
Menyapa hening diam membungkam gelap.
Menatap langit begitu muram, bulan pun suram seakan-akan ikut bersedih melihat ulah manusia-manusia keji yang berbuat kerusakan di bumi.
Mereka lupa pada siapa kakinya berpijak.
Kejadian tragis malam itu, bermula ketika aku mendengar suara deru truk menanjak.
"Aku menyebutnya truk engkel. Truk itu berhenti tepat di depan gudang perusahaan konstruksi."
Dengan langkah kaki yang berat, aku menyelinap masuk ke dalam gudang itu.
Di sana terdapat tumpukan bahan-bahan bangunan.
Ada melihat seorang pria bertubuh ideal berdiri di antara dua orang pria bertubuh besar.
Tidak lama kemudian, datang lagi seorang pria bertubuh jangkung. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya, tetapi dia membawa sebuah koper besar berwarna hitam.
Yang terus ditarik ulur oleh kedua pria itu.
Duar ...
Peluru itu ditembakkan dan menancap di jantung salah seorang pria di sana.
Tubuhnya pun terjatuh ke lantai bersimbah darah yang mengucur deras menggenangi dirinya.
Dua pria bertubuh besar menyeret tubuh pria yang sudah tak bernyawa itu ke luar gudang, dan memasukkannya ke dalam truk engkel. Sedangkan pria yang membawa koper hitam masuk ke dalam mobil sedan berwarna silver.
Aku keluar dari dalam gudang, berharap mataku mampu menangkap pelaku kejahatan.
Namun malam itu begitu gelap gulita, cahaya di luar gudang juga redup.
Lagi-lagi aku tidak bisa melihat jelas plat nomor kendaraan mereka.
Selang beberapa menit, datanglah seorang pria bertubuh ideal, memakai helm proyek di kepala hendak masuk ke dalam gudang.
Matanya berkeliling, sesekali menatap langit-langit.
Setelah itu kembali keluar sambil memborgol pintu gudang tersebut.
"Aku tidak ingat kelanjutannya, tapi aku yakin pria yang terakhir kali masuk ke dalam gudang itu tidak bersalah!"jelas Laki-laki tua itu mengingat kejadian pembunuhan terhadap pemilik perusahaan konstruksi.
Samy dan Ahsan saling bersitatap.
Mereka menatap lekat laki-laki tua di matanya membuat laki-laki tua menggerakkan wajah susah karena kejujuran yang terpancar di mata itu.
***
Semua orang yang lalu lalang menatap aneh.
Pak Helmy dan Bu Karmila yang baru selesai mengurus administrasi rumah sakit.
Bergegas menghampiri kerumunan di depan ruang perawatan Darren.
"Ada apa ini? Apa semuanya baik-baik saja?"tanya Pak Helmy.
Alima memilih membungkam mulutnya.
"Sedikit kesalahpahaman aja kok Pa,"sahut Darren.
__ADS_1
Adi yang ikut terdiam, tiba-tiba menarik paksa tangan Alima, dan membawanya ke luar rumah sakit.
Sontak membuat Darren melongo.
Alima sama sekali tidak memberontak pada Adi.
Keduanya mengentikan langkahnya di halaman rumah sakit.
Adi melepas genggaman tangannya pada Alima, dengan menggertakkan giginya.
"Sekarang gue minta lo pergi dari sini, dan jauhi Darren!"tegas Adi.
"Nggak ada yang bisa memisahkan gue dengan dia! Termasuk lo, Bang!"cetus Darren menyembul dari belakang Adi.
Adi menoleh cepat ke arahnya.
"Wanita ini nggak baik buat lo! Gue tau siapa dia. Jadi sebelum lo menyesalinya, lebih baik jauhi dia!"ucap Adi.
Darren geleng-geleng kepala. "Tolong jangan ikut campur, karena gue yang lebih tau mana yang terbaik buat diri gue sendiri!"
"Nggak Darren, kamu harus dengerin apa yang kakak kamu bilang. Kehadiran aku di sini malah semakin membuat runyam, dan aku nggak mau dicap perusak hubungan kalian sebagai saudara!"sahut Alima.
"Untung lo sadar diri!"cetus Adi.
Darren meraih tangan Alima dan menaruhnya di dada.
"Tolong jangan pergi. Aku nggak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya!"pinta Darren.
Adi tidak menyangka bahwa adik tirinya begitu menginginkan Alima.
Mungkin dia harus mengalah untuk kebaikan Darren.
