
Allura yang baru keluar dari rumah Richard masih berjalan dengan percaya diri nya namun saat di lift dia langsung merasa lutut nya lemas .
" Ya ampun ! Itu menakutkan !" Ucap nya sambil menepuk nepuk dada nya yang sedari tadi berdetak kencang.
" sudah kuduga Richard yang jahat itu akan semakin menguasai tubuh paman ku !" Gumam nya.
allura yang dengan beraninya menantang maut tidak tahu kalau Tante nya sedang kelimpungan mencari keberadaannya.
sampai dia meminta bantuan polisi untuk mencarinya bahkan Aidan dan Riko ikut mencari keberadaan nya.
Sementara Allura masih belum ingin pulang, kini dia berjalan sendirian menyusuri sebuah taman di tengah kota, merasa kakinya mulai lelah dan kepalanya mulai pusing allura pun mengistirahatkan tubuh nya di sebuah bangku panjang.
Sembari memeriksa luka di tangan nya yang terasa basah, ternyata darah nya sudah membasahi seluruh perban yang membalut nya, tapi allura tidak peduli dia hanya membiarkannya, allura menatap kosong pemandangan danau kecil di hadapan nya,
suasana sunyi dan gelap tidak membuat nya takut, bahkan setelah apa yang terjadi padanya dia tidak merasa risau, allura bangkit dari tempat duduk nya lalu dia berjalan menuju ke danau yang tenang itu, tampak bayangan nya memantul di air itu.
" Allura lihat dirimu sekarang, kau tampak menyedihkan, " ucap nya pada diri sendiri lalu dia menatap ke langit.
" kenapa kau selalu tampak indah dan sempurna? Apa karena tak ada yang mengusik mu disana ? Aku iri disana pasti tenang dan menyenangkan ya, kan ? " Tak sadar matanya mulai berair.
" aku hanya mau hidup tenang seperti mu, hanya itu ingin ku menemukan ketenangan, tapi sepertinya tuhan tidak mengijinkan nya !" Allura menyeka air matanya.
Dia terus memandangi langit malam yang cerah tak berawan itu membuat nya sementara melupakan pelik nya hidup yang tak kunjung usai.
****
Aidan terlihat sibuk mendatangi tempat tempat yang mungkin di datangi allura, namun Aidan belum juga menemukan keberadaan allura, Aidan sudah mulai frustasi karena dia pun tidak bisa menghubungi allura karena allura meninggal kan ponsel nya di rumah sakit.
" allura kenapa kau selalu membuat ku khawatir seperti ini !" Keluh Aidan sambil mengendarai motornya.
Riko yang sibuk memantau rekaman cctv bersama polisi akhirnya berhasil menemukan salah satu cctv yang merekam keberadaan allura terakhir kali.
" Dan, lo coba cari si allura di sekitar taman kota, dari cctv terlihat dia berjalan ke arah taman !" Aidan pun langsung tancap gas pergi ke taman tempat allura berada.
Tak berapa lama Aidan sampai di sana, dari kejauhan Aidan melihat seseorang berdiri di pinggir danau namun sepertinya dia akan segera pergi, Aidan segera berlari untuk mendekatinya
" allura !!" Teriak nya, allura pun menoleh ke arah suara itu, allura melihat sosok Aidan sedang berlari menuju kearah nya.
tadi nya allura hendak menghindarinya tapi dia kalah cepat Aidan berhasil mencegah nya kabur, dengan nafas yang ngos-ngosan Aidan meraih tangan allura dan menggenggam nya kuat.
" Lepaskan aku !"
__ADS_1
" Kau mau pergi kemana, hah ?" Bentak Aidan
" Aku hanya mau sendirian dulu !!" Ucap allura sambil mencoba melepaskan genggaman Aidan .
