Alima Dasar

Alima Dasar
Cap Cip Cup!


__ADS_3

Adi lalu menceritakan hubungannya dengan Samy. Kiyara tidak menyangka, kalau teman kuliahnya itu adalah teman SMA kekasihnya.


"Kamu udah tau belum berita hari ini?"ucap Adi, "Bukankah Samy sedang ditugaskan untuk menangani pelaku penembakan di apartemen Mega Bintang ya,"


"Iya, karena hal itu juga membuat dia menolak ajakan kedua orang tuanya untuk membahas soal pertunangan kita nanti,"jelas Kiyara muram.


Samy, Byul dan Tamara pergi ke tempat penyekapan Alima. Setelah berhasil melumpuhkan dua orang pria kekar itu yang dibantu dengan beberapa petugas kepolisian. Mereka sampai di sebuah rumah mewah minimalis berwarna monokrom, banyak tumbuhan yang berjajar rapi di dinding balkonnya.


Rasanya tidak mungkin Alima berada di tempat itu.


"Mereka nggak bohongin kita, kan?"cetus Tamara menatap rumah mewah di hadapannya.


Samy pun berjalan terlebih dahulu untuk masuk ke rumah itu, sebelum akhirnya disusul oleh Byul.


Tamara juga menyusulnya.


Ketika berhenti di depan pintu, Samy meminta pada Byul dan Tamara untuk tidak tergesa-gesa menyusup ke dalam.


"Kalau kita kelamaan di sini, Alima bisa tiada!"ucap Byul.


"Kamu bisa diem dulu nggak sih, ini adalah bagian dari rencana saya! Saya di sini sebagai pemimpin kalian, karena saya adalah seorang polisi,"jelas Byul memalingkan wajahnya.


Mentang-mentang jadi polisi, seenaknya aja dia!


Alima masih dalam keadaan kedua tangan dan kaki yang terikat, mulut yang terkunci rapat oleh perekat.


Sementara Pria Batu Bata ke luar untuk menghubungi anak buahnya.


"Tamara, karena kamu sudah maksa untuk ikut mencari Alima. Saya perintahkan untuk masuk terlebih dahulu,"cetus Samy membuat Tamara dan Byul melongo.


"Maaf nih, tapi bukannya barusan Mayor Samy bilang, sebagai seorang pemimpin di sini. Berarti, Mayor Samy yang terlebih dahulu masuk!"


Tiba-tiba Samy mengetuk pintu rumah itu, lalu berlari mengajak Byul bersembunyi di balik semak-semak. Tamara tidak bisa melarikan diri, sebab seorang pria bertubuh ideal, berambut gondrong datang untuk membukakan pintu untuknya.


Tamara terus mengembangkan senyumnya meski tangannya mulai berkeringat.


"Halo! Boleh saya masuk?"ucap Tamara.


Pria tersebut mengamati seluruh tubuhnya dari bawah ke atas sambil menatapnya aneh.


"Kamu ini siapa, ada keperluan apa datang kemari?"tanya Pria itu.


Tamara matanya tampak berkeliling mencari jawaban di angan-angan yang tak bisa dia temukan di sana.


"Boss yang memanggil saya untuk kemari, katanya sedang rindu,"jawab Tamara spontan.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Pria itu mengizinkan Tamara masuk ke rumah itu. Samy dan Byul bisa bernapas lega.


Setelah itu, Tamara tidak tahu harus melakukan apa di dalam sana.


Pria itu membawanya ke sebuah ruangan, yang ternyata bersebelahan dengan ruangan Alima.


Tamara duduk di sofa, tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari luar. Perlahan pintu ruang itu terbuka.


"Kamu siapa? Beraninya duduk di sofa kesayanganku!"ucap Pria Batu Bata.


Tamara langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Sayang ..., Di mana kamu?"teriak seseorang laki-laki dari luar ruangan itu.


Tamara dan Pria Batu Bata saling bersitatap. Pintu ruangan terbuka, dan ternyata itu Byul yang datang sebagai kekasih Tamara.


Pria Batu Bata terlihat seperti orang kebingungan.


Byul berjalan menghampiri Tamara.


"Ternyata kamu ada di sini ya, apasih yang kamu cari dari pria ini?"cetus Byul membuat Pria Batu Bata melotot.


