
Meski ikatan ini sudah kau lepas
Bohong jika ku tak pedulikan mu
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Alima termenung sesaat, lalu menguap.
Tapi setelah itu dia tiba-tiba tidak mampu mengendalikan dirinya dengan tatapan mata yang tajam.
Sambil berjalan melangkah ke depan.
Sontak membuat petugas kepolisian melotot.
"Apa yang terjadi dengan dia?"tanya salah seorang petugas pada temannya.
"Jangan-jangan dia kesurupan lagi,"
Alima semakin mendekat. Dengan kedua tangan yang siap untuk mencekik leher kedua petugas di depannya.
"Pergi kalian dari sini! Atau aku akan ... ."ucap Alima menakuti petugas.
"Alima!"teriak Samy dari jauh.
"Maaf Pak, wanita ini adalah teman saya dan baru saja keluar dari rumah sakit jiwa!"cetus Samy membuat Alima menganga.
Kedua petugas menatapnya aneh.
"Pantas saja dia tidak mau menjalankan perintah dari kami sedari tadi,"sahut salah seorang petugas.
Petugas menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Samy.
Di tengah-tengah mereka sedang berbincang, Alima perlahan berjalan mundur, dan berlari sejauh mungkin.
"Pak, dia kabur!"teriak salah seorang petugas.
"Biar saya yang mengejarnya, Pak!"pinta Samy sambil menunjukkan identitasnya lalu pergi menyusul Alima.
Alima berlari terlalu jauh. Hingga tidak tahu arah lagi.
Samy berhasil menemukannya, dan menarik tangannya.
"Lepasin nggak!"ucap Alima.
"Saya nggak akan lepasin kamu!"jawab Samy matanya menyala.
"Udah cukup ya, kamu maksa aku!"cetus Alima melepaskan genggaman tangan Samy.
Samy berusaha menjelaskan pada Alima.
"Alima, tolong kamu dengarkan saya kali ini aja ya!"tegas Samy.
"Nggak ada kata lain apa selain harus dengerin kamu terus, kamu sendiri pernah nggak mau dengerin aku?"jelas Alima membuat Samy menelan ludahnya.
Samy menghela napas berat. "Oke, saya janji nggak akan maksa kamu lagi, tapi tolong kamu jangan bergerak sedikit pun!"
"Kenapa coba? Samy, aku harus pulang!"
Samy mengehentikan langkahnya.
"Alima, stop!"
Alima terkejut, Samy kembali membentaknya.
"Alima diam di sana, dan lepas pelan-pelan!"desak Samy.
__ADS_1
"Maksud kamu apa yang dilepaskan?"tanya Alima.
"Tas punggung kamu!"
Alima menuruti kemauan Samy, melepaskan tas punggung kecilnya.
"Coba kamu buka di dalamnya! Tapi setelah itu jangan di banting!"ucap Samy.
Alima perlahan membuka tasnya, seketika matanya melebar ketika mengetahui isi dalam tas punggung kecilnya.
"Ternyata benar, di dalam tas kamu ada bom!"ucap Samy.
"Samy ini gimana? Aku takut banget!"cetus Alima mulai berkeringat dingin.
Samy pun berjalan mendekatinya, berusaha untuk menjinakkan bom tersebut.
"Sam, apa kamu yakin?"tanya Alima menatapnya ragu.
Samy mengangguk pelan.
"Kalau ini gagal, aku ingin mengatakan sesuatu yang harusnya kamu tahu dari dulu,"ucap Alima, "Aku nggak mau kamu membenciku bahkan setelah mati." Alima menatap Samy lekat di matanya membuat Samy netra berkelap-kelip susah karena ketulusan yang terpancar di mata itu.
"Tunggu Sam! Kamu harus dengar ini!"desak Alima membuat Samy melotot.
"Tolong kamu jangan ganggu saya dulu! Saya harus cepat melakukannya sebelum bom ini meledakkan tubuh kita!"jelas Samy membuat Alima diam.
15 menit berlalu, akhirnya Alima mengembuskan napas lega saat bom itu berhasil dijinakkan oleh pria yang ada di hadapannya sekarang.
Samy membujuk tangan Alima untuk digenggamnya sambil memapang senyum manis di wajahnya.
***
Kiyara dan Byul menemukan mereka yang berjalan beriringan menuju ke arahnya.
"Alima!"sapa Kiyara matanya berbinar.