" Kau gila !! Kau gak sadar kalau kelakuan mu itu membuat semua orang khawatir !! Bahkan setelah kejadian tadi siang kau masih bisa kelayapan sendirian ? Malam malam lagi kau benar benar ...! " Saking marah nya Aidan sampai kehabisan kata kata, dia menarik nafas panjang terlihat betapa stres dan khawatir nya Aidan.
" kau mau membuat ibu mu mati berdiri hah ?" Lanjut nya.
Saat mendengar kata ibu, allura tersadar kalau tindakan nya itu salah dia jadi merasa bersalah, saat suasana sudah tenang Aidan menarik allura ke pelukannya.
" Syukurlah kau tidak apa apa !" Ucap Aidan kini kekhawatiran nya sirna karena allura sekarang ada di pelukannya dengan keadaan selamat, dia pun mengajak allura untuk kembali ke rumah sakit.
sebelum itu Aidan tidak lupa memberikan kabar bahwa dia telah menemukan allura. Sepanjang perjalanan allura hanya terdiam sambil bersandar ke punggung Aidan, sesekali Aidan melihat nya dari kaca spion.
Nampak dari wajah nya bahwa dia sedang tertekan , Aidan mengerti keadaan yang allura alami sekarang pasti membuat nya terguncang dan takut. Semua hal yang menimpanya cukup mengguncang kewarasan bahkan bagi orang normal sekalipun akan merasakan tekanan batin yang hebat.
Aidan merasa salut kepada allura bahwa sampai sejauh ini mental nya menjadi kuat, tapi tetap saja dia merasa khawatir karena sekuat apapun allura, dia tetap seorang manusia biasa yang di suatu waktu bisa down juga.
di saat seperti itulah Aidan ingin selalu ada untuk allura, untuk bisa jadi sandaran ternyaman untuk nya.
****
Saat tiba di rumah sakit allura langsung di sambut dengan tamparan keras dari ibu sambung nya, membuat suasana langsung hening seketika.
" kau akan terus membuat ibu mu ini khawatir setengah mati hah ?" Tante Sarah menampar nya lagi.
" apa kau puas terus menyiksa ku seperti ini ? Apa kau senang !!" Tante Sarah membentak allura sambil mencengkram baju allura, Lenatan yang juga ada di sana mencoba menenangkan Tante Sarah yang begitu emosi sekarang.
" aku senang saat kau bisa hidup normal lagi, tapi jika kau jadi seperti ini akan lebih baik jika kau terus seperti dulu !!" Dengan mata yang sudah sembab dan memerah, Tante Sarah tidak sadar mengucapkan kata kata yang cukup menyakitkan bagi allura, allura tidak menyangka akan mendengar ucapan itu dari mulut ibu sambung nya yang selama ini mengurusnya.
" Sudah cukup, kau harus tenang sekarang !" Lenatan menarik Tante Sarah dan mencoba melepaskan cengkraman nya, Tante Sarah masih sangat kesal dengan allura yang sekarang hanya bisa berdiri mematung menerima semua kemarahan dari ibunya.
" Sudah, allura sekarang sudah selamat kau harus memaafkannya !" Ucap Lenatan lagi, ternyata dia lebih perhatian dari kelihatannya.
Tante Sarah pun melepas kan cengkraman nya dengan sedikit mendorong allura membuat badan allura hampir terjatuh namun Aidan yang sedari tadi juga ikut menyaksikan kejadian itu sigap menolongnya.
Kali ini Aidan tidak bisa membela allura karena allura memang pantas di marahi oleh ibunya itu dan Aidan tidak punya hak untuk mencegah nya.
Tante Sarah terkulai lemas dengan pikiran yang ruwet , dia benar benar merasa stres menghadapi allura sendirian seperti ini, allura pun dibawa oleh Aidan ke kamar nya.
