
Hari ini, detik ini akan aku nyatakan perasaan yang telah lama mengakar dalam hati. Entah itu berbuah manis atau berakhir memedihkan. Aku tetap sigap menatap masa depan yang sudah dipastikan bukan nikmati meratap.
Selesai merayakan hari ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Samy mengajak Kiyara ke balkon rumah, bersaksi kemilaunya bintang-bintang yang memenuhi langit malam ini.
Keduanya saling bersitatap.
"Aku tahu, kamu pasti bosan mendengar ini. Tapi aku benar-benar ingin meminta maaf atas segala sesuatu yang melukai perasaan kamu,"ucap Samy sambil menggenggam tangan Kiyara.
"Aku lebih suka melihat orang yang selalu meminta maaf atas segala kesalahannya sendiri dibanding orang yang nggak pernah mengaku salah,"cetus Kiyara, "Dan aku bangga sama kamu!"
Perlahan Kiyara melepaskan genggaman tangan Samy, dan menjauh. Samy merasa Kiyara tidak lagi nyaman saat bersamanya.
Tetapi dia terus berusaha untuk memperbaiki hubungan ini.
Setelah dirasa tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, tidak lama kemudian Kiyara memutuskan untuk pergi dari sana. Tetapi Bu Mona ingin dia tinggal di rumahnya, mengingat Kiyara sudah tidak punya tempat tinggal lagi.
Kiyara dengan cepat menolak permintaan Bu Mona, sampai Samy juga ikut membujuknya namun hasilnya sama saja. Dia lebih memilih tinggal di apartemen.
Akhirnya Samy mengantarnya ke sebuah apartemen yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam perjalanan menuju ke apartemen pun keduanya masih membungkam mulut. Sampai tidak terasa sudah sampai di depan gerbang apartemen.
Samy turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Kiyara, dia juga ingin mengantarnya sampai masuk ke dalam apartemen. Lagi dan lagi, Kiyara tidak mengizinkannya.
Samy pun hanya bisa mengantarnya sampai ke loby. Sementara Kiyara masuk tanpa menengok sedikit ke belakang.
Saat akan berbalik badan, Samy bertemu dengan Adi.
"Apa kabar Bro?"sapa Adi melambaikan tangannya pada Samy.
"Baik, lo sendiri gimana kabarnya? Lama nggak keliatan, Darren baik-baik aja, kan?"
"Kabar gue baik-baik aja, Darren juga baik. Lo ngapain di sini? Oh gue tau nih, jangan-jangan Alima tinggal di apartemen ini ya?"
Samy menghela napas berat. "Bisa nggak sih, nggak sebut nama dia lagi. Gue ke sini anterin cewek gue,"
"Lo sendiri ngapain ada di sini?"sambung Samy.
"Gue sih emang tinggal di apartemen ini, kalau lo mau main ke sini jangan sungkan-sungkan ya!"jelas Adi lalu pamit pergi dulu.
Samy juga pergi dari sana. Sementara Adi terkejut melihat Kiyara ada di sebelah kamar apartemennya.
"Kiya, sedang apa di sini?"tanya Adi.
__ADS_1
"Hai, Adi! Aku tinggal di sini,"jawab Kiyara, "Kamu juga tinggal di sini ya?"
Adi mengangguk seraya tersenyum.
Di sisi lain, Alima telah menceritakan tentang keberadaan ayahnya pada ibunya lewat telepon, meski belum tahu kebenarannya. Alima berpikir akan mencoba mengedit foto masa muda ayahnya dengan sebuah aplikasi editor foto wajah , supaya bisa mengetahui bagaimana rupa ayahnya saat ini.
Seusai mengeditnya, betapa terkejutnya Alima melihat hasil akhir dari foto yang di-edit itu. Hasilnya ternyata sama dengan foto yang dia lihat saat di Polda Metro Jaya tadi. Begitu tak sabar menyambut esok pagi.
Mentari pagi telah terbit, Alima segera bergegas ke Polda Metro Jaya seorang diri. Sampai di sana, Alima belum melihat kedatangan temannya, justru bertemu dengan Samy.
