Anak jeniusku mencari ayah

Anak jeniusku mencari ayah
Bab.38 ~Keputusan


__ADS_3

"Tidak! Aku tidak butuh kau!" ucap Darel lantang setelah keluar dri kamar Aliyha.


"Darel," kejut Daniel.


"Aku tidak butuh kau. Sudah cukup, aku punya Bunda!" ujar Darel pada Daniel.


Daniel mendekat ke arah anak itu. Dia sangat terkejut dengan ucapan Darel, bagaimana bisa anak itu berkata seperti itu. Daniel berjongkok di hadapan Darel, menyamaratakan tingginya dengan Darel.


"Dar, aku ayahmu," ucap Daniel dengan memegang pundak Darel, namun dengan segera di tepis oleh anaknya sendiri.


"Dulu aku butuh kau dan kau tidak ada. Sekarang kau ada, tapi aku sudah tidak membutuhkanmu lagi," ucapnya ketus.


"Darel," tegur Salma lembut.


"Tidak Salma. Dia juga berhak memilih dan membuat keputusan," ujar Rahman.


"Nak. Ayah salah, tapi maafkan ayah. Ayah akan menebus semuanya, untukmu dan dan ibumu juga," ucap Daniel.


"Tidak. Jika Bunda ingin, maka Bunda bisa pergi bersamamu. Aku akan tinggal bersama Kakek dan Nenek, di sini." jawab Darel.


"Tidak! Aku juga tidak membutuhkan tanggung jawab darimu. Sudah terlambat!" ucap Aliyha.


Daniel memandang ibu dan anak itu, mereka menolaknya mentah-mentah. Dia harus melakukan sesuatu agar mereka mau menerimanya, walaupun harus dipaksa.


"Apa itu sudah keputusan final dari kalian?" tanya Rahman pada Aliyha dan Daniel.


Aliyha mengangguk mendengar pertanyaan Rahman, saat Rahman menatapnya.


"Tentu saja!" jawab Darel lalu melangkah menuju dapur. Sebenarnya dia ingin ke kamar mandi tadinya, tapi mendengar ucapan Daniel, Darel tak tahan untuk tidak membantahnya.


"Kau sudah dengar keputusan mereka. Aku harap kau menerimanya dengan berbesar hati." ucap Rahman seraya menepuk-nepuk pelan pundak Daniel saat berada di dekatnya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi. Aliyha, kapan pun kalian mengubah keputusan, datanglah padaku." ujar Daniel sebelum pergi dari rumah itu.


"Lalu, Aliyha. Bagaimana dengan Nak Satya? Apa kalian akan melanjutkan hubungan kalian?" tanya Rahman setelah Daniel pergi dari rumah itu.


"Aku harap Aliyha tidak keberatan, Pak. Aku tidak main-main dengan Aliyha, jika dia mau pun aku siap untuk menikah hari ini," ucap Satya.


"Gentlemen. Pria memang harus seperti itu," jawab Rahman.


"Aku ingin kita menjalaninya saja dulu. Bagaimana akhirnya, takdir yang akan menentukan." jawab Aliyha dan Rahman menganggukinya.


"Baiklah. Aku tidak keberatan," jawab Satya.


"Ya, ku kira akan ada pesta hari ini," sesal Refika.


"Ha! Kenapa tidak kau saja yang menikah?" ujar Aliyha pada Refika.


"Yang lirik aja belum ada. Gimana nikahnya?" jawab Refika kesal karena Aliyha seperti meledek dirinya.

__ADS_1


"Benar, senasib kita." sambung Regina.


"Owh, Mba. Tuhan pasti menyiapkan pangeran untuk kita berdua." ucap Refika seraya berpelukan dengan Regina.


"Lebay," ujar Aliyha.


"Sudah-sudah. Sekarang apa rencanamu Aliyha?" tanya Rahman.


"Aliyha belum tahu, Pak. Mungkin aku akan menetap di sini dulu?" ujar Aliyha. Mas Satya nggak pa-pa, kan. Kalo aku tinggal di Surabaya, sampai aku punya pekerjaan lagi." lanjutnya.


"Nggak, kok. Nanti aku akn bantu kamu cari pekerjaan," jawab Satya dengan tersenyum dan Aliyha mengangguk padanya.


"Sekarang, Mas Satya mau ke mana?" tanya Aliyha.


"Mungkin aku akan cari penginapan untuk du atau 3 hari di sini, sebelum kembali ke Jakarta." jawabnya.


"Baiklah. Mba! Mba tinggal sama aku aja, ya. Di sini," ucap Aliyha pada Regina.


