
Di perusahaan Daniel, dia sedang menunggu kedatangan Aliyha. Dia sangat yakin jika Aliyha akan datang untuk bekerja, karena uang yang begitu besar tak mungkin di dapat Aliyha dengan mudah.
Daniel sudah tidak sabar lagi, menunggu kedatangan Aliyha dengan senyuman liciknya. Dia bahkan tak menyangka jika Aliyha sudah bekerja di perusahaan lain, yang lebih besar dari perusahaannya saat ini.
*
Regina keluar dari bank dengan membawah uang yang di cairkannya, dalam sebuah koper.
"Mama, ngasihnya. Nggak tanggung-tanggung, 2 stengah miliar. Wah-wah-wah!" gumam Regina.
Sebelumnya Regina tak melihat jumlah dalam cek yang di bawahnya. Setelah masuk ke dalam Regina melotot melihat jumlah yang tertera di sana, 2 stengah miliar.
"Trus 500 jutanya buat apa dong? Kan, mama ngasihnya cuma 500 juta sama aku," gumam Regina, tiba-tiba dia tersenyum mendapatkan sebuah ide.
"Jalan!" pinta Regina pada Kenan, setelah masuk ke dalam mobil.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di perusahaan Daniel. Regina turun dan Kenan juga ikut turun bersamanya.
"Ngapain kamu?" tanya Regina yang melihat Kenan berdiri di sampingnya.
"Saya akan menemani Anda masuk, Nona." jawab Kenan yang tak beralih dari tempatnya.
"Nggak perlu! Aku bisa sendiri!" ketus Regina.
"Ini perintah nyonya besar,!" jawab Kenan dan Regina hanya bisa mendengus, mendengar jawabannya. Jika itu perintah Regina maka tidak bisa di bantah, pikir Regina.
Mereka masuk ke dalam perusahaan dan semua mata tertuju pada keduanya, lalu para karyawan yang berada di sana segera berbisik-bisik.
"Hei, itu Regina, kan?"
"Regina, ngapain dia kemari?"
"Waw, Regina sudah berubah?"
Bisik-bisik karyawan di sana yang mengenal Regina, namun dia hanya acuh kemudian masuk ke dalam lift menuju ruangan Daniel.
Tok tok tok tok
Regina mengetuk pintu ruangan Daniel sevelum masuk, dan dia mendapatkan jawaban dari Daniel yang berada dalam ruangannya.
"Itu pasti Aliyha," gumam Daniel dengan memgembangkan senyum, namun senyumannya pudar saat bukan Aliyha yang membuka pinti itu.
"Masuk!" pintanya.
Klek
Mata Daniel molotot melihat Regina, penampilannya berubah. Regina yang biasanya hanya memakai celana jeans dan atasan kaus, kini tengah mengenakan dres selutut, yang tampak elegan dengan di kawal seorang bodyguard menurut Daniel.
"Kamu!" ujar Daniel.
"Ya, saya. Ada apa Tuan Daniel? Anda terkejut, atau Anda berharap orang lain yang datang?" jawab Regina.
"Aku datang untuk menyelesaikan segala urusan Aliyha. Aku membawah uang pinaltinya," ujar Regina kemudian duduk tanpa di pinta di hadapan Daniel.
__ADS_1
"Uang pinalti?" tanya Daniel memastikan.
"Ya! Mulai hari ini, Aliyha tidak akan bekerja lagi di perusahaanmu," jelas Regina.
"Bagaimana bisa?" Daniel dungguh tak percaya, jika Aliyha mendapatkan uang sebanyak itu.
"Kenan!" pintah Regina dengan mengkodenya untuk menyerahkan uang yang berada di dalam koper.
"Ini 2 miliar!" ucap Regina.
"2 miliar? Dari mana Aliyha mendapatkan uang ini?" tanya Daniel penasaran.
"Anda tidak perlu tau Tuan. Yang pasti sekarang uruslah berkas-berkasnya, aku masih banyak urusan!" pintah Regina.
Daniel memandang wanita di hadapannya dengan lekat, melihat dari penampilannya dan gayanya sekarang dengan seorang bodyguard, Daniel yakin kalau Regina bukan orang sembarangan. Tapi kenapa dia harus bekerja di perusahaanku bahkan bertahun-tahun lamanya, jika itu benar? Pikir Daniel.
Daniel merasa kesal dengan apa yang ada di pikirannya, bagaimana bisa Aliyha mendapatkan uang sebanyak itu. Dan bagaimana mungkin mantan staf biasa di perusahaannya bisa seperti sekarang ini. Entah sebutan apa yang akan dia berikan pada Regina, saat ini Daniel pun merasa bingung dengan keadaan ini.
Daniel tak menjawab ucapan Regina, dia membuka laptopnya, mengetik sesuatu dan mengirimnya kepada seseorang.
Tak berselang lama, seseorang datang ke ruangan itu.
Klek
"Slamat siang, Tuan. Ini surat yang Anda kirim ke saya, sudah selesai," ujar pria itu.
