Alima Dasar

Alima Dasar
Selimut Samy


__ADS_3

Kiyara menyusul Samy ke teras rumah.


"Apa semua baik-baik aja?"tanya Kiyara.


Samy tetap membungkam mulutnya, lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk membawa Alima pergi bersamanya.


"Ada apa nih? Lepasin nggak!"ucap Alima sambil melotot.


"Kamu harus ikut say ke Jakarta!"cetus Samy membuat mulut Kiyara dan Byul menganga lebar.


Alima melepaskan genggaman tangannya.


"Buat apa aku ke sana? Urusan kita udah selesai ya!"jelas Alima membuat Kiyara melongo dan berjalan  menghampirinya.


"Urusan apa yang kamu maksud?"tanya Kiyara matanya menelisik, mencari-cari apa ada jejak kebohongan di mataku. 


Alima mengedipkan mata.


"Sebenarnya Alima telah lari dari tanggung jawabnya sebagai pengacara kondang yang menangani kasus narkoba seorang remaja laki-laki. Yang saat ini jiwanya sedang terancam!"sahut Samy.


"Oh iya? Alima, kenapa kamu ngelakuin hal ini?"cetus Kiyara.


Alima menghela napas berat. "Gue cuma nggak mau ninggalin Ibu di sini sendirian, Kiya."


Ibunya pun datang dan merangkulnya dari belakang.


"Alima, Ibu bisa kok menjalani hidup sendiri walau tanpa ada kamu di sini!"ucap Ibunya sambil tersenyum.


"Kalau gitu Ibu ikut Alima ke Jakarta ya!"pinta Alima matanya bercahaya.


"Tapi Ibu nyaman tinggal di rumah ini. Ibu hanya ingin kamu bisa menepati janji!"tegas Ibunya.


Alima mengangguk seraya tersenyum simpul.


Lalu pergi ke kamarnya untuk mengemas pakaian.


Mereka akan pulang ke Jakarta, sore ini juga.


"Ibu nggak perlu cemas, Alima pasti akan sering jenguk Ibu di sini,"ucap Alima sambil memeluk erat Ibunya.


Alima meminta Byul ikut pulang bersamanya naik mobil, walau terlihat seperti terpaksa. Dia menyetujuinya dan duduk di kursi depan, sedangkan Alima duduk di belakang bersama Kiyara.


***


Darren masih menutup rapat matanya.


Mulutnya tidak lagi menyebut nama Alima.


Samy dan yang lainnya hampir tiba di Jakarta.


"Setelah sampai di rumah Kiyara, aku dan Alima akan langsung pergi ke rumah sakit,"ucap Samy.


"Kita sama-sama pergi ke rumah sakit. Nggak masalah, kan?"sahut Alima, "Lagi pula waktunya udah nggak banyak lagi!"


Mereka mengangguk setuju bersamaan.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit pukul 8 malam, Samy mengajak Alima, Kiyara, dan Byul menuju ke ruang ICU.


Di depan sana terlihat kedua orang tua Darren duduk, menanti kabar.


"Selamat malam Om, Tante,"sapa Samy membuat mereka beranjak dari tempat duduknya.


"Malam semua, akhirnya kamu datang juga Samy!"ucap Pak Helmy.


"Bagaimana keadaan Darren saat ini, Om?"tanya Samy.


Pak Helmy menghela napas berat. "Tadi keadaannya memburuk, setelah itu berangsur membaik. Dokter bilang, Darren belum melewati masa kritisnya,"


"Saya sudah mengajak Alima kemari, Om,"ucap Samy sambil menyuruh Alima menghadap ke Pak Helmy dan Bu Karmila.


"Jadi kamu yang namanya Alima?"tanya Bu Karmila, "Saya mohon bantuan kamu, supaya anak kami bisa selamat dari musibah ini!"


Alima mengangguk seraya tersenyum. "Iya Tante, saya akan berusaha keras untuk membantu Darren!"


Kiyara dan Samy duduk berdampingan.


"Kenapa sebelumnya kamu nggak jujur sama aku tentang semua ini?"tanya Kiyara menatap Samy yang hanya menundukkan kepalanya.


"Apa itu artinya aku sudah nggak ada tempat di dalam hati kamu?"sambung Kiyara membuat Samy menoleh cepat ke arahnya.


Dia menahan air mata.


