Alima Dasar

Alima Dasar
Lawan Jadi Kawan


__ADS_3

Dia mematung, juga mata yang dibakar dengan kilap cahaya tengah hari.


Alima menikmati wajahnya yang  masak.


"Udah itu aja? Apa masih ada lagi?"cetus Alima meringis lalu pergi meninggalkannya sendirian.


Adi pun menyusulnya ke balkon.


Alima menghela nafas berat saat mengetahui Adi ada di belakangnya.


"Sebenarnya maksud kamu ke sini buat apa sih? Masih mau mencari kesalahan aku?"tanya Alima.


Adi memang ingin membalas dendam pada Alima atas perlakuan buruk terhadapnya di masa lalu.


Namun untuk bisa mengalahkan lawan, dia harus menjadikannya kawan.


Tiba-tiba Adi tertawa terbahak-bahak.


Alima memicingkan mata.


Dia sorak sorai sambil berjalan mendekatinya.


"Keren ya tadi akting gue?"cetus Adi.


"Sumpah, garing banget tau nggak!"kesal Alima.


"Ayolah, sekian lama kita nggak ketemu. Masak iya, gue dicuekin gini,"ucap Adi.


Alima memalingkan wajahnya.


"Lo ada hubungan apa sama Darren?"tanya Adi membuat Alima menoleh cepat ke arahnya.


Alima terkejut mendengar ucapan Adi. Bagaimana laki-laki yang ada di hadapannya itu mengetahui tentang Darren, yang tidak lain adalah kliennya.


Dia rasa harus berhati-hati dalam berucap. Karena kelicikan Adi itu tidak terpandang oleh mata.


"Sejak kapan kamu jadi paparazi?"tanya Alima, "Oh, atau jangan-jangan kamu adalah salah satu pengagum rahasia aku, ya?"


Adi terlihat menampakkan wajah ingin memuntahkan isi perutnya.


***


Samy dan teman-temannya tengah berbincang di halaman Mabes Polri sesuai apel sore.


Canda tawa terdengar sesaat, ketika kedatangan seorang pria paruh baya merengek meminta keadilan.


Lelaki tua itu berhasil menerobos gerbang Mabes Polri, dia juga mampu melewati petugas yang menjaga di pos.


Samy pun berjalan menghampiri lelaki tua yang warna terkuras dari wajahnya.


Dari ujung kaki sampai kepala. Tubuh lelaki tua tampak seperti seorang binaragawan.


Meskipun rambutnya memutih, barisan gigi yang mulai renggang, kulit yang keriput, namun masih bersemangat baja berhati baja.


Setelah itu Samy membawanya ke ruang tamu.

__ADS_1


Dia melirik ke langit-langit sambil mengelus-elus celana komprang nya.


Tidak lama kemudian, Bripka Ahsan ikut masuk ke dalam ruang tamu untuk mendampingi Samy.


Keduanya dibuat penasaran dengan sosok laki-laki tua di hadapannya itu.


"Maaf sebelumnya kalau saya lancang, sebenarnya bapak ini dari mana? Kenapa nekat menerobos masuk ke tempat ini?"tanya Samy membuat mata laki-laki tua itu menyala.


"Bukankah kalian sudah mendengarnya tadi? Saya butuh kepastian dari pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan terhadap pemilik perusahaan konstruksi pada tahun 1997!"jelasnya sambil melotot.


Di satu sisi, Adi masih menunggu jawaban dari Alima yang tidak ingin menceritakan hubungannya dengan Darren.


Sejak istirahat sampai waktu pulang, Adi setia menantinya.


Hal tersebut tetap tidak menggoyahkan iman Alima.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti jejak Alima yang pergi menaiki tukang ojek.


"Ngapain sih dia masih aja ngikutin gue?"keluh Alima menengok ke belakang saat mengetahui Adi telah mengikutinya.


Alima terpaksa meminta tukang ojek untuk mengentikan motornya.


"Akhirnya lo menyerah juga, kan?"ucap Adi tersenyum licik.


Alima berjalan menghampiri Adi dan menaiki mobilnya.


"Ternyata lo juga nggak bisa berubah yah, masih aja ngeselin!"cetus Alima.


"Lo aja yang terlalu sensitif jadi orang, gue cuma tanya hal sepele doang. Tapi lo malah sok-sokan menghindar dari gue!"ucap Adi.


