Alima Dasar

Alima Dasar
Kiyara Tersayang


__ADS_3

Bagai petir di siang bolong.


Pertemuan ini bukanlah kemauanku.  Namun sudah ditetapkan menjadi takdir.


Alima tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu lagi dengan Samy.


Dia juga baru tahu kalau pacar sahabatnya itu adalah mantan kekasihnya.


"Ini aku lagi nggak bermimpi, kan?" tanya Kiyara dengan air mata bersinar di matanya.


Samy mencubit mesra pipinya.


"Sentuhan kamu nyata loh!" ucap Kiyara menggenggam tangan Samy.


Bu Mona dan Pak Dhananjaya ikut bahagia melihat mereka bisa bersama lagi. Meskipun ada hati yang tersakiti.


"Alima, Ibu mau izin ke toilet sebentar ya!" ucap Ibunya.


"Alima ikut ya Bu!"


Mereka pun pergi ke toilet bersama.


"Terima kasih ya Om, Tante, sudah membawa Samy pulang!" ucap Kiyara tersenyum lebar.


"Iya sayang, kami ikut bahagia melihat kalian kembali bersatu setelah lama berpisah," ucap Bu Mona, "Oh iya di mana keluarga kamu, kami ingin sekali bertemu!"


Kiyara mencari Alima dan Ibunya di sana, tapi mereka tidak ada.


Dia meminta izin untuk mencarinya, namun Bu Mona mencegahnya.


"Nggak perlu Kiyara, mungkin saja mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Lain waktu kita harus bertemu ya!"


Di toilet, Alima masih membayangkan momen di panggung kecil acara peresmian hotel. Dia tidak tahu mengapa takdir mempermainkan dirinya?


Ibunya seketika bingung melihat putrinya merenung.


"Ibu perhatikan dari tadi kamu melamun sendiri, ada apa?" tanya Ibunya membuat Alima mengambil tissue untuk membersihkan wajahnya yang basah.


Alima tersenyum simpul. "Nggak ada kok Bu, nggak nyangka aja akhirnya Kiyara bisa bertemu lagi sama pacarnya!"


"Itu dia! Ibu senang sekali melihat Kiyara sebahagia itu tadi!" ucap Ibunya, "Mereka pasangan yang sangat serasi ya."


Alima mengangguk dan memberikan setengah senyum. Setelah itu mereka kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.


Alima merebahkan tubuhnya di kasur.


Kreeek ...


Dia beranjak dari tempat tidur, dahinya mengerut melihat wajah Kiyara ditekuk.


"Kamu dan ibu pergi ke mana? Kenapa tiba-tiba hilang gitu aja?" tanya Kiyara.

__ADS_1


"Gue tadi pergi ke toilet sama ibu, harusnya habis dari toilet kita mau balik ke acara, tapi karena gue liat ibu capek banget akhirnya kita memutuskan untuk ke kamar," jelas Alima.


Kiyara menghela napas berat. "Gitu ya, aku jadi nggak enak tau sama mereka karena nggak jadi ngenalin kalian di acara itu!"


"Sorry ya Kiya, gue dan ibu nggak bermaksud buat lo kecewa!" ucap Alima sambil menggenggam tangan Kiyara.


"It's okay Al, aku mau ke kamar mandi dulu ya."


Alima bisa bernapas lega setelah membuat Kiyara percaya dengan ucapannya.


****


"Oh iya besok Mama mau adakan acara pertemuan keluarga, kamu bantu Mama menyiapkan semuanya ya!" ucap Bu Mona pada Samy.


"Maaf Ma, Samy nggak bisa karena harus bertugas," ucap Samy membuat senyum Mamanya memudar.


"Sudahlah Ma, kita bisa bicarakan hal ini dengan EO, kan?" ucap Pak Dhananjaya semakin membuat Istrinya cemberut.


Pagi yang cerah untuk memulai semangat baru.


Alima telah membeli makanan kesukaan Kiyara, kue lumpur.


Wujudnya tampak manis, semanis senyum Kiyara yang tidak sabar menyantapnya.


"Tunggu dulu, dalam rangka apa ini kamu kasih aku kue lumpur?" tanya Kiyara membuat Alima menelan ludahnya.


"Sebagai permintaan maaf gue karena udah buat lo sedih semalam!"