"Kenapa? Kamu juga udah nggak bisa bahagiain aku!"ucap Tamara, "Mending aku sama dia, yang jelas-jelas bisa membuat aku bahagia."


Samy pun melepaskan ikatan tali yang melilit pada tubuhnya, lalu membangunkannya, beberapa menit kemudian Alima membuka matanya.


"Samy? Bagaimana kamu bisa ada di sini?"tanya Alima.


"Kalau saya ceritakan itu semua di sini, kita semua nggak akan pernah bisa keluar dari tempat ini!"jawab Samy.


"Kita semua? Maksud kamu?"


"Byul dan Tamara juga ada di sini!"


Byul menarik paksa tangan Tamara untuk diajak pergi, namun Pria Batu Bata ikut menarik tangan yang satunya.


Tamara ingin sekali melepaskan genggaman tangan pria jahat itu, tetapi semakin berusaha melepaskan, dia merasa semakin kuat genggamannya.


Byul tidak punya pilihan selain memberontak. Saat keduanya berkelahi, Tamara mencari cara melumpuhkan Pria Batu Bata.


Kebetulan matanya melirik ke atas meja yang ada vas bunganya.


Prak! Pria Batu Bata pun bersimpuh dan terkapar di lantai.


"Aku berhasil mengalahkan penjahat?"cetus Tamara kegirangan.

__ADS_1


Akhirnya mereka semua bisa keluar dari rumah itu, lalu pergi dari sana.


Para Wartawan berbondong-bondong menuju ke Mabes Polri untuk mendapatkan informasi terkini pada peristiwa penembakan yang terjadi di Apartemen Mega Bintang.


Alima di bawa ke ruang perawatan di sana, Tamara menemaninya sampai keadaanya kembali membaik.


Setelah itu wartawan menemui Alima yang kondisinya telah pulih, sebagai salah satu korban dari penculikan pada peristiwa tersebut.


Tidak lupa Alima mengutarakan ucapan terima kasihnya pada Samy yang telah menolongnya dari para penjahat.


"Alima! Jadi dia menjadi korban peristiwa itu?"ucap Adi saat melihat acara televisi di Warung Lesehan itu yang menampilkan berita kejadian di Apartemen.


"Kamu juga kenal sama Alima?"tanya Kiyara.


"Tentu kenal, Alima adalah teman satu kelas aku saat duduk di bangku SMA,"jawab Adi membuat Kiyara terdiam sesaat.


"Jadi, Alima dan Samy satu kelas saat di SMA?"cetus Kiyara.


"Iya, bahkan mereka pernah pacaran, kan? Apa Samy nggak pernah cerita soal mantan terindahnya itu sama kamu?"ucap Adi membuat Kiyara ternganga.


Kiyara beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah pergi tanpa sepatah kata, meninggalkan Adi di sana sendirian.


Kiyara pergi ke Mabes Polri untuk menemui Alima dan Samy.


Samy menghampiri Alima tengah duduk di bangku luar setelah para wartawan itu pergi.


"Gimana keadaaan kamu saat ini, apa masih ada yang dirasa sakit?"tanya Samy.


"Nggak ada sih, mungkin cuma pikiran aku aja yang selama ini udah sakit karena selalu overthinking sama kamu!"jawab Alima sambil tersenyum simpul.


"Maafin aku ya Sam, yang selalu bersikap buruk sama kamu,"cetus Alima membuat Samy menoleh cepat ke arahnya.


Pelan-pelan jemarinya berjalan ke arah wanita di sampingnya, lalu digenggamnya erat sambil matanya menatap ke depan. Degup jantungnya kencang, sekencang angin yang berhembus malam ini dalam suasana sunyi.


"Maaf, malam ini udaranya begitu dingin,"ucap Samy perlahan melepaskan genggaman tangannya pada Alima.


Alima tersenyum seorang diri, teringat pada masa lalunya, ketika malam itu dia dan Samy berlibur ke puncak saat liburan sekolah.


saat duduk di atas bukit memandang langit, lalu datang angin kencang sampai merobohkan tubuh Samy hingga terjatuh ke pangkuan Alima.


Dinginnya angin, melemahkannya. Dekapan hangat Alima sebagai pengobat. Kala itu dengan kepalanya yang sedikit terangkat, agar bisa menggapai bibir dan mengecup manis wanita pujaan hatinya.


Itulah di mana saat mereka ciuman untuk yang pertama kalinya.


......

__ADS_1


__ADS_2