Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.29 ~Keluarga Satya


__ADS_3

Daniel mengendarai mobilnya laju, menuju kantor, dia harus bertanya pada Aliyha sekarang juga.


Sampai di kantor, Daniel segera memarkirkan mobinya di parkiran khusus para petinggi perusahaan. Dia segera turun dari mobil, saat melihat Aliyha memasuki pintu lobby.


"Aku ke atas, ya." pamit Aliyha pada Regina dan Satya sambil melambaikan tangannya.


Tiba-tiba saja, tubuh Aliyha di seret masuk ke dalam lift khusus para petingggi perusahaan.


"Awk!" pekik Aliyha. "Tuan! Anda!" kejut Aliyha.


"Aku punya urusan denganmu!" ketus Daniel.


Aliyha hanya diam dan tak menjawab. Pikirannya melayang tentang ucapan Daniel, segala macam pertanyaan timbul di benaknya.


Sampai di ruangan, Daniel mengajak Aliyha duduk di sofa untuk bicara dengannya.


"Duduklah!" pinta Daniel.


Aliyha duduk dengan jantung yang tak karuan, dia sangat takut jika Daniel sudah mengetahui tentang Darel.


"Kenapa, kau pindah dari tempat tinggalmu yang lama?" tanya Daniel.


"Haa!" Seru Aliyha.


"Jawab Aliyha!" pinta Daniel.


"Hm, maaf, Tuan. Memang apa salahnya jika saya pindah?" tanya Aliyha balik.


"Ya." Daniel tampak berpikir untuk menjawab Aliyha, karena memang dia tidak punya hak untuk itu.


"Ya. Karena tadi aku menjemputmu dan kau tidak ada di sana, bagaimana jika ada pekerjaan dadakan?" jawab Daniel dengan merubah sedikit ekspresinya, yang tadi terlihat marah pada Aliyha kini menjadi biasa saja.


"Anda bisa menelvon saya, Tuan." jawab Aliyha lalu bangkit dari duduknya.


"Tunggu! Tapi..., di mana kau tinggal sekarang?" tanya Daniel lagi.


"Jika ada sesuatu yang yang penting, Anda bisa menghubungi saya." jawab Aliyha kemudian melangkah menuju meja kerjanya.


Daniel terdiam, Aliyha pasti menyembunyikan sesuatu, pikirnya.


*


Siang hari, Aliyha dan Satya tengah duduk di kantin untuk makan siang.


"Al, aku mau tanya sesuatu." ujar Satya.


"Iya, Mas. Tanya saja." jawab Aliyha.


"Tentang hubungan kita,"


"Hubungan kita. Kenapa, Mas? Apa Mas Satya ragu?"


"Bukan seperti itu. Hanya saja, aku pikir bagaimana jika kita melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih tinggi." Ucap Satya.


"Maksud, Mas. Menikah?" tanya Aliyha.

__ADS_1


"Itu jika kamu sudah siap, tapi jika belum kita bisa bertunangan dulu jika kau mau." ucap Satya lagi dengan sungguh-sungguh.


"Kalau untuk menikah, aku belum siap, Mas. Tapi, seperti yang Mas Satya mau, jika hanya bertunangan aku siap, kok." jawab Aliyha.


"Benarkah? Baiklah. Aku akan mengurusnya," jawab Satya dengan tetsenyum.


"Tapi, bagaimana dengan keluarga Mas Satya?" tanya Aliyha.


"Tenang saja, aku akan bicara dengan mereka." ujar Satya.


*


Seperti biasa, Satya mengantarkan Aliyha dan Regina pulang ke kontrakan baru mereka.


Mobil itu berhenti tepat di rumah kontrakan Aliyha dan Regina pulang.


"Mas, nggak mampir dulu?" tanya Aliyha.


"Tidak dulu. Aku harus pulang untuk bicara dengan Mami dan Papiku." jawab Satya.


"Baiklah. Hati-hati di jalan, Mas." ucap Aliyha lalu turun dari mobil itu dan melambaikan tangannya pada Satya.


Daniel tengah mengikuti mobil Satya sedari tadi, dan tanpa seorang pun dari mereka yang tau. Daniel memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat mpbil Satya berhenti, dia kembali melajukan mobilnya setelah Aliyha masuk ke dalam rumah.


Daniel mengikuti mereka hanya untuk mengetahui tempat tinggal mereka yang baru, dia tidak mendatangi Aliyha di rumah kontrakan barunya. Daniel hanya melewati begitu saja rumah itu.


