
"Mas Kenan!" kejut Aliyha dengan melebarkan matanya menatap kehadiran Kenan.
"Slamat malam," sapa Kenan.
"Ada apa, Mas?" tanya Aliyha dengan penasaran.
"Nona Ratu memerintahku untuk menjemputmu, ke mansion." jawab Kenan.
"Untuk apa?"
"Kau bisa menanyakan itu pada Nona," jelas Kenan yang tak menjawab sama sekali pertanyaan Aliyha.
"Baiklah. Akan ku telvon nonamu itu! Puas!" kesal Aliyha karena tidak mendapat jawaban yang tepat dari pria irit bicara julukannya.
Kenan menatap Aliyha yang kesal, dia sungguh tidak mengerti kenapa dengan wanita di depannya, yang tengah memegang ponsel di telinganya dan berbicara dengan seseorang.
"Kenapa harus berkemas,Mba?" tanya Aliyha, setelah Regina menyuruhnya berkemas di balik telvon.
"Berkemaslah dan datang ke mansion! Cepat tidak pake lama!" pinta Regina.
"Ok-ok. Nyonya Ratu yang tidak bisa di bantah, sama nyebelinnya sama pengawal yang Mba kirim kemari!" jawab Aliyha dengan kesal di balik ponselnya.
Tut tut tut tut
Aliyha memutus sambungan telvonnya secara sepihak, membuat Regina mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Aliyha yang ketus dan berakhirnya panggilan telvon dari Aliyha.
*
Regina menggelengkan kepalanya dengan bingung.
"Ada apa dengan anak itu?" gumam Regina seraya melihat ponselnya yang telah tertutup layarnya.
*
"Tunggu di sini!" pinta Aliyha dengan nada perintah dan ketus pada Kenan.
Kenan menatap Aliyha yang tengah berbalik melangkah menuju kamarnya, dan dia hanya mengendikan bahunya tanda tidak mengerti.
"Wanita memang sulit di mengerti," gumam Kenan yang tidak peduli dengan Aliyha yang kesal.
Selesai berkemas, Aliyha hanya membawah sebuah tas jinjing sedang yang di isi dengan beberapa pakaiannya dan alat yang dia butuhkan untuk bekerja.
"Ayo!" ajak Aliyha setelah keluar dari dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Kenan menyusulnya dari belakang, dan melihat Aliyha yang duduk di bangku belakang mobil. Dia merasa heran karena biasanya dia tidak suka duduk sendirian di belakang dan akhirnya memutuskan bertanya karena tidak mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.
"Kenapa duduknya di belakang?" tanya Kenan.
"Kenapa? Biasanya, Mas yang menawarkanku duduk di belakang! Kenapa sekarang bertanya?" tanya Aliyha balik yang sebenarnya dia sudah sangat lapar dan sangat kesal sejak Satya tidak menjemputnya.
"Hm," Kenan hanya berdehem mendengar ucapan Aliyha yang panjang lebar.
"Dasar pria irit bicara!" umpat Aliyha, yang masih bisa di dengar oleh Kenan yang duduk di bangku depan.
__ADS_1
"Apa kamu bicara sesuatu," tanya Kenan setelah menjalankan mobilnya.
"Jalan aja!" pinta Aliyha ketus.
"Hm,"
"Aakh!" pekik Aliyha yang mengacak rambutnya sendiri. Entah kenapa dengan malam ini, semua orang membuatnya kesal, pikir Aliyha.
"Apa kamu kutuan?" tanya Kenan tanpa perasaan pada Aliyha.
"Apa katamu?" ujar Aliyha marah, reflek tangannya juga memukul kepala Kenan dengan sedikit keras yang membuat pria itu memekik.
"Awk!"
"Rasain!"
"Dasar s*nting!" gumam Kenan pelan yang di dengar seperti bisikan oleh Aliyha.
"Apa kau berkata sesuatu?"
"Tidak!" jawab Kenan, sekarang pun dia mulai kesal dengan tingkah Aliyha yang marah-marah tanpa sebab padanya.
Kenan sudah tak merespon lagi Aliyha yang terus bergumam dalam mobil, entah apa yang di katakan wanita itu.
Beberapa saat kemudian, mobil mewah itu pun memasuki halaman mansion dan setelah berhenti Aliyha segera turun dari mobil dan berjalan cepat untuk masuk.
Di depan teras Regina bingung dengan Aliyha yang terlihat kesal setelah turun dari mobil dan berjalan ke arahnya.
"Al, kenapa?" tanya Regina.
"Astaga! Kamu belum makan?" tanya Regina.