Alima melongo. "Emang harus gitu gue kasih tau semuanya ke lo? Hello! Anda siapa, pengen tau banget urusan orang lain?"


Seketika Alima teringat pada Darren, yang hari ini sudah harus meninggalkan rumah sakit.


Dia merenung, memikirkan bagaimana caranya untuk bisa melarikan diri dari Adi.


"Oke, kita akan tau jawabannya sebentar lagi!"ucap Adi menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Adi, gue mohon hentikan mobilnya!"desak Alima.


"Sorry Alima, gue harus melakukan ini!"ucap Adi menusukkan jarum suntik ke lengan Alima.


Alima merasa dirinya berputar-putar, tubuh yang lemas, sebelum akhirnya menutup kedua matanya.


Adi membawanya ke rumah sakit, tempat Darren di rawat.


Sampainya di sana, Adi membopong tubuh Alima yang belum juga membuka matanya.


Lalu meminta perawat rumah sakit untuk memeriksa keadaannya di ruang


perawatan umum.


Sambil menunggu Alima sadarkan diri, Adi pergi ke ruangan Darren.


Satu jam berlalu, Alima perlahan membuka matanya. Matanya berkeliling, mengamati ruangan yang asing baginya.

__ADS_1


"Gue sekarang ada di mana?"ucapnya seorang diri.


"Syukurlah Ibu sudah sadar, lebih baik tidak menggunakan obat bius agar bisa tidur nyenyak ya, karena efeknya sangat berbahaya!"jelas Dokter yang menanganinya.


"Saya memakai obat bius?"tanya Alima,


"Untung saja dosisnya tidak terlalu tinggi, jadi efeknya habis lebih cepat,"cetus Dokter lalu pergi meninggalkannya.


Alima keluar dari sana dan pergi mencari Adi.


Darren tampak bersemangat, wajahnya jauh lebih berseri-seri ketimbang hari sebelumnya.


Namun kembali kusut, ketika tidak melihat Alima di sana.


Adi merangkulnya dari belakang. "Habis pulang dari sini, lo harus cicipi makanan buatan gue yang super lezat ya!"


Darren melepaskan rangkulannya. "Sorry Bang, gue nggak bisa ikut lo pulang ke rumah. Tempat gue bukan di sana lagi,"


"Maksud lo apa? Jangan bilang kalau lo diam-diam nyiapin rumah baru buat cewek itu!"cetus Adi.


"Cewek yang mana lagi Bang? Amel udah ninggalin gue!"jawab Darren muram.


Adi merasa iba mendengarnya.


Dari lorong rumah sakit, langkah kakinya terdengar gemuruh.


Seorang wanita berjalan ke arahnya dengan mata yang menyulut api.


Dari pandangan Darren, melihatnya bagai malaikat cantik turun dari langit dan ke bumi untuk singgah di hatinya.


"Gue kira dia udah mati karena obat bius itu!"cetus Adi membuat Darren ternganga.


"Apa? Abang beri dia obat bius?"tanya Darren melotot.


Alima semakin mendekat ke arahnya, dengan tangan yang melingkar di pinggang.


"Manusia nggak punya hati!"pekik Alima pada Adi.


Adi geleng-geleng kepala sambil menelan ludahnya mentah-mentah.


"Alima, jaga sikap lo! Ini rumah sakit!"ucap Adi menahan Alima yang sudah bersiap menghabisinya.


"Lo sendiri nggak mikir kayak gitu sebelum ngelakuin itu sama gue!"


"Apa yang sudah dia lakukan sama kamu?"tanya Darren pada Alima.


Alima menarik napas panjang dan mengembuskannya. "Orang ini sengaja mau mencelakai aku!"ucap Alima tunjuk hidung Adi.


Adi terus menggelengkan kepala.


"Lo salah paham! Gue ngelakuin itu agar lo mau jujur, itu aja!"


"Darren, jangan dengarkan dia! Wanita ini sengaja mau menghancurkan keluarga kita!"


"Apa Lo bilang, keluarga kita?"tanya Alima.

__ADS_1


"Iya, karena Darren adalah saudara tiri gue!"jawab Adi membuat mulutnya menganga lebar.


......


__ADS_2