"Aku mau memaafkan kamu dengan satu syarat!" ucap Kiyara, "Khusus hari ini kamu nggak boleh nolak seharian penuh bersamaku."


Tidak enak hati jika membuatnya kecewa lagi, Alima bersedia menuruti keinginan Kiyara dengan senang hati.


Mereka pun bersiap untuk pulang ke Jakarta.


"Sayang, sore ini ketemuan yuk di cafe kesayangan kita!" ketik pesan Kiyara pada Samy.


"Maaf aku nggak bisa, karena lagi bertugas," balas pesan Samy.


Kiyara mendecak kesal. "Baru juga pulang, udah kerja lagi dia!"


2 jam lebih perjalanan, mereka sampai di rumah. Alima yang saat itu hendak merebahkan tubuhnya di kasur, dicegah oleh Kiyara.


"Mau ke mana? Kamu masih ingat perjanjian kita saat di hotel, kan?" ucap Kiyara membuat Alima menarik napas panjang.


"Apa harus sekarang?" tanya Alima membuat Kiyara mengangguk cepat.


Keduanya masuk ke mobil.


"Untung aku nggak juga meminta kamu untuk mengendarai mobil ini!" ucap Kiyara tersenyum simpul.


Kiyara memarkirkan mobilnya di sebuah tempat perbelanjaan.

__ADS_1


"Ngapain kita ke sini?" tanya Alima, hidungnya melebar.


"Aku mau beli semua yang ada di sana!" ucap Kiyara menarik tangan Alima.


Berbelanja adalah hal yang membuat Alima jengkel. Berbeda dengan wanita pada umumnya yang sangat menyukai kegiatan berbelanja.


"Al, menurut kamu mana yang bagus?" tanya Kiyara sambil menunjukkan tas yang dia bawa di kedua tangannya.


"Gue nggak tau, lo pilih senyamannya aja ya!"


Kiyara tidak bisa memilih salah satu di antara keduanya. Sama-sama membuat nyaman, dan memutuskan membeli semuanya.


Berapa banyak jumlah barang yang dia beli, sampai berjalan membungkuk.


"Al, ayo kita pulang!" ucap Kiyara membuat mulut Alima menganga lebar.


"Lo beneran beli semuanya?" tanya Alima melotot.


"Aku nggak bisa memilih salah satu dari mereka, semua terlihat lucu dan menggemaskan!"


Alima tidak mengerti mengapa manusia sejenisnya rela menghabiskan uangnya untuk membeli hal-hal yang tidak perlu.


Pulang dari Mall, Kiyara mengajak Alima ke sebuah restoran untuk mengisi perut.


"Kamu mau makan apa? Aku yang traktir!" ucap Kiyara.


"Samain aja,"


Alima memejamkan matanya sejenak sambil menunggu makanan datang.


Kiyara memanggilnya untuk segera makan sebelum jadi dingin.


"Gue nggak salah liat lo mau makan sebanyak ini?" ucap Alima melongo melihat mejanya penuh makanan.


"Siapa bilang aku harus makan semuanya, wilayah ini punyaku dan di sana adalah milikmu!" jelas Kiyara membuat Alima geleng-geleng kepala.


"Gue nggak bilang mau makan semuanya!" ucap Alima dengan lantang.


Kiyara meringis. "Iya, tapi kamu bilang mau samaan denganku!"


Terkadang hati kecilnya selalu bertanya, mengapa Tuhan mempertemukan dia dengan Kiyara.


Alima tidak tahan lagi, dia bersikeras ingin pergi tetapi Kiyara selalu menahannya.


"Oke aku minta maaf ! Habis nggak tau mau ngapain lagi selain menghibur diri kaya gini!" keluh Kiyara.


"Kiya, bahagiain diri sendiri itu nggak harus menuruti nafsu. Kalau melakukan hal kecil aja udah buat kita merasa senang, untuk apa bingung?" ucap Alima, "Selama ini lo anggap gue apa? Sebagai sahabat, kan? Kalau iya, kenapa nggak mau berbagi cerita?"


Kiyara memeluk Alima sangat erat. Dia mau menceritakan kesedihan dalam hatinya, namun tidak pernah bisa.


"Mulai sekarang, gue janji akan menjadi pendengar lo yang paling baik, nggak untuk yang aneh ya!" ucap Alima membuat Kiyara tertawa.

__ADS_1


......


__ADS_2