
Duhai jiwa, jangan memalingkan rasa.
Saat berlian sejengkal muka.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Byul tetap membungkam mulutnya.
Dia mengambil pandangan ke depan dan samping kirinya.
"Lo nyari apa sih?"tanya Alima, "Lagi nyari alasan, kan?" Sambil menunjuk ke wajah Byul.
"Coba kamu rasakan! Terik matahari mulai menyengat, artinya aku harus pergi dan kamu juga pergi ke kantor!" ucap Byul tersenyum simpul.
Alima mendecak kesal. "Tangan lo sakit, masih mikirin buat kerja?"
Alima menarik paksa tangan Byul, kemudian mengambil kotak P3k di kursi mobil belakang.
Dia meminta Byul untuk tenang. Agar bisa mengobati luka ditangannya.
Sentuhannya buatku kejang-kejang.
Bagai tersengat aliran listrik.
Menyebabkan luka yang akan membekas bahkan kematian.
Mataku mengamati sikapnya yang lembut, penuh kasih sayang, mengobati luka anugerah ini.
Byul menahan diri untuk tidak grogi, ketika sedekat ini dengan Alima.
"Done! Sekarang lo boleh pergi!" ucap Alima.
"Thanks ya!" ucap Byul sambil keluar dari mobil Alima.
*****
Kiyara mendapat chat dari Mama Samy, isinya ajakan lunch di restoran
Tanpa basa-basi dia langsung menyetujuinya.
Sebelum pergi ke kantor, Kiyara menitip pesan pada Ibu Alima untuk tidak menunggunya makan siang bersama.
Dalam merayakan keberhasilan mereka semakin memupuk rasa percaya diri yang tinggi.
Namun di balik itu ada campur tangan manusia berhati malaikat, menolong petugas kepolisian tanpa pamrih.
Hal tersebut diketahui saat salah seorang wartawan menanyakan mengenai sebuah foto-foto mulai dari tempat penyimpanan sabu sampai beberapa wajah para komplotan pecandu narkoba.
Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali dia mengirim paket berisi lembaran foto pelaku kejahatan ke Mabes Polri.
Semua petugas kepolisian berhutang budi padanya.
Bripka Ahsan menghentikan langkah Samy yang hendak pergi.
"Lo udah tau berita soal orang yang udah kirim foto aksi pelaku kasus narkoba kemarin ke sini?" ucap Ahsan.
"Iya, baru tau hari ini," ucap Samy, "Gue terkesan dengan keberaniannya. Karena nggak mudah menghadapi orang-orang seperti mereka."
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?"tanya Ahsan.
"Segera cari tau pengirim foto-foto itu!" cetus Samy.
***
__ADS_1
Kantor Hukum Artha & Rekan
Di dalam, suasana begitu ceria.
Ruangan dengan bentuk seperti studio. tersedia juga beberapa rak buku minimalis di ruang tunggu.
Desain Biofilik untuk ruang bersantai, agar pikiran jadi fresh.
Namun tempat favorit Alima adalah di rooftop.
Karena di sana dapat melepas energi negatif dalam dirinya melalui semilir angin.
Apalagi saat menikmati senja, yang sensasinya sungguh menggugah jiwa.
"Al, gue ada kabar baik nih buat lo!" ucap Tamara, teman sekantornya.
"Pilih yang mana?"sambung Tamara membuat Alima melotot dengan menunjukkan beberapa foto pria tampan.
"Maksud lo, gue harus pilih salah satu dari mereka gitu?" ucap Alima mengangkat alisnya.
Tamara mengangguk seraya tersenyum.
"Bisa nggak lain kali lo nunjukin sesuatu yang berbeda!" jelas Alima lalu pergi meninggalkan Tamara.
Keluar dari kantor, Alima melongo melihat Samy sedang berdiri di sana.
Dia berkali-kali memejamkan mata berharap hanya ilusi.
Sampai mencubit punggung tangannya yang terasa sakit.
"Kamu kok bisa tahu aku ada di sini?" tanya Alima.
"Nggak susah buat saya menemukan kamu!" ucap Samy.
Samy menghela napas berat. "Maksud saya ke sini untuk membicarakan soal pacar kamu!" Mulut Alima menganga lebar.
Samy pun mengajak Alima berbicara empat mata di sebuah taman dekat kantornya.
Mereka duduk berjarak di kursi panjang.