"Belum, Mba. Aku sudah kelaparan sejak sore," ungkap Aliyha.
"Jadi seperti itu saat wanita kelaparan," batin Kenan yang mendengar pembicaraan mereka.
"Kamu nggak masak di kontrakan?" tanya Regina.
"Panjang ceritanya. Nanti aja setelah makan," jawab Aliyha.
"Ya, sudah ayo masuk," ajak Regina yang merasa kasihan dengannya.
Regina membawah Aliyha terus langsung ke meja makan dan menyuruh pelayan untuk memanaskan makanan yang tadi dia makan berdua dengan Marina.
"Bi, tolong hangatin makanan yang tadi! Masih ada, kan Bi?" pinta Regina pada bi Sumi.
"Ada, Non. Apa nggak di buat yang baru aja?" usul bi Sumi tidak di terima oleh Aliyha. Dia lebih memilih makanan yang sudah matang daripada harus menunggu makanan yang baru untuk dimasak.
"Nggak usah Bi, yang dingin juga nggak pa-pa, kok. Yang penting masih bisa di makan," tolak Aliyha dengan wajah memelas.
Makanan telah siap, dan Aliyha segera menyantap makanan yang berada di depannya dengan lahap dan Regina memandangnya aneh.
"Al, kamu nggak lagi hamil, kan?" tanya Regina dengan curiga.
__ADS_1
"Mba! Jangan asal deh, kalo ngomong. Ntar kalo di denger orang gimana?" bantah Aliyha dengan penuh makanan di mulutnya.
"Habis, kamu makannya kayak gitu. Kamu, kan dulu hamilnya, makan kayak gitu juga," jelas Regina.
"Jadi gini, Mba. Tadi pas pulang kontrakan ada mas Satya," ujar aliyha lalu menyuap makanan ke mulutnya lagi.
"Terus?"
"Terus, Mba. Dia ngajak aku makan malm, tapi dia nggak dateng-dateng jemput ku, Mba. Makannya aku kesel dari tadi. Udah laper, yang ditunghuin nggak dateng-dateng jemput buat makan. Malah yang datang ke rumah itu, si pria yang irit ngomong," jelas Aliyha.
"Nggak di telvon Satyanya?" tanya Regina.
"Nggak aktif, Mba!"
"Ya, sudah habisin makan kamu! Setelah itu kita ke kamar," pinta Regina dan Aliyha mengangguk dengan masih memakan makanannya.
*
Di tempat Satya, dia bru mengingat kalau dia punya janji makan malam dengan Aliyha. Satya melihat jam dinding yang tergantung di kamarnya dan jarum jam sudah menunjukan pukul 9 lebih 30 menit.
"Astaga! Aliyha pasti marah, nih," ucap Satya yang segera beranjak mengambil ponselnya.
"Ah, ponselku mati lagi!" umpat Satya.
Dia berjalan keluar kamar dengan langkah yang dipercepat. Dia akan pergi ke kontrakan Aliyha untuk menemuinya.
"Satya, mau ke mana kamu?" tanya Liana, namun tak mendapatkan jawaban dari Satya.
Dia terus keluar menuju mobil dan pergi dari mansion dengan mengendarai mobilnya laju.
"Aliyha akan marah. Bagaimana bisa aku melupakan Aliyha!" umpatnya yang berada dalam mobil.
Setelah sampai di kontrakan, Satya segera turun dan memasuki teras rumah dengan cepat lalu mengetuk pintu dengan sedikit keras.
"Al! Al! Aliyha!" panggil Satya dengan mengetuk-ngetuk pintu rumah kontrakan itu.
"Tidak ada jawaban. Kemana Aliyha? Mungkin dia marah dan nggak mau buka pintu," gumam Satya, lalu kembali mengetuk-ngetuk pintu rumah itu, hingga seseorang menegurnya.
"Cari siapa, Mas?" tanya seorang pria paruh baya.
"Maaf, Pak. Saya cari Aliyha, yang kontrak di sini aja," jawab Satya.
"Oh, neng Aliyha. Tadi pergi Mas, naik mobil. Mungkin jam setengah delapan tadi, bawah tas juga," jelas bapak itu. "Mari, Mas," pamit bapak itu kemudian.
"Siapa yang jemput Aliyha? Apa pria itu? Aku harus menemuinya!" Seru batin Satya dengan kesal dan berlalu dari sana.
.
.
.
.
__ADS_1
Trima kasih untuk para readers yang udah coment positif untuk karyaku. Dukungan kalian sangat berarti sekali🙏 Tank's...