang. Mau apa Anda kemari? Apa belum puas menghina Ibu saya?"ucap Adi.


"Sama sekali nggak ada niat untuk melakukan hal buruk sama kamu, ayah cuma ingin kamu jadi anak yang baik,"


Adi menyeringai. "Udahlah, Anda nggak usah bertele-tele lagi. Sekarang jelasin maksud Anda menyuruh saya ke Jakarta!"


"Ayah meminta tolong sama kamu untuk ikut membantu menyelesaikan kasus yang menjerat adik tirimu, Darren!"


Hatinya bagai tersayat pisau yang tajam. Ketika mendengar kata Darren.


Dia tahu jika dari dulu ayahnya lebih memberi perhatian pada adik tirinya ketimbang dirinya. Tapi bodohnya Adi selalu menerima kenyataan itu.


Bahkan sampai detik ini, rasa kasih sayang yang diidamkan dari ayahnya tidak pernah sampai ke dalam hidupnya.


"Harusnya Anda tanyakan ini dari awal. Saya setuju atau nggak."ucap Adi, "Tapi untuk menebus kesalahan saya pada Mama Karmila, maka saya putuskan setuju dengan syarat, nggak akan ada yang ikut mencampuri urusan saya!"


Pak Helmy mengangguk seraya tersenyum simpul.

__ADS_1


****


Alima sudah bersiap untuk pergi ke Polres Metro Jakarta Selatan, namun langkahnya terhenti saat seniornya di tempatnya berkerja, sedang berdiri di depan pintu dengan wajah berkerut.


"Pagi, Kak Chaterine!"sapa Alima sambil tersenyum, lalu dia menghalanginya jalan.


"Maaf Kak, ada yang mau dibicarakan dengan saya?"tanya Alima.


Kipas tangan lipat berwarna maroon  dibentangkannya tepat di depan wajah Alima.


Sambil menyalurkan hembusan angin pada rambutnya yang sebahu.


"Mentang-mentang kamu dipilih sama Mayor Samy untuk andil dalam menangani kasus narkoba, kamu lupa menerapkan sopan santun di kantor ini!"cetus Chaterine.


"Maksudnya apa ya? Saya beneran nggak ngerti maksud dari Kak Chaterine!"


Mulutnya menganga lebar. "Mulai hari ini dan seterusnya, wajib hukumnya kamu meminta izin pada saya, baik pergi untuk menemui klien atau mau pulang!"


"Nggak bisa gitu dong Kak, sebelumnya nggak ada peraturan kaya gini, kan?"keluh Alima.


Kipas lipatnya kembali dibentangkan. "Terserah, kalau kamu masih mau berada di sini lebih lama!"


Chaterine pun pergi dari hadapannya, sementara dia buru-buru keluar mencari kendaraan untuk membawanya ke Polres.


Di tepi jalan, Alima menunggu.


Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya.


"Al, mau ke mana?"tanya Kiyara sambil membuka kaca mobilnya.


Alima belum pernah menceritakan tentang hubungan kerjasamanya dengan Samy pada Kiyara.


Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya, karena waktu terus berjalan. Dan dia harus segera tiba di Polres secepatnya.


"Kebetulan aku ada janji sama klien di daerah sana, kita bareng aja!"


Alima memalingkan wajahnya sesaat.


Lalu dia menyetujui ajakan Kiyara.


Kiyara teringat dengan ucapan Samy tempo hari, yang sedang melaksanakan tugas di Polres Metro Jakarta Selatan.


Dia berkeinginan untuk menemuinya, namun Alima melarangnya.


"Sebentar aja Al, mumpung deket nih!"desak Kiyara.


"Gue bilang jangan! Nanti dia malah keganggu sama kehadiran kita!"


Alima meminta Kiyara untuk segera pergi dari sana. Setelah melihat mobil sahabatnya itu sudah jalan cukup jauh, dia bergegas menuju ke Polres.


Samy berdiri sambil melototi jam di pergelangan tangannya.


"Yuk, kita mulai sekarang!"ucap Alima membuat matanya melebar.


"Bisa nggak lain kali kamu datang tepat waktu?"


"Iya sorry. Telat beberapa menit doang kok,"cetus Alima dengan enteng.


Samy menghela napas berat, lalu membawanya ke sel tahanan.

__ADS_1


Darren duduk seraya menyenderkan kepalanya pada tembok yang kini memeluknya dalam lara.


Alima mengamatinya lebih dekat.


Perlahan kepalanya mulai terangkat.


Alima duduk melantai. "Hi! Kita ketemu lagi!"sapa Alima.


Darren membalikkan badannya.


"Aku mau ngobrol lebih lama sama kamu, boleh yah?"ucap Alima.


"Aku nggak kenal sama kamu, begitu sebaliknya. Lalu apa lagi yang harus dibicarakan?"jelas Darren.


"Oke, biar bisa jadi teman. Kita harus saling berkenalan. Nama aku, Alima."


Darren menoleh cepat ke arahnya, memberi senyum miring.


"Maaf, tapi aku nggak tertarik ngobrol sama kamu!"


"Darren, paling nggak kamu bisa hormati dia sebagai orang yang jauh lebih tua dari kamu!"sahut Samy menghampirinya.


Alima mendengus. "Nggak ada yang lebih bagus apa selain kata tua?"


"Setidaknya kamu hargai dia yang lebih dewasa dari kamu!"ucap Samy, "Bukan begitu?"


Alima memaksakan senyum.


Namun Darren tetap tidak peduli.


"Sebenarnya apa yang kalian inginkan dari aku? Sebuah bukti kah?"cetus Darren sambil berdiri.


"Benar sekali! Itu kamu paham, jadi kita nggak perlu bersandiwara lagi di depan kamu!"jelas Samy tersenyum.


Alima menarik napas dalam-dalam. "Tolong kamu percaya sama aku, karena dengan sepenuh hati aku akan membantu kamu keluar dari sini!"


Akhirnya Darren mengizinkannya untuk menjelajahi isi pikirannya


Samy berharap semua ini bisa berjalan baik tanpa ada lagi rintangan.


Darren memulai kisahnya di bangku SMP.


Sikapnya yang badung tidak disangka berani mencuri hati gadis lugu anti kasmaran di kelasnya.


Dia selalu mengusik ketenangan Amel, si gadis anti mainstream itu.


Sampai suatu hari, Amel terdesak pada keadaan yang membuatnya menjadi lengket dengan Darren.


Amel selalu dipaksa untuk berdiam diri di rumah oleh ayahnya sendiri. Hal itu yang membuatnya cenderung lebih sensitif.


Namun dengan kehadiran Darren di dalam hidupnya, semuanya berubah.


Amel bisa berbagi kebahagiaan, keluh kesahnya, dan juga jadi diri sendiri.


Sebelum waktu benar-benar memisahkan keduanya, Amel harus pergi ke luar kota untuk melanjutkan pendidikan di tanah kelahiran ibunya.


Sedangkan Darren, belum sanggup berjauhan.


"Terima kasih ya, kamu udah jadi pendengar yang baik untuk aku. Jangan lupa mengirim surat ya!"ucap Amel sehari sebelum wisuda.

__ADS_1


Jangan menunggu, waktu memang terus berjalan. Tapi aku takut jalan pikiranku tidak sejalan dengan keinginanmu.


......


__ADS_2