"Maaf kalau menurut kamu aku salah, tapi itulah yang aku rasakan saat ini."


Samy diam seribu bahasa mendengar ucapan Kiyara.


Alima masuk ke dalam ruang ICU.


Matanya menatap iba Darren yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dan bernapas dengan ventilator.


"Hai, Darren!"sapa Alima di sisinya, "Kamu apa kabar? Ngapain sih betah banget tiduran di sini?"


"Kamu bilang mau cepat-cepat ketemu sama dia. Itu loh, yang namanya Amel. Andai Amel melihat kamu seperti ini, pasti dia kesel. Habis dicuekin sama orang yang dia sukai!"sambung Alima sambil meringis.


Alima berharap suaranya dapat didengar, meski tampak sukar.


****


Pria Batu Bata dengan pupil matanya yang berkobar."Lagi-lagi dia yang menyelamatkan wanita itu, ada hubungan apa mereka?"geram Pria Batu Bata.


Kejahatan yang dilakukan oleh Pria Batu Bata tidak berhenti di sini saja. Dia akan menjemput Alima sebagai malaikat mautnya.


"Bersembunyi di lubang semut pun aku masih bisa menemukanmu!"lirih Pria Batu Bata sambil menyeringai.


Beberapa menit kemudian, Bu Karmila masuk ke ruang ICU.


"Alima, terima kasih ya sudah mau menengok anak saya,"ucap Bu Karmila, "Semoga Darren bisa mendengar semua ucapan kamu di alam bawah sadarnya."


"Saya berdoa agar Darren bisa cepat melewati masa kritisnya Tan, karena dia adalah yang kuat. Pasti bisa!"cetus Alima tersenyum.


Alima dan Bu Karmila pun keluar dari ruang ICU. Byul menghampirinya.

__ADS_1


"Aku antar kamu ke rumah Kiyara ya!"ucap Byul.


Bagaimana bisa pulang, kalau keadaanya menjadi serumit sekarang?


"Gue istirahat di sini aja deh, kebetulan deket kan, sama kantor!"jawab Alima memaksakan senyum.


"Oke, kalau gitu aku pulang yah. Besok pagi aku ke sini buat nengok kamu,"ucap Byul.


"Nggak perlu Byul, gue baik-baik aja kok di sini!"


Alima duduk di tepi kursi panjang sambil memejamkan mata.


Samy melangkah pelan berjalan menghampirinya sambil mengenakan selimut tebal ke tubuh Alima, lalu berdiri di sampingnya.


"Samy, ternyata kamu masih di sini? Saya kir kamu sudah pulang tadi,"ucap Pak Helmy yang baru saja keluar dari ruang ICU.


"Iya, Om."


"Oh saya mengerti sekarang, kamu rela nggak pulang demi perempuan ini, kan?"cetus Pak Helmy membuat matanya berkeliling.


Samy tidak kuasa menyembunyikan mulutnya yang melengkung membentuk senyuman.


Di perjalanan pulang, Byul menemukan mobil Kiyara di tepi jalanan yang sunyi.


Byul turun dari motor tukang ojek, dan menghampirinya.


"Kiyara, ngapain di tempat sepi kayak gini?"tanya Byul pada Kiyara yang duduk di trotoar.


Kiyara terlihat buru-buru menghapus sesuatu di wajahnya.


"Lagi pengen hirup udara segar aja,"jawab Kiyara sambil tersenyum.


"Tapi ini udah larut malam Kiyara, yang ada nanti badan kamu malah kemasukan angin!"


Kiyara tertawa kecil. "Kenapa aku nggak kepikiran ya? Berarti aku harus pulang ya?"


Byul mengangguk pelan.


"Kamu pulang sama siapa? Apa mau bareng sama aku?"tanya Kiyara.


"Thanks, tapi aku udah naik ojek,"


"Oke, aku duluan ya!"


Pagi yang cerah. Teriknya mencumbu mesra pipinya yang seketika berubah memerah setelah melihat seorang laki-laki duduk di sampingnya.


"Kamu udah dari tadi di sini?"tanya Alima matanya mengarah ke selimut yang membalut tubuhnya.


"Tepatnya dari mulai kamu memejamkan mata,"jawab Samy membuat Alima melotot.


Berarti selimut ini pemberiannya?


Itu wajar, orang lain pasti akan melakukan hal yang sama


......

__ADS_1


__ADS_2