Samy berjalan menghampirinya, Alima terus memalingkan muka.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu cari di tempat ini?"tanya Samy membuat Alima menengok ke arahnya.
"Maksud kamu apa?"tanya balik Alima.
"Kamu pikir saya nggak tahu niat kamu datang kemari untuk apa? Mencari seorang tahanan yang mendekam di penjara sejak tahun 1997, kan?"jelas Samy membuat Alima melongo.
Alima sangat yakin bahwa Bripka Ahsan yang telah memberitahu Samy.
"Maaf, saya bukannya mau ikut campur. Tapi ini adalah tugas saya sebagai seorang polisi, jadi nggak salah dong jika saya tahu semuanya?"cetus Samy membuat Alima terdiam.
Malas berdebat dengan Samy, Alima memilih menjauh darinya. Beberapa menit kemudian, teman pengacaranya tiba. Alima dan temannya masuk ke Polda Metro Jaya, Samy pun menyusulnya.
Perjalanan menuju ruang tahanan, temannya itu mengajaknya ke sel tahanan yang melewati lorong panjang, dan berhenti di salah satu sel tahanan. Ruangan itu paling ujung, di dalam redup cahayanya, hanya ada ventilasi udara yang kecil di atas sana.
Alima melihat seorang laki-laki bertubuh ideal duduk bertopang dagu, tatapan matanya kosong seperti hampa. Alima duduk bersimpuh di depan sel tahanan sambil memegang erat besi-besi yang mulai berkarat.
Dia seperti ayahku, caranya duduk sambil menopang dagu.
Dia seperti ayahku, tubuhnya lusuh dipeluk debu.
Dia seperti ayahku, yang menunggu hari merayakan rindu.
"Ayah?"sapa Alima lirih.
Masih terdiam, panggilan ayah seperti telah lenyap dari dalam hidupnya.
__ADS_1
"Ayah ini Alima, putri ayah!"sambung Alima, membuatnya menengok sedikit ke samping.
"Pak, bisakah saya bicara dengan ayah saya? Sebentar aja,"pinta Alima pada temannya.
"Silakan, Alima,"
Petugas membuka sel tahanan itu, begitu terbuka Alima langsung memeluk erat tubuh ayahnya.
"Alima kangen banget sama Ayah!"ucap Alima, air mata mengalir di pipinya.
"Alima, putri ayah?"cetusnya membuat Alima mengangguk seraya tersenyum simpul.
"Ayah, Alima janji akan mengeluarkan ayah dari tempat ini!"ucap Alima.
Alima dan temannya duduk melingkar di dalam sel tahanan, dia meminta ayahnya untuk mengatakan yang sejujurnya atas peristiwa di perusahaan konstruksi tahun 1997.
Namun ayahnya tampak sulit bisa mengingat kejadian saat itu.
Alima memutuskan untuk pulang, besok berjanji akan menemui ayahnya lagi.
Alima memohon pada teman pengacaranya itu, supaya kasus ayahnya dia yang pegang kendali.
"Tapi bagaimana mungkin Alima, sedangkan kamu saat ini sudah tidak bekerja lagi di sana,"ucapnya membuat Alima muram.
Alima pun menghubungi Tamara, kebetulan sekali dia meneleponnya.
"Baru aja gue mau telepon, lo ada di mana sekarang?"tanya Tamara.
"Gue mau pulang sih, tapi sebelumnya ada yang mau gue omongin sama lo,"jawab Alima.
"Oke deh, gue jemput lo ya. Kita ngobrol di tempat biasa nongkrong,"
Alima menceritakan semuanya pada Tamara. Sahabat seperjuangannya itu merasa prihatin setelah mendengar kisah Alima.
Tamara berinisiatif untuk mengajak Alima kerja di tempat lama lagi.
"Nggak deh, lagian gue males banget berurusan sama Dewi Kipas itu!"jelas Alima.
"Justru ini saatnya, lo buktiin ke mereka semua yang udah merendahkan diri lo!"cetus Tamara.
Tanpa berpikir panjang lagi, Alima menyetujui ajakan Tamara untuk bekerja kembali di kantor Artha & Rekan.
__ADS_1
......