****
__ADS_1
" Kau tidak merasa sakit ? " Tanya Aidan melihat allura yang tidak mengernyit sedikit pun saat lukanya di bersihkan oleh seorang perawat,
allura hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh, si perawat bahkan sampai heran luka bakar nya cukup parah dan sekarang mengalami pendarahan yang harus nya memberikan sensasi sakit yang hebat namun allura bisa menahan nya, itu sangat aneh.
Allura yang masih mengidap kebiasaan menyakiti dirinya sendiri saat merasa stres atau ingin menenangkan pikirannya merasa kalau rasa sakit dari luka nya itu justru membuat nya merasakan sensasi menenangkan .
Aidan memberitahu Tante Sarah kalau malam ini dia akan menjaga allura dan menyuruh Tante Sarah untuk istirahat saja di rumah, karena Aidan bilang akan merawat allura membuat Tante Sarah merasa terbantu, dia memang merasa butuh istirahat sejenak.
Malam sudah lewat pukul 1 malam tapi allura masih terjaga begitupun Aidan, tapi mereka saling mendiam kan. Aidan sudah merasa muak dengan keheningan itu, dia pun akhirnya memulai pembicaraan.
" Kamu pergi kemana tadi ?" Tanya nya, namun allura tidak menjawab nya dia hanya menatap kosong langit langit kamar rumah sakit itu, Aidan pun bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan ke arah allura, allura langsung membalikan badan memunggungi Aidan.
" Jangan melihat ku aku malu !" Ucap allura
" Kau memang pantas mendapat kannya ! Sebenarnya tamparan Tante Sarah tadi sangat mewakili ku !" Ujar Aidan datar.
" Apa ? Maksud nya kamu juga ingin menamparku juga !" Allura tercengang Aidan punya niat seperti itu sambil menoleh ke arahnya.
" Tentu saja, dalam kondisi seperti tadi akan sangat menyenangkan untuk menampar seseorang yang membuat khawatir semua orang !"
" Lalu kenapa kau tidak langsung menampar ku saat kau bertemu ku tadi ?" Allura jadi kesal sambil bangun dari tidurannya.
" Walau pun aku sangat ingin aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu ! " Aidan mengelus pipi allura yang tampak memerah bekas tamparan keras tadi.
" Kenapa ? Jika kau marah lakukan saja, kau tidak perlu menahan nya ! "
" Aku bukan pria yang suka main tangan, dari pada aku harus memukul mu lebih baik aku menyakiti diriku sendiri !"
" Kenapa ?"
" Karena sejelek-jelek nya lelaki itu yang suka main tangan terhadap wanita ! Aku tidak mau jadi pria seperti itu, justru aku mau melindungi mu dari semua hal yang akan menyakiti mu, bahkan kalau bisa dari semut pun aku akan melindungi mu !"
" Itu berlebihan !" Allura kembali merebahkan badannya lagi
" Aku mau tidur disini !" Aidan menggeser kan badan allura
" Ranjang nya kecil !" Protes allura.
" Bisa, tuh..!" Aidan memaksakan agar badan nya bisa muat di kasur, akhirnya setelah beberapa kali pergeseran badan mereka bisa muat di ranjang rumah sakit yang cukup untuk satu orang itu.
" Aku lelah !" Aidan nampak nya sudah mau terlelap,dia sudah memejamkan mata nya setelah beberapa menit Aidan benar benar sudah pulas tertidur.
__ADS_1
Allura yang masih terjaga menatap wajah Aidan yang dekat sekali dengan wajah nya itu, allura membelai wajah dan rambut Aidan, dia baru menyadari betapa beruntungnya dia mempunyai sosok Aidan di hidup nya, pria yang bisa menggantikan sosok ayah nya dalam melindungi dan membela nya dalam kondisi apapun.
Lalu Allura mengecup kening Aidan, Aidan yang menyadari nya langsung menarik badan allura kepelukan nya, memang benar semua hal yang pelik bisa di hilang kan dengan peluk seperti yang mereka rasakan pelukan yang hangat membuat perasaan masing-masing menjadi tenang dan lebih kuat.