"Gue nggak mau liat lo cengeng kayak gini. Gue janji, dia nggak akan pernah ninggalin lo!"ucap Adi membuat Alima tersenyum, lalu Darren memeluknya.
****
Byul tengah sibuk memotret pernikahan kliennya di sebuah Pendopo Agung Sasono Utomo.
Tidak sengaja bertemu dengan Kiyara di sana yang duduk di kursi tamu undangan.
"Hai, Kiyara!"sapa Byul menghampirinya.
"Hai, Byul. Kamu di sini juga kondangan ya!"
"Tebakanmu salah, aku di sini lagi motret momen sakral klien ku,"jawab Byul sambil menunjukkan kameranya.
"Lucu ya, kita berdua selalu ketemu nggak disangka kayak gini,"cetus Kiyara.
Byul mengamati ke sekelilingnya.
"Kamu nyari siapa?"tanya Kiyara.
"Aku kira kamu ke sini sama Alima,"jawab Byul, "Soalnya klien aku bilang kenal sama Alima. Ya aku pikir kamu pergi sama Alima,"
"Aku udah lama nggak kontekan sama dia apalagi Samy. Entah mengapa aku merasa hubungan antara kami semakin jauh,"jelas Kiyara murung.
Byul memegang lembut punggung tangan Kiyara. "Aku harap hubungan kalian baik-baik aja!"
"Thanks ya!"
__ADS_1
Alima merasa dirinya sudah terlalu jauh dari Kiyara.
Akhirnya dia menghubungi sahabatnya itu untuk ketemuan.
Kiyara yang baru pulang dari acara pernikahan temannya, buru-buru mengaktifkan handphonenya yang di silent.
Melihat ada notifikasi panggilan tidak terjawab dari Alima, dia pun menelepon balik.
"Halo?"ucap lirih Kiyara.
"Hai, Kiya! Maaf ya, gue baru sempat kabarin lo!"cetus Alima.
"It's okay, kamu sekarang tinggal di mana?"tanya Kiyara
"Gue tinggal di apartemen deket kantor,"
"Kenapa nggak tinggal di sini aja sih, Al! Biar aku ada temen ngobrol lagi!"keluh Kiyara.
Alima menghela napas berat. "Gue nggak mau ngerepotin lo lagi, kalau di sini kan, enak. Cuma beberapa angkah dari apartemen!"
"Kayak sama siapa aja, nggak enakan gitu. Aku mah orangnya senang direpotkan, asal jangan ngerepotin hati aja!"cetus Kiyara membuat Alima meringis.
Sementara rombongan mobil jeep yang dipimpin oleh Pria Batu Bata telah tiba di Jakarta.
Mereka menuju tempat persembunyian yang jaraknya tidak jauh dari rumah Kiyara.
Pria Batu Bata langsung menyusun strategi untuk bisa menggapai Alima yang terus-menerus lari dari genggamannya.
Jam dinding mengatakan lewat pukul 12 malam. Samy masih berada di Mabes Polri bersama seorang Reserse Kriminal untuk menggali informasi tentang kasus pembunuhan terhadap pemilik perusahaan konstruksi yang terjadi pada tahun 1997.
Keduanya mengutak-atik komputer yang ada di hadapannya, karena di sana terdapat data-data dari pelaku kasus terdahulu.
15 menit berjalan, belum juga berhasil menemukan data dan informasi tentang pelaku yang mereka cari.
Samy merasakan ada kejanggalan dalam keadaan ini.
Bagaimana bisa data dan informasi para pelaku kasus kriminal yang terjadi pada tahun 1997 kosong.
Meskipun sudah mencarinya ke semua flashdrive, tetap tidak ada.
Samy yakin ada orang yang sengaja menyabotase data dan informasi pelaku.
Tok ... Tok ... Tok ...
Bripka Ahsan izin masuk untuk menemui Samy.
"Bagaimana, apa sudah ketemu?"tanya Bripka Ahsan.
"Hasilnya nihil. Tapi gue akan terus mencari tau di mana keberadaan data-data itu!"jawab Samy.
"Lo nggak usah khawatir, gue selalu siap untuk membantu!"ucap Bripka Ahsan sambil menepuk pundak Samy.
"Lapor Pak! Laki-laki tua itu dikabarkan telah melarikan diri dari tempat ini!"cetus salah seorang petugas.
Samy dan Bripka Ahsan serentak melongo.
"Kita harus segera menemukannya! Karena kita sangat membutuhkan semua informasi darinya!"ucap Samy.
......
__ADS_1