"Kamu punya waktu 5 menit untuk bicara!" ucap Alima.
"Sebenarnya siapa laki-laki itu?" tanya Samy.
Alima mengamati. "Kamu ke sini cuma mau nanya siapa dia? Bukannya waktu itu udah jelas ya!"
"Kamu harus jauhi dia!" tegas Samy.
Alima mengatupkan mulut hingga terdengar bunyi kecap.
"Kamu nggak berhak buat ngatur hidup aku, dengan siapa aku berteman. Lebih baik fokus penuhi janji kamu ke Kiyara!"ucap Alima hendak melangkah pergi, namun Samy menghentikannya.
"Tolong kamu dengerin dulu penjelasan saya!" desak Samy.
"Time is up!" Alima pergi sambil tangan melambai.
Kiyara sudah tiba di restoran untuk lunch bersama keluarga Samy.
Dia tidak menduga bisa bertemu Byul di sana.
"Hi Byul!"teriak Kiyara sambil menghampiri Byul.
"Hi! Kamu kemari bersama Alima?" tanya Byul.
__ADS_1
"Nggak. Aku ke sini mau lunch bareng keluarga pacar!" ucap Kiyara.
Tidak lama kemudian, Samy tiba di restoran. Seketika matanya melebar saat tahu Kiyara bersama dengan Byul.
Samy berjalan menghampiri Kiyara dan menarik paksa tangannya.
"Sayang! Kamu ngagetin aja!" cetus Kiyara.
"Ngapain kamu sama dia?"tanya Samy dengan sorot mata yang tajam.
"Aku nggak sengaja ketemu dia di sini, dan kita berdua cuma sekadar ngobrol biasa kok!"
"Posesif banget jadi cowok!" sahut Byul membuat Samy menggeram.
"Udah yuk, kita telat nih ketemu sama mama, papa kamu!" ucap Kiyara menggandeng tangan Samy untuk pergi.
Samy melepaskan genggaman Kiyara.
"Kamu kenapa sih?"tanya Kiyara, "Cemburu sama dia?"
"Ini yang terakhir kamu ketemu sama dia!" ucap Samy membuat Kiyara bingung.
Di tengah-tengah mereka saling bersitegang, Samy mendapat chat dari Mamanya yang tidak bisa datang karena ada urusan mendadak.
"Aku antar kamu pulang!" ucap Samy semakin membuat Kiyara muram.
"Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri!"
Sampai masuk ke dalam rumah, perkataan Samy terus membayanginya.
Kiyara membuka pintu rumah sangat keras, rasanya mau runtuh.
Alima buru-buru keluar dari kamar menemuinya yang terkapar di sofa.
"Kusut banget tuh muka kaya isi dompet gue!" sindir Alima, "Kenapa lagi sih?"
Kiyara memalingkan wajahnya. "Gue kesel banget tau nggak, sama dia yang tiba-tiba berubah!"
"Berubah gimana? Jadi siluman maksudnya?" tanya Alima membuat Kiyara memanyunkan bibirnya.
"Bukan itu! Sikap dia jadi kasar cuma gara-gara ngeliat aku ngobrol sama Byul!" jelas Kiyara membuat alis Alima naik.
Alima penasaran, maksud Samy melarang dirinya dan Kiyara dekat dengan Byul. Kalau bukan karena cemburu buta, lantas apa?
"Aku nggak mau kalau harus putus lagi sama dia, Al!" keluh Kiyara bersandar di bahu Alima.
Samy merenung di atas balkon rumahnya.
Sesekali memandang langit malam yang tidak berpenghuni.
Sambil menyesali perbuatannya pada Kiyara.
Hasrat ingin mendengar suaranya, tetapi mulut menyuruhnya untuk tetap bungkam.
Sentuhan tangan selembut sutra mampu menenangkan hatinya yang sedang bergejolak.
"Tumben malam ini kamu absen teleponan sama Kiyara?" tanya Mamanya, "Lagi marahan ya?"
"Nggak kok Ma. Samy cuma ingin merasakan tenang aja!" jelas Samy membuat Mamanya tertawa.
"Ketenangan itu tercipta kalau kamu bisa berdamai dengan ego sendiri!" cetus Mamanya.
Alima pergi ke kamar Kiyara untuk mengajak makan malam bersama. Karena tidak ada jawaban, dia membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak terkunci, dan begitu terkejut melihat sahabatnya terlentang di lantai.
__ADS_1
......