Matanya tertuju pada pemandangan kedua telapak tangan yang menempel mesra.
"Alima, boleh ambil pacar aku lagi?"ucap Kiyara membuat Alima dan Samy saling bersitatap.
Keduanya tersadar, secepat kilat melepaskan genggaman tangan.
Sampainya di rumah, Alima disambut dengan pelukan hangat Ibunya.
"Kamu baik-baik aja, kan?"tanya Ibunya.
Alima mengangguk seraya tersenyum.
"Kiya, kamu ada di sini juga?"
"Iya Bu, soalnya kangen banget sama Ibu dan Alima,"
Di atas kasur, Alima duduk di samping Kiyara.
"Gue harap lo nggak salah paham sama kejadian tadi,"ucap Alima.
Kiyara tersenyum simpul. "Aku paham kok, kalau aku di posisi kamu pasti akan melakukan hal yang sama!"
Di satu sisi, Byul dan Samy tidur sekamar.
Walau kenyataannya terpaksa, keduanya harus terlihat baik di hadapan Ibu Alima.
"Sebenarnya apa hubungan lo sama Alima?"tanya Byul pada Samy.
"Kenapa lo mau tau tentang itu? Apa dia nggak mengatakan semuanya ke lo?"sahut Samy.
__ADS_1
"Oke, mungkin lo dan Alima hanya kisah di masa lalu. Tapi gue nggak akan pernah izinkan Alima kembali hidup di masa itu!"ucap Byul.
Samy memberi senyum miring.
"Jangan memaksakan sesuatu jika tidak ingin tersiksa karenanya!"
Menyapa mentari sebelum menyapa lebih dahulu.
Alima tengah berolahraga di halaman rumahnya, sedangkan Samy baru selesai melakukan joging.
"Oh iya semalam aku lupa mau bilang makasih sama kamu,"ucap Alima, "Thanks ya, aku berutang nyawa sama kamu!"
Samy membuang muka, lalu pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
"Al, habis ini kita pergi jalan-jalan yuk!"ajak Byul.
"Sorry, gue nggak bisa. Kayaknya lo harus pulang deh!"
Byul mengerutkan keningnya."Kamu nggak suka aku ada di sini?"cetus Byul.
"Bukan begitu, gue nggak mau disebut menjadi penghalang cita-cita! Karena lo harus kerja, kan?"jelas Alima.
"Oke deh, besok aku akan pulang ke Jakarta. Kiya dan Samy juga, kan?"
Samy terlihat memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Kiyara yang saat itu masuk ke kamarnya, kebingungan.
"Kamu mau ngapain?"tanya Kiyara.
"Aku mau pulang!"
Kiyara melongo. "Tapi kita baru semalem loh nyampe rumah Alima!"
"Kalau gitu kamu tetap di sini ya! Aku harus pulang!"
"Jangan bilang kamu udah mulai ada rasa sama Alima!"ucap Kiyara, "Makanya kamu buru-buru pergi dari sini, biar aku nggak tau, kan?"
Matanya melebar. "Tolong, kamu jangan memulai lagi! Kenapa kamu punya pikiran kayak gitu?"cetus Samy.
"Kiya, aku pulang karena ada tugas penting di sana yang harus segera diselesaikan. Seharusnya aku memang nggak pernah datang kemari, kalau akhirnya buat kamu kecewa!"sambung Samy.
"Aku minta maaf karena udah nuduh kamu, Kalau gitu aku juga ikut kamu pulang ya!"
Samy mengangguk setuju.
Alima dan Byul yang saat itu sedang duduk di ruang tamu, langsung beranjak dari tempat duduknya melihat kedatangan Kiyara dan Samy.
"Kalian mau ke mana? Kok bawa koper segala?"ucap Byul.
"Kiya, semua baik-baik aja, kan?"tanya Alima.
"Kita mau pulang ke Jakarta, maaf sudah merepotkan kalian di sini."
Ibu Alima keluar dari kamarnya.
"Udah mau pergi lagi ya, baru aja kalian nyampe sini. Kenapa buru-buru?"tanya Ibu Alima.
Samy merogoh saku jaketnya yang bergetar.
Dia menerima panggilan telepon dari Papanya.
"Maaf, saya izin angkat telepon,"pamit Samy ke luar rumah.
"Ada apa, Pa?"tanya Samy.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menemukan wanita itu? Keadaan Darren saat ini semakin memburuk Sam!"
... ...