Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.42 ~Regina terjebak


__ADS_3

Aliyha menatap ke arah pintu Kamar Darel. Ada rasa ragu untuk mengatakan pada Darel bahwa dia akan meninggalnya di sini sementara waktu dan dia akan ke Jakarta.


*


Pagi hari, saat Aliyha dan Regina berangkat saat ini.


"Pak, Bu, aku pamit. Doain aku, semoga lancar-lancar aja, ya, kerjaannya," ucap Aliyha yang akan pergi meninggalkan rumah.


"Aku juga Bu, Pak. Aku pamit, ya. Makasih untuk semuanya," sambung Regina.


"Dar, kamu jangan nakal-nakal, ya. Bunda pergi dulu, nanti kalau kerjaan Bunda sudah beres semuanya, Aunty akan jemput kamu," ujar Aliyha pada Darel yang berdiri di samping Salma.


"Kalian hati-hati, ya. Dan semoga kerjaan kalian lancar semuanya," ucap Salma dan mendapat anggukan dari Aliyha.


"Pak, aku pamit," ucap Aliyha sambil menyalami tangan Rahman dan Salma bergantian.


"Hati-hati!" jawab Rahman seraya menepuk-nepuk pelan pundak putrinya.


"Makasih, Pak."


"Aku juga, pamit," ucap Regina lalu menyalami tangan dua orang tua itu.


"Dar, nanti Aunty jemput kamu, ya." ujar Regina dan anak itu mengangguk pelan.


Aliyha dan Regina pergi dengan melambaikan tangan ke arah Salma, Rahman dan juga Darel.


*


Daniel sedang duduk di sebuah cafe, menunggu kedatangan Amel. Setelah kejadian kemarin. Venya sangat marah besar padanya, bahkan dia tidak mau anak di dalam rahim Amel. Rosa juga kecewa dengan Daniel, walaupun dia mempunyai pria lain sama seperti Daniel, tapi dia mempuyai batasannya sendiri. Rosa sudah mengetahui hubungan mereka sebelumnya, namun dia tidak menyangka jika mereka akan melakukan hal yang lebih dari itu. Rosa sungguh tak menyangka, hingga kini dia j*jik untuk dekat dengan Daniel lagi. Rosa memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya.


Tak berselang lama kemudian, Amel tiba di cafe itu.


"Hai, Dan," sapa Amel dengan tersenyum.


"Amel, katakan maksud dari perkataanmu kemarin!" pinta Daniel setelah Amel duduk di depannya.


"Apa maksudmu? Ku kira kamu sudah mengetahuinya, bukankah kamu sendiri yang mengatakan pada mereka, jika kamu punya anak di luar!" Jawab Amel.


"Jadi kamu benar-benar hamil?"


"Kamu berharap aku berbohong? Aku menjatuhkan harga diriku di depan ibumu dan Rosa, dan kamu pikir aku berbohong!" ketus Amel.


"Amel apa itu benar anakku?" tanya Daniel yang meragukan Amel.


"Apa maksudmu?" tanya Amel dengan nada keras seraya berdiri dari duduknya.


"Duduk!" pinta Daniel tegas. "Apa kau tak melihat, di sini banyak orang!" lanjutnya.


Amel menatap ke sekelilingnya, dan orang-orang sekitar tengah memandang mereka dengan tatapan yang penuh pertanyaan.

__ADS_1


Amel kembali duduk di kursinya, dan menatap Daniel dengan kesal.


"Daniel. Aku tak menyangka jika kamu meragukanku," ujar Amel.


"Bagaimana mungkin tidak. Aku melakukannya denganmu dengan pengaman, lalu bagaimana kamu bisa kebobolan." jawab Daniel.


Amel sudah memprediksikan apa yang akan di tanyakan Daniel padanya, karna itu dia telah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaannya.


"Daniel, tidak jarang hal ini terjadi! Kau bisa bertanya pada dokter ahli, jika ragu. Tapi ku pastikan bahwa ini adalah darah dagingmu, aku tak pernah melakukan hal itu dengan orang lain. Bahkan aku menjauhi para pria dan hanya berhubungan denganmu," Ujar Amel.


Daniel terdiam sesaat, mungkin dia memikirkan apa yang di katakan Amel padanya.


"Kita akan membicarakan ini nanti. Aku ada urusan," ujar Daniel dan segera beranjak dari duduknya untuk pergi.


"Tunggu Daniel! Aku ingin kepastian darimu!" Amel menarik lengan Daniel saat akan pergi darinya, hingga langkah Daniel terhenti.


"Apa yang kamu lakukan?" bentak Daniel.


"Aku akan mengikuti kemana pun kamu pergi, sebelum kamu memberikanku kepastian." ucap Amel yang tak mau melepas lengan Daniel.


Daniel kesal dengan sikap Amel, hingga dia menyeret Amel untuk keluar bersamanya.