"Aku mau, tapi...."


"Nggak apa, kok Mba. Nanti kita tidur sekamar. Masih ada satu kamar kosong untuk Darel," ujar Aliyha yang mengerti maksud dari Regina.


"Bukan, begitu."


"Mba, Ibu sama Bapak pasti ngijinin, kok. Apalagi, Mba sudah banyak membantuku dann Darel." Aliyha memandang Rahman, untuk meminta jawaban darinya.


"Kalau, mau juga, Mba bisa tinggal sama aku, dikontrakan." tawar Refika.


"Apa aku tidak di tawarkan juga?" tanya Sarya yng masih berada di sana.


"Bukan Muhrim," jawab Aliyha, Regina dan Refika bersamaan.


"Astaga. Aku nyerah, deh. Ada tiga," jawab Satya dengan mengangkat kedua tangannya.


"Hahaha, kau belum merasakan bila punya istri. Istri satu serasa sepuluh yang mengancam," ujar Rahman dengan terbahak.


"Pak!" Panggil Salma ketus.


"Hahaha, kau sudah lihat?" ujar Rahman lagi dengan tetap terbahak di hadapan Satya yang menggaruk kepalanya walau tidak gatal.


Satya pun pamit untuk mencari penginapan atau hotel, dan Regina memutuskan menginap bersama Aliyha di rumah orang tuanya.


Saat ini Aliyha dan Regina sedang membersihkan kamar yang akan di tempati oleh Darel.


"Kamu hebat. Tidak menerima ajakan Daniel tadi," ujar Regina.


"Maksudnya hebat?" tanya Aliyha bingung.


"Iya. Walaupun kamu masih care sama Daniel, tapi kamu bisa menolaknya secara mentah-mentah." jelas Regina.

__ADS_1


"Bukannya apa, Mba. Aku hanya menganggapnya biasa sajanseperti yang lain, nggak lebih. Rasaku untuknya sudah hilang, Mba. Dan aku hanya tidak ingin mendemdam, tapi setelah dia mencari tahu tentang Darel. Aku menjadi takut, aku takut jika Daniel akan mengambil Darel dariku, makannya aku lari ke sini. Ku pikir dia tidak akan mengejar. Eh, ternyata belum sehari juga, kalian sudah bersama di rumahku." jelas Aliyha.


"Ya, iyalah. Kami khawatir tau! Kamu hilang tiba-tiba, tanpa ngasih kabar lagi." jawab Regina.


Acara beres-beres kamar, akhirnya selesai juga. Aliyha dan Regina kembali ke kamar dan berbincang di sana.


*


Di perusahaan cabang milik keluarga Daniel, dia sedang merenung di ruangan miting perusahaan itu.


"Bagaimana caranya biar Aliyha kembali padaku." gumam Daniel sambil berpikir.


Dia sangat menginginkan Aliyha saat ini, bersama juga Darel, namun ada yang dia lupakan selain mempunyai istri dia juga mempunyai hubungan dengan Amel.


*


"Kenapa Daniel tak bisa di hubungi," kesal seorang wanita dengan menggenggam ponsel di tangannya.


Amel, sejak pagi tadi tengah berusaha menghubungi Daniel. Ada sesuatu yang penting yang harus dia sampaikan.


Amel memegang sebuah tespack dengan dua garia di tangannya, menatap sendu barang yang berada di tangannya.


"Bagaimana jika Daniel tak mau bertanggung jawab?" gumam Amel lagi.


"Tidak bisa! Aku harus memaksanya, tidak mungkin aku hamil tanpa suami."


"Apalagi, Rosa yang tak ingin memiliki anak. Dengan kehamilanku, akan ku rebut kembali Daniel darinya," ucap Amel antusias.


*


Dua hari berlalu, pagi hari ini Aliyha dan Regina tengah memasak di dapur. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di depan rumah.


"Ada orang," ujar Regina yang sedang membuat bumbu masakan.


"Mba aja, deh, yang bukain. Tanganku bau amis," ujar Aliyha yang sedang membersihkan ikan yang akan mereka masak.


"Ok." jawab Regina.


Regina melangkah dengan sedikit berlari, karena ketukan itu masih terdengar.


"Ya, sebentar," jawab Regina setelah dekat dengan pintu depan.


Klek


"Kau!" Seru Regina yang melihat Daniel di rumah itu.


"Ya. Aliyhanya ada? Ada hal penting yang harus ku bicarakan dengannya," ujar Daniel.


Jangan lupa votenya, buat author🤗

__ADS_1


__ADS_2