"Trima kasih," jawab Daniel seraya tangannya menyambut kertas yang diberikan padanya.
Daniel menyerahkan kertas itu pada Regina yang duduk di depannya.
"Hm," Regina tersenyum menyambut kertas itu dan tak lupa dia membacanya terlebih dahulu.
Surat pembatalan kontrak, setelah selesai membaca isi dari kertas yang berada di tangannya. Regina segera berdiri dari duduknya, namun dia menghadap Daniel terlebih dahulu sebelum pergi.
"Sepertinya, Tuan Daniel melupakan tanda tangan Anda di sini!" ucap Regina dengan menujuk kolom yang harus Daniel tanda tangani.
Daniel sangat kesal dan segera merampas kertas dari tangan Regina dan membubuhkan tanda tangannya di sana.
"Trima kasih," ujar Regina dengan nada meledek.
"Eits, sebelum pergi. Kita kenalan dulu," ucap Regina dengan mwmbalikan badannya kembali ke arah Daniel. Dia menyodorkan tanda tangannya pada Daniel, namun Daniel enggan untuk menyambut tangannya.
"Ayo, dong!" paksa Regina dengan mengambil paksa tangan Daniel untuk berjabat dengannya.
"Kenalin, ya. Ratu-Putri-Regina-Wirawan," ucap Regina dengan nada meledek, membuat Mata Daniel menatap tajam padanya.
"Dan itu..." Tunjuk Regina di koper yang berisi uang itu. "500 juta bonus untumu, Tuan Daniel, agar jangan mengganggu Aliyha lagi." ucap Regina dengan tersenyum mengejek kemudian berlalu dari hadapan Daniel.
Daniel tak dapat berkata-kata lagi, dia sangat terkejut mendengar marga Wirawan di belakang nama Regina, sungguh dia tak mempercayainya.
*
Kini Regina telah kembali ke perusahaan bersama dengan Kenan. Regina berjalan menuju ruangan Aliyha, di mana kini dia sedang bekerja.
__ADS_1
Klek
"Hai, Aliyha," sapa Regina dengan tersenyum senang.
"Mba, sudah selesai? Gimana? Apa reaksinya?" cecar Aliyha.
"Nanya tuh, satu-satu. Jangan sekalian, emang telingamu mau dengar sekalian juga," ucap Regina.
"Penasaran aja, Mba," jawab Aliyha.
"Iya. Selesai!" ucap Regina dengan tersenyum lebar dan memperlihatkan surat pembatalan kontrak milik Aliyha.
"Wah, Mba hebat!" puji Aliyha.
"Siapa dulu? Kamu tau wajah si Daniel itu, tidak bisa di bayangkan lagi rasa kesalnya dan dia juga tak bisa berkata-kata lagi saat uang 2 miliar itu ada di hadapannya. Yang lucunya lagi, saat aku memperkenalkan diri padanya." jelas Regina panjang lebar.
"Mba, kasih uangnya semua?" tanya Aliyha cepat dan Regina pun mengangguk mengiyakannya.
"Kenapa di kasih semua, Mba?" kesal Aliyha.
"Kenapa memangnya? Aku katakan padanya, uang 500 juta itu, bonus untuknya, agar tidak mengganggumu lagi.
"Aduh, Mba! Hutangku tambah banyak dong. Gimana cara lunasinnya?" aduh Aliyha.
"Alah, tenang aja! Ini perusahaanku juga. Buat mama, uang 2 miliar itu tak ada apa-apanya. Bahkan dia memberi 2 stengah miliar tadi." jelas Regina.
"Apa!" pekik Aliyha melotot dan di angguki Regina. "Haa! Orang kaya itu boros sekali," lanjutnya.
"Sudah. Jangan pikirin itu. Ayo kita makan siang, di restoran." ajak Regina.
"Jangan, Mba! Mahal," tolak Aliyha yang sangat di sayangkan untuk makan makanan mahal.
"Ala! Aku barusan dapat gaji 500 juta. Ayo!" Regina memaksa Aliyha untuk ikut dengannya.
"Pekerjaanku, Mba," ujar Aliyha saat tubuhnya di paksa Regina untuk ikut.
"Lihat jam! Hampir lewat jam istirahat." Regina menunjuk jam dinding yang tergantung di ruangan itu dan benar saja, Aliyha melupakan jam istirahatnya.
Akhirnya mereka keluar untuk pergi makan siang di restoran. Setelah sampai di mobil, di sana Kenan sedang berbicara dengan seseorang.
"Pergilah, aku akan datang nanti malam!" pinta Kenan saat Aliyha dan Regina mulai dekat dengan mereka.
"Siapa itu, Mas?" tanya Aliyha penasaran. Orang itu berpakaian rapi, tapi bicara dengan kenan dengan sangat sopan, bahkan menundukan kepalanya pada Kenan.
"Mau kemana?" tanya Kenan tanpa mau menjawab pertanyaan Aliyha.
.
.
.
.
__ADS_1
Votenya, di bagiin dongš
Jari-jari author lagi dingin, minta di hangatinš¤£