*


*


"Pi, Mi. Aku ingin bicara dengan kalian." ucap Satya disela-sela makannya.


"Tentu saja. Papi juga ingin bicara denganmu. Selesai makan kita ke ruang keluarga." ucap Nathan, ayah Satya dan mendapat anggukan dari Satya tanda setuju.


Selesai makan malam, mereka bertiga bersama ibu Satya pergi menuju ruang keluarga.


"Kamu mau bicara, bicaralah sekarang," ucap Nathan.


"Pi, Mi. Aku mempunyai kekasih dan rencananya kami ingin bertunangan." ucap Satya.


"Lalu, di mana wanita itu?" tanya Liana, ibunya, Satya.


"Aku belum pernah mengajaknya ke sini, Mi. Dan...," Satya menjeda ucapannya.


"Dan, apa?" tanya Liana.


"Dia juga tidak tahu tentang keluarga kita," jawab Satya.


"Apa!! Maksudmu, tidak tahu! Dia tidak tahu dengan keluarga terkaya nomor 4 di negara kita!" kejut Liana dan mendapat anggukan dari Satya.


"Sudah papi katakan, berhenti dari pekerjaanmu itu dan bergabung di perusahaan kita. Kakakmu cukup kuwalahan menangani perusahaan itu sendiri. Dan kau sama sekali tak mau membantunya." ucap Nathan pada putranya.


"Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku, Pi. Biarlah kakak mengurusnya, jika hanya perlu bantuan sedikit aku akan membantunya, tapi tidak untuk menetap." jawab Satya.


"Bagus ya!" suara seorang pria berjas yang tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Semua mata tertuju padanya, mereka sangat tahu siapa pria itu.


"Dasar anak tidak tahu diri! Kau tau, istriku sering mengeluh karena aku jarang di rumah." ujar pria itu seraya mendekat ke arah mereka.


"Lihat, Kakakmu! Sudah tiga bulan dia baru bisa datang ke mansion kita." ujar Nathan.


"Huuf, ayolah Kak! Jangan menambah memanas-manasi Papi dan Mami." keluh Satya.


"Siapa yang memanas-manasi! Aku bicara kenyataannya. Kau itu bukannya mengembangkan perusahaan sendiri, malahan mengembangkan perusahaan orang." ucap Surya, kakak Satya.


"Kak!" keluh Satya.


"Sudah-sudah. Papi akan menyetujui apa yang kau minta, tapi kamu harus bekerja di perusahaan kita." ucap Nathan.


"Tapi, Pi!" bantah Satya.


"Tidak ada tapi-tapian. Kau hanya harus memilih, jika kau ingin terus bekerja di sana, itu artinya kau belum siap untuk menjalin hubungan." ujar Nathan kemudiam berlalu dari sana.


"Pi, aku ingin bicara, soal pekerjaan." ujar Surya.


Nathan hanya menganggukan kepala, kemudian berjalan menuju ruang kerjanya dan di ikuti oleh Surya di belakangnya.


"Satya, apa yang di katakan papi itu benar. Kamu harus belajar mengurus perusahaan. Tidak mungkin kamu Kau akan bekerja di sana sampai menikah nanti. Selama ini kami tidak pernah ikut campur dengan keputusanmu, tapi sekarang sudah saatnya kau berpikir sebagai pria dewasa. Pikirkanlah," ucap Liana menasehati putranya.


*


*


Pagi harinya, Satya kembali menjemput Regina dan Aliyha. Dia juga harus mengantar Darel ke sekolah. Sekolah Darel menjadi jauh karena pindah dari kontrakan yang lama, jadi dia di antar dan jemput oleh bang Ojek langganan Aliyha.


Sampai di sekolah, Darel turun dari mobil Satya dan berpamitan pada mereka.


"By, Bunda, Aunty, Uncle." ucap Darel seraya melambaikan tangan.


Satya menekan gas mobilnya kembali setelah Darel beranjak dari sana. Darel memasuki gerbang sekolah, tiba-tiba seseorang memegang pundaknya.


"Darel," sapa Daniel.


"A-, Om!" kejut Darel kemudian kembali melangkah.


"Darel, duduk di sana, yuk." ajak Daniel.


"Aku harus masuk kelas, Om." ucap Darel terus melangkah menuju kelasnya.


"Nanti aku akan ijin sama gurumu," ucap Daniel seraya mengikuti langkah Darel.


"Tidak perlu!" ujar Darel kemudian berlari ke dalam kelasnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Giftnya di mana? Nggak naik-naik nih, giftnya😭


__ADS_2