*


Aliyha dan Regina tengah berada di bus menuju Jakarta. Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil yang mengikuti mereka sedari tadi.


Di mobil itu ada 4 orang pria yang mengikuti perjalan mereka sedari terminal.


"Di mana dia?" tanya wanita yang di hubungi pria itu.


"Dia bersama seorang wanita, di bus menuju Jakarta.


"Baiklah. Segera bawah dia pulang setelah dia turun dari bus itu!" pinta wanita itu.


"Baik Nyonya!" Pria itu menutup panggilan telvonnya dan terus menajamkan matanya ke arah bus yang di tumpangi Aliyha dan Regina.


Beberapa jam berlalu, akhirnya bus yang di tumpangi Aliyha dan Regina berhenti di terminal. Para pria yang berpakaian hitam-hitam itu segera keluar menuju pintu Bus tempat para penumpang keluar.


"Nona Ratu!" ucap seorang pria saat Aliyha dan Regina turun dari bus itu, mereka segera di hadang 4 orang pria tadi berada di mobil.


Regina menatap tajam ke arah pria yang berada di depannya. Regina terkejut dan Aliyha pula. Dia mencoba melirik ke arah samping, mencoba mencari celah untuk melarikan diri, namun nihil. Kini mereka sudah mengepungnya dan Aliyha, bagai buronan yang tak ada cela lagi untuk keluar.


Mengingat Regina yang ahli dalam belah diri, pria itu menambah anak buahnya, takut jika Regina akan melawan mereka.


Aliyha, memegang erat lengan Regina. Dia menjadi ketakutan, melihat para pria yang berada di dekat mereka.


"Mba, mereka ini siapa?" Bisik Aliyha.


"Diamlah, kita harus lari dari mereka," bisik Regina pada Aliyha.

__ADS_1


"Mba, aku takut," bisik Aliyha lagi yang tangannya sudah berkeringat dingin.


Regina melihat-lihat sekelilingnya. Kini bukan 4 orang lagi yang berada di sana, tapi sekitar 10 atau 12 orang di sana, yang mengitari mereka.


Mengingat Regina yang


"Ya, ampun aku sudah terjebak!" Kesal batin Regina.


"Nona, sebaiknya Anda ikut dengan kami!" pinta salah seorang dari mereka.


Regina sudah tak punya jalan lagi untuk melarikan diri dari mereka. Akhirnya dia pasrah saja, tapi dia harus mengantarkan Aliyha dulu ke kontrakan mereka.


"Baiklah. Aku akan ikut, tapi..., antarkan dia dulu ke kontrakan. Setelah itu aku akan ikut dengan kalian," ujar Regina kesal.


"Baiklah, Nona. Mari ikut ke mobil," ajak pria yang berada di depannya.


"Wow! Mba, ini mobilnya?" seru Aliyha yang melihat sebuah mobil sport keluaran terbaru di hadapannya, yang telah di bukakan pintunya untuk mereka.


"Jangan norak, ah!" kesal Regina seraya menutup mulut Aliyha yang terbuka lebar.


Mereka masuk ke dalam mobil, Aliyha tak habis-habisnya memuji mobil yang diduduki, membuat Regina merasa kesal dengan tingkahnya.


"Al. Duduk diem, deh!" pinta Regina.


"Iya, Mba. Tapi, mereka siapa, Mba? Kok, mereka panggil Mba, Ratu?" tanya Aliyha dengan sangat penasaran.


"Nanti aku jelasinnya. Sekarang lagi pusing, nih. Nggak bisa mikir, nggak bisa ngomong juga," jawab Regina.


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di depan kontrakan mereka.


"Al, aku pergi bentar, ya. Nanti aku balik, kok." ucap Regina tanpa turun dari mobil.


"Tapi, Mba baik-baik aja, kan? Mereka nggak akan macam-macam sama, Mba," ucap Aliyha.


"Tidak akan. Kamu turun, deh, biar aku cepat kembali. Jangan lupa hubungi Satya setelah aku pergi!" pinta Regina dan Aliyha mengangguk.


Aliyha turun dari mobil dan menatap mobil itu pergi dari hadapannya. Aliyha sangat penasaran, ada apa dengan Regina? Siapa dia? Aliyha berpikir-pikir, namun dia tak bisa menjawabnya sendiri. Yang bisa menjawab semua pertanyaan di benaknya saat ini hanyalah Regina sendiri dan dia harus menunggu untuk itu, entah kapan Regina akan kembali.


.


.


.


.


Untuk para readersku tercinta, tersayang dan tersegala-galanya...


Author mohon banget, kalo mau coment yang positif aja, karena coment yang negatif akan menurunkan rating authorπŸ™

__ADS_1


Author juga jadi kurang semangat, tapi karena ada readers setia author yang lain, jadi semangatnya balik